
Randy dan Dania saling tatap, entah apa yang ada di pikiran kedua pasangan suami istri itu.
Randy mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Dania dan menempelkan bibirnya dengan bibir Dania dan sesaat kemudian mereka pun mulai berciuman.
Perlahan, namun penuh perasaan, keduanya begitu menikmati setiap detik berlangsungnya ciuman itu. Dania merasakan Randy nya telah kembali seperti dulu, Sikap Randy bahkan sudah mulai menghangat.
Setelah beberapa saat ciuman itu pun berakhir. Randy menatap wajah Dania dan melepaskan ikatan rambut Dania hingga kini rambut itu tergerai indah. Dia pun membuka kacamata Dania.
Indah.
Satu kata yang menggambarkan mata Dania.
Ya, mata itu begitu indah sehingga Randy mulai merasa ingin selalu menatap kedua mata itu. Mungkin istrinya itu tak sesempurna wanita di luaran sana, mungkin istrinya juga adalah wanita terkonyol yang pernah dia temui selama ini, namun entah mengapa semenjak dirinya mencoba membuka hati dan belajar untuk mengingat segalanya, rasanya selalu ada yang tak beres yang dia rasakan di dadanya. Jantungnya bahkan tak tahu kondisi, dan tak tahu tempat karena saat-saat tertentu akan berdegup lebih kencang jika sedang berada didekat Dania.
Seperti saat ini, jantungnya berdegup kencang saat akan memulai semuanya. Entah mengapa, namun rasanya ini seperti pertama kali baginya. Meski pun sebetulnya bukan yang pertama kali, namun ini adalah pertama kalinya dia akan melakukannya dengan istrinya itu setelah kehilangan ingatannya. Udara dingin Puncak malam ini pun seolah tak menghalangi keduanya untuk saling menyalurkan hasrat masing-masing.
Randy mulai melakukannya dengan perlahan dan penuh perasaan, meski sejujurnya dan entah mengapa malam ini dia begitu bergairah dan ingin sekali melakukannya dengan sesegera mungkin agar secepatnya dapat menuntaskan hasratnya. Dia mencoba menahannya agar tak menyakiti Dania dan juga entah mengapa dia ingin menikmati setiap detik momen kebersamaannya bersama Dania. Entah dia melakukan semua itu atas dasar sudah mulai kembali mencintai Dania atau karena hanya ingin mendapatkan suatu kenikmatan, Randy pun tak mengerti. Dia tak mengerti mengapa juga dia justru mengajak Dania untuk berhubungan dengannya di tempat yang bisa di bilang tempat yang terbuka.
Glegar ..!!!
Randy dan Dania terkejut saat tiba-tiba saja terdengar suara petir yang begitu keras. Jantung keduanya berdegup kencang saking terkejutnya.
Petir itu bahkan membuat konsentrasi keduanya menjadi buyar dan menghentikan kegiatan yang bahkan belum mereka mulai ke titik intinya.
Mereka bahkan baru melakukan foreplay.
Keduanya menjadi merasa canggung dan kini Dania bahkan tak lagi duduk di pangkuan Randy.
Dania mengambil jaketnya dan langsung memakainya kembali, suara petir tadi seolah membawanya kembali pada kenyataan bahwa udara Puncak malam itu benar-benar sangat dingin. Berbeda dengan beberapa saat lalu Dania bahkan tak merasa kedinginan walau hanya memakai dalaman tanktop saja.
Randy pun kembali memakai jaketnya.
Tak ada yang bicara, keduanya masih tetap diam.
Hingga tak terasa hujan sudah mulai reda dan ternyata jam sudah menunjukkan pukul setengah empat pagi.
"Hujannya udah mulai reda, kita balik ke Villa aja, mumpung yang lain belum pada bangun." ucap Randy.
"Ya udah." ucap Dania.
Mereka pun kembali ke Villa.
Sesampainya di Villa, Randy dan Dania pun berpisah dan kembali ke kamar mereka masing-masing.
Dania membuka pintu kamarnya dengan sangat hati-hati, berharap tak akan ada orang yang mengetahui bahwa dia pergi keluar.
Perlahan Dania masuk ke kamar.
