
Randy tengah sibuk dengan ponselnya.
Sejak tadi Dania sulit untuk di hubungi, sementara Randy sendiri tak tahu keberadaan istrinya itu saat ini.
sudah tiga puluh menit Dania menghilang dari toilet, Randy bahkan sampai mencari ke seluruh toilet namun tak menemukan keberadaan Dania dimana pun.
Gio bahkan sudah selesai memasangkan cincin di jari manis Sheila, namun Dania masih belum juga terlihat.
"Gimana, Rand? Udah ada kabar dari Dania?" tanya Gio.
"Belum, Yo. Gue khawatir, gue takut Dania kenapa-kenapa." ucap Randy.
Gio mencoba membantu dengan mencari tahu pada teman-temannya yang hadir di acaranya, mungkin saja mereka melihat atau mengetahui keberadaan Dania.
"Gue udah coba tanya ke temen-temen gue disini, gue juga udah lihatin foto Dania, semoga ada kabar baik." ucap Gio.
Randy mengusap wajah kasar dan mengangguk.
"Thanks, Yo. Gue mau balik ke kamar dulu, deh, siapa tahu Dania udah ada di kamar." ucap Randy.
Gio pun mengangguk dan Randy bergegas menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Randy mencari Dania sampai ke kamar mandi, namun tak ada Dania di sana.
Dia sungguh cemas memikirkan keadaan Dania, meski baru tiga puluh menit menghilang, namun Randy merasa cemas karena ponsel Dania tak dapat di hubung. Ponselnya mati.
Randy menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Positive thinking, okay, huh." ucap Randy.
Dia mencoba berpikir positif tentang keadaan Dania.
******
Di tempat lain.
Riko terus memperhatikan Dania yang tengah mengganti popok baby Raka dengan begitu cekatan.
Sungguh sikap ke ibuan Dania begitu terlihat.
Riko pun menyunggingkan senyum tipis.
Dia mengambil ponselnya dan diam-diam mengabadikan kegiatan mantan kekasih dan juga buah hatinya itu.
Baby Raka begitu cepat akrab dengan Dania. Bayi memang lah akan senang berada disisi seseorang yang tulus menyayanginya.
Begitu juga Dania, meski Raka bukan lah buah hatinya, tetapi dia menyayangi Raka dengan tulus. Dania merasa kasihan pada Raka karena harus kehilangan Ibu nya bahkan dari dia baru lahir ke dunia.
"Hai, baby Raka, kamu ganteng banget, sayang. Kamu benar-benar mirip banget sama Mommy kamu." ucap Dania sambil tersenyum.
Baby Raka pun tersenyum.
Hangat.
Itu lah yang Riko rasakan.
Hadirnya Dania saat ini, membuatnya merasakan kehangatan sebuah keluarga. Apalagi terlihat baby Raka yang terlihat nyaman berada di sisi Dania.
Tak terasa mata Riko memerah dan bulir air mata mulai melewati pipinya.
Dania melihat Riko sekilas dan terkejut melihat Riko menteskan air matanya.
Untuk kedua kalinya Dania melihat kesedihan yang begitu dalam di dalam diri Riko setelah sebelumnya melihatnya pada saat meninggalnya Rena.
"Apa kamu baik-baik aja, Ko?" tanya Dania.
Riko tersentak dan mengusap air matanya.
"Sorry, aku-"
"It's okay, aku ngerti, kok."ucap Dania. sambil tersenyum.
"Raka senang banget di dekat kamu." ucap Riko sambil terus menatap Raka.
Dania tersenyum dan mengangguk.
"Aku juga senang kok, dekat sama Raka. Aku jadi kangen sama abang sama ade, ini pertama kalinya aku ninggalin mereka jauh." ucap Dania.
Tak lama baby Raka menangis.
"Oh sayang, kamu pasti haus, ya."ucap Dania.
Riko bergegas membuatkan susu untuk baby Raka.
"Sini, biar aku kasih dia susu dulu." ucap Riko.
Dania mengulurkan tangannya dan membuat Riko kebingungan.
"Biar aku yang kasih susu buat baby Raka." ucap Dania.
Riko mengangguk dan memberikan susu itu pada Dania.
