
Dua minggu sudah Randy di rawat di rumah sakit, dan kini dia pun sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Namun memang masih harus melakukan kontrol ke rumah sakit. Selama itu juga Dania menjalani kehidupannya tanpa Randy. Selama sebelas hari ini Dania tak lagi datang untuk menemui Randy. Setelah kejadian di hari itu, hari di mana Randy menjadi syok saat melihat foto wallpaper di ponselnya yang memperlihatkan foto keluarga kecilnya, Randy pun kembali mengalami rasa sakit yang hebat di kepalanya. Wajar saja, butuh waktu memang untuk memulihkan luka dalamnya. Akan lebih mudah menyembuhkan luka luar di bandingkan luka dalam, seperti itulah yang Randy alami. Lukanya bukan lah luka goresan di kulit yang akan sembuh dalam hitungan hari, melainkan luka yang di deritanya bahkan bisa menyebabkan trauma akibat benturan keras yang bahkan sampai membuatnya kehilangan sebagian memori ingatannya.
Semenjak kejadian itu juga Dania bagaikan hilang di telan bumi. Tak ada yang mengetahui keberadaan Dania, kecuali dua orang yang paling Dania percayai dan paling mendukung keputusan Dania untuk menghilang sementara waktu.
Dania pun membawa serta baby Raydan dan baby Rayna bersamanya. Dia pun tak lagi tinggal di rumahnya yang Randy belikan dulu. Rumah itu kini hanya di tinggali oleh Bibi yang memang di tugaskan untuk mengurus rumah itu selama Dania tak di rumah. Randy pun tak tinggal di rumah itu, melainkan tinggal di apartemennya. Randy sama sekali tak mengingat apapun tentang kejadian yang terjadi kurang lebih empat tahun ini, jadi dia pun tak mengetahui jika dia saat ini adalah seorang pengusaha muda, pemilik dari beberapa cabang restauran.
Meski begitu, perusahaan F&B nya masih tetap berjalan di tangan Gio dan Sheila. Dania pun percaya kepada kedua rekan bisnisnya itu.
Tentu tak akan mudah mengurus dua anak sekaligus. Meskipun Dania kembali memakai jasa baby sitter , namun dia tetap ikut andil mengurus baby Raydan dan baby Rayna.
Apa dia sedih? Jawabannya tentu , ya.
Hati istri mana yang tak sedih saat harus berjauhan dari suaminya? Semua istri tentu ingin suaminya juga ada di sampingnya, mendukungnya dan merawat buah hati mereka bersama. Meski begitu, Dania tetap bersyukur karena kecelakaan itu hanya merenggut ingatan Randy, bukan lah nyawa nya. Walau sejujurnya terkadang Dania merasa lelah karena cobaan dalam hidupnya seolah tak pernah berakhir, namun sebisa mungkin dia mencoba melewati semua itu.
Sampai sekarang pun belum ada titik terang untuk masalah kecelakaan Randy.
Flashback.
Satu Minggu setelah kecelakaan Randy.
Siang ini Dania datang ke kantor polisi yang menangani kasus kecelakaan Randy di Bandung. Dia akan menanyakan perkembangan kasus kecelakaan yang menimpa Randy. Dia tak begitu mementingkan urusan restauran karena memang sudah ada yang mengurus masalah itu, yaitu General menejer lah yang mengurus masalah itu dan mewakili perusahaan.
Saat ini Dania tengah duduk berhadapan dengan salah satu Kompol di Kantor polisi tersebut.
"Jadi, bagaimana kelanjutan masalah ini, Pak? Sudah satu Minggu tetapi mengapa belum juga ada titik terang?" ucap Dania.
"Maafkan kami, kami sudah berusaha. Sejak awal kami melakukan investigasi, kami memang menemukan rem yang blong, Sepertinya ini memang di lakukan oleh orang yang profesional dan sepertinya yang melakukan ini bukan lah orang biasa. Semuanya di lakukan dengan amat sangat rapih hingga tak meninggalkan jejak apapun. Kami dari pihak kepolisian pun tak bisa meminta keterangan dari saudara Randy, karena beliau tak mengingat apapun saat kecelakaan itu terjadi." ucap Polisi.
Dania menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.
Siapa kira-kira yang sudah membuat Randy celaka? Pikir Dania.
"Kalian pihak kepolisian tentu punya berbagai macam cara untuk membongkar masalah ini agar semuanya cepat selesai. Disini suami saya yang menjadi korban, dia bahkan sampai kehilangan ingatannya dan melupakan kami keluarganya. Jadi, tolong anda usahakan untuk segera memecahkan masalah ini, Pak." ucap Dania.
"Tentu, kami akan berusaha sebaik mungkin." ucap Polisi.
