
Randy mendudukkan dirinya dikursi dengan kepalanya bersandar. Dia pun memejamkan matanya, entah apa yang dia pikirkan.
Rasanya lelah.
Ya, Lelah.
Itulah yang dia rasakan. Dia bahkan hanya mengurusi sebagian kecil dari apa yang saat ini terjadi dalam hidupnya, namun nyatanya dia sudah merasa lelah.
Bagaimana dengan Dania yang mengurus segalanya sendiri bahkan saat dia kehilangan ingatannya yang di akibatkan dari kecelakaan yang dia alami beberapa minggu lalu.
Dia mengambil ponselnya dan melihat foto kedua bayi menggemaskannya itu.
Dia pun tersenyum dan menzoom foto tersebut. Dia bersyukur, karena dalam keadaannya saat ini, keluarga kecilnya itu justru berada disampingnya.
Tak lama dia kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya dan keluar dari ruangan tersebut.
"Saya pergi dulu." ucap Randy pada salah satu staf di kantor tersebut.
Orang itu pun mengangguk dan Randy pun pergi menuju basemant untuk mengambil mobilnya.
Dia pun melajukannya menuju rumah sang Mama.
Sesampainya di rumah Mama Randy.
Randy memasuki rumah dan pergi menuju taman belakang rumah, terlihat di sana kedua orang tuanya tengah duduk santai menikmati matahari pagi menjelang siang.
"Ma, Pa." panggil Randy.
Kedua orang tua itu pun melihat ke arah Randy dan tersenyum.
"Kok sendirian aja? Dimana Dania dan si kembar?" tanya Mama.
"Di rumah, kalian apa kabar?" tanya Randy sambil menyalami tangan kedua orang tuanya itu.
"Gimana keadaan kamu? Masih suka pusing?" tanya Papa.
Randy menggelengkan kepalanya dan duduk di kursi bersebelahan dengan sang Mama.
"Udah jarang, aku semakin membaik, Pa." ucap Randy.
"Syukur lah. Lalu, gimana dengan Dania?" tanya Mama.
"Apanya yang gimana?" tanya Randy merasa bingung dengan pertanyaan sang Mama.
"Apa ingatanmu sudah mulai pulih? Apa kamu sudah mulai mengingat Dania?" tanya Mama.
Randy menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.
Dia mengalihkan pandangannya ke arah kolam renang.
Dia pun tak menjawab pertanyaan sang Mama.
Sang Mama pun tersenyum dan mengusap bahu Randy.
"Jangan terlalu di paksakan, Mama ngerti semuanya butuh waktu." ucap Mama.
Randy mengangguk dan tersenyum tipis.
"Iya, Ma." ucap Randy.
"Apa anak-anak sehat? Ajak mereka kesini kalau kamu ga sibuk, kami rindu mereka." ucap Mama.
"Ya, kapan-kapan, Ma." ucap Randy.
Ting, ting.
Satu pesan masuk ke ponsel Randy, Randy pun membuka pesan itu yang berasal dari dalam grup chat alumni SMP nya.
Ada undangan pesta pertunangan salah satu temannya di sana yang tertulis setiap orang harus membawa serta pasangannya ke acara tersebut.
Randy pun mengerutkan dahinya, dia terlihat memikiri kan sesuatu. Apa mungkin dia akan membawa Dania ke acara tersebut? Entah lah, dia pun menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Papa dengan ekspresi bingungnya melihat ekspresi Randy.
"Ga apa-apa." ucap Randy.
"Oh ya, Polisi sudah menutup kasus kecelakaan aku." ucap Randy.
"Apa? Apa hasilnya?"
"Kecelakaan itu real di sebabkan oleh rem yang blong, dan rem blong itu bukan diakibatkan ulah seseorang." ucap Randy.
"Apa? Kamu serius?" tanya Mama dengan terkejut.
Randy pun tersenyum dan mengangguk.
