
Randy terus menatap pintu ruangan yang kini ada di hadapannya.
perasaannya tak karuan, kepalanya di penuhi Pikiran-pikiran negatif. Dia teringat darah yang mengalir dari daerah sensitif Dania tadi.
"Ya Tuhan, semoga Dania dan bayinya selamat." gumam Randy.
Randy mengacak rambut frustasi, saat ini pikirannya benar-benar kacau.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Dokter pun keluar.
Dengan cepat Randy mengahampiri Dokter.
"Gimana keadaan istri saya, Dok? Bayinya baik-baik aja, kan?" tanya Randy cemas.
Jantungnya berdegup kencang saat ini menantikan jawaban dari Dokter.
"Mohon maaf, janinnya tak bisa di selamatkan. Pasien mengalami pendarahan hebat, pasien terlalu kelelahan dan itu mengakibatkan janinnya tak dapat bertahan. Di tambah lagi diusia kehamilan trimester pertama ini, memang sangat rawan keguguran."ucap Dokter.
Bagaikan terkepung kabut gelap dan pekat, pandangan Randy seketika menjadi gelap, tubuhnya terhuyung bahkan akan terjatuh jika saja Dokter tak menahannya.
"Saya mengerti, ini, berat untuk anda." ucap Dokter.
Randy hanya diam, pikirannya kosong. Dia tak mampu memikirkan apapun lagi.
Dunianya hancur seketika mendengar calon buah hatinya tak dapat di selamatkan.
Dokter menuntun Randy duduk di kursi.
"Saya mohon maaf, janinnya memang sudah tak selamat sebelum anda membawa istri anda ke rumah sakit. Tetapi anda tak perlu khawatir, istri anda masih bisa mengandung setelah tiga bulan kemudian" ucap Dokter.
Tubuh Randy bergetar, matanya memerah dan berkaca-kaca.
Setelah Dokter pergi, Randy bergegas masuk ke dalam ruangan di mana istrinya sedang terbaring dan belum sadarkan diri.
Dengan langkah lemas Randy medekati Dania dan terduduk lemas di samping brankar Dania.
Air matanya sudah tak dapat dia tahan lagi dan akhirnya tumpah lah sudah.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya Dia merasakan hidupnya benar-benar hancur, hatinya hancur karena calon buah hatinya tak dapat di selamatkan.
"Kenapa kamu harus kaya, gini? Kamu lihat sekarang, karena kecerobohan kamu anak kita jadi ga bisa di selamatkan." ucap Randy.
Randy mengepalkan tangannya.
Rasanya dia ingin menumpahkan segala kekecewaannya.
Randy benar-benar kecewa pada istrinya itu karena tak ingin mendengar kan ucapannya dan justru memaksa menyusulnya ke Bandung.
Randy mengambil ponselnya dan menghubungi orang tua juga mertuanya. Randy pun menjelaskan keadaan Dania saat ini dan mereka pun bergegas menyusul ke Bandung.
Setelah cukup lama menunggu Dania siuman, akhirnya rasa kantuk menghampiri Randy. Randy pun terlelap di sofa. Matanya agak sembab karena menangis tadi. Setelah ini, dia mungkin akan merasa malu saat bertemu orang-orang nanti.
Satu jam kemudian Dania siuman. Dia melihat sekeliling ruangan yang begitu asing baginya. Dania terkejut melihat terdapat jarum infus ditangannya.Dia juga melihat ke arah Randy yang tengah terlelap di sofa.
Saat dia akan turun dari brankar, tiba-tiba dia merasakan nyeri di area perutnya. dia memegang perutnya dan mencoba mengingat kejadian terakhir kali, tetapi yang dia ingat hanya saat dia merasakan sakit di bagian perutnya. Dia tak ingat mengalami pendarahan karena saat itu juga dia langsung tak sadarkan diri. Seketika pikiran negatif muncul di kepalanya, namun dia langsung menepis segala pikiran negatif tersebut.
Perlahan dia memaksa turun dari brankar dan menghampiri Randy.
"Yank .." Dania menepuk lengan Randy, membuat Randy terbangun dan terkejut karena Dania turun dari brankar.
Dengan cepat Randy memegangi Dania.
"Kenapa kamu turun?" tanya Randy cemas.
Randy mengangkat tubuh Dania dan membaringkannya kembali di brankar.
"Kenapa aku disini?" tanya Dania.
"Udah kamu istirahat aja, jangan banyak pikiran." ucap Randy.
Randy mengusap wajahnya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Dania masih merasa bingung dengan keadaannya dan terus memegangi perutnya.
Tak lama Randy keluar dari