Istri Jelekku

Istri Jelekku
Bab 23


__ADS_3

"Lo ke mana aja, sih? Gue nyariin lo dari tadi," ucap Dania.


"Mandi!" ucap Randy sambil berjalan menuju kamar mandi.


Keduanya memasuki kamar mandi. Randy menutup pintu kamar mandi, tetapi Dania langsung menahan tangan Randy.


"Lo mau apa, sih? Jangan bilang lo mau mandi sama gue?" tanya Dania.


"Emangnya kenapa? Ga ada yang salah kalau mandi bareng," ucap Randy.


"Ga mau, gue bisa mandi sendiri," ucap Dania.


"Terserah," ucap Randy malas dan langsung melepas seluruh pakaiannya dan mandi. Dania pun tercengang, Randy benar-benar tak tahu malu karena berani melepaskan pakaiannya di depan Dania.


Dania memilih keluar dan menunggu hingg Randy selesai mandi, dia tak mau mandi dengan Randy. Memalukan, pikirnya.


Selesai mandi, Randy keluar dari kamar mandi dan bergantian dengan Dania yang mandi. Setelah selesai mandi, dia keluar dan kebingungan karena tak memiliki baju ganti.


"Pake itu, gue udah nyuruh orang buat beliin baju baru buat lo," ucap Randy seraya menunjukkan sebuah paper bag di atas tempat tidur.


Dania mengambil paper bag itu, dia tersenyum tak menyangka Randy akan perhatian padanya. Dia pun memakai pakaian tersebut.


Malam itu, sepanjang malam keduanya hanya saling diam. Tak ada yang bicara, Dania pun merasa takut untuk memulai pembicaraan. Entah dari mana dia harus menjelaskan semua yang terjadi kemarin malam di acara ulang tahun Sasha.


Ke esokan harinya.


Randy dan Dania meninggalkan hotel, di perjalanan Randy mengatakan akan mampir ke supermarket terlebih dahulu. Dania pun setuju saja.


***


Waktu berlalu, saat ini Randy dan Dania sudah berada di salah satu supermarket, mereka akan membeli bahan-bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Randy yang mendorong troli dan Dania yang mengambil belanjaan yang dibutuhkan. Sesekali Dania kesulitan mengambil apa yang akan dia ambil karena letaknya yang terlalu tinggi, padahal dia saja sudah termasuk tinggi dalam ukuran tubuh wanita.


Seperti saat ini, Dania akan mengambil sesuatu yang letaknya tak bisa dia jangkau.


"Aaarrgghh ..." Dania memekik saat Randy memeluknya dari arah depan dan mengangkat tubuhnya. Dania mencoba melepaskan diri tetapi Randy menahannya.


"Udah diem, cepetan ambil apa yang mau lo ambil," ucap Randy dengan masih mengangkat tubuh Dania.


Dania segera mengambil barang tersebut tetapi Randy masih tak mau melepaskannya.


"Rand lepas!" ucap Dania sambil menepuk bahu Randy. Namun, Randy semakin mengeratkan pelukannya dan menggelengkan kepalanya, Randy pun mengendus perut rata Dania.


Dania terkekeh karena merasa tergelitik, dia memukul bahu Randy.


"Rand udah dong, geli," ucap Dania sambil terzs memukul bahu Randy.


Randy menjadi kewalahan dan perlahan mulai menurunkan Dania, belum sepenuhnya Dania turun, tiba-tiba Dania menjerit dan membuat perhatian beberapa orang di sana yang tanpa Dania dan Randy sadari kini sedang memperhatikan mereka.


"Aaaauuwww sakit, Rand!" Dania meringis kesakitan saat Randy dengan sengaja menggigit puncak dadanya.


Randy yang ikut terkejut pun langsung menurunkan Dania, dia menatap Dania yang tengah kesakitan.


Sepertinya, Randy terlalu kencang menggigitnya.


"Maaf. Gue terlalu gemas. Sini, biar gue lihat, luka atau enggak?" ucap Randy.

__ADS_1


Dania membulatkan matanya mendengar ucapan Randy.


Bugh!


"Aauww ..." Randy meringis saat Dania memukul dadanya.


"Dasar mesum! Udah deh, ayo, capek nih pengen cepet sampe apartemen!" ucap Dania sambil berlalu meninggalkan Randy.


Randy mengekori Dania sambil mendorong troli menuju kasir. Sesampainya di kasir, mereka langsung membayar belanjaannya dan setelah selesai membayar, Randy dan Dania pun membawa belanjaan ke dalam mobil, mereka pun pulang ke apartemen.


Sesampainya di apartemen.


"Aahhh, capek..." ucap Dania sambil duduk di sofa ruang tamu.


Sedangkan Randy langsung menuju dapur dan menata belanjaan di tempatnya. Setelah selesai, Randy menghampiri Dania di ruang tamu dan duduk di sebelah Dania sambil memberikan satu botol minuman dingin dan mulai menyalakan tv.


"Makasih, ya," ucap Dania sambil tersenyum dan langsung meminum minumannya.


Dania mengingat kembali kejadian semalam di hotel, saat dia terjatuh ke kolam dan menyebabkan identitasnya terbongkar. Saat itu, dia melihat ekspresi Randy yang sulit ditebak. Dania memberanikan diri membuka suara.


"Rand!" panggil Dania.


"Hem?"