"Syukur lah, itu artinya memang kamu ga ada musuh." ucap Papa.
Mereka pun larut dalam kebersamaan mereka dengan sambil berbincang.
Di tempat lain.
Dania membawa baby Raydan dan baby Rayna berkunjung ke rumah besar miliknya bersama Randy, tak lupa juga dia membawa serta kedua baby sitter baby Raydan dan baby Rayna.
Sudah beberapa minggu ini, dari semenjak Randy mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatannya dia tak pernah lagi datang ke rumah besarnya itu.
Dania tersenyum melihat Bibi dan Pak Adi yang sudah menunggunya di depan pintu pagar rumahnya, dia pun turun dari taksi dan memeluk sang Bibi. Baginya, meski baru 3 tahun dia mengenal wanita paruh baya di hadapannya itu, tapi dia menyayangi sang Bibi. Bibi begitu baik pada keluarganya.
"Apa kabar, non?" tanya Bibi.
"Baik, Bi . Bibi dan Pak Adi apa kabar?" tanya Dania.
"Kami baik, Non." ucap Bibi.
Bibi menghampiri baby Raydan baby Rayna yang tengah berada di gendongan baby Sitter.
"Mereka makin montok, Non. Menggemaskan sekali." ucap Bibi sambil mencubiti gemas pipi chubby kedua bayi itu.
Dania tersenyum dan mengangguk.
Mereka pun masuk ke dalam rumah.
Begitu masuk ke dalam rumah, Dania melihat sekeliling ruangan dan tersenyum.
Dia senang bisa kembali ke rumah itu meski hanya berkunjung. Entah kapan dia dan keluarga kecilnya bisa kembali tinggal dirumah besar itu.
Sejujurnya dia sangat merindukan suasana rumah tersebut, banyak sekali kenangan di dalam rumah itu.
Matanya memerah, dia pun menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.
Rasa sakit itu masih terasa, sakit karena harus mengalami apa yang saat ini terjadi pada keluarga kecilnya itu.
Dania pun tersadar dari lamunannya saat Bibi mengusap lembut punggungnya.
"Bibi sedang buatkan makanan kesukaan, Non." ucap Bibi sambil menyunggingkan senyumnya.
Dia ingin memberikan semangat pada majikannya itu yang sudah seperti anaknya sendiri. Dia tahu saat ini Dania pasti sangat sedih karena harus mengalami cobaan berat dalam rumah tangganya.
"Oh, ya? Makasih, ya, Bi." ucap Dania.
"Sama-sama, Non. Mau minum apa?" tanya Bibi.
"Apa aja, aku ke kamar dulu, ya, Bi." ucap Dania.
Bibi mengangguk dan Dania pun pergi menuju kamarnya dilantai dua meninggalkan baby Raydan dan baby Rayna yang masih anteng di gendongan sang baby sitter.
Dania membuka pintu kamar perlahan, dilihatnya ruangan itu yang begitu rapi dan harum.
__ADS_1
Dia berjalan menuju jendela kamarnya dan membuka gorden kamarnya itu dan duduk di pinggir tempat tidur.
Dia mengusap lembut tempat tidurnya yang terbalut sprei itu dan kembali memperhatikan sekeliling kamar, banyak sekali kenangan di dalam kamar itu dan dia sungguh merindukan semua itu.
Ting ting ..
Satu pesan masuk ke ponsel Dania.
Dania pun membaca pesan dari grup chat alumni sekolah SMP nya itu yang mengatakan bahwa dia mengundang seluruh alumni SMP untuk datang ke acara pertunangannya sekaligus untuk reuni bersama teman-teman alumni lainnya di salah satu hotel di Jakarta Pusat.
Dania mengerutkan dahinya saat ada telpon masuk di ponselnya.
"Halo, Pa." ucap Dania.
"Kamu dimana? Papa di apartemen." ucap Papa.
