Istri Jelekku

Istri Jelekku
Bab 91


__ADS_3

Siang ini Randy dan Sheila sudah sampai di Bandung, Dia dan Sheila memilih chek ini di hotel yang sama namun berbeda kamar tentunya.


"Aku mau istirahat bentar, ya." ucap Sheila begitu sampai di depan pintu kamar hotelnya.


"Iya, aku juga, pegel juga nyetir." ucap Randy.


Sheila mengangguk dan masuk ke dalam kamarnya yang berada di sebelah kamar Randy, tak lama di susul oleh Randy yang juga memasuki kamarnya.


Randy membuka gorden jendela kamarnya dan mengambil ponselnya, dia pun mengabari Dania lewat pesan.


Randy; Aku baru aja sampe Bandung, dan sekarang lagi di hotel**.


Lovely Wife; Syukur deh kamu udah sampe sana, Kalau kamu capek ga usah pulang pergi yank, istirahat aja dulu.


Randy tersenyum melihat pesan dari istrinya itu, baru saja dia akan memberitahu Istrinya bahwa dia tak bisa langsung pulang hari ini juga, tetapi Istrinya itu justru sudah lebih dulu mengingatkannya, sungguh istri yang pengertian. Sepertinya memang semenjak hadirnya Baby Raydan dan Baby Rayna, Dania tak pernah rewel lagi, dia tak pernah lagi meminta Randy cepat pulang jika Randy sedang tak bersamanya.


Randy; Oke sayang, titip peluk dan cium buat Abang sama ade, ya. Love you.


Lovely Wife; Love you too.


Randy menyimpan ponselnya setelah membaca pesan terakhir dari Dania.


Dia pun merebahkan tubuhnya, mengemudi dari Jakarta-Bandung cukup membuat tangannya terasa pegal.


******


Randy terbangun dari tidurnya saat mendengar suara ketukan pintu kamarnya.


Randy melihat ponselnya dan ternyata sudah pukul empat sore. Randy pun turun dari tempat tidur dan berjalan membuka pintu kamar.


"Hai." sapa Sheila sambil tersenyum manis.


"Hai, masuk." ucap Randy.


Sheila mengangguk dan memasuki kamar Randy.


"Nanti malam kamu mau dinner diluar?" Tanya Randy.


"Boleh, mau dinner di mana?" Tanya Sheila.


"Di suatu tempat, aku rasa kamu pasti akan suka" ucap Randy.


Sheila menatap dengan tatapan menyelidik pada Randy, sementara Randy hanya tersenyum.


"Apa kamu mau ajak aku dinner romantis diluar?" Tanya Sheila dengan tersenyum menatap Randy.


Randy hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun.


"Apaan sih? seriusan?" tanya Sheila.


Randy masih tetap tersenyum tanpa mengatakan apapun membuat Sheila kesal sendiri.


"Ngeselin." ucap Sheila.


Randy pun terkekeh melihat ekspresi kesal Sheila.


"Dandan aja yang cantik." ucap Randy dengan tersenyum lebar.


Sheila mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Randy.


"Gio tau kita udah sampe di Bandung?" Tanya Sheila.


"Aku udah kirim pesan, dia pasti udah baca." ucap Randy.


Tak lama terdengar suara ketukan pintu.


"Aku aja." ucap Sheila.


Randy mengangguk dan membiarkan Sheila membukakan pintu kamarnya.


"Loh Shei, kamu dikamar Randy?" ucap Gio.


Sheila tersenyum dan mengangguk.


"aku baru aja masuk kesini." ucap Sheila dan mempersilahkan Gio masuk.


"Aku balik kekamar dulu deh, kalian lanjut ngobrol aja." ucap Sheila dan di angguki oleh Randy dan Gio.


Sheila pun keluar dari kamar Randy dan kembali ke kamarnya.


"Gimana Sheila?" tanya Gio.


"Seperti yang kamu lihat." ucap Randy.


Gio menatap Randy dengan tatapan tak mengerti.


"Terus gimana nanti malam?" tanya Gio.


"Aku akan bawa dia ke tempat yang sudah kita bicarakan sebelumnya. ngomong-ngomong, tempat itu udah di design seromantis mungkin, kan? Soalnya cewek suka di romantisin, Dania aja suka di romantisin" ucap Randy.


"Dania sama Sheila kan beda, Rand" ucap Gio.


"Tapi mereka sama-sama perempuan, perempuan suka sesuatu yang manis" ucap Randy.


Gio mengangguk dan terlihat memikirkan sesuatu.