"Aarrgghhh .." Dania menjerit saat tiba-tiba dikejutkan dengan Zia yang berdiri di hadapannya. Penampilan Zia begitu lepek dengan rambut dan juga bajunya yang basah.
"Zia, kamu habis ngapain? Kenapa basah kuyup kayak gini?" tanya Dania bingung.
"Habis dari mana aja kamu? Jam segini baru balik ke kamar." tanya Zia dengan tatapan menyelidik. Zia bahkan tak menjawab pertanyaan Dania.
"Hah, itu, aku habis cari udara segar sebentar." ucap Dania gugup dan bergegas akan masuk ke dalam kamar mandi namun Zia langsung menahan tangannya.
"Nyari udara segar dengan cara berbuat mesum dengan pria?" ucap Zia.
Dania membulatkan matanya, dia sungguh terkejut mendengar ucapan Zia.
"Apa maksudnya?" tanya Dania.
"Lo lihat ini." ucap Zia sambil menunjukkan ponselnya pada Dania.
Lagi-lagi Dania di buat terkejut saat melihat ada foto dirinya bersama Randy saat di saung tadi.
Dania menelan air liurnya dengan susah payah.
"Lo dapat foto itu dari mana?" tanya Dania.
"Gue nyariin lo waktu gue tahu lo ga ada di kamar, gue khawatir makanya gue keluar buat nyari lo, dan gue lihat lo jalan berdua sama si Randy. Jadi, gue ikutin kalian berdua. Sialnya gue kejebak hujan jadi gue pun harus berteduh didekat tempat kalian berteduh, dan ternyata lebih sialnya lagi karena gue harus lihat apa yang kalian berdua lakukan." ucap Zia sambil menatap Dania dengan tajam.
Lagi-lagi Dania kesulitan menelan air liurnya.
__ADS_1
"Tolong hapus foto itu, Zia." pinta Dania.
"Hapus? Apa lo sadar, tindakan kalian berdua itu sangat berbahaya? Gimana kalau sampai orang lain lihat perbuatan kalian berdua, ha? Kalian bisa di keluarkan dari kampus dan tentu aja bisa jadi berita besar. Kalau udah gitu siapa yang malu, ha? Kalian juga kan yang malu, dan tentunya kampus pun akan ikut malu karena ulah kalian." ucap Zia dengan nada geram.
Dia sungguh tak menyangka perempuan yang dia lihat lugu dan baik ternyata tak sebaik yang dia kira. Dia bahkan tak menyangka bahwa Dania akan begitu murahan hingga mau saja disentuh oleh Pria.
"Gue tahu, gue salah. Tapi sumpah gue ga ada maksud mau bikin masalah. Kami saling terbawa suasana tadi." ucap Dania dengan lemas. Dia sungguh takut Zia berpikir macam-macam tentangnya dan akan menyebarkan foto-foto itu.
"Terbawa suasana lo bilang? Ya Tuhan, apa lo itu sebenarnya wanita yang haus ****, ha? Sampai-sampai lo ga bisa nahan diri dan mau aja meladeni pria kurang ajar kaya gitu?" ucap Zia.
Dania mengerutkan dahinya mendengar ucapan Zia.
"Apa maksud lo?" tanya Dania dengan bingung.
"Gue kasih tahu lo, pria itu akan mudah ninggalin lo kalau dia udah dapatkan apa yang dia mau dari lo, lo seharusnya bisa jaga kehormatan diri lo sendiri sebagai perempuan, jangan jadi wanita jalang yang mau aja di sentuh oleh Pria." ucap Zia dengan geram.
Dania mengepalkan tangannya, dadanya terasa sakit mendengar Zia memanggilanya wanita jalang.
"Atau lo itu emang udah terbiasa berbuat seperti itu dengan pria manapun, ha?" bentak Zia.
Plak ..!
Satu tamparan mendarat di pipi Zia, Zia membulatkan matanya dan menatap tak percaya pada Dania.
Dia tak menyangka ternyata Dania tak selugu yang dia kira.