"Ayo sayang, mimi susu dulu, ya." ucap Dania sambil memberikan susu itu pada baby Raka.
Baby Raka pun menyusu dan tak lama kemudian dia tertidur.
Dania tersenyum melihat baby Raka yang sudah terlelap.
"Makasih, ya, udah mau bantuin aku ngerawat Raka malam ini." ucap Riko.
Dania tersenyum dan mengangguk.
"Sama-sama, Ko. Oh ya, ngomong-ngomong apa kamu ga kepikiran mencari Mommy untuk Raka?" tanya Dania.
Riko tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Aku ga kepikiran sama sekali, lagi pula, masih ada aku Papanya, dia ga akan kekurangan apapun meski tanpa seorang Ibu." ucap Riko.
Dania menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Kalau gitu secepatnya cari baby sitter buat Raka, aku ga tega kalau Raka harus ikut kamu kerja." ucap Dania.
"Iya, ini juga aku lagi nyari-nyari, kok." ucap Riko.
Dania tersenyum dan mengangguk.
Dania turun dari tempat tidur dan tanpa di sadari, dressnya sedikit terangkat hingga membuat paha nya sedikit terlihat.
Riko yang awalnya tak sengaja melihat pun menjadi merasa panas melihat paha Dania yang begitu putih bersih.
Riko pun menelan air liurnya.
__ADS_1
Sementar dengan santai Dania berjalan menuju kamar mandi, dan Riko terus memperhatikan langkah Dania dari belakang.
Sesuatu di balik celananya benar-benar menjadi sesak.
Bagaimana pun dia seorang laki-laki dan pernah menikah. Dia pernah merasakan bagaimana nikmatnya apa yang sering di sebut dengan surga dunia itu.
Terlebih , sudah lebih dari lima bulan dia tak pernah lagi menyentuh seorang wanita.
Riko pun mengusap wajah kasar.
"Huh, apa-apaan, sih?" gumam Riko.
Riko bergegas keluar dari kamar, meninggalkan Dania bersama baby Raka.
Tak lama Dania pun keluar dari kamar mandi.
"Aku balik dulu, ya , Ko." ucap Dania.
Dania mengerutkan dahinya saat tak melihat Riko di dalam kamar.
Dania mengambil ponselnya dan dia pun terkejut karena ternyata ponselnya mati.
"Ya Tuhan, Randy pasti cemas." gumam Dania.
Dia bergegas mencharger ponselnya dan melihat ke arah baby Raka.
"Papa kamu kemana, sih, sayang? Tante harus balik ini, suami tante pasti cemas karena ga bisa nemuin tante." ucap Dania.
Dania tak mungkin meninggalkan baby Raka sendiri, dia tak setega itu harus meninggalkan bayi sekecil itu.
Dania pun mendengus kesal.
Bukan apa-apa, Dania merasa bersalah karena sudah meninggalkan Randy terlalu lama.
Dania menghidupkan ponselnya dan setelah menunggu beberapa saat masuk lah beberapa notifikasi, di antaranya ada banyak pesan dari Randy dan beberapa notifikasi panggilan dari Randy.
Dania pun memanggil nomor Randy dan ternyata nomornya tak bisa di hubungi, ponsel Randy mati.
Dania semakin cemas dan mencoba menghubungi nomor Riko, namun nomor Riko pun tak bisa di hubungi.
Dania pun duduk di tepi tempat tidur dan menatap intens wajah bayi kecil yang tengah tertidur pulas.
"Semoga kamu secepatnya punya Mommy." ucap Dania sambil tersenyum.
Cukup lama Dania menunggu Riko, hingga Dania merasakan kantuk dan dia pun tertidur di samping baby Raka.
Tak lama Riko masuk ke dalam kamar.
Riko terkejut melihat Dania tertidur.
Dia melihat ke arah jam yang melingkar di tanganya pergelangan tangannya dan ternyata sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Ya ampun, kenapa ga sadar udah jam segini?" gumam Riko.
Riko mendekati Dania dan akan membangunkan Dania namun dia urungkan niatnya.
Riko mengambil ponselnya dan memotret Dania yang tengah terpejam di samping baby Raka.