"Aku di rumah, Pa." ucap Dania.
"Rumah mana?" tanya Papa.
"Rumah besar." ucap Dania.
"Oke, Papa ke sana." ucap Papa.
Telpon pun berakhir.
Dania pun keluar dari kamarnya dan turun menuju ruang keluarga dimana semua orang tengah berkumpul di sana.
"Non, Abang sama ade ngantuk, dimana kamar mereka?" tanya Ajeng.
"Oh, di atas. Masuk aja ke kamar yang pintunya tertulis nama Abang sama ade." ucap Dania.
Ajeng pun mengangguk dan membawa kedua bayi itu dengan di bantu oleh Dita.
Sementara Dania pergi menuju dapur dan membantu bibi menyiapkan makanan untuk makan siang nanti.
Waktu pun berlalu.
"Ehheumm .."
Dania melihat ke arah datangnya suara, terlihat sang Papa yang tengah tersenyum padanya.
"Hai, Pa." sapa Dania.
"Hai."
Dania pun menghampiri sang Papa.
"Sendirian aja? Mama ga ikut?" tanya Dania.
"Mama lagi ada tamu dirumah, Papa bosan makanya main kesini." ucap Papa.
Dania mengangguk dan mengajak sang Papa untuk makan siang bersamanya.
Mereka pun memulai acara makan siang mereka.
"Randy kemana?" tanya Papa.
"Lagi dirumah Mamanya." ucap Dania.
Papa Hamish pun mengangguk.
"Kamu masih komunkasi dengan Riko?" tanya Papa.
Dania pun menggelengkan kepalanya.
"Udah ga pernah, Pa." ucap Dania.
Papa Hamish pun kembali menganggukkan kepalanya.
Sang Papa menarik napas dalam menghembuskan perlahan.
"Belum." ucap Papa.
Wajah Dania mendadak muram begitu mendengar ucapan sang Papa.
Mengapa sulit sekali mengungkap apa yang terjadi pada Randy? Apa mungkin apa yang Polisi bilang tentang Randy yang memang real kecelakaan tanpa ulah tangan seseorang adalah benar? Pikir Dania.
Dia sungguh lelah memikirkan masalah suaminya itu.
"Jangan terlalu Dipikirkan, Papa rasa memang benar Randy kecelakaan karena masalah teknis, bukan ulah tangan seseorang. Kerena seharusnya ada sedikit petunjuk meski hanya jejak langkah kaki pelaku." ucap Papa.
Dania terdiam, entah apa lagi yang ada dipikirannya saat ini.
******
Sore hari, di apartemen.
Randy memasuki apartemen dan pergi menuju kamarnya.
Dia melihat sekeliling namun tak ada Dania di sana.
Dia pun pergi menuju kamar baby Raydan dan baby Rayna, namun lagi-lagi tak menemukan siapapun di sana.
"Kemana, sih? Pergi ga bilang-bilang." gumam Randy.
Dia mengambil ponselnya dan akan menghubungi Dania. Belum sempat dia menghubungi Dania, terdengar suara pintu apartemen terbuka, dia pun bergegas menuju pintu dan terlihat Dania di sana bersama kedua buah hatinya dan sang baby sitter.
"Dari mana aja?" tanya Randy.
"Habis ketemu Papa." ucap Dania.
Dania tak mengatakan yang sebenarnya bahwa dia pergi ke rumah mereka, namun dia pun tak berbohong karena memang dia bertemu dengan sang Papa.
"Lain kali bilang, apa gunanya pegang ponsel kalau ngabarin aja males." ucap Randy dengan nada agak kesal dan berlalu menuju kamar.
Dia kesal karena Dania pergi keluar tanpa mengabarinya.
Dania menghela napas sesaat. Memang salahnya karena tak meminta izin pada Randy.
Dia pun pergi menuju dapur untuk memasak makan malam, sementara kedua buah hatinya dibawa masuk menuju kamar mereka untuk mandi dengan di bantu oleh Dita dan Ajeng.