"Cukup, Zia ..!! Lo ga bisa menilai seseorang hanya dari apa yang lo lihat. Gue akui gue salah karena ga tahu tempat melakukan semua itu. Tapi satu hal yang harus lo tahu, gue bukan perempuan jalang seperti apa yang lo bilang, gue juga bukan perempuan yang biasa disentuh oleh lelaki manapun seperti apa yang ada dipikiran lo. Karena seumur hidup gue, gue hanya akan menyerahkan apa yang gue punya, termasuk tubuh gue hanya untuk Randy, suami gue sendiri, Ayah dari anak-anak gue." ucap Dania dengan geram.
Dania tak sanggup lagi untuk menahan segalanya sendiri, dia sungguh sedih dan air matanya pun tak lagi dapat dia bendung hingga mengalir lah sudah air matanya membasahi pipinya.
Dia sungguh tersiksa menyimpan segalanya sendiri.
Dia pun melepas kacamata dan juga tompelnya yang lagi-lagi membuat Zia membulatkan matanya, dia lebih terkejut lagi melihat wajah asli Dania.
Dania pun terduduk lemas ditepi tempat tidur.
"Gue ga tahan lagi, Zia. Gue tersiksa, gue cuma mau bahagia sama orang yang gue sayangi, tapi kenapa itu sulit banget buat gue dapetin?" ucap Dania di tengah tangisnya.
Tangisnya begitu tersedu-sedu, untuk kesekian kalinya dia kembali menangis karena merasakan sakit yang siapa pun mungkin tak akan pernah mengerti dengan apa yang kini dia rasakan.
Dia tak menyangka ternyata orang yang dia anggap cupu itu bukanlah cupu yang nyata, melainkan hanya lah menyamar.
Dania mengusap air matanya dan menatap Zia.
"Sekarang lo udah tahu semuanya, lo udah tahu kalau Randy suami gue dan lo juga udah tahu wajah asli gue. Gue ga peduli lagi sekarang, kalau pun lo mau kasih tahu semua orang tentang identitas asli gue, gue ga akan ngelarang lo." ucap Dania dan bangun dari duduknya.
"Sebentar, gue masih ga ngerti apa maksud ucapan lo. Gimana bisa lo menyamar kaya gini?" tanya Zia penasaran
Dania tersenyum tipis dan menatap Zia.
"Karena Randy hanya ingat wajah gue yang seperti menyamar tadi. Dia ga ingat wajah asli gue." ucap Dania.
Zia mengerutkan dahinya dan meminta Dania duduk kembali.
"Maksudnya? Sorry gue masih belum ngerti, sih." ucap Zia.
Dania tersenyum dan menatap dalam ke arah mata Zia. Dia melihat Zia sepertinya perempuan yang baik dan dapat di percaya.
"Apa yang mau lo tahu?" tanya Dania.
"Semuanya, sorry bukan maksud gue mau tahu tentang kehidupan pribadi lo, tapi jujur gue sulit percaya kalau ga ada bukti." ucap Zia.
"Jadi lo mau bukti kalau gue sama Randy beneran suami istri?" tanya Dania.
Zia pun mengangguk.
Dania mengambil ponselnya dan membuka galeri foto. Dia menunjukkan foto saat resepsi pernikahan nya dengan Randy.
Zia pun menatap lekat foto itu.
Dania menceritakan awal mula dia kenal dengan Randy hingga pernikahan itu pun sampai terjadi. Dia juga menceritakan tentang tujuan menyamar saat dulu pertama kali kenal dengan Randy di sekolah barunya.
Zia pun hanya diam, dia mendengarkan cerita Dania dengan seksama.
__ADS_1
"Kami menikah 4 tahun lalu, dan sudah dikaruniai sepasang anak kembar yang begitu manis. Tapi sayang, beberapa minggu yang lalu Randy kecelakaan dan dia kehilangan sebagian memori ingatannya. Dia kehilangan ingatannya tentang 4 tahun terakhir ini. Dia tak mengingat keluarga kecilnya, dan kami bahkan sempat tinggal terpisah selama sebulan. Dia hanya ingat wajah asli gue saat menyamar dulu. Karena itu demi bisa dekat dengan Randy, gue rela melakukan semua ini. Tujuan gue cuman satu, gue cuman mau ingatan Randy kembali. ucap Dania.