"Bagaimana dengan keterangan saudari Sasha? Apa tak ada yang bisa anda simpulkan dari keterangannya?" tanya Dania.
"Keterangan dari saudari Sasha tak bisa membantu cukup banyak untuk membuat kasus ini menjadi jelas, karena dia hanya melihat saat mobil korban menabrak sebuah pohon saja." ucap Polisi.
Dania pun mengangguk.
"Lalu, bagaimana dengan cctv di area basemant tempat suami saya memarkirkan mobilnya? Pasti ada informasi di sana." ucap Dania.
Polisi pun menggelengkan kepala.
"Pada malam itu, cctv basemant sedang tak berfungsi." ucap polisi.
"Ya ampun, Mall macam apa yang cctv nya mati?" ucap Dania dengan geram.
Dia tak habis pikir, bagaimana bisa cctv basemant di sebuah Mall yang cukup besar bisa mati? Padahal jalan terakhir adalah cctv itu yang kemungkinan besar dapat memecahkan masalah ini.
"Kami akan menghubungi anda jika kami menemukan titik terang." ucap Polisi.
Dania pun mengangguk dan pergi dari kantor polisi.
Di perjalanan kembali, Dania terus memikirkan ucapan polisi tadi. Menurut dugaan polisi kemungkinan ini adalah perbuatan orang yang berpengaruh. Artinya, orang itu bukanlah orang yang biasa.
Tapi siapa orang itu? Terlalu banyak orang berpengaruh di sekitar Randy dan Dania. Tak mungkin dia bisa menebaknya satu per satu. Lagi pula selama ini Randy maupun Dania selalu berusaha berhubungan baik dengan siapa pun.
Flashback end.
******
Di apartemen Randy.
Randy melihat sekeliling kamar. Dia melihat ada banyak yang berubah dari kamar itu. Kamar itu tak seperti kamar yang pernah dulu dia tinggali saat masih pelajar.
Dia membuka lemari pakaiannya, dia pun mengerutkan dahi saat melihat ada beberapa baju-baju perempuan dan ada beberapa dalaman perempuan juga disana. Dia tak ingat apapun tentang baju-baju itu. Bahkan yang dia ingat, dia memang brengsek dan suka mempermainkan perempuan, namun dia tak pernah membawa wanita ke apartemennya.
"Apa iya, dulu gue sempat bawa Sasha ke sini? Apa ini baju-baju Sasha? Tapi di lihat dari ukurannya kayaknya bukan punya Sasha." gumam Randy.
Randy memang mengingat Sasha, karena Sasha lah wanita terakhir yang dekat dengannya. Randy pun tahu ukuran pakaian yang Sasha gunakan karena dia pernah sangat dekat dengan Sasha, dan Randy tak mengingat bahwa dia sudah menikah dengan Dania. karena hari itu, hari dimana Randy syok saat melihat foto keluarga kecilnya dan Randy mengalami sakit lagi di kepalanya hingga dia tak sadarkan diri. Setelah siuman, Randy pun kembali tak mengingat apapun. Dia bahkan tak ingat bahwa dia pernah melihat foto keluarganya.
Mama Randy mau pun Dania sepakat untuk menghilangkan semua yang bersangkutan dengan masa lalunya demi kebaikan Randy, agar Randy tak lagi merasa syok.
Randy memegang kepalanya yang kembali terasa sakit.
"Sial, sakit lagi." gumam Randy.
Dia pun mendekati tempat tidur dan duduk di tepi tempat tidur. Ingin sekali rasanya mengingat semua masa lalu nya, namun apa daya dia tak sanggup mengingatnya karena kepalanya akan kembali terasa sakit jika dia memaksa untuk mengingatnya.
Tok tok.
"Masuk." teriak Randy.
Pintu kamar terbuka dan terlihat lah sang Mama yang tengah membawakan makan siang.
"Mama bawakan makan siang, kamu makan dulu , terus meminum obat." ucap Mama.
Randy mengangguk dan Mama pun menyimpan makan siang itu di lemari kecil samping tempat tidur.
"Makasih, Ma." ucap Randy.
Mama pun mengangguk dan keluar dari kamar Randy.
Randy menyantap makan siangnya, namun ada sesuatu yang berbeda.
Entah apa itu, tetapi seperti ada sesuatu yang kurang dalam dirinya.
__ADS_1
Padahal seingatnya, dia sudah terbiasa melakukan apapun sendiri. Jadi, perasaan apa sebenarnya yang dia rasakan saat ini?
Dia pun tak menghabiskan makan siangnya
, bahkan makan siangnya hanya di makan sedikit saja. Dia memilih untuk langsung meminum obatnya.