Setelah selesai memasak, Dania pergi menuju kamar dan dilihatnya Randy yang tengah fokus menatap layar laptopnya. Randy bahkan tak menyadari kehadiran Dania saat ini.
Dania terus memperhatikan wajah Randy, dia mengerutkan dahinya saat tiba-tiba melihat Randy membulatkan matanya dengan tatapan yang tak lepas dari layar laptop dihadapannya itu.
"Shit."
Brak.
Randy mengumpat kesal dan menutup keras laptopnya.
Dia pun mengusap wajah kasar dan pandangannya tak sengaja melihat ke arah Dania yang tengah menatapnya dengan tatapan bingung.
"Sejak kapan disitu?" tanya Randy dengan nada dingin.
"Belum lama, kamu kenapa?" tanya Dania.
"Apanya?" tanya Randy balik.
"Barusan kamu kaya yang kaget gitu, kenapa?" ucap Dania.
"Ga apa-apa. Lapar, nih." ucap Randy sambil memegang perutnya.
"Ya udah, ayo makan." ucap Dania.
Randy mengangguk dan pergi menuju meja makan dengan diikuti oleh Dania.
__ADS_1
Mereka pun memulai acara makan malam.
"Minggu ini gue ada undangan pesta dari teman gue, jadi gue mau datang ke sana. Lo ga usah ikut, ya." ucap Randy.
Dania terdiam dan menatap Randy.
Dia pun mengangguk.
Mereka pun melanjutkan makan malam.
**********
Hari pertunangan teman Randy.
Dania tengah menyiapkan stelan jas untuk Randy pakai sore ini, sementara Randy masih berada didalam kamar mandi tengah membersihkan tubuhnya.
Beberapa menit kemudian Randy keluar dari kamar mandi dan memakai pakaiannya.
Dania pun membantu memakaikan jas untuk Randy.
Dia tersenyum melihat Randy yang sudah tampan dengan stelan jasnya.
"Kenapa?" tanya Randy.
Dania pun menggelengkan kepalanya.
"Aku mau ke acara temanku, dia ngundang kami para alumni." ucap Dania.
Randy berpikir sejenak dan kemudian mengangguk.
"Ya udah, gue jalan sekarang." ucap Randy.
Dania pun mengangguk dan terus memperhatikan Randy yang mulai melangkah menuju keluar kamar.
Setelah Randy benar-benar menghilang Dania pun bersiap-siap. Rencananya dia akan datang ke acara pertunangan sekaligus reunian bersama teman-temannya itu.
Tak seperti biasanya, kali ini dia membuka kaca mata dan tompelnya.
Dia memakai dress hitam tanpa lengan dengan panjang sedikit di atas lutut. Dia pun membiarkan rambutnya tergerai indah dan memakai heelsnya. Setelah selesai dia mengambil tas pestanya dan pergi menuju acara tersebut setelah sebelumnya pamit pada Ajeng dan Dita dan memberikan ciuman untuk baby Raydan dan baby Rayna.
Sesampainya di hotel tempat acara.
Dania mulai memasuki ballroom, dia melihat sekeliling mencari Riko. Ya, Riko lah teman Dania yang paling dekat saat SMP. Ini pun sekaligus acara reuni alumni SMP nya, seharusnya Riko berada di sana juga.
Dania mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada Riko.
Dania : Kamu datang ke acara pertunangan teman SMP kita?
Riko:. Aku sibuk, ga bisa datang. Tolong sampaikan salam pada teman-teman alumni.
Dania mengerutkan dahinya begitu membaca pesan terakhir dari Riko.
Dia pun melangkah menuju meja kue yang ada cukup jauh darinya. Terdengar suara bisikan dari beberapa orang di sana.
Entah mereka sedang membisikkan apa.