"Ya Tuhan, gue ga sangka, ternyata masalah lo seberat itu. Apa sekarang Randy juga belum ingat siapa lo? Apa dia juga belum ingat anak-anak?" tanya Zia.
Dania tersenyum dan menggeleng.
"Dia masih belum ingat semuanya, tapi dia tetap jadi ayah yang baik dan bertanggung jawab. Dia terima anak-anak meski dia belum ingat apapun tentang anak-anak." ucap Dania.
Zia mengangguk dan memegang bahu Dania.
"Sorry, ya. Tadi gue udah ngomong kasar sama lo, gue benar-benar minta maaf. Lo benar, ga seharusnya gue menilai seseorang hanya dari apa yang gue lihat, karena itu gue akan hapus semua foto-foto lo sama Randy. Sejujurnya gue cuman khawatir aja tadi, tuh. Gue takut kalian berdua terkena masalah. Lain kali kalau mau kaya gitu, mendingan kalian pergi ke hotel aja, deh. Sumpah gue ngeri. Takutnya yang jomblo macam gue ini lihat lo berdua lagi enak-enak kan. Sedih gue tuh, ga ada partner pelampiasan." ucap Zia sambil memasang wajah sedih.
Dania pun terkekeh.
"Iya, untung tadi ga sampai terjadi, kalau sampai terjadi-"
"Kalau sampai terjadi gue bakalan langsung ga sadar kan diri dan entah berapa lama gue bakalan kehujanan. Secara ini pertama kalinya gue lihat yang begituan ." ucap Zia memotong ucapan Dania.
"Sabar, ya, yang jomblo." ejek Dania.
"Huh, iya deh, iya. Yang udah laku mah bebas ejek yang jomblo." ucap Zia.
"Eh tapi, lo lucu banget pakai tompel. Gue ga akan kasih tahu siapa pun, kok. Lo tentang aja, rahasia lo aman sama gue." ucap Zia sambil mengedipkan mata kanannya.
"Makasih, ya." ucap Dania.
Zia pun mengangguk dan pergi menuju kamar mandi.
Kehujanan tadi membuatnya benar- benar kedinginan.
Sementara Dania merebahkan tubuhnya sebentar, kepalanya terasa sakit karena semalaman tak tidur.
******
Pukul delapan pagi.
Semua mahasiswa sudah bersiap dan pergi menuju aula Villa untuk sarapan.
Rencananya siangan nanti mereka akan memulai acara outbound.
Dania melihat sekeliling mencari keberadaan Randy. Ternyata Randy sudah mengambil sarapannya dan sudah duduk dengan Dino.
Dania pun mengambil makanannya.
"Di sana aja duduknya." ucap Zia sambil menarik Dania ke arah meja yang Randy tempati bersama Dino.
Kebetulan masih ada dua kursi yang kosong, karena per mejanya memang di atur untuk 3-4 orang.
"Kita boleh gabung disini kan?" tanya Zia.
"Gabung aja." ucap Dino.
Randy hanya diam dengan masih fokus menyantap sarapannya.
"Ehheumm .. Perhatian anak-anak." ucap panitia.
"Setelah sarapan, silahkan berkumpul di luar. Kita akan melakukan briefing terlebih dulu sebelum memulai acara inti nantinya." ucap panitia.
Mereka pun mengangguk dan kembali menyantap sarapan mereka.
Dania tersentak saat tiba-tiba ada yang mengusap betisnya.
Dia pun melihat ke arah Randy yang tengah senyum-senyum tak jelas.
Dugh.
"Arrgghhhh .."
Randy pun memekik saat dengan sengaja Dania menendang kakinya, membuat semua orang pun terkejut mendengar pekikan Randy.
Sebetulnya niat Dania ingin menendang pelan, namun dia kebablasan karena terlalu kencang menendang kaki Randy tepat di bagian tulang keringnya.
Setelah selesai sarapan, semua orang pun berkumpul di luar dan briefing pun di mulai.
__ADS_1
Panitia memberitahukan agar semua mahasiswa tetap mengikuti instruksi dari pemandu kegiatan outbound nantinya.
Akan di adakan beberapa game juga yang mana di akhir acara akan ada hadiah bagi siapa saja yang menjadi pemenangnya.