Riko pun tersenyum melihat hasil potretnya.
Riko menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.
Dia menyimpan ponselnya dan membangunkan Dania dengan mengusap lembut pipi Dania.
Riko pun tersenyum dan lebih mendekatkan wajahnnya ke wajah Dania.
Dania tersentak dan langsung mendorong wajah Riko.
Riko pun langsung menjauh dari Dania.
"Maaf, aku cuma mau bangunin kamu." ucap Riko.
Dania mengangguk dan duduk sebentar.
"Syukur deh, kamu udah balik. Aku balik dulu, Randy pasti cemas nyariin aku." ucap Dania.
"Maaf ya, apa perlu aku ngomong sama Randy kalau kamu tadi nemenin Raka?" ucap Riko.
Dania membulatkan mata dan menggelengkan kepalanya.
"Lebih baik Randy ga tahu, dia bisa salah paham nanti." ucap Dania.
Riko pun mengangguk.
"Ya udah, aku balik sekarang." ucap Dania dan di angguki oleh Dania.
Dania pun bergegas keluar dari kamar Riko dan pergi menuju kamarnya.
Begitu sampai di kamar, tak ada Randy di sana.
Dania menghempaskan tubuhnya dan memejamkan mata.
Tak lama pintu kamar terbuka dan ternyata Randy yang memasuki kamar.
Dengan cepat Randy menarik Dania ke pelukannya dan memeluk Dania dengan erat.
"Aku pikir ada yang nyulik kamu." ucap Randy.
Dania tersenyum dan mengusap lembut punggung Randy.
"Maaf ya, aku udah bikin kamu cemas."ucap Dania.
Randy melepaskan pelukannya dan menuntun Dania duduk di tepi tempat tidur.
"Jadi, kamu kemana aja tadi?" tanya Randy.
Dania menelan air liurnya dan membuang wajahnya.
"Aku ketemu temen lama aku, karena udah lama ga ketemu, jadi banyak sekali yang kami bicarakan, makanya sampai lupa waktu." ucap Dania.
"Teman, siapa dia?" tanya Randy.
"Teman SMP aku." ucap Dania.
Randy mengangguk dan kembali memeluk Dania.
"Aku kahwatir banget, yank. Lain kali bilang dulu ya, kalau mau pergi." ucap Randy.
Dania mengangguk dan memeluk Randy dengan erat.
"Apa kamu ngantuk?" tanya Randy.
__ADS_1
Dania pun mengangguk.
"Ya udah, ayo kita tidur." ucap Randy.
Randy dan Dania pun naik ke atas tenpat tidur.
Randy langsung terlelap dan Dania masih belum bisa memejamkan matanya.
Dania masih memikirkan apa yang tadi terjadi di kamar Riko.
Dia menatap wajah pulas Randy.
Seketika Dania merasa bersalah pada Randy. Dia selalu lupa dengan yang lainnya saat sudah bersama Riko.
"Maaf, yank." ucap Dania dengan pelan.
Dania mengecup pipi Randy dan memeluk Randy.
Dia pun terlelap dalam tidurnya.
******
Pukul delapan pagi, Randy dan Dania tengah menikmati sarapan di restauran yang masih berada di hotel.
Di tengah acara sarapannya, tiba-tiba datang seorang gadis cantik menghampiri meja Randy dan Dania.
"Hai, Dania, Kak Randy." ucap orang itu.
Dania dan Randy melihat ke arah orang itu.
"Niken." ucap Dania.
"Ya, apa aku boleh duduk disini?" tanya Niken.
Randy dan Dania pun saling tatap.
"Silahkan aja." ucap Randy santai.
Niken tersenyum dan duduk di samping Dania.
Dania agak risih dengan Niken, pasalnya mereka tak pernah dekat selama di SMA dulu.
Niken memanggil seorang pelayan. Dia memesan secangkir kopi dan seporsi sandwich untuk menu sarapannya.
"Aku udah selesai, aku ke toilet bentar." ucap Randy.
Dania mengangguk dan melanjutkan sarapannya.
Niken terus memperhatikan kepergian Randy dan dia mengambil ponselnya.
"Dania, gue punya sesuatu buat lo." ucap Niken.