Dania pun melihat sekeliling, ada banyak orang yang tak dia kenal. Mungkin mereka teman-teman dari calon tunangan dari temannya itu, karena itu dia merasa tak mengenal mereka.
"Dania !" panggil salah seorang pria yang tak lain teman SMP nya.
Dania melihat ke arah orang tersebut dan mengerutkan dahinya.
"Ya." ucap Dania.
"Lo masih ingat gue?" tanya nya.
"Aldo?" ucap Dania.
Ya, dia adalah Aldo teman seangkatan Dania saat SMP.
"Ya, lo beda banget, cantik banget." ucap Aldo.
Dania pun tersenyum tipis.
Sejak SMP, Aldo itu adalah anak yang nakal, diusia nya yang masih remaja saat itu, dia bahkan sudah playboy.
Dania pun tak menghiraukan ucapan Aldo dan memilih memakan kue dihadapannya.
Aldo menyunggingkan senyum liciknya dengan tatapan tak lepas dari paha mulus Dania.
"Mau minum?" tanya Aldo.
Dania menghentikan kegiatan mengunyahnya dan mengangguk.
Aldo pun bergegas mengambil air minum untuk Dania.
Dia mengambil sesuatu dari dalam saku celananya dan melihat sekeliling, kemudian memasukkan sesuatu berbentuk serbuk itu kedalam minuman Dania.
"Untung gue selalu bawa. Gila, si Dania seksi banget, bikin gue ga tahan." ucap Aldo sambil tersenyum licik.
Dia pun membawa minuman itu dan memberikannya kepada Dania.
Aldo tak menyadari sejak tadi ada yang terus memperhatikan kelakuannya. Orang itu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Wajahnya memerah menahan amarah, rahangnya mengeras, napasnya bahkan begitu memburu. Dia tahu serbuk macam apa yang di masukan kedalam minuman Dania, karena dia pun pernah memakainya dulu.
"Ini." ucap Aldo dengan memberikan minuman itu pada Dania.
Prank.
Dania terkejut melihat minuman itu jatuh ke lantai saat tiba-tiba ada seseorang yang menepis gelas itu.
Bugh.
"KURANG AJAR !"
Bugh.
"BERANINYA LO BERBUAT MACAM-MACAM !"
Bugh.
"GUE GA AKAN AMPUNI LO !"
Bugh.
Dania semakin terkejut saat melihat orang tersebut yang tiba-tiba saja menghajar Aldo dengan membabi buta dan terlihat sekali orang itu benar-benar di penuhi amarah. orang itu bahkan tak memberi jeda untuk Aldo melawannya.
Beberapa orang pun mencoba menenangkan orang itu namun sayangnya orang itu terlalu di penuhi amarah sehingga tenaganya lebih kuat di banding beberapa orang yang mencoba menenangkannya.
Bugh.
"GUE AKAN HABISI LO KARENA LO UDAH BERANI MAU BERBUAT MACAM-MACAM SAMA ISTRI GUE !"
Bugh.
Lagi-lagi Dania di buat terkejut saat mendengar ucapan orang itu yang menyebutnya sebagai istrinya. Orang yang tak lain dan tak bukan adalah Randy, suaminya sendiri. Entah untuk apa dia berada di sana.
Dania terdiam dengan pandangan tak lepas dari Randy, tangannya terkepal dengan kuat, matanya memerah dan tanpa dapat di tahan lagi air matanya pun mengalir membasahi pipinya.
Lagi-lagi beberapa orang menarik Randy agar tak kembali memukuli Aldo. Wajah Aldo bahkan sudah tak berbentuk seperti semula lagi, wajahnya di penuhi lebam dan hidungnya bahkan mengeluarkan banyak darah.
Pandangan Randy tak sengaja melihat ke arah Dania, dia terkejut melihat Dania menangis.
Dengan cepat dia menghampiri Dania.
PLAK.
Satu tamparan keras mendarat di pipi Randy.
__ADS_1