Istri Jelekku

Istri Jelekku
Bab 55


__ADS_3

Hoek.


Dania terbangun dari tidurnya karena merasakan mual di perutnya.


Dania bergegas menuju kamar mandi, namun tak ada yang keluar dari mulutnya.


Sepertinya Dania sudah mulai mengalami morning sick.


Setelah satu minggu yang lalu di kabarkan hamil oleh Dokter, kini usia kehamilannya sudah memasuki minggu ke lima.


Randy yang mendengar Dania mual pun terbangun dari tidurnya dan segera menghampiri Dania ke kamar mandi.


Hoek.


Di lihatnya Dania yang masih mual-mual, matanya berair menahan mual yang teramat sangat di perutnya. Rasanya akan lebih baik jika isi perutnya di keluarkan saja.


"Kamu baik-baik aja, yank." ucap Randy.


Randy memijit tengkuk Dania, berharap bisa meringankan rasa mualnya.


Dania pun menggelengkan kepalanya, dia tak dapat mengatakan apapun saat ini.


"Sebentar, aku, suruh Bibi, dulu, bikinin teh manis hangat." Randy bergegas menuju dapur dan meminta Bibi untuk membuatkan teh manis hangat.


Setelah selesai, dia kembali ke kamar, di lihatnya Dania sudah terbaring di tempat tidur.


"Kamu udah baikan, yank." ucap Randy.


Dania pun mengangguk.


"Mau bubur ayam, dong, yank." ucap Dania.


"Mau, sekarang." ucap Randy.


Dania pun mengangguk.


"Ya, udah, biar aku minta tolong, Pak, Adi, beliin bubur" ucap Randy.


Pak Adi adalah supir yang Randy pekerjakan untuk menemani Dania bepergian.


Saat Randy akan keluar kamar, tiba-tiba Dania menahannya.


"Kita langsung ke tempatnya aja, ya, yank." rengek Dania.


"Kamu, yakin." ucap Randy.


Dania pun mengangguk.


"Ya, udah, ayo kita cari bubur ayam, kalau, gitu, pake jaketnya." ucap Randy.


Dania pun mengangguk dan mengambil jaketnya. Dania dan Randy langsung pergi mencari bubur ayam yang Dania inginkan.


lima belas menit kemudian, akhirnya mereka menemukan bubur ayam. Beruntunglah ini pagi hari, jadi sudah banyak yang berjualan bubur ayam.


Randy dan Dania pun turun dari mobil dan menghampiri tukang bubur ayam tersebut.


"Bang dua, ya" ucap Randy pada penjual bubur ayam.


Penjual itu pun mengangguk dan bergegas membuatkan dua mangkuk bubur ayam.


Tak lama, bubur ayam pun sudah siap dan mereka pun mulai menyantapnya.


Randy terkejut melihat Dania yang makan seperti orang kesetanan.


"Hey, yank, pelan-pelan." ucap Randy sambil menahan tangan Dania.


Dania pun menatap Randy dengan tatapan tajam.


"Apa, sih? Aku laper, tahu." ucap Dania.


"Iya, tapi, pelan-pelan makannya, nanti, kamu keselek." ucap Randy.


Dania menggelengkan kepalanya dan melanjutkan makannya.


Tak butuh waktu lama, bubur itu pun habis di santapnya.


"Bang satu mangkuk, lagi, ya"pinta Dania.


Randy pun membulatkan matanya mendengar Dania memesan satu mangkuk bubur lagi. Bubur milik Randy bahkan belum habis, tetapi istrinya itu justru sudah memesan bubur kedua.


"Kamu yakin, yank." ucap Randy.


"Iya, aku masih laper." ucap Dania.


Randy menelan air liurnya. Dia teringat ucapan Mamanya seminggu yang lalu, saat memberitahukan kabar kehamilan Dania.


Ada beberapa pesan yang Mamanya itu katakan.


"Orang hamil, itu, akan mengalami perubahan hormon, jadi, mood nya kadang berubah-ubah. Sekarang Dania mungkin, belum mengalami masa mengidam, nanti mungkin, ada saatnya, Dania, mengalami masa mengidam. Biasanya orang mengidam itu keinginannya aneh-aneh, kelakuannya juga, kadang tak seperti biasanya. Ya itu semua karena di sebabkan oleh perubahan hormon, itu, sendiri. Jadi, kamu harus abar menghadapi istri kamu. Papa mu juga, dulu, sabar banget ngadepin, Mama, waktu hamil Kamu." ucap sang Mama.


