
"Em... Aku--"
Pletak!
"Aw! Siapa, sih, yang ngelempar batu?" pekik Randy. Entah apa yang terjadi, sepertinya sebuah batu baru saja menghantam kepalanya.
Melihat hal itu, Dania mejadi panik, dia bergegas memeriksa kepala Randy.
"Kamu ga apa-apa 'kan, Rand? Siapa, sih, yang iseng banget pake ngelempar kepala orang segala?" kesal Dania sambil mengusap kepala Randy.
"Tau, tuh, orang. Gatau diri!" kesal Randy.
"Lo yang ga tahu diri!" teriak lantang seseorang.
Randy dan Dania langsung melihat ke arah orang tersebut, mereka mengerutkan dahinya saat melihat siapa orang yang ada di hadapan mereka saat ini.
"Baim, lo ngapain di sini?" tanya Dania sambil mulai berdiri dan mendekati Baim.
"Wah gila, ya. Dasar kurang ajar! Lo bukanya teman sebangkunya Dania? Adik kelas gue 'kan?" tanya Randy sambil menatap Baim tak suka.
Baim pun perlahan mendekati Randy dan tersenyum sinis melihat Randy.
"Gue ga peduli siapa lo, yang jelas lo udah coba mengusik hubungan gue sama pacar gue!" ucap Baim sambil menatap Randy tajam.
Randy mengerutkan dahinya merasa bingung.
"Maksudnya apa? Siapa cewek yang lo maksud?" tanya Randy bingung.
Baim pun berjalan mendekati Dania dan memeluk pinggang Dania.
"Dia pacar gue, bukannya sejak awal lo udah tau?" ucap Baim.
Randy menatap tajam Dania bergantian denga Baim. Randy mengepalkan tangannya.
"Dania, apa maksudnya ini? Bukannya lo bilang ga pacaran sama dia?" tanya Randy sambil menunjuk ke arah Baim.
Dania menelan air liurnya dengan susah payah, sejak dua minggu lalu Baim menyatakan cinta padanya dan tak sengaja dia menerima pernyataan cinta Baim. Sampai sekarang, Dania memang belum menjelaskan pada Baim bahwa dia hanya salah bicara dan tidak bermaksud menerima pernyataan cinta Baim.
Dania menghela napas.
"Itu... Aku bisa jelasin, Rand," ucap Dania gugup sambil akan meraih tangan Randy. Namun, Randy menepisnya. Dia melangkah mundur satu langkah dari Dania.
"Jadi, lo beneran pacaran sama dia? (sambil menunjuk ke arah Baim) Dan apa yang lo bilang ke gue itu bohong semua?" tanya Randy dengan penuh penekanan, dia mengepalkan tangannya sambil menatap Dania dengan tatapan tajam.
Randy tak menyangka, ternyata Dania memang benar-benar berhubungan dengan Baim. Memang saat itu Randy mendengar Dania mengatakan menerima pernyataan cinta baim tetapi saat itu juga Dania mengatakan bahwa dia tak memiliki hubungan apapun dengan Baim.
"Aku bisa jelasin semuanya, Rand," ucap Dania.
Dania merasa bingung, entah harus bagaimana menghadapi Randy dan Baim?
"Kenapa lo ga balas chat? Kenapa lo malah jalan sama dia? (tanya baim sambil menunjuk Randy) Tadi gue langsung dateng ke apartemen lo, gue lihat lo pergi sama dia, jadi gue ikutin lo sampai ke sini," ucap Baim sambil menatap dania. Dania tak tahu bahwa Baim mengirimkan pesan padanya, Dia terlalu fokus dengan Randy, karena itu Dania mengabaikan yang lainnya.
"Soal itu, aku--" Dania belum sempat menyelesaikan ucapannya, Randy justru meninggalkannya bersama Baim, Dania pun mencoba menyusul Randy. Namun, Baim menahannya.
__ADS_1
"Lo itu pacar gue, dan harusnya lo jaga jarak sama cowok lain!" ucap Baim.
"Baim please, yang waktu itu gue ga sengaja bilang iya. Gue terlalu syok makanya salah ngomong, gue sama sekali ga ada maksud mainin perasaan lo, maaf gue ga ada perasaan apapun sama lo," ucap Dania.
Baim menghela napas kasar.
"Tapi, gue udah anggep lo pacar gue, Dania!" ucap Baim dengan penuh penekanan.
"Tolong Baim, ngertiin gze. Oke, kalau lo anggap kayak gitu, terserah. Tapi gue sama sekali ga pernah anggap lo sebagai pacar gue, dan gue sama sekali ga ada perasaan apapun sama lo," ucap Dania. Dia melepaskan tangannya dari genggaman Baim.
Dania pun bergegas meninggalkan Baim dan pergi menuju ke tempat di mana mobil Randy terparkir.
"Hah? Apa Randy beneran pergi ninggalin gue?" gumam Dania.
Dania terkejut karena mobil Randy sudah tak ada, kemungkinan Randy meninggalkannya di tempat itu.
Dania pun segera memesan taksi online dan setelah taksi datang, Dania langsung pergi menuju apartemen.