"Maaf," ucap Dania pelan sambil menundukkan kepalanya.


Randy pun melihat ke arah Dania.


"Maaf buat apa?" tanya Randy.


Randy tersenyum menatap Dania.


"Gue udah tau, kok, siapa lo sebenernya," ucap Randy.


Dania terkejut mendengar ucapan Randy.


"Apa? Sejak kapan?" tanya Dania penasaran.


"Sejak awal," ucap Randy santai.


Dania mengerutkan dahinya menatap Randy.


"Lo ingat saat kita akan menikah? Waktu lo selesai make-up di kamar, gue ga sengaja lihat lo lagi nempelin tompel palsu lo, awalnya gue mau masuk ke kamar karena kebelet mau ke kamar mandi, tapi gue kaget waktu gue lihat semua itu," ucap Randy santai sambil tersenyum mengingat saat dia akan menikah dengan Dania.


Flashback.


Di hari pernikahan Randy dan Dania.


Randy sudah siap memakai pakaian pengantin dan saat ini sedang duduk berhadapan dengan penghulu. Sudah ada kedua keluarga inti yang sudah menunggu di sana bersama Randy, kecuali mama Dania yang sedang menemani Dania bersiap di dalam kamarnya.


Semakin mendekati jam ijab qobul, Randy semakin berkeringat dingin dan gugup, tentu saja gugup, karena ini hari pernikahannya. Meskipun pernikahan yang tak dia harapkan, tetap saja dia merasa gugup dan takut. Papa Randy yang merasakan anaknya itu gugup, dia pun mencoba menenangkan Randy.


"Tarik napas dalam-dalam, dan hembuskan perlahan, Nak," ucap Papa Randy.


Randy menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan tetapi dia tetap saja merasa gugup, tubuhnya gemeteran, perutnya terasa melilit saking gugupnya.

__ADS_1


"Maaf, Saya permisi ke toilet sebentar," ucap Randy.


Randy pergi menaiki anak tangga menuju kamar Dania. Saat telah sampai di depan pintu kamar, pintu itu tak tertutup rapat. Randy mendengar percakapan antara Dania dan mamanya.


"Sayang, sampai kapan kamu akan terus seperti ini? kamu sudah mau menikah loh, saat tinggal bersama nanti, sudah pasti suami kamu bakalan tahu yang sebenernya," ucap Mama Dania.


Dania menghela napas.


"Entahlah, Ma. Itu gimana nanti aja, kalau sampe rahasia aku terbongkar, aku akan jujur dan mungkin minta maaf," ucap Dania.


Randy semakin penasaran dibuatnya, rahasia apa yang di maksud Dania dan mamanya itu? Dia pun perlahan membuka pintu dengan agar Dania dan mamanya tak mendengar suara pintu.


Randy terkejut kagum saat melihat Dania yang begitu cantik memakai kebaya pernikahannya, sungguh tidak seperti Dania yang biasanya, si cupu dan si jelek. Randy merasa seperti ada yang hilang dalam diri Dania, dia mencoba mengingat apa itu yang hilang?


Betapa terkejutnya Randy saat melihat Dania menempelkan tompel yang selama ini setahu Randy adalah tompel asli, ternyata tompel itu palsu. Randy benar-benar tak menyangka ternyata gadis yang akan dia nikahi adalah gadis yang begitu cantik. Tanpa sadar Randy pun menyunggingkan senyumnya.


"Kita lihat, berapa lama lo akan bertahan dengan keadaan seperti ini?" gumam Randy.


Randy menarik napas dalam dan perlahan mengembuskannya, dia merapikan bajunya dan berbalik, dia pun kembali menuju meja ijab qobul dan mengurungkan niatnya untuk memasuki kamar Dania.


Flashback end.


"Lucu sih, ga habis pikir aja. Kok, cewek secantik lo mau ngelakuin hal gila macam itu," ucap Randy sambil tersenyum.


Dania pun merasa malu karena Randy sudah tahu tentang dirinya sejak awal, wajahnya bahkan sudah memerah.


"Tapi Rand, kenapa waktu di hotel kamu ninggalin gue gitu aja tanpa ngomong apapun?" tanya Dania.


Randy mendekati Dania dan mengembuskan napas ke telinga Dania, Dania memejamkan matanya, dia merasa merinding.


"Itu karena, gue ga tahan lihat kamu," bisik Randy.


Jantung Dania berdegup kencang, dia menjadi panas dingin mendengar bisikan Randy.


Randy tersenyum melihat ekspresi wajah Dania, bahkan kini wajahnya benar-benar sudah memerah.


Randy meletakkan kepalanya di atas paha Dania dan tak ada penolakan dari Dania. Randy terus menatap Dania dan begitu pun sebaliknya.


"Apa masih sakit?" tanya Randy.


"Maksudnya?" tanya Dania bingung.


"Apa ini masih sakit?" tanya Randy sambil memegang dada Dania yang dia gigit tadi.


Dania pun tersentak dan langsung menepis tangan Randy.


"Udah nggak," ucap Dania.


Randy pun tersenyum nakal dan semakin ingin menjahili Dania.


Disingkapnya kaos yang Dania kenakan dan terlihatlah dada Dania. Dania membulatkan matanya, dia terkejut dengan apa yang Randy lakukan.


"Dasar mesum!"


Brugh!

__ADS_1


__ADS_2