Randy tersenyum melihat Dania yang mulai menyantap kembali bubur keduanya.


Randy mengelus lembut perut Dania.

__ADS_1


"Makan yang banyak, yank." ucap Randy.


Dania tersenyum dan mengangguk.


Benar saja, bubur itu pun ludes tak bersisa.


"Eurrggg." Dania menutup mulutnya dan tersenyum kikuk saat tak sengaja sendawa.


Randy pun terkekeh melihat Dania.


"Udah, kenyang." ucap Randy.


"Iya, aku kenyang, banget."ucap Dania.


Setelah selesai membayar, mereka pun kembali ke rumah.


Sesampainya di rumah, Dania bergegas menuju kamar. Sedangkan Randy pergi ke dapur dan membuatkan Dania susu Ibu hamil.


Setelah selesai, Randy pun membawa susu itu ke kamar. Di lihatnya Dania tengah duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


"Minum dulu, yank, susunya." ucap Randy sambil memberikan segelas susu pada Dania. Dania pun mengambilnya dan menenggaknya hingga tak bersisa.


"Vitaminnya di minum, aku mau siap-siap dulu. Hari ini, ada meeting membahas beberapa menu baru di office" ucap Randy.


Dania pun mengangguk dan Randy langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Lima belas menit kemudian, Randy keluar dari kamar mandi,di lihatnya tak ada baju yang biasa Dania siapkan.


"Kok baju aku, ga, di siapin, yank." ucap Randy.


"Ambil aja, sih, sendiri." ucap Dania.


Randy pun mengambil bajunya, sedangkan dania masih tetap fokus dengan ponselnya.


Beberapa menit berlalu, Randy pun sudah selesai bersiap.


"Aku pergi dulu, ya, yank." ucap Randy.


Dania pun mengangguk tanpa melihat Randy.


"Kamu nggak anterin aku ke bawah, Yang?" tanya Randy.


"Nggak, ah. Kamu 'kan udah gede. Jangan manja, deh," ucap Dania.


Randy membulatkan matanya mendengar ucapan dania. 'Sabar,' batin Randy sambil mengelus Dada.


Randy mendekati Dania dan ingin mencium kepala Dania. Namun, Dania langsung menghindar.


"Mau ngapain?" tanya Dania.


"Ga usah, ah. Sana kamu pergi, ih!" Dania mendorong Randy agar menjauh.


Randy menghela napas.


"Ya udah, aku pergi dulu. Jangan lupa vitaminnya diminum," ucap Randy.


"Hem..." Dania hanya berdehem tanpa melihat Randy.


Randy pun menggelengkan kepalanya dan bergegas pergi ke kantor.


******


Pukul 11.00 wib Randy tengah sibuk membahas menu baru nya dengan kepala chef restauran.


"Sayang!" panggil Dania yang tiba-tiba masuk ke ruang meeting. Randy pun terkejut melihat kedatangan Dania.


"Lho, Yang. Kamu ke sini?" ucap Randy. Randy mendekati Dania dan ingin merangkul Dania. Namun, Dania menahan tubuhnya.


"Kamu bau banget, sih," ucap Dania sambil menutup hidungnya.


Randy langsung mengendus bajunya.


"Enggak. Wangi, kok, Yang," ucap Randy.


Dania menggeleng dan masih menutup hidungnya.


"Mandi sana!" ucap Dania.


"Lah... Aku udah mandi 'kan tadi pagi,"ucap Randy.


"Mandi lagi sana yang bersih, biar ga bau badan," ucap Dania.


"Tapi, aku belum selesai meeting," ucap Randy.


"Biar aku yang wakilin," ucap Dania.


Kepala chef hanya tersenyum melihat perdebatan kecil antara suami dan istri itu.


Dania pun duduk di kursi Randy dan mengambil alih meeting tersebut. Sedangkan Randy langsung pergi ke ruangannya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Dua puluh menit berlalu, Randy sudah selesai mandi dan sudah rapih kembali. Randy melihat Dania yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponslenya. Randy pun menghampiri Dania.