Sesampainya di apartemen.
Dania bergegas mencari Randy ke kamarnya. Namun, Dania tak melihat Randy di sana, terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
"Apa Randy lagi mandi, ya?" gumam Dania.
Dania pun pergi ke kamarnya dan membersihkan tubuhnya, dia ingin mendinginkan kepalanya agar bisa menghadapi Randy dengan kepala dingin nantinya.
Setelah selesai mandi dan memakai pakaiannya, tak lupa Dania berdandan tipis, kemudian bergegas pergi ke kamar Randy. Namun, lagi-lagi Randy tak ada di kamarnya.
Dania mencari ke kamar mandi tetapi juga tak menemukan Randy. Dania berlari ke ruang tamu, dia pun lagi-lagi tak menemukan Randy. Terkahir, Dania pergi ke dapur dan melihat Randy sedang duduk di meja makan dengan memegang segelas air di tangannya.
"Rand, soal tadi gue--"
Randy memundurkan kursinya dan pergi meninggalkan Dania sendiri di meja makan. Dania mengikuti Randy dan mencoba meraih tangan Randy, Randy pun menghentikan langkahnya.
"Soal ucapan gue tadi, lupain aja," ucap Randy.
Dania merasa bingung dengan maksud Randy.
"Ucapan yang mana?" tanya Dania.
"Ucapan gue soal gue cinta sama lo, lupain aja semua itu. Toh, percuma juga cinta sama orang yang ga cinta sama gue," ucap Randy datar.
"Masalah itu, gue juga cinta sama lo, kok, Rand," ucap Dania.
"Udahlah," ucap Randy malas.
Dania tercengang melihat reaksi Randy. Dania akan mengeluarkan suara, Randy langsung melepaskan tangan Dania dan pergi menuju kamarnya.
Brak!
Randy menutup pintu dengan keras dan membuat Dania terkejut.
"Ah, dada gue jadi sesak dengar ucapan Randy barusan, padahal gue juga cinta sama dia," gumam Dania.
__ADS_1
Dania pun bergegas masuk ke kamarnya dan duduk di tepi tempat tidurnya. Hatinya benar-benar gelisah memikirkan ucapan Randy belum lama tadi. Dania pun kembali bangun dan pergi menuju meja riasnya, Dia menatap dirinya di cermin.
"Bodoh, tinggal ungkapin lagi aja, sih." Dania tersenyum dan pergi menuju kamar Randy.
Dania mengetuk pintu kamar Randy. Namun, tak ada jawaban dari Randy.
"Rand, gue masuk, ya?" ucap Dania.
Dania membuka pintu kamar Randy dan melihat Randy sedang tidur telentang di tempat tidur dengan tangannya menutupi matanya. Perlahan Dania mulai mendekati Randy
"Rand!" panggil Dania.
Randy masih tak bersuara.
"Randy gue mohon, dengerin gue!" ucap Dania.
Randy membuka matanya dan menatap Dania dingin.
"Keluar dari kamar gue, gue mau istirahat," ucap Randy.
"Ga mau..." rengek Dania sambil menggelengkan kepalanya.
"Dania udah, deh. Gue lagi ga mood bahas masalah ini," ucap Randy.
"Tapi, lo harus dengerin penjelasan gue, Rand!" tegas Dania.
Randy pun menatap malas pada Dania dan memejamkan matanya. Dia tak peduli dengan Dania yang masih saja merengek memanggil namanya.
Dania pun kesal.
"Aargghhh... Lo ngapain, sih?" Randy terkejut saat tiba-tiba Dania melompat ke atas tubuhnya dan terduduk tepat di atas miliknya.
Dania tersenyum, dia mencoba menggoda menatap Randy.
"Menurut lo?" ucap Dania sambil menggerakkan panggulnya, membuat sesuatu di bawah sana ikut tergesek.
Randy menelan air liurnya dengan susah payah, dia menahan pinggang Dania.
"Jangan digerakin," ucap Randy sambil menahan pinggang Dania.
Dania tak peduli dengan ucapan Randy, lagi-lagi Dania menggerakkan panggulnya membuat Randy semakin tak tenang. Randy pun bangun dan mendudukan tubuhnya.
"Aarghh ... Jangan di gituin, dong, jangan digerakin gitu! Lo mau apa, sih, sebenernya?" tanya Randy kesal melihat kelakuan Dania yang begitu tak bisa diam. Dania tidak seperti biasanya, entah dapat keberanian dari mana dia bisa sampai bersikap nakal seperti itu.
Dania memeluk Randy dengan erat.
"Ayo, kita lakukan sekarang, gue mau jadi milik lo sepenuhnya," bisik Dania dengan suara yang dibuat seseksi mungkin.
Randy membulatkan matanya terkejut dan dengan cepat menindih tubuh Dania.
"Lo yakin?" tanya Randy memastikan.
Dania tersenyum seraya mengangguk.
__ADS_1
Randy pun tersenyum dan akan segera melancarkan aksinya.
Namun, di tengah kegiatannya, dia dibuat terkejut. Seketika tubuhnya menjadi lemas saat melihat sesuatu.