Istri Jelekku

Istri Jelekku
Bab 44


__ADS_3

Riko is calling..


"Hallo." ucap Riko.


"Hhmm ..."


"Kamu ga lupa kan babe, hari ini waktunya buat kamu ngambil keputusan." ucap Riko.


Dania menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar.


"Aku tahu." ucap Dania.


"Oke, kalau gitu jam tujuh malem aku jemput kamu, kamu di Apartemen atau di Rumah orang tua kamu?".


Dania pun berpikir sejenak.


"Benar, rumah Mama, dengan begitu Randy ga akan tahu apapun." ucap Dania dalam hati.


"Babe, kamu denger aku kan?" tanya Riko.


"Iya, jemput di Rumah Mama aja." ucap Dania.


"Oke, kalau gitu sampai ketemu nanti malem, dandan yang cantik babe, love you." ucap riko.


Dania pun mengakhiri telpon tersebut tanpa membalas ucapan terakhir Riko.


Dania menghembuskan nafas kasar, dia benar-benar bingung harus berbuat apa? Hari ini adalah hari terakhir dari waktu tiga hari yang Riko berikan padanya, dia ingin memberitahukan segalanya pada Randy, namun dia takut Randy berbuat hal gila, terakhir kali saja Randy ingin membuat Riko patah tulang, Dania tidak ingin terjadi sesuatu pada suaminya itu. Apalagi jika harus berurusan dengan keluarga Riko, sudah pasti Randy akan ada dalam masalah besar. Pasalnya, keluarga Riko sangat berpengaruh karena posisinya yang tak kalah tinggi dari keluarga Dania.


Dania melihat ke arah suara pintu terbuka, di lihatnya Randy yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.


Randy mendekati Dania dan mengecup pipi Dania


Dania tersenyum dan Randy berjalan menuju lemari dan mengambil pakaiannya.


"Yank .." anggil Dania.


"Hhmmm ... Kenapa? "tanya Randy tanpa melihat Dania.


"Aku mau ke rumah Mama yaa, nanti sore." ucap Dania.


"Oke, aku anterin kamu nanti, aku pulang cepat nanti." ucap Randy.


"Ga usah, yank, aku sendiri aja." ucap Dania.


Randy pun berbalik dan menatap Dania.


"Kenapa? " tanya Randy.


"Ga apa-apa yank, kamu fokus aja sama kerjaan kamu." ucap Dania sambil tersenyum.


"Kamu yakin ga mau aku anterin?" tanya Randy memastikan.


Dania pun mengangguk


"Pulangnya aja jemput aku, nanti aku hubungin kamu."ucap Dania.


"Ya udah kalau gitu, kamu hati-hati." ucap Randy.


Dania pun mengangguk.


"Aku pergi kerja dulu, yank." ucap Randy dan mengecup puncuk kepala Dania.


Dania pun tersenyum dan mengantar Randy sampai pintu keluar.


******


Pukul 16.00 wib Dania sampai di Kediaman orang tuanya


"Selamat datang, Non." ucap security sambil membukakan pintu gerbang.


Dania pun tersenyum.


"Makasih, Pak." ucap Dania.


Dania berjalan memasuki lorong taman depan menuju pintu utama Rumahnya, Rumah dania ini besarnya luar biasa, bahkan untuk menuju pintu utama saja bisa memakan waktu beberapa menit.


Begitu sampai di pintu masuk, Dania membuka pintu dan berjalan menuju Ruang tamu, tak ada siapapun di sana.


Dania pun berjalan menuju kamar orang tuanya dan ternyata benar mereka ada di sana.


"Ma, Pa." panggil Dania.


Papa dan Mama meihat ke arah Dania.


"Hai, Sayang, kamu kapan datang?" tanya Mama Rania.


"Baru aja, Ma." ucap Dania.


Dania mendekati Papa dan Mama nya, Dia pun mengecup pipi Mama dan Papanya itu.


Meski di antara Ayah dan anak itu sempat beberapa kali terjadi perdebatan kecil, namun tetap lah ikatan bathin di antara mereka begitu kuat. Di ibaratkan dua orang anak kecil yang bertengkar karena berebut mainan, hari ini bertengkar, besoknya sudah berbaikan dan bermain bersama lagi. Seperti itu lah juga antara Dania dan Papanya, Bagaimana pun juga, Dania tak bisa marah lebih lama pada Papanya, Papanya tetap lah idolanya sejak kecil, begitu pun dengan Papa Hamish, dia tak akan bisa berlama-lama marah pada putrinya itu.


"Randy ga ikut?" tanya Papa.


"Randy ke restauran, Pa." ucap Dania.


"Terus kamu ada urusan apa kesini? Ga mungkin kan, cuma mau main aja?" tanya sang Mama.


"Riko mau ngajak keluar,nanti malem." ucap Dania.


Mama Rania pun mengerutkan dahinya menatap sang putri.


"Apa Randy tahu?"tanya Mama.


Dania pun menggelengkan kepalanya.


"Sayang, jangan macem-macem ya, kamu udah punya suami loh."ucap Mama


"Cuma ketemu aja kok, ma, ada sedikit urusan." ucap Dania dengan tersenyum terpaksa.


Sejujurnya saat ini kepalanya sedang pusing memikirkan masalah Riko.


"Aku ke kamar dulu." ucap Dania.


"Oke, istirahat deh." ucap Mama.


Sesampainya di kamar, Dania langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


pandangan Dania tak sengaja melihat kotak yang tak terlalu besar juga tak terlalu kecil, Dania bangun dan mengambil kotak tersebut yang isinya sebuah album foto.


Dania mengambil album foto itu dan mulai membukanya, di halaman pertama terlihat foto sepasang anak kecil,yang tak lain adalah Dania kecil dan Riko kecil, Dania pun tersenyum tipis menatap foto itu.

__ADS_1


Dania merebahkan tubuhnya kembali di atas tempat tidur sambil berpikir apa yang harus dia lakukan saat bertemu dengan Riko nanti?


Dania terus larut dalam pikirannya, hingga tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 18.00 wib.


Tak berapa lama Riko pun sudah sampai di rumahnya.


Dania bergegas keluar menemui Riko dan setelah berpamitan pada orang tua Dania, Riko dan Dania pun pergi dari Rumah itu.


Di perjalanan tak ada satu pun yang bersuara, himgga Dania tersadar saat sudah sampai di salah satu restauran yang membuatnya terkejut saat melihat nama restauran itu.


Dania's restaurant.


"Kenapa kesini?" tanya Dania.


Riko tak menjawab pertanyaan Dania. dia turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Dania.


Dania masih tetap duduk dan tak ingin keluar dari mobil.


"Ayo? turun." ucap Riko.


Dania pun menggeleng.


"Aku ga mau ke Restauran ini." ucap Dania.


"Tapi aku mau." ucap Riko.


"Ya udah, kalau gitu kamu aja yang masuk, aku balik aja." ucap Dania dengan nada kesal.


"Kamu mau flashdisk itu atau nggak sih,ha?" tanya Riko.


Dania pun berpikir sejenak dan mengangguk.


"Ya udah turun, aku laper mau makan"ucap Riko.


Dania pun menahan tangan Riko.


"Pindah aja yuk, di sini ga enak makanannya, tempatnya juga ga mewah gini, bukan selera kamu banget." ucap Dania.


"Tererah deh, ah, kamu kalau ga mau ikut masuk, aku bakalan kasih flashdisk itu sama Om Hamish." ancam Riko.


Dania membulatkan matanya dan segera turun dari mobil.


Dania dan Riko berjalan menuju pintu Restauran, pertama kali Dnia melihat ke sekeliling Restauran, dia takut ada Randy di sana.


Dania bernafas lega saat tak melihat sosok Randy di sana.


Riko menuntun Dania menuju kursi dekat kaca tembus pandang yang meja nya berada di depan meja yang paling ujung, tadinya Riko ingin duduk di sana, namun sepertinya ada orang di meja tersebut, karena ada sebuah laptop juga di sana.


Dania dan Riko mulai memesan makanan, pelayan itu terkejut saat melihat Dania.


Ya, tentu saja pelayan di sana mengenal Dania, yang mereka tahu, Dania adalah kekasih dari Owner Restauran tersebut, yang tak lain adalah Randy.


Sambil menunggu pesanan datang, Dania mulai membuka pembicaraan.


"Mana flashdisknya?" tanya Dania.


"Ada, aku bawa." ucap Riko santai sambil memainkan ponselnya.


" Ya udah, siniin."ucap Dania.


"Aku bakalan kasih falshdisk itu, tapi dengan satu syarat." ucap Riko.


"Cepetan deh, ga usah berbelit-belit."ucap Dania dengan nada kesal.


"Pake ini, jadi tunangan aku."ucap Riko sambil menyodorkan cincin tersebut.


Dania pun terkejut dan menggelengkan kepalanya.


"Riko please, jangan paksa aku, kamu tahu aku ga suka di paksaa begini, lagian kita kan masih Sekolah" ucap Dania.


"Aku ga peduli."ucap Riko dan menarik tangan kanan Dania.


Riko mengerutkan dahinya saat melihat cincin berlian di jari manis Dania.


"buka." ucap Riko sambil menatap cincin di jari manis Dania.


Dania pun mengepalkan tangan kanannya dan menyembunyikannya di bawah meja.


"Ga bisa, Riko, Ga ada cara lain apa, selain permintaan gila kamu ini?" ucap Dania dengan geram.


Riko menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar, dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Hallo, Om Hamish, aku ada sesuatu untuk Om, Om pasti bakalan kaget." ucap Riko sambil menyeringai menatap


Dania.


Dania segera merebut ponsel Riko dan mematikan telponnya.


"Riko kamu gila, ya?" ucap Dania dengan geram.


"Jadi gimana? Kamu mau atau engga tunangan sama aku? Aku janji bakalan kasih falshdisk itu sama kamu dan ga akan ungkit masalah ini lagi." ucap Riko.


Dania pun berpikir sejenak.


"Apa yang harus aku lakuin? Ayo dong Dania, mikir, mikir." ucap Dania dalam hati sambil *** jari-jarinya.


"Ahh, terserah lah, yang penting aku dapetin dulu flashdisk itu, abis itu aku tinggalin aja si Riko." ucap Dania dalam hati.


"Aku mau jadi pacar kamu lagi, tapi untuk tunangan, aku belum kepikiran


" ucap Dania.


"Bukan jawaban itu yang aku mau, aku tanya sekali lagi dan ini yang terakhir,


kamu mau atau nggak tunangan sama aku? Kalau kamu mau, aku akan kasih flashdisk itu sama kamu,tapi kalau kamu nolak, aku bisa pastiin flashdisk itu bakalan sampe ketangan Papa kamu" ucap Riko dengan nada mengancam.


Dania pun mengepalkan tangannya dan menghembuskan nafas kasar.


"Oke, akumau tunangan sama kamu" ucap Dania.


Riko pun tersenyum.


"Apa? Coba ngomong sekali lagi, aku ga denger." ucap Riko.


"Aku mau tunangan sama kamu." ucap dania penuh penekanan.


"Ga denger." ucap Riko.


Dania pun bangun dari duduknya dan mengehentakkan kakinya.


"Aku mau tunangan sama kamu, apa kamu puas, ha?" teriak Dania.

__ADS_1


Riko pun tersenyum dan langsung memeluk Dania, saat Dania akan melepaskan pelukan Riko tiba-tiba, ada yang menarik tangan Dania sampai Dania pun terlepas dari pelukan Riko.


Bugh.


Bugh.


Bugh.


Ranpa ampun seseorang memukuli wajah Riko, Riko pun sampai tersungkur di lantai.


Dania pun terkejut bukan main melihat sosok yang ada di hadapannya saat ini.


Jantung Dania seketika terasa berhenti berdetak melihat Randy yang di penuhi amarah.


Setelah puas memukul Riko, Randy pun merapikan laptopnya dan bergegas pergi dari Restauran tersebut.


saat dania akan mengejar Randy, Riko langsung menahan kakinya.


Dania pun melempar cincin itu.


"Lupain ucapan aku barusan dan jangan pernah ganggu aku lagi." bentak Dania.


Dania pun bergegas keluar dari Restauran berharap bisa mengejar Randy.


Sedangkan Riko mengepalkan tangannya di tengah rasa sakitnya.


Dia pun mengambil ponselnya dan mengirim sesuatu pada salah satu nomor telpon yang ada di kontaknya.


******


Dania membuka pintu kamar dan betapa terkejutnya dia saat melihat isi kamar yang berserakan di lantai, dan yang membuat nya lebih terkejut lagi, saat melihat bingkai foto pernikahannya yang hancur di atas lantai.


Dania melihat Randy yang duduk di lantai dengan bersender di samping tempat tidur, wajahnya tampak kacau, matanya memerah.


Dania pun bergegas menghampiri Randy dan langsung memeluk tubuh Randy.


"Aku bisa jelasin semuanya, aku mohon, tolong kasih aku kesempatan buat jelasin semuanya."ucap Dania.


Dania menangis melihat Randy yang tampak kacau, Dania benar-benar merasa bersalah.


"Pergi dari hadapan aku." ucap Randy dengan penuh penekanan.


"Aku ga mau." ucap Dania sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku bilang pergi dari hadapan aku" Bentak Randy.


Dania pun terkejut dan sesaat kemudian tangisnya pecah.


"Aku ga mau, aku mohon jangan kaya gini, aku bisa jelasin semuanya Rand, aku mohon, aku ga mau pergi dari sini." ucap Dania di tengah isak tangisnya.


Ting tong.


Tiba-tiba suara bel berbunyi, Randy melepaskan pelukan Dania dan merapikan penampilannya yang kacau. Randy pun berjalan menuju pintu dan membukanya. Belum sempat pintu terbuka sepenuhnya, tiba-tiba seseorang langsung menerobos masuk.


Bugh.


Papa Hamih memukulnya dan membuat Randy yang tak siap pun sampai tersungkur ke lantai.


"Brengsek, sudah say duga kamu adalah laki-laki brengsek." bentak Papa Hamish.


Setelah memukul Randy, Papa Hamish pun mencari Dania ke kamarnya, Sedangkan Randy masih diam sambil menahan rasa sakit.


"Ayo pulang." Papa Hamish menarik paksa tangan Dania.


Dania pun terkejut dan mencoba menahan tangan Papanya, namun papanya terlalu kuat menariknya.


Begitu melewati Randy, Dania memohon agar randy tak membiarkan Papanya membawanya.


"Yank, aku mohon, aku ga mau ikut Papa, kamu lakuin sesuatu dong, yank." ucap Dania sambil menangis.


Randy pun masih tetap diam.


Papa Hamish terus menarik tangan Dania dan belum sempat sampai pintu keluar, dengan sekuat tenaga Dania menghempaskan tangan Papanya dan beralari mendekati Randy, dia pun memeluk Randy.


Papa Hamish mengepalkan tangannya.


"Dania, sudah cukup, ayo ikut Papa pulang, setelah ini Papa akan urus perceraian kalian" ucap Papa Hamish dengan penuh penekanan.


Dania pun semakin terisak, sementara Randy masih tetap diam saja.


"Aku mohon, lakuin sesuatu, aku ga pernah ada niat khianati kamu, aku cuma mau lindungi kamu dari Papa, tapi aku ga tahu kalau kejadiannya bakal kaya gini." ucap Dania dengan masih memeluk Randy.


Randy pun melepaskan pelukan Dania dan menatap Dania penuh tanya.


Randy menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


" Tolong kasih waktu kami untuk bicara, Pa." ucap Dania.


"Tidak ada lagi yang perlu kalian bicarakan, kamu ga perlu lagi berurusan dengan pengkhianat ini." ucap Papa dania sambil menunjuk ke arah Randy.


Randy pun merasa bingung, justru yang berkhianat di sini adalah Dania karena berani dekat dengan pria lain, pikir Randy.


"Mksudnya apa m?" tanya Randy sambil menatap Papa Hamish.


Papa Hamish melemparkan ponselnya pada dDada Randy dan repleks tangan Randy pun menangkapnya.


Randy melihat sebuah video disana, betapa terkejutnya dia saat melihat video nya dengan sasha, di video itu tampak sasha yang bertelanjang dada dan randy yang berpakaian utuh sedang berciuman panas dengan tangan Randy yang menggerayangi tubuh Sasha.


Randy menelan saliva dengan susah payah, tubuhnya benar-benar lemas, dia pum terduduk di sofa.


Pantas saja mertuanya itu menghajar nya, orang tua mana yang akan terima melihat suami dari anaknya berbuat gila dengan perempuan lain?.


Meski sebetulnya terjadi kesalah fahaman, karena itu terjadi sebelum Randy dan dania menikah.


"Apa kamu sudah puas, ha? Saya akan mengambil anak saya kembali. Akan saya urus segera surat perpisahan pernikahan kalian." bentak Papa Hamish.


Dengan cepat Dania duduk di samping Randy.


"Papa salah paham, Randy ga pernah khianati aku." ucap Dania.


"Kamu sudah tidak waras Dania, kamu masih aja belain pengkhianat seperti dia." ucap Papa Hamish sambil menunjuk ke arah Randy.


Dania pun menggelengkan kepalanya.


"Aku ga akan pernah tinggalin Papa dari calon anak aku " ucap Dania sambil menundukkan kepalanya.


Papa Hamish dan Randy mengerutkan dahinya mendengar ucapan Dania.


"Apa maksud kamu, Dania?" tanya papa Hamish.


Dania menelan saliva dengan susah payah.

__ADS_1


"Aku hamil, Pa." ucap Dania sambil menunduklan kepalanya.


"APA ...?" Papa Hamish dan Randy membulatkan matanya, mereka begitu terkejut mendengar ucapan Dania.


__ADS_2