"Kenapa lagi?" tanya Randy.


"ga apa-apa, aku balik dulu deh masih ada urusan soalnya, nanti kamu kontak aku aja Rand" ucap Gio dan diangguki oleh Randy.


Gio pun pergi dari kamar Randy dan Randy memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


******


Pukul enam sore..


Randy mengetuk pintu kamar Sheila dan tak lama keluar lah Sheila.


"Hai." sapa Randy.


"Hai." ucap Sheila.

__ADS_1


"Kamu, cantik." Ucap Randy.


Pipi Sheila langsung memerah mendengar pujian dari Randy.


"Ya udah, kita turun sekarang." ucap Randy sambil mengulurkan tangannya.


Sheila tersenyum dan menyambut tangan Randy.


Randy pun menggandeng Sheila menuju restauran yang masih berada di dalam Hotel tersebut.


Sesampainya di restauran, Randy menuntun Sheila menuju salah satu meja yang berada di area outdoor restauran, betapa terkejutnya Sheila saat melihat meja yang di design dengan sangat romantis, di mana di atasnya ada lilin yang menyala, Sheila menatap Randy dengan tatapan penuh tanya.


"Yakin, kita mau dinner disini?" tanya Sheila.


Randy tersenyum dan mengangguk.


"kamu suka?" tanya Randy.


Sheila mengangguk namun masih dengan rasa bingungnya.


Entah apa yang sudah Randy rencanakan untuknya.


"Ini semua kamu yang siapin?" tanya Sheila.


Randy menggeleng dan tersenyum.


"Bukan aku, aku ada sesuatu buat kamu, kamu pasti menyukainya." ucap Randy dengan tersenyum manis.


Sheila semakin di buat bingung dengan apa yang Randy katakan.


******


Sementara di tempat lain, tepatnya di Kediamam Dania.


Dania terus mencoba menenangkan Baby Raydan yang terus rewel dan tak bisa tidur. Bahkan Baby Raydan tak ingin meminum Asi.


"Abang kenapa, sih? kok rewel terus seharian ini. Lihat tuh, ade aja ga rewel, mommy jadi bingung maunya abang apa? abang juga ga mau mimi Asi mommy." ucap Dania.


Dania benar-benar kerepotan karena seharian ini, dari sejak Randy meninggalkan Rumah, Baby Raydan menjadi rewel membuat Dania menjadi kerepotan. untung saja, Baby Rayna seharian ini tampak tenang bersama bibi.


"Coba bibi pijat abang Ray, Non, biar dia rileks" ucap bibi.


Dania mengangguk dan membiarkan Bibi memijat Baby Raydan.


Setelah beberapa saat Baby Raydan tertidur pulas membuat Dania akhirnya dapat bernafas lega.


"Akhirnya Abang bobo juga." ucap Dania.


"Sesekali, bayi memang perlu pijatan lembu, Non" ucap bibi.


Dania mengangguk dan melihat kearah Baby Rayna.


"Maaf ya, seharian ini mommy fokus sama abang karena abang lagi rewel, untung ade anak manis, jadinya ngertiin mommy banget." ucap Dania sambil mengusap lembut pipi Baby Rayna.


Bibi pun keluar dari kamar Dania begitu selesai memijat Baby Raydan.


Dania membuka ponselnya dan tak ada pesan dari Randy.


Dania memilih merebahkan tubuhnya, Rasanya lelah sekali mengurus Baby Raydan yang seharian ini terus rewel, beruntunglah ada bibi yang membantu menjaga Baby Rayna.


Mia; Hai Dan, udah tidur?.


Dania; Belum, mi.


Mia; kayaknya aku lihat Randy deh di Bandung, ini Randy bukan, sih?.


(picture)


Dania; Nah, iya, itu Randy. Tapi bentar deh, dia sama siapa?.


Mia is calling..


Dania mengernyit melihat panggilan masuk dari Mia, Dania pun menjawab telpon Mia.


"Hallo mi."


"hallo, jadi bener ya Randy ada di Bandung?" ucap Mia.


"iya, dia ada urusan pekerjaan di sana, kamu ngapain di Bandung?" tanya Dania.


" Aku lagi ada urusan di sini, aku lihat dia di hotel tempat aku chek in tadi. Terus maaf ya, aku penasaran jadi aku ikutin dia sampe di restauran. tapi Dan, dia sama cewek." ucap Mia**.


Dania membulatkan matanya mendengar ucapan Mia.


"Masa, sih? Bisa kirim foto dia sama tuh cewek ga?" tanya Dania. Dia tak ingin berpikiran negatif pada suaminya itu, karena itu dia harus melihat buktinya sendiri.


