
Sudah satu minggu sejak kejadian di Apartemen Randy, Mama Dania terkejut dan merasa sedih saat tahu anak dan menantunya itu ternyata tak tidur satu kamar.
Berbeda dengan Papa Dania yang justru merasa senang mendengar anak dan menantunya itu tak tinggal satu kamar. Dengan begitu Dania akan aman dan tidak akan cepat-cepat mengandung.
Bagaimana pun juga, dania adalah anak satu-satunya dan pewaris satu-satunya kekayaan keluarga Hamish, Papa Dania ingin Dania terus melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi agar bisa menggantikannya memimpin perusahaannya kelak.
Semenjak kejadian itu pula, hubungan Randy dan Dania jadi merenggang. Randy jadi pendiam dan hanya bicara pada Dania seperlunya saja. Tak ada lagi godaan-godaan dari Randy, tak ada lagi candaan yang Randy lemparkan pada Dania, bahkan Randy terkesan menghindari Dania.
Dania mengerti, pasti Randy kepikiran dengan ucapan Papanya seminggu yang lalu, yang mana Papanya mengatakan.
"Bagus lah kalian pisah kamar, dengan begitu Dania tidak akan cepat hamil. Ingat ini Randy, kalau sampai kamu berani membuat anak saya hamil di saat dia dalam masih berstatus pelajar, saya akan beri kamu pelajaran. Kamu tentu tahu, saya bisa melakukan apapun selagi saya mau, bahkan saya bisa menyuruh orang-orang kepercayaan saya untuk mematahkan burung kamu."
Tentu saja Randy merasa merinding mendengar ancaman Papa mertuanya itu, dari awal memang Papa mertuanya itu memang seperti tidak suka padanya, atau mungkin belum bisa menerimanya. Randy pun tahu betul Papa mertuanya itu memliki kekuasaan untuk melakukan apapun yang ia inginkan.
Ucapan Papa mertuanya itu selalu terngiang di telinga Randy, dan membuat dia menjadi kesal sendiri. Bagaimana tidak kesal? Dania adalah istri sahnya, tetapi dia tak dapat menyentuh istrinya karena ancaman dari Papa mertuanya
******
Pagi ini Dania dan Randy sedang sarapan, rak ada obrolan di meja makan dan hanya ada suara gesekan sendok dengan piring.
Sebetulnya Dania ingin sekali menyapa Randy, namun ekspresi Randy begitu dingin dan membuat Dania mengurungkan niatnya untuk menyapanya.
Setelah sarapan, mereka pun berangkat ke Sekolah.
Sama hal nya seperti tadi di Apartemen, di mobil pun tak ada suara yang keluar bibir keduanya.
Keduanya masih tetap bungkam, hingga tak terasa sampailah di parkiran Sekolah, keduanya turun dari mobil tanpa saling bicara.
Dania memilih berjalan terlebih dahulu ke kelas, sedangkan Randy menatap punggung Dania dan mulai pergi ke kelasnya.
******
Randy masuk ke dalam Kelas.
Brak.
Randy menghempaskan tasnya di atas meja dengan kasar dan membuat Dio mengernyit menatap Randy.
"Kenapa sih, Rand?"tanya Dio bingung. Pasalnya sudah satu minggu ini sikap Randy menjadi aneh.
Randy mengusap wajahnya kasar dan mengacak rambutnya frustasi.
"Aarrgghh ... gila, apes banget punya mertua kejam banget." gumam Randy. Randy tak menyadari bahwa gumaman nya masih bisa terdengar oleh Dio, tentu saja Dio membulatkan matanya terkejut mendengar ucapan Randy.
"Apa kamu bilang? Mertua? Astaga Randy jangan bilang kamu hamilin anak orang, terus di suruh tanggung jawab buat nikahin tuh cewek." ucap Dio sambil setengah berteriak. Dia terkejut dan membuat Randy tak kalah terkejut dan langsung membungkam mulut Dio dengan tangannya.
Randy melepaskan tangannya saat Dio menjilat telapak tangannya.
Randy menatap tajam pada Dio, sementara Dio justru terkekeh sambil menatap Randy.
"Amit-amit, jorok." gerutu Randy.
Dio pun terkekeh melihat ekspresi kesal Randy.
"Jadi, apa maksud kamu?" tanya Dio.
Randy pun megusap wajahnya kasar dan melihat Dio.
"Kamusalah dengar." ucap Randy.
"Lah, kamu kira aku tuli, kuping gue masih sehat, woy. Aku dengar jelas kamu bilang kalau kamu punya mertua." ucap Dio sambil menatap Randy dengan tatapan menyelidik.
"Rand, kita ini sahabat, kan? Dan kamu tahu aku bisa jaga rahasia, kenapa kamu ga mau cerita apapun sama aku? Apa kamu ga anggap aku sahabat kamu lagi?" ucap Dio.
Randy pun menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar.
"Bukannya gitu, huh, kamu benar, aku udah menikah."ucap Randy pelan.
