
Dania mengambil ponselnya yang berdering dan menatap ke arah layar ponsel itu, ada nama Papanya di sana.
dania pun menjawab telpon Papanya.
"Hallo, Pa." ucap Dania.
"Hallo, sayang, Apa hari ini bisa ke kantor?" tanya sang Papa.
Dania menatap ke arah Randy yang tengah terpejam dengan berbantalkan pahanya.
"Maaf, Pa. Kayanya, hari ini aku ga bisa ke kantor, lagi. Randy mual lagi, Pa." ucap Dania.
"Gimana laporan kesehatannya? Apa ada masalah serius?. tanya sang Papa.
"Semuanya baik, Pa. Udah tiga Rumah Sakit, bahkan empat Rumah Sakit karena pertama waktu kami masih di Bangkok. Itu juga hasil laporan kesehatannya baik-baik aja. Tapi kenapa mualnya ga hilang-hilang, ya, Pa? Aku bingung, deh, jadinya. Sakit apa sebenernya Randy ini." ucap Dania sambip menatap cemas pada randy.
"Ya, sudah, kamu urus aja dulu suami kamu, kalau sudah lebih baik, kamu boleh kembali ke kantor, masih ada waktu satu minggu kan sebelum kamu resign dari sini" ucap Papa Hamish.
"Iya, Pa, makasih, ya." ucap Dania.
Setelah selesai bicara, telpon itu pun terputus
Dania menatap Randy yang begitu nyaman terlelap berbantalkan pahanya.
Dia mengusap lembut rambut Randy.
Dia tak habis pikir dengan penyakit yang di derita Randy, Sudah satu minggu ini Randy terus mual, dan anehnya, rasa mual itu datang hanya di jam-jam tertentu. Seperti saat pagi hari dan sampai pukul 10.00-10.30 Wib. Lewat dari jam itu, keadannya pasti akan membaik dan Randy bahkan bisa beraktivitas kembali seperti biasanya. Sudah empat rumah sakit selama satu minggu ini yang Dania dan Randy datangi namun hasil laporan selalu menunjukan bahwa Randy tak mengalami gangguan kesehatan. Tubuh Randy bahkan sangat sehat dan itu membuat Dania apa lagi Randy benar-benar bingung. Bagaimana bisa hasil laporan kesehatannya berbeda dengan kenyataan yang randy alami? Pagi tadi Randy bahkan kembali merasakan mual.
Dania terus mengusap lembut rambut Randy, membuat Randy menggeliat dan membuka matanya.
"Kamu baik-baik aja, Apa mau sesuatu?" tanya Dania.
Randy mendudukkan dirinya dan bersender d ikepala tempat tidur.
"Apa masih, mual?" tanya Dania.
Randy pun mengangguk.
"Aku mau minum lemon jus, yank" ucap Randy.
Dania menatap bingung pada Randy.
"Perut kamu lagi ga enak, yank. Jangan minum yang asam, dulu." ucap Dania.
Randy menggelengkan kepala.
"Aku mau minum yang seger-seger." ucap Randy.
"Jus jeruk aja gimana?" tanya Dania.
Lagi-lagi Randy menggelengkan kepala.
"Jus lemon, yank, please." ucap Randy.
Dania menghembuskan nafas perlahan dan mengangguk.
"Ya, udah. Aku minta Bibi bikinin." ucap Dania.
Randy mengangguk dan memasang wajah ceria.
Dania pun tersenyum melihat ekspresi Randy, ekspresi nya mirip seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah saja.
Dania pergi menuju dapur dan meminta Bibi membuatkan jus lemon.
"Tolong buatin jus lemon, ya, Bi. Jangan lupa di kasih gula, Bi, biar ga terlalu asam." ucap Dania dan diangguki oleh Bibi.
"Oh, ya, Bi. Menurut Bibi, Randy, tuh, sakit apa, ya? Kok aneh, deh, setiap pagi mual terus. Udah seminggu, mualnya ga hilang-hilang, bikin cemas deh bi" ucap Dania.
"Maaf, Non, menurut Bibi den Randy memang ga sakit, Non, tetapi ada faktor lain yang membuat aden terus mual selama beberapa hari ini." ucap Bibi.