Setelah meminum obat, rasa kantuk pun mulai terasa dan Randy pun langsung terlelap.
******
Satu bulan berlalu dari semenjak Randy kecelakaan.
Kini keadaan Randy sudah jauh lebih baik dan rasa sakitnya perlahan mulai berkurang dan tak datang sesering sebelumnya.
Dia pun rencananya akan segara masuk kuliah, karena sang Mama sudah mengatakan bahwa dia saat ini sudah berkuliah di salah satu Universitas.
Sebetulnya dokter menyarankan agar Randy istirahat lebih lama di rumah dan tak terlalu banyak berpikir, namun Randy merasa bosan berada di rumah. Dia memang bukan lah orang yang senang berada di rumah. Bahkan saat sekolah dulu, dia sering sekali pergi ke Klub malam langganannya. Jadi, dia benar-benar merasa bosan karena terus berada di dalam ruangan. Setelah di rawat selama dua Minggu di rumah sakit dan dua Minggu ini dia terus berdiam diri di rumah.
"Apa kamu yakin, Rand, mau masuk kuliah besok?" tanya sang Mama.
"Iya, Ma. Aku bosan, Ma." ucap Randy.
"Tapi kamu belum pulih benar, Rand. Bersabar lah sedikit lagi, kalau kamu bosan, mendingan lakuin yang lain supaya bisa mengurangi rasa bosan kamu." ucap Mama.
Randy menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.
"Ada sih, yang bisa ngurangin rasa bosan aku." ucap Randy.
"Nah, itu aja kamu lakuin." ucap Mama.
"Apa Mama yakin aku boleh ngelakuin itu?" tanya Randy.
"Ya, selagi kamu ga merasa bosan." ucap Mama.
"Oke." ucap Randy.
Randy pun mengambil jaket kulit dan kunci mobilnya.
"Mau kemana kamu, Rand?" tanya Mama.
"Mau ke Klub." ucap Randy.
Mama Randy membulatkan matanya dan mendekati Randy.
"Apa-apaan kamu, ha? Belum sembuh malah mau main ke tempat laknat kaya gitu." ucap Mama sambil menjewer kuping Randy.
"Auww .. Tadi Mama bilang boleh."ucap Randy sambil meringis kesakitan.
"Mama izinin kamu ngelakuin hal yang bisa mengurangi rasa bosan kamu, bukannya malah main ke klub." ucap Mama.
"Ya, tapi itu yang bisa bikin aku ga bosan lagi, Ma." ucap Randy.
"Iya, iya, aku ga ke sana, deh." ucap Randy sambil mendengus kesal.
Dia pun masuk kedalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya. Sungguh dia benar-benar merasa bosan. Dia pun bangun dari tidurnya dan mondar-mandir sambil berpikir sesuatu.
"Ahh, suruh Dio aja kesini. Mama nginep di sini juga ga bisa di ajak ngobrol." gumam Randy.
Randy pun menghubungi Dio dan memintanya untuk datang ke apartemen.
Tiga puluh menit kemudian.
Ceklek ..
Dio membuka pintu apartemen, Dia ini memang mengetahui password pintu apartemen Randy karena Randy tak pernah mengganti pintu apartemennya meski setelah menikah dengan Dania.
Dio pergi menuju kamar Randy. Dia pun tak canggung lagi saat memasuki apartemen Randy dan menganggap apartemen milik temannya itu adalah apartemennya juga. Dengan santai dia melangkah menuju kamar Randy.
Saat sudah sampai di depan pintu kamar Randy, tiba-tiba ada yang membuka pintu kamar tamu yang berada di sebelah kamar Randy.
Dio yang akan membuka pintu kamar Randy pun jadi mengurungkan niatnya dan menunggu orang itu keluar dari kamar tamu.
Namun beberapa detik menunggu tetapi tak ada yang keluar dari kamar tamu. Dio pun penasaran, dia berpikir pasti Randy yang berada di dalam kamar tamu.
Dio pun akan masuk kedalam kamar tamu.
"ASTAGA ..! Setan." teriak Dio.
Dio terkejut melihat sosok menyeramkan yang kini ada di hadapannya.
Sosok itu membulatkan matanya dan menjewer kuping Dio hingga membuat Dio meringis kesakitan.
"Ampun, arrgghhh .." ringis Dio.
Teriakan Dio tadi mengundang perhatian Randy dan Randy pun bergegas menghampiri Dio.
"Ada apaan, sih?" tanya Randy.
"Ada setan, Bro." ucap Randy.
Randy pun membulatkan matanya dan menggelengkan kepala.
"Aaargghh .. Sakit, sakit." ucap Dio saat orang itu kembali menjewer kuping Dio dengan kuat.