Dio pun terkejut.
Brak.
"Jadi benar kamu hamilin anak orang?" lagi-lagi Dio berteriak, membuat Randy langsung melemparkan tasnya kewajah Dio.
"Aaarrgghh ..." Dio pun meringis kesakitan.
"Bisa pelan dikit ga sih, kalau ngomong ga usah teriak-teriak kaya gitu, lagian aku ga hamilin anak orang."ucap Randy pelan.
"Jadi, serius kamu udah nikah? Tapi aku ga percaya kalau kamu udah nikah, kecuali kamu emang hamilin tuh cewem" ucap Dio.
"Udah di bilangin aku ga hamilin anak orang, lagian kalau dia hamil, mana mungkin dia masih Sekolah disini." ucap Randy.
Dio semakin di buat terkejut mendengar ucapan Randy.
__ADS_1
"Apa kamu bilang? Dia masih satu sekolah sama kita, siapa orangnya?" tanya Dio penasaran.
Randy menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
Dia mengambil ponselnya dan memperlihatkan foto wallpaper ponselnya.
Lagi-lagi Dio terkejut saat melihat foto Dania saat berada di Danau, rupanya saat di Danau, Randy memotret Dania diam-diam.
"Ini kan si cantik, emmm ... maksud aku ini kan adik kelas kita, kalau ga salah namanya dania, kan?" tanya Dio.
Randy pun mengangguk.
"Sejak kapan kalian nikah?" tanya Dio.
"Dua bulan lalu" ucap Randy.
Dio pun mengangguk dan menatap Randy dengan menyeringai.
"Jadi, apa kalian udah ehhemm, ehhemm?" tanya Dio sambil menyeringai menatap Randy.
Pletak.
Randy melempar pulpen ke jidat Dio dan membuat Dio meringis kesakitan.
"Belom lah, justru karena itu aku kesel, Papanya Dania terlalu ikut campur." ucap Randy dengan nada kesal.
"Lah, emang kenapa dah?" tanya Dio.
"Papanya Dania itu udah kayak macan yang siap menerkam mangsanya, aku merinding kalau lihat matanya yang seram habis. Dia juga ngancem kalau sampe bikin anaknya hamil dalam waktu dekat ini, dia bakalan matahin burung aku. Kan gila tuh Papa mertua, masa mau ngancurin aset berharga aku yang bakal jadi hak patennya Dania." ucap Randy sambil bergidig membayangkan wajah dingin Papa mertuanya itu.
Hahahaha.
Dio pun tertawa tebahak-bahak dan memukul Kepala Randy.
Plak..
"Dasar bodoh, ngapain juga pusing-pusing mikirin mertua? emang kamu pikir saat kalian ehhem, dia bakalan lihatin kalian, gitu? Selagi kamu atau Dania ga bilang, ya dia ga bakalan tahu.
Nah, kalau urusan hamil kan kalian bisa nunda dulu, suruh aja Dania pakai alat kontrasepsi"ucap Dio.
Randy pun mengangguk dan berfikir tentang apa yang dio katakan.
******
Waktu pun berlalu.
Dania, Mia dan Ina jalan bersama menuju parkiran.
"Anterin aku ke Mall, yuk." ucap Dania.
"Mau ngapain?" tanya Mia.
"Mau ada yang aku beli" ucap Dania.
Mia dan Ina pun mengangguk.
Mereka bergegas menuju mobil Ina, saat Dania akan masuk ke dalam mobil, tiba-tiba ponselnya berdering dan ada nama hubby♥ di sana, yang tak lain adalah nomor Randy.
Dania melihat ke arah mobil Randy dan bertemu pandang dengan Randy.
Dania pun menjawab telpon Randy.
"Hallo"
"Mau kemana?" tanya Randy.
"Emmm ... Ada urusan bentar, ini buat tugas Sekolah." ucap Dania.
Sebetulnya Dania ingin memberi kejutan untuk Randy, karena itu dia akan pergi ke salah satu Mall.
"Ya udah." Randy pun mengakhiri telponnya.
Dania, Mia dan Ina langsung pergi menuju salah satu Mall.
Sesampainya di Mall.
Dania berjalan menuju departemen store di bagian khusus lingerie dan dalaman-dalaman seksi. Mia dan Ina mengernyitkan dahinya menatap Dania.
"Kamu ngapain beli kaya begituan?" tanya Ina bingung.
Dania pun tersenyum.
"Buat kado" ucap Dania.
__ADS_1
Mia dan Ina pun mengangguk tanpa curiga.
Setelah selesai, Dania pun langsung membayarnya di Kasir dan pulang ke Apartemen.
Dania membuka pintu Apartemen dan melihat Randy yang sedang menonton tv di ruang tamu.
Dania tersenyum melihat Randy sekilas dan pergi menuju kamarnya.
Dania mengunci pintu kamarnya dan membuka aper bag yang berisikan lingerie yang dia beli di Mall tadi.
Dania pun langsung mencobanya di depan cermin.