Dania menatap bingung pada bibi.
"Apa maksud, Bibi?" tanya Dania.
"Den Randy sepertinya sedang mengidam, Non." ucap Bibi
"Apa ..?" Dania membulatkan matanya, dia terkejut mendengar ucapan Bibi.
"Maksudnya, Randy, ngidam yang kayak orang hamil, gitu?" tanya Dania tak percaya.
"Iya, Non" ucap Bibi.
Dania menelan air liurnya.
"Apa mungkin Randy bisa hamil, Bi?" tanya Dania ragu-ragu.
Bibi terkikik mendengar pertanyaan majikannya itu.
"Bukan Den, Randy. Tapi, Non, yang sedang hamil." ucap Bibi.
"Apa ..?" lagi-lagi Dania membulatkan matanya mendengar ucapan Bibi.
"Tapi saya ga ngerasin apa-apa, Bi." ucap Dania.
"Memang ada yang seperti itu, Non. Apa, Non, tahu? Dulu Bibi, pun, sama. Waktu Bibi mengandung anak pertama, yang ngidam malah suami Bibi. Sama persis kaya den Randy. Setiap pagi mual, maunya makan yang asam-asam. Suami Bibi juga mual kalau nyium aroma makanan tertentu." ucap Bibi.
Dania hanya diam. Dia masih mencoba mencerna ucapan Bibi.
"Apa, Non, sudah telat, datang bulan?" tanya Bibi.
"Ini belum waktunya aku datang bulan, Bi. Tapi terakhir sebelum aku pergi ke Bangkok waktu itu, sih, aku datang bulannya sedikit dan cuma sehari doang, sih, waktu itu, padahal biasanya, aku paling lama seminggu, kalau datang bulan." ucap Dania.
Bibi pun tersenyum dan mengangguk.
"Mau Bibi belikan testpack, Non?" tanya Bibi.
"Apa? Buat apa?" tanya Dania bingung.
"Untuk membuktikan, Non, hamil atau tidak." ucap Bibi.
__ADS_1
"Tapi, Bi, gimana kalau aku ga hamil? Aku takut kecewa nantinya, Bi." ucap Dania sendu.
Bibi tersenyum dan menggenggam tangan Dania.
"Kita tidak akan tahu, kalau tidak mencobanya, Non." ucap Biibi.
Dania berpikir sejenak.
"Aku pikir-pikir dulu, deh, Bi. Makasih, ya, jusnya. Aku ke atas dulu." Dania pun pergi meninggalkan Bibi.
Begitu sampai di kamar, Dania melihat Randy yang tengah tersenyum padanya.
Dania mendekati Randy dan memberikan jus lemon padanya.
Randy pun langsung menenggaknya.
"Ahh ... Segarnya, makasih, yank." ucap Randy sambil tersenyum manis.
Dania mengangguk dan tersenyum.
Dania terus menatap Randy sambil mengingat ucapan Bibi tadi.
"Apa, iya, aku hamil? Kalau di pikir-pikir Randy memang aneh, beberapa hari ini." batin Dania.
Selama seminggu ini tingkah Randy memang aneh.
Dania masih terus larut dalam pikirannya, dia tersentak saat Randy menusuk-nusuk pipinya.
"Ngelamunin apaan, sih,yank? Sampai aku ngomong ga, di dengerin." ucap Randy.
"Ga ada, kok. Emang kamu ngomong apa, barusan?" tanya Dania.
Randy menghela nafas perlahan.
"Ayo kita ke Bogor." ucap Randy.
Dania mengerutkan dahinya.
"Ngapain ke Bogor?" tanya Dania bingung.
"Makan asianan Bogor" ucap randy.
"Apa? Ngapain harus ke Bogor, kalau cuman mau asinan bogor? Kita cari di sini aja. Mungkin, ada yang jual." ucap Dania.
"Aku maunya makan langsung di kotanya." ucap Randy.
"Benar, kan. Ga salah lagi, emang jadi aneh, tingkahnya." batin Dania.
"Yank .." panggil rmRandy.
"Ya." ucap Dania.
"Ayo siap-siap, nanti kesiangan" ucap Randy.
Dania menghembuskan nafas agak kasar dan mengangguk.