"Lu yang bener aja, dong. Masa nyokap gue di bilang setan." ucap Randy sambil berlalu masuk ke dalam kamar.
Dio pun menatap ke arah orang yang masih menjewer kupingnya dan tersenyum polos.
"Maaf, Tan. Kirain setan tadi." ucap Dio.
__ADS_1
Bagaimana Dio tak mengira Mama Randy adalah sesosok hantu? Bayangkan saja, penampilan Mama Randy memang menyeramkan. Dia memakai dress tidur panjang berwarna putih, rambutnya tergerai dan wajahnya di tutupi masker wajah.
Mama Randy pun menatap tajam pada Dio.
"Lihat baik-baik, ini setan apa bukan?" tanya Mama Randy sambil mendekatkan wajahnya ke arah wajah Dio.
Dio menelan air liurnya dan mencoba menjauh dari Mama Randy.
"Ampun, Tan. Jangan makan aku." ucap Dio.
"Ga ada ampun bagimu." ucap Mama Randy dengan nada kesal dan menjentik dahi Dio.
"Dasar anak nakal." ucap Mama Randy.
Dio pun tersenyum dan memegangi kupingnya yang terasa panas akibat di jewer oleh Mama Randy.
"Aku masuk ke kamar dulu, Tan." ucap Dio.
"Tunggu, Yo." ucap Mama Randy.
"Ya, kenapa, Tan?" tanya Dio.
"Jangan mengatakan apapun yang bisa membuat Randy jadi kepikiran, dia belum boleh berpikir berat." ucap Mama Randy.
Dio pun mengangguk.
"Siap, Tan." ucap Dio.
Dio pun masuk ke dalam kamar dan melihat Randy yang tengah duduk di sofa.
"Lo udah baikan, Rand?" tanya Dio yang mulai duduk di samping Randy.
Randy mengangguk.
"Syukur lah, gue senang dengarnya." ucap Dio.
"Thanks, Yo." ucap Randy.
Dio pun mengangguk.
"Yo .." ucap Randy.
"Hhmm ..."
"Apa yang lo ketahui tentang 4 tahun terakhir ini?" tanya Randy.
Dio terdiam sejenak.
"Kenapa emang?" tanya Dio.
"Gue ngerasa ada yang kurang dalam hidup gue, tapi apa itu, gue juga ga tahu." ucap Randy.
"Jangan terlalu banyak berpikir. Waktu akan membawa lo mengingat semua masa lalu lo lagi." ucap Dio.
Randy mengangguk dan pergi menuju lemari pakaiannya.
"Menurut lo, semua ini punya siapa?" tanya Randy sambil menunjukkan baju perempuan dan dalaman seorang perempuan.
Dio membulatkan mata dan menelan air liurnya. Dia tahu itu pasti milik Dania. Bisa-bisanya temannya itu menunjukkan milik istrinya itu pada pria lain. Untung saja Randy sedang kehilangan memori ingatannya, jika tidak, Dio sudah akan memukul kepala sahabatnya itu.
"Gue ga tahu." ucap Dio sambil membuang wajahnya dan melihat ke arah lain.
"Lo yakin ga tahu?" ucap Randy.
"Ya, ga tahu. Mungkin lo maniak barang-barang cewek kali, jadi lo koleksi yang begituan." ucap Dio.
Randy pun membulatkan matanya.
"Apa iya selama 4 tahun kemarin gue jadi maniak barang-barang cewek? Sampai ke dalamannya juga?" tanya Randy tak percaya.
Dio pun mengangguk.
"Udah jangan terlalu banyak mikir. Mendingan kita minum." ucap Dio.
Lagi-lagi Randy membulatkan matanya.
"Lo ngajakin gue minum di saat keadaan gue kaya gini?" ucap Randy.
Dio pun mengangguk.
"Minum air, Gue haus, gue tamu di sini, tapi lo ga ngasih gue minum. Teman macam apa lo membiarkan teman sendiri kehausan?" ucap Dio.
"Oh, gue kira lu ngajakin gue minum alkohol." ucap Randy sambil tersenyum.
"Huh, bisa di makan gue sama nyokap lo." ucap Dio.
"Ya, tapi sebelum dimakan, Tante cincang kamu terlebih dulu, biar gampang makannya." teriak Mama Randy dari luar kamar.
Randy pun terkekeh, sementara Dio langsung bergidik ngeri.
******
Hai, hai.
Menurut kalian, Dania pergi kemana bawa anak-anaknya?
Ngomong-ngomong tolong kasih vote buat Author dong, readers baik hati. 🥰🥰
Oh ya, spoiler, nih.
__ADS_1
Akan ada sesuatu besok. 🤪