"Ada nih, tadi aku sengaja foto mereka." ucap Mia.


Tak lama satu pesan masuk keponsel Dania.


"Bentar, aku mau lihat dulu." ucap Dania.


Dania pun mematikan telponnya dan melihat pesan tersebut.


Dania membulatkan matanya melihat foto tersebut. Benar, memang itu adalah suaminya dan yang membuat Dania lebih terkejut lagi karena ternyata perempuan itu adalah perempuan yang sama saat bertemu di Bali.


Ya, dia adalah Sheila, partner bisnis Randy.


Dania mencoba memperhatikan foto tersebut di mana Randy sedang menggandeng Sheila, Dania menggelengkan kepalanya, sebisa mungkin ia tak ingin berpikiran negatif kepada suaminya itu.


"Mereka kan rekan kerja, terus kenapa kalau mereka jalan bareng? Toh biasa kan." gumam Dania.


Meski begitu Dania tetap merasa tak tenang karena sejak awal Randy tak mengatakan bahwa dia pergi bersama Sheila. Dannia pun mencoba menghubungi Randy dan ternyata Randy menjawab telponnya.


"Hallo, yank." ucap Randy.


"heumm, kamu di mana, yank?" tanya Dania.


"Lagi di hotel ini, lagi tiduran aja." ucap Randy.


Jantung Dania terasa berhenti berdegup, suaminya itu berbohong. Jelas sekali di foto yang mia kirimkan, sekitar sepuluh menit yang lalu suaminya itu berada di restauran karena memang terlihat dari waktu yang terdapat di foto tersebut.

__ADS_1


"Oh ya? Gimana seharian ini?" Tanya Dania.


"Ga gimana-gimana, seharian aku di hotel aja, besok kayaknya aku Outlet." ucap Randy.


"Ya udah, kamu istirahat deh." ucap Dania.


"Kangen, yank." ucap Randy.


"Heumm."


"Abang sama Ade udah tidur?" Tanya Randy.


"Udah." ucap Dania.


"Kamu kenapa yank?" Tanya Randy.


"Ga apa-apa, aku cuman capek aja. Aku tidur dulu deh." ucap Dania dan langsung mematikan telponnya.


Dania menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, Dia mengepalkan tangannya dan tak terasa dia pun menangis.


"Kamu jahat banget sama aku, aku seharian kerepotan ngurusin anak-anak, kamu malah enak-enakan sama cewek lain." ucap Dania. Dia benar-benar tak habis pikir karena suaminya itu tega membohonginya, dan dari awal pun Randy tak pernah mengatakan dia pergi bersama Sheila.


******


Ke esokan harinya..


Dania kesal dan semakin tak tenang saat Randy menghubunginya dan mengatakan tak bisa pulang hari ini, di kepalanya semakin di penuhi dengan pikiran negatif, meski sebisa mungkin dia mencoba menepis pikiran-pikiran negatif tersebut. Ingin sekali rasanya dia menyusul suaminya itu ke Bandung. namun sayang, dia tak bisa menyusul kesana karena dia tak mungkin meninggalkan Baby Raydan dan baby Rayna, dia juga tak mungkin membawa Baby Raydan dan Baby Rayna bepergian jauh karena takut mereka kelelahan, secara mereka masih sekecil itu.


Dania pun pasrah, dia tak bisa berbuat apa-apa saat ini, tetapi tidak jika saat Randy pulang nanti, Karena dia tak akan menahan dirinya untuk mengintrogasi suaminya itu.


******


Di Bandung..


Siang ini Randy dan Sheila sudah berada di Outlet restaurannya yang berada di salah satu Mall di Bandung, Sheila melihat sekeliling restauran dan setelah puas, dia pun mengajak Randy untuk makan siang bersamanya.


Sambil menunggu pesanan datang, Sheila tak hentinya tersenyum, dia masih mengingat kejadian semalam yang menurutnya amat sangat romantis.


"Ehheumm ..." Randy berdehem membuat Sheila tersadar dari lamunannya.


"Kok, senyum-senyum sendiri?" tanya Randy.


"aku bahagia banget, makasih ya untuk semalam, aku surprise banget loh, enggak nyangka aja semalam akan seromantis itu" ucap Sheila.


Randy tersenyum dan mengangguk.


"Aku ikut senang kalau kamu juga senang" ucap Randy.


Sheila mengangguk dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.


tak lama pesanan pun sampai, Randy dan Sheila langsung menyantap makan siang mereka.