Dia pun bergegas bersiap.
Begitu keluar dari tol, Pak Adi terus menyusuri jalanan berharap dapat menemukan orang yang menjual asinan Bogor. Namun saat itu susah sekali menemukan asinan Bogor.
"Kita ke Stasiun Bogor aja, ya, den." ucap Pak Adi.
Randy hanya mengangguk.
Dia sudah sangat tidak sabar ingin segera memakan asinan Bogor yang ada di pikirannya. Berkali-kali dia bahkan menelan air liurnya karena membayangkan segarnya memakan asinan Bogor.
Jalanan menuju Stasiun Bogor cukup padat siang itu. Yah? namanya juga kota seribu angkot, sudah tak aneh lagi jika jalanan di padati dengan angkot-angkot berwarna hijau.
Setelah cukup lama, akhirnya sekitar pukul 13.00 wib sampai lah di Stasiun bogor dan beruntung lah ternyata ada beberapa orang yang berjualan dipinggir jalan dekat stasiun bogor.
Randy langsung turun dan menghampiri salah satu penjualnya.
"Bang mau satu, ya." ucap Randy.
Abang penjual asinan itu pun mengangguk dan membuatkan asinan Bogor tersebut.
Randy duduk di kursi dan langsung melahap asinan itu.
"Apa kamu mau, yank?" tanya Randy.
Dania menggelengkan kepalanya.
Pikirannya tak karuan saat ini. Dia yakin, memang ada yang tak beres pada suaminya itu. Tingkahnya semakin aneh. Ngapain juga jauh-jauh ke Bogor cuma karena mau memakan asinan saja? padahal bisa cari di Jakarta, mungkin ada yang menjualnya, pikirnya.
Dania terus teringat ucapan Bibi pagi tadi.
"Bibi benar, aku ga akan tahu kalau ga mencobanya. Kayanya harus buruan beli testpack." batin Dania.
Setelah selesai Randy dan Dania pun membayarnya.
"Ada lagi, yang mau kamu makan, yank?" tanya Dania.
Randy menggelengkan kepalanya.
"kita langsung balik ke rumah aja, Pak." ucap Randy dan di angguki oleh Pak Adi.
Di tengah perjalanan, Dania meminta Pak Adi untuk berhenti di salah satu Apotek.
"Mau ngapain ke Apotek? Apa kamu, sakit?" Tanya Randy sambil menatap menyelidik pada Dania.
Dania menggeleng dan tersenyum.
"Aku mau beli vitamin, buat daya tahan tubuh biar ga gampang sakit." ucap Dania.
Randy pun mengangguk tanpa curiga.
Dania bergegas turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam Apotek.
Dia membeli beberapa benda pipih yang biasa di namakan testpack itu. Dia pun membeli beberapa merk yang berbeda.
__ADS_1
Dia langsung memasukkan benda pipih tersebut ke dalam tasnya dan membeli satu botol multivitamin agar Randy tak curiga padanya.
Setelah selesai membayar Dania pun kembali ke mobil.
"Apa udah selesai, yank?" tanya Randy.
Dania pun mengangguk.
"Udah yuk, Pak, jalan." ucap Dania.
Pak Adi pun langsung melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan Randy tertidur dan sekali lagi Dania menatap lekat wajah lelap Randy. suaminya itu benar-benar manis, saat sedang tidur begini seperti seorang bayi, pikirnya.
******
Pukul 21.00 wib Randy tengah sibuk di ruang kerjanya. Karena keadaannya yang kurang baik beberapa hari ini, membuat beberapa pekerjaannya agak terabaikan
"Yank.." panggil Dania.
Randy yang tengah sibuk dengan beberapa berkas di tangannya pun melihat sekilas pada Dania.
"Kenapa, yank?" tanya Randy.
"Udahan kerjanya, kamu harus banyak istirahat, loh" ucap Dania.
Randy menghentikan sejenak kegiatannya dan menatap Dania.
"Aku kok, deg-degan ngeri, deh, yank, takut besok aku mual-mual, lagi." ucap Randy sendu.
Dania mendekati Randy dan merapikan berkas-berkas yang berada di atas meja.