Dania mengerutkan dahi dan menatap bingung pada Niken.
"Apa?" tanya Dania.
"Lo lihat, ini." ucap Niken.
Uhuk uhuk uhuk ..
Dania tersedak makanan saat melihat apa yang Niken tunjukkan di ponselnya.
"Lo ..!" Dania menatap Niken dengan tajam, tetapi Niken justru tersenyum manis.
"Gimana jadinya, ya, kalau ini sampai ke tangannya Kak Randy?" ucap Niken.
Dania menelan air liurnya.
"Apa mau lo?" tanya Dania.
"Gue mau Riko." ucap Niken to the point.
Dania mengerutkan dahi dan tersenyum tipis.
"Kenapa ga lo aja yang deketin dia sendiri?" ucap Dania.
"Gue ga akan minta bantuan lo, kalau gue bisa ngelakuinnya sendiri. Masalahnya, semenjak kejadian itu Riko ga mau lagi dekat sama gue." ucap Niken sendu.
Dania mengerutkan dahi mendengar ucapan Niken.
"Masalah apa?" tanya Dania.
"Dulu gue punya pacar lagi, makanya dia putusin gue. Tapi saat itu juga gue nyesel Dania, sampai sekarang gue masih cinta sama Riko." ucap Niken sendu.
Matanya sudah memerah.
Dania menatap Niken dan memegang bahu Niken. Dia mencoba mencari celah kebohongan di mata Niken, namun sepertinya Niken memang benar-benar masih mencintai Riko.
"Tolong Dania, gue tahu hubungan lo sama Riko masih baik-baik aja, Lo juga spesial buat Riko, karena itu dia pasti akan dengerin omongan lo." ucap Niken.
Dania menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Jangan bicara kaya gitu lagi, gue sama Riko hanya sebatas teman. Semalam gue datang ke kamarnya cuma karena bayinya, bukan karena Riko." ucap Dania.
"Tapi tetap aja, laki-laki dan perempuan yang bukan suami istri masuk ke dalam kamar hotel, apa yang akan di pikirkan orang lain? apa lagi Kak Randy, bukankah dia akan salah paham? Gue sih, yakin, lo sama Riko ga ngelakuin apa-apa semalam, tapi kita ga pernah tahu apa yang ada di pikiran orang lain." ucap Niken.
Dania menarik napas dalam dan menghembuskannya agak kasar.
"Tolong Niken, jangan ngancem gue pake hal konyol begituan, kalau lo mau deketin Riko, ya deketin aja sendiri, jangan bawa-bawa gue." ucap Dania tegas.
"Loh, loh, kenapa jadi pada ribut, sih?" ucap Randy yang baru saja kembali dari toilet.
Niken tersenyum dan mengambil ponselnya.
"Ini, tadi Dania marah waktu aku nunjukkin foto ini." Niken akan memperlihatkan sesuatu yang ada di dalam ponselnya namun dengan cepat Dania menarik tangan
Niken dan memaksa Niken untuk menjauh dari Randy.
"Lo jangan gila, ya. Apa lo pikir ini lucu, ha?" ucap Dania dengan geram.
"Gue cuma minta tolong lo buat dekatin gue sama Riko, gue mau lo bicara sama Riko agar dia mau membuka hatinya buat perempuan lain, tapi lo malah nolak dan ga mau bantuin gue." ucap Niken dengan nada kesal.
"Niken dengar ini, Riko itu ga sendiri. Dia punya seorang anak dalam hidupnya. Kalau lo mau sama Riko, berarti lo harus bisa nerima anaknya, Gue cuma ga mau lo menyesal di kemudian hari." ucap Dania.
Niken menggelengkan kepala dan memegang tangan Dania.
"Gue terima Riko apa adanya, gue juga terima anaknya. Please, bantu gue." ucap Niken.
Dania pun menatap Niken dengan lekat.
"Oke, tapi kalau sampai gue lihat lo macam-macam sama anaknya Riko, gue orang pertama yang bakal ngasih lo pelajaran." ucap Dania.
__ADS_1
Niken pun mengangguk dan tersenyum lebar.
"Thank you." ucap Niken.