"Seksi banget" gumam Dania sambil melihat dirinya sendiri di cermin.
Rencananya malam ini Dania akan menggoda Randy agar Randy tak lagi mendiamkannya. Dania merasa tak enak hati karena harus saling berdiam-diaman seperti satu minggu ini, karena itu dia ingin memperbaiki hubungannya dengan Randy.
Setelah selesai mencoba, Dania menyimpan paper bag nya di lemari.
******
Di kamar, Randy tengah memainkan ponselnya. adia kepkiran ucapan Dio tadi siang, yang mana untuk masalah menunda kehamilan bisa dengan cara menggunakan alat kontrasepsi.
Randy pun mensearching tentang alat kontrasepsi, dia mengernyitkan dahinya saat melihat ada beberapa komentar yang salah satunya adalah,
"Lebih baik jangan coba-coba memakai alat kontrasepsi, akibatnya bisa fatal. Seperti tetangga saya, saat menikah karena tidak mau punya anak terlebih dulu, jadi dia menundanya dengan menggunakan alat kontrasepsi, dan sampai sekarang sudah 14th menikah justru belum juga memilik anak karena rahimnya menjadi kering."
Randy mengernyitkan dahinya dan menggeleng kan kepalanya.
"Gila, ngeri banget efeknya, kalau gini sih aku ga berani nyuruh Dania pakai alat begituan." gumam Randy.
Randy pun merasa bosan, dia keluar kamar menuju ruang tamu untuk menonton tv.
******
Di kamar, dania sedang gugup melihat dirinya di cermin dengan menggunakan lingerie merahnya yang membuat tubuhnya terlihat begitu seksi dan menggoda, di tambah kulitnya yang putih bersih membuat warna itu begitu cocok di kulitnya.
Dania menghembuskan nafas kasar dan mulai berjalan keluar kamar menuju kamar Randy.
Dania tak sadar bahwa Randy sedang memperhatikannya dari ruang tamu. Dania berjalan mengendap-endap, sudah seperti seseorang yang akan mencuri saja.
Randy pun berjalan perlahan mengahampiri Dania, dan saat akan menyentuh Dania tiba-tiba.
"Aaarrgghhhh ..." dania menjerit saat berbalik dan melihat Randy yang kini sedang ada di hadapannya.
Randy pun menengerutkan dahinya menatap Dania.
"Ngapain jalan ngendap-ngendap kaya gitu?" tanya Randy dengan tatapan menyelidik.
Dania mengatur nafasnya dan menatap Randy dengan canggung, saat Dania akan menjawab pertanyaan Randy, tiba-tiba Randy melewatinya dan masuk ke kamarnya.
Dania pun mengerutkan dahinya menatap punggung Randy.
"Apa-apaan dia? Apa dia sama sekali ga tergoda lihat penampilan aku seperti ini?" ucap Dania dalam hati.
Tanpa Dania sadari, saat ini Randy tengah mengatur nafasnya agar kembali normal karena melihat penampilan Dania yang begitu menggoda.
"Apa-apaan dia? Kenapa penampilannya kaya gitu? Aku ga boleh kepancing, jangan sampai kebablasan." ucap Randy dalam hari.
Randy pun mengusap wajahnya kasar dan dia tersentak saat tiba-tiba Dania memeluk dari belakang.
Darah randy terasa mendidih, suhu tubuhnya mendadak menjadi panas saat tangan lembut Dania mengusap lembut perutnya.
Randy ingin menolak, tapi entah mengapa dia tak bisa menggerakan tubuhnya untuk menghentikan tangan menggodanya Dania?.
"Aaarrgghhh ... hahaha." Dania menjerit dan seaat kemudian dia tertawa saat Randy mengangkat tubuhnya.
Brugh.
Randy dan Dania terhempas ke atas tempat tidur dengan posisi Randy berada di atas Dania.
Nafas Randy semakin berat, Randy menatap Dania dengan tatapan sayu penuh gairah.
"Kenapa kamu kaya gini? Gimana kalau aku ga bisa kontrol diri?" tanya Randy.
Dania pun tersenyum dan mengelus lembut pipi Randy.
"Aku ini istri kamu, kamu berhak atas diri aku, aku minta maaf soal ucapan Papa, tapi aku udah yakin dan udah memantapkan hati aku kalau aku mau jadi milik kamu sepenuhnya, dan aku juga mau kamu jadi milik aku sepenuhnya, aku mau jadi istri kamu yang sesungguhnya, aku akan melakukan kewajiban ku sebagai istri dengan memberikan hak kamu atas diri aku, hati aku, cinta aku, kasih sayang aku, dan tubuh akum" ucap Dania dengan lembut.
Randy hanya bisa memejamkan mata mendengar setiap kata yang keluar dari bibir manis Dania.
Randy pun menatap Dania dengan penuh cinta.
"Apa kamu yakin, sayang?" tanya Randy memastikan.
__ADS_1
Dania mengangguk dan tersenyum.
randy pun tersenyum.