"Ya, udah. Ayo istirahat, biar badan kamu cepet pulih kaya biasa lagi." ucap Dania.
Randy mengangguk dan pergi menuju kamar bersama dania.
Randy dan Dania pun berbaring dan langsung terlelap.
******
Keesokan paginya..
Dania bangun lebih pagi hari ini, di karenakan biasanya pukul 06.00 wib Randy akan terbangun dan langsung berlari ke kamar mandi karena merasakan mual.
Dengan cepat Dania beranjak dari tempat tidur dan mengambil testpack yang dia beli kemarin.
Dia pun masuk ke dalam kamar mandi dan langsung menggunakan testpack tersebut.
Dia duduk di closet dan menunggu hasilnya dengan sabar.
Hoek.
Dania tersentak dan langsung berdiri saat tiba-tiba Randy masuk ke dalam kamar mandi dan seperti sebelumnya, Randy pun kembali merasakan mual. Testpack itu bahkan sampai terjatuh ke lantai saking terkejutnya Dania karena Randy masuk tiba-tiba.
"Ohh .. Ga enak, mual lagi, kan." gumam Randy.
Mata dan wajahnya memerah karena merasakan mual yang teramat sangat. Sungguh membuatnya tak nyaman.
Tubuhnya terasa lemas dan dia pun terududuk lemas di closet.
Dania masih diam mematung, Sementara randy menatap Dania penuh tanya.
"Kamu lagi apa di kamar mandi, yank?" tanya Randy dengan suara lemah.
"Ga, ngapa-ngapain." ucap Dania.
Dania teringat kembali pada testpack yang dia gunakan tadi. Dania mencari testpack itu di lantai namun tak menemukannya.
"Kamu nyari apaan, yank?" tanya Randy.
"Ga, nyari apa-apaan, kok. Aku keluar dulu, ya." ucap Dania.
Dania pun keluar dari kamar mandi meninggalkan Randy.
Tak lama Randy keluar dengan wajah yang ceria dan senyuman lebar dari bibirnya.
Dania menatap bingung pada Randy.
"Kamu, kenapa?" tanya Dania.
"Kamu yang kenapa? Kenapa ga ngasih tahu aku?" tanya Randy.
Dania tak mengerti dengan ucapan Randy.
"Apaan, sih, aku ga ngerti." ucap Dania.
"Ini." Randy memberikan sesuatu pada Dania dan sontak membuat Dania terkejut karena itu adalah testpack yang tadi dia gunakan.
"Kenapa ada di kamu?" tanya Dania bingung.
"Aku nemuin di lantai." ucap Randy.
Dania mengangguk dan mengambil testpack itu.
Dania membulatkan matanya , dia terkejut melihat hasil dari testpack tersebut.
"Ini." Dania menatap tak percaya pada testpack tersebut.
Terdapat dua garis pada testpack tersebut, yang artinya menunjukan tanda positif.
Randy tersenyum lebar dan dengan cepat memeluk Dania. seperti dapat kekuatan lebih untuk tubuhnya yang lemas karena mual sebelumnya, Randy pun menggendong Dania dan mendudukan Dania di pangkuannya.
Randy menatap Dania dengan senyum yang tak kunjung hilang dari bibirnya. Berbeda dengan kehamilan pertama Dania, kali ini cairan bening keluar dari mata Randy. Ya, Ra ndy menangis, dia menangis haru tentunya. Setelah sebelumnya kehilangan calon buah hatinya , kini Tuhan kembali memberikan kepercayaan padanya dan Dania dengan menitipkan janin di rahim Dania.
"Makasih sayang, untuk kebahagiaan yang luar biasa, ini. Untuk kedua kalinya kamu di percaya Tuhan untuk mengandung. Aku janji, kali ini aku akan berusaha menjaga kalian berdua, dan kita akan melakukannya bersama." ucap Randy sambil mengelus perut rata Dania.
Dania pun tak kuasa menahan rasa harunya dan terisak di pelukan Randy.
__ADS_1
"Kita akan jadi orang tua, sayang." ucap Randy sambil mengusap lembut punggung Dania.
Dania mengangguk dan semakin terisak di pelukan Randy. Dia sungguh terharu dan bahagia luar biasa hingga tak mampu mengatakan apapun lagi.