******


Ke esokan harinya..


Pukul satu siang Randy sampai di Rumah, dia melihat sekeliling Rumah yang tampak sepi dan tak ada siapa pun di sana. Randy pun pergi menuju kamarnya dan melihat Dania tengah bermain bersama Baby Rayna dan Baby Raydan, ada Bibi juga yang menemaninya di sana.


"Ehheumm ..." Randy berdehem membuat Dania dan Bibi melihat ke arahnya.


"Eh, den, udah pulang." ucap bibi.


Randy mengangguk dan akan mencium puncuk kepala Dania namun Dania langsung menghindar. Bibi pun tersenyum dan pamit keluar. Majikannya itu pasti merasa malu karena ada Bibi disana, maka dari itu Dania menghindar saat Randy akan menciumnya, pikir Bibi.


Begitu bibi keluar? Randy kembali akan mencium Dania namun lagi-lagi Dania menghindari ciuman Randy membuat Randy mengernyit menatap Dania.


"Kamu kenapa?Kok ngehindarin aku?" tanya Randy bingung.


"Ga apa-apa, kamu bersih-bersih dulu deh, habis dari luar jangan langsung deketin anak-anak" ucap Dania.


Randy menatap bingung kearah istrinya itu yang sama sekali tak menyambutnya dengan senyuman, istrinya itu malah terlihat muram.


"Ada apa?" tanya Randy dengan memegang lengan Dania, membuat dania melepaskan paksa tangannya dari tangan Randy.


"Kok kasar banget, sih? aku capek loh baru aja pulang, kamu bukannya sambut aku malah kayak gini sama aku? kenapa sih? ada apa?" tanya Randy.


Dada Dania terasa sesak mendengar ucapan suaminya itu, bisa-bisanya Randy mengatakan capek, capek bersama perempuan lain selama dua hari, kah? Pikir Dania.


Ingin sekali rasanya Dania mengatakan bahwa ia pun capek dirumah mengurus anak-anaknya, tapi dia tak bisa mengatakan itu, karena memang sudah tugasnya lah sebagai seorang Ibu merawat dan menjaga anak-anaknya.


Lagi-lagi Randy menggoda Dania dengan ingin mencium Dania kembali, Dania pun mendorong keras tubuh Randy, Randy terkejut dengan perlakuan Dania padanya.


Randy pun kesal sendiri karena sejak tadi istrinya itu terus menolaknya. Randy memegang bahu Dania dengan erat, dia memaksa Dania agar mau menatapnya.


"Kamu kenapa, ha? kenapa kasar sama aku? kamu terus nolak aku dari tadi, kamu sadar ga sih kamu tuh berdosa karena menolak suami kamu." ucap Randy.


Dania melepaskan tangan Randy.


"Jangan sentuh aku." ucap Dania.


"Apa? Kenapa? aku suami kamu, jadi tentu aja aku punya hak nyentuh kamu." ucap Randy.


"Terus, apa hak kamu membawa wanita itu ke Hotel?" Tanya Dania dengan setengah berteriak. Sungguh emosinya sudah sampai di ubun-ubun, sudah sejak kemarin malam dia terus menahannya.


Randy terkejut mendengar ucapan Dania.


"Apa maksud kamu? perempuan siapa? aku ga ngerti maksud kamu." ucap Randy.


"Ga ngerti? Lalu ini apa?"tanya Dania sambil memperlihatkan sebuah foto di ponselnya pada Randy.


Lagi-lagi Randy dibuat terkejut.


"Aku bisa jelasin semuanya, yank." ucap Randy sambil mencoba meraih tangan Dania, namun Dania langsung menepisnya.


"Kamu mau jelasin kalau kemarin malam kamu ajak dia dinner romantis, gitu?" ucap Dania dengan geram.


"Kamu salah faham, yank." ucap Randy sambil mencoba memeluk Dania, namun Dania langsung mendorong tubuh Randy.


"Aku ga sudi disentuh sama bajingan kayak kamu" ucap Dania.


Randy mengepalkan tangannya, Ia tak terima istrinya itu menyebutnya bajingan. Randy menarik tengkuk Dania dan melumat kasar bibir Dania, Dania pun memberontak namun Randy semakin erat menahan tengkuk Dania, Dania pun menggigit bibir Randy hingga Randy melepaskan ciumannya.

__ADS_1


Plak.


Satu tamparan mendarat di pipi Randy, membuat Randy terkejut dan menatap tak percaya pada Dania, untuk pertama kalinya Dania berani menamparnya.


__ADS_2