"Ihh, kamu mandi, ga, sih, sebenernya. masih bau, ihh." ucap Dania sambil menutup hidungnya.

__ADS_1


"Ya ampun, yank, aku mandi, ini, rambutku masih agak basah." ucap Randy.


"Mandi lagi, sana, sampe bener-bener bersih, badan kamu bau banget, ihhh." ucap Dania.


Hoek.


Dania pun merasakan mual.


"Kamu ga apa-apa, yank?" tanya Randy cemas.


"Kamu, sih, bau banget aku jadi mual." ucap Dania.


Randy pun menghembuskan nafas kasar dan bangun dari duduknya.


"Ya, udah, deh, aku mandi lagi." ucap Randy.


Saat Randy akan melangkah, Dania pun menahan tangannya.


"Biar aku yang mandiin kamu, kamu, ga, bersih mandi sendiri." ucap Dania.


Randy pun tersenyum mendengar ucapan Dania.


"Ya ampun, yank, bilang, kek, kalau kamu mau mandi, bareng aku" ucap Randy.


Dania pun menatap Randy dengan malas dan berjalan menuju kamar mandi.


Randy membuka semua pakaianya dan langsung menuju shower.


"Tunggu, biar aku bantu." ucap Dania.


Randy tersenyum dan mengangguk.


Di tengah kegiatan mandinya, Randy tak bisa diam dan membuat Dania menjadi kesal.


Bugh.


"Sshhh ... Kok aku di pukul, sih, yank." ucap Randy.


"Mandi sendiri, sana" ucap Dania sambil menatap Randy tajam.


"Yank, please, Sebentar, aja." ucap Randy memelas.


"Enggak ah, aku lagi, ga, mood" ucap Dania.


Dania pun membilas tubuhnya yang basah dan keluar dari kamar mandi.


Dania meminta Lisa untuk membelikannya baju ganti.


Sementara di kamar mandi, Randy mengumpat kesal.


Randy pun melanjutkan mandinya sendiri.


******


Tak terasa waktu pun berlalu, kini usia kehamilan Dania sudah memasuki minggu ke delapan.


Sore ini Randy dan Dania sedang berada di salah satu rumah sakit untuk mengecek kandungan Dania.


Dania pun melakukan timbang berat badan, ternyata berat badannya sudah bertambah naik tiga kilo.


Randy pun tersenyum melihat timbangan istrinya itu naik. Semenjak hamil, Dania menjadi tambah nafsu makan. Bahkan dalam sehari bisa sampai tiga sampai empat kali makan nasi.


Berbeda dengan Randy, Dania justru merasa kesal karena berat badannya naik.


"Kamu kenapa, yank?" tanya Randy.


"Aku kesel, timbangan aku naik." ucap Dania mengerucutkan bibirnya.


"Lah, ga, apa-apa ,kan, sekarang ada baby nya di perut kamu, jadi, wajar, dong, kalau timbangan, kamu, naik." ucap Randy.


Dania pun menggelengkan kepala.


"Nanti aku jadi gendut, lemak dimana-mana, nanti kamu jadi ilfiel sama aku, terus, nyari cewek lagi." ucap Dania sendu.


Randy pun tersenyum.


Istrinya itu memang sensitif sekali, dan semenjak hamil jadi semakin sensitif.


"Aku tetep cinta, kok, walau pun kamu gendut, yang ada, aku, makin cinta dan sayang kamu, karena, kamu, makin enak di peluk." ucap Randy sambil tersenyum.


Dania pun tersenyum mendengar ucapan Randy.


"Gombal." ucap Dania.


"Eggak, gombal, kok. Aku serius, yank. aku ga peduli kamu gendut, yang penting, kamu sehat dan anak kita juga sehat" ucap Randy.


Dania pun mengangguk dan memeluk Randy.


"Ehheumm ... Kita periksa dulu,ya." ucap Dokter.


Randy pun melepaskan pelukannya.


Pasangan muda ini selalu tak ingat sekeliling bila sudah asyik dalam romansa cinta mereka.

__ADS_1


Dokter pun tersenyum dan mulai memeriksa kandungan Dania.


__ADS_2