Istri Jelekku

Istri Jelekku
Bab 96


__ADS_3

Siang ini Randy dan Dania sudah sampai di rumah, setelah sebelumnya mereka menjemput baby Raydan dan baby Rayna terlebih dulu di kediaman Hamish.


Dania langsung menidurkan baby Raydan dan baby Rayna.


Semantara Randy kembali bersiap dan akan bertemu dosen sore ini di Kampus.


Di saat Randy tengah bersiap, Dania membuka ponselnya yang berbunyi dan terdapat satu pesan masuk dari Niken.


Dania pun mendengus kesal karena Niken tahu nomornya, entah Niken mengetahuinya dari mana, Dania bahkan tak pernah memberikan nomor ponselnya pada Niken.


"Kenapa sih, yank? Kok cemberut gitu." ucap Randy.


Randy merasa bingung melihat ekspresi istrinya itu yang terlihat kesal.


"Ga apa-apa, aku mau ke kamar mandi, titip abang sama ade." ucap Dania.


Randy mengangguk dan terus memperhatikan langkah Dania. Sesaat kemudian perhatiannya mengarah pada ponsel Dania. Dia mengambil ponsel Dania dan membukanya.


Dia mengerutkan dahinya saat melihat pesan masuk dari nomor baru yang ternyata dari Niken.


Niken: Gue tunggu janji lo. Niken.


"Janji apaan, nih?" gumam Randy.


Tak lama satu pesan dari Niken masuk kembali dan itu adalah sebuah pesan video.


Randy mengklik video tersebut dan setelah menunggu benerapa saat, dia melihat video tersebut, betapa terkejutnya dia saat melihat video Dania dan Riko saat memasuki kamar hotel.


Randy pun menggenggam kuat ponsel Dania.


Tak lama Dania keluar dari kamar mandi.


"Jelasin, ini." ucap Randy sambil memberikan ponsel itu pada Dania.


Dania mengambil ponsel itu dan dia pun tak kalah terkejutnya saat melihat video tersebut.


"Aku bisa jelasin,


kok." ucap Dania.


"Ya udah, jelasin sekarang ..!" ucap Randy tegas.


Dania menelan air liurnya mendengar nada bicara Randy yang sudah mulai naik.


"Waktu di Bandung, aku ga sengaja ketemu Riko pas mau ke toilet." ucap Dania.


"Terus .." ucap Randy.


"Ya, aku sapa dia, terus ga lama anaknya Riko nangis, ya udah aku bantu gantiin popok dia di kamar yang Riko chek in." ucap Dania.


"Apa, iya, harus selama itu kamu gantiin popok anaknya si Riko? Tiga jam aku nyariin kamu." ucap Randy dengan nada kesal.


Dia tak habis pikir pada istrinya itu, setengah mati dia merasa cemas saat istrinya itu menghilang, tapi ternyata istrinya itu justru tengah bersama mantan kekasihnya, di tambah dia membantu mengurus bayi mantannya.


"Selesai gantiin popok aku udah mau balik, tapi pas aku habis keluar dari kamar mandi, aku ga lihat Riko. Jadi, aku ga tega mau ninggalin bayi sekecil itu sendirian. Aku juga ga sengaja ketiduran." ucap Dania.


Randy mengusap wajah kasar.


Dia mengepalkan tangannya.


"Jadi, kalian tidur bersama di kamar yang sama." ucap Randy.


Dania membulatkan matanya, dia sungguh terkejut mendengar ucapan Randy.


"Apa maksud kamu?" tanya Dania.


"Tiga jam aku nungguin kamu, dan kamu sendiri barusan yang bilang kamu ketiduran. Jadi, apa kalian tidur bersama?" ucap Randy dengan penuh penekanan.


Dania memegang dadanya yang terasa sesak akibat ucapan Randy.


Apa iya, Randy bisa berpikir sampai sejauh itu tentangnya?


"Jawab aku ..!" bentak Randy.


Dania terkejut dan menatap Randy tak percaya.


"Ucapan kamu itu bener-bener nyakitin hati aku." ucap Dania.


Matanya sudah memerah, bahkan air matanya sudah siap meluncur melewati pipi mulusnya.


Randy mengusap wajah kasar dan memegang kuat bahu Dania.


"Kalau gitu, jelasin semuanya ..! Bilang kalau semua itu ga benar." ucap Randy.


Dania melepaskan paksa tangan Randy.


"Aku cuma mau bantu Riko, apa salahnya sama itu? Oke, aku salah karena berada di kamar yang sama bersama Riko, tetapi, demi apapun aku ga pernah tidur sama dia. Riko bahkan ga ada di kamar saat aku ketiduran." ucap Dania.


Air matanya tak bisa lagi dia tahan, dan lolos lah sudah melewati pipinya.


Di balik tangis Dania, Randy menyunggingkan senyum tipis.


Dia sungguh lega karena istrinya itu masih tetap menjaga kehormatannya meski sebetulnya istrinya itu memang bersalah karena sudah berada di dalam satu ruangan bersama orang yang bukan muhrimnya.


Randy menarik Dania ke pelukannya dan mengusap lembut punggung Dania.


"Aku percaya sama kamu." ucap Randy.


Tangis Dania semakin lirih, entah mengapa rasanya masih sakit sekali mendengar ucapan Randy tadi.


"Aku tahu kamu itu punya hati yang baik, kamu senang bantu orang lain. Tapi, tolong kasih tahu aku, biar aku juga ga cemas nyariin kamu." ucap Randy.


Randy melepaskan pelukannya, dia menatap Dania dengan perasaan bersalah karena sudah bicara kasar pada Dania.


"Jadi, apa kamu maafin aku?" tanya Dania.

__ADS_1


Randy tersenyum dan menggendong depan tubuh Dania. Dania pun langsung melingkarkan kakinya dan memeluk Randy.


"Akan selalu ada kata maaf untuk cinta, selama di dalamnya tak ada pengkhianatan dan selalu ada kejujuran. Kita menikah sudah hampir empat tahun. Yah, kata orang di lima tahun pertama pernikahan akan ada ujian pernikahan, tetapi banyak yang sudah kita lalui selama 4 tahun terakhir ini, kita juga sudah punya dua malaikat kecil yang begitu menggemaskan. Aku ga tahu ke depannya akan seperti apa, tetapi aku yakin, kita akan selalu punya cara yang baik untuk menyelesaikan semua masalah yang terjadi." ucap Randy.


Dania memeluk Randy dengan erat, beruntungnya dia memiliki suami seperti Randy. Akan sangat menjadi wanita yang bodoh jika dia sampai mengkhianati Randy.


"Aku bersyukur punya suami kaya kamu, meski aku selalu bikin kamu kesal, tetapi kamu selalu bisa memaafkan aku." ucap Dania.


Randy tersenyum dan menatap Dania.


"Karena rasa kesal aku ga seberapa di banding rasa sayang aku sama kamu." ucap Randy.


Dania tersenyum dan mengangguk.


"Jadi, apa Niken minta tolong kamu buat deketin dia sama Riko?" tanya Randy.


Dania mengangguk dan turun dari gendongan Randy dan duduk di tepi tempat tidur.


"Niken bilang dia mau kembali sama Riko, tapi dia takut Riko ga mau nerima dia."ucap Dania.


Randy mengangguk dan duduk di samping Dania.


"Apa menurut kamu, Riko mau nerima Niken lagi?" tanya Randy.


Dania menggelengkan kepala.


"Aku ga tahu, tapi semalam aku tanya, katanya dia belum kepikiran untuk mencari Mommy buat Raka. Tapi aku kasihan sama Raka, kemarin Riko bawa dia kerja karena ga ada baby sitter." ucap Dania.


"Terus gimana sama Niken? Apa menurut kamu dia bisa terima Raka juga?" tanya Randy.


"Katanya sih, bisa. Tapi, entah lah


, aku sih berharap semoga dia mau terima bayi kecil itu." ucap Dania.


Randy tersenyum dan mengangguk.


"Kamu semakin ke ibuan, sayang. Aku ga sangka kamu bisa sedewasa ini di usia kamu yang masih muda." ucap Randy.


Dania tersenyum dan menyenderkan kepalanya di bahu Randy.


"Karena kedewasaan tak selalu datang di saat usia dewasa. Seperti aku gini, karena aku menikah muda jadi dewasa sebelum berusia dewasa." ucap Dania sambil tersenyum.


Randy mengangguk dan memeluk bahu Dania.


Waktu pun berlalu dan sudah menunjukkan pukul setengah tiga siang.


"Aku harus ketemu dosen, sore ini, aku siap-siap dulu." ucap Randy.


Dania mengangguk dan berjalan menuju lemari pakaian. Dia menyiapkan segala keperluan Randy untuk pergi ke kampus.


Sedangkan Randy langsung pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya terlebih dulu.


Selesai mandi dan berpakaian Randy pamit pergi ke kampus.


Randy pun tersenyum dan mengecup gemas pipi gembil kedua bayi lucu itu.


"Tunggu Papa pulang, oke. Papa sebentar aja, kok. Habis itu langsung balik." ucap Randy.


Randy mengecup pipi Dania dan pergi menuju mobilnya.


Dia pun langsung melajukan mobilnya menuju kampus.


Sesampainya di Kampus.


Randy akan memasuki pintu gerbang kampus.


Brugh.


Randy terkejut saat tak sengaja menabrak seseorang yang tengah melintas di depan mobilnya.


Dengan cepat Randy keluar dari mobil dan melihat keadaan orang itu.


"Maaf, maaf, gue ga sengaja."ucap Randy.


Randy membantu orang itu untuk bangun dan dia pun terkejut melihat seseorang yang ada di hadapannya saat ini.


"Novi .."ucap Randy.


Ya, wanita itu adalah Novi, mantan baby sitter baby Raydan dan baby Rayna yang Dania pecat sekitar dua bulan lalu.


Sama halnya dengan Randy, Novi pun sama terkejutnya.


"Pak Randy." ucap Novi.


Mendadak ekspresi wajah Randy berubah menjadi kesal saat melihat Novi, Randy teringat akan ucapan Dania saat memberitahunya bahwa Novi mencoba untuk menyusui kedua bayinya.


Sedangkan Novi terlihat menundukkan kepalanya, dia tak berani menatap Randy.


"kamu Baik-baik aja?" tanya Randy.


Meski dia kesal melihat Novi, namun Novi terluka karena ulahnya yang menyetir dengan tak hati-hati.


Randy menuntun Novi duduk di kursi yang tak terlalu jauh darinya.


"Saya Baik-baik aja, Pak." ucap Novi.


Randy mengangguk dan menatap Novi.


"Jadi, apa kamu kuliah di sini juga?" tanya Randy.


"Iya, Pak." ucap Novi.


"Apa saya boleh tanya sesuatu?" tanya Randy.


"Iya." ucap Novi.

__ADS_1


"Kenapa dulu kamu mau menyusui anak saya? Apa kamu sadar, kamu sudah lancang?" ucap Randy.


Novi menelan air liurnya.


"Saya ga sengaja, Pak. Saya ga ada maksud apapun, saat itu." ucap Novi.


"Benar kah, kamu beruntung karena saya ga ada di tempat saat itu, dan istri saya langsung pecat kamu. Kalau enggak, saya ga tahu apa yang bakalan terjadi sama kamu. Apa kamu tahu? Hanya istri saya yang berhak menjadi ibu dari anak-anak saya, dia yang berhak menyusui anak-anak saya, bukan kamu atau siapa pun itu."ucap Randy dengan penuh penekanan.


"Maaf kan saya, Pak. Saya menyayangi anak Bapak, saya sayang sama abang sama ade, mereka sudah saya anggap seperti anak saya sendiri." ucap Novi.


Randy mengerutkan dahi dan menatap Novi.


"Apapun alasannya kamu tetap bersalah karena sudah lancang. Istri saya mengambil keputusan yang tepat dengan memecat kamu." ucap Randy.


Randy pun pergi meninggalkan Novi yang masih terdiam dan terus memperhatikan punggung Randy.


Randy masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya masuk menuju parkiran.


Setelah selesai memarkirkan mobilnya, Randy pun turun dari mobil dan pertama kali dia di sambut oleh Dino, teman kampusnya.


"Lo ambil jam sore juga." ucap Dino.


Randy mengangguk dan menghampiri Dino.


"Gue lagi sibuk beberapa hari ini. Jadi, minta jam sore."ucap Randy.


Dino mengangguk dan merangkul bahu Randy.


"Jadi, ada hubungan apa lo sama Novi?" tanya Dino.


Randy mengerutkan dahinya dan menatap.Dino.


"Apa maksud lo?" tanya Randy.


"Tadi gue lihat lo ngobrol sama si Novi, apa kalian saling kenal?" ucap Dino.


Randy menggidigkan bahunya dan tak menjawab pertanyaa Dino.


"Kasiha si Novi, dulu dia ceria anaknya, sekarang dia jadi pendiam karena kehilangan anaknya." ucap Dino.


Randy mengernyitkan dahi dan menatap Dino.


"Apa, maksudnya?"tanya Randy.


Dino menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Apa lo ga denger beritanya?" tanya Dino.


Randy menggelengkan kepala, dia tak mengerti apa maksud ucapan Dino.


"Dia keguguran saat hamil muda, dan semenjak itu dia jadi orang yang pendiam. Padahal dia itu dulu ceria banget, loh." ucap Dino.


Randy berpikir sejenak.


Jadi itu lah alasannya.


Pantas saja dari awal Randy melihat Novi, Novi terlihat pendiam dan tak banyak bicara. Randy pun baru tahu kalau ternyata Novi kuliah di Kampus yang sama dengannya.


Seketika Randy teringat pada kejadian sekitar dua tahun lalu, dimana dia dan Dania pun harus kehilangan buah hati pertama mereka.


Memang lah menyakitkan kehilangan seseorang yang begitu kita harapkan dan kita nantikan.


Randy menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Suaminya, kemana?" tanya Randy.


"Suaminya ada, gue denger-denger, sih, semenjak Si Novi keguguran, suaminya jadi suka kasar sama si Novi, mungkin itu juga yang bikin dia makin setres dan semakin menjadi orang yang pendiam." ucap Dino.


Randy mengangguk dan memilih pergi menuju kelas.


Dino pun mengekori Randy dari belakang.


"Jadi, ada hubungan apa lo sama Novi?" tanya Dino.


"Dia pernah jadi baby sitter di rumah gue." ucap Randy.


"Apa? Lo udah punya anak?" tanya Dino terkejut sekaligus tak percaya mendengar ucapa Randy.


Randy mengerutkan dahinya.


"Lah, emang lo ga tahu." ucap Randy.


Dino menggelengkan kepala.


"Gimana gue bisa tahu? Selama hampir tiga tahun gue kenal lo, lo bahkan ga pernah bilang kalau lo udah nikah dan punya anak." ucap Dino.


"Entah rahasia apa lagi, yang lo sembunyiin dari gue." ucap Dino.


Randy tersenyum.


"Gue kira, gue udah kasih tahu lo, tapi mungkin gue lupa." ucap Randy sambil tersenyum.


Dino pun mengangguk.


Memang selama mereka berteman, Dino maupun Randy tak pernah sekali pun ikut campur dalam masalah pribadi.


Dari awal Randy pun tak pernah membahas soal Dania, karena memang saat itu Dania masih berstatus pelajar.


Dan saat acara resepsi pernikahan pun tak ada teman kampusnya yang dia undang, melainkan hanya teman-teman SMP dan SMA nya saja yang dia undang.


Lagi pula, bagi Randy tak ada yang perlu dia bahas tentang istri dan anaknya itu, orang-orang pun tak mau tahu tentang urusan pribadinya, jadi untuk apa dia memberitahukan urusan pribadinya?


Meski begitu, Dosen dan pihak terkait lainnya mengetahui status pernikahan Randy dengan Dania.


Mereka pun tahu Randy sudah memiliki buah hati.

__ADS_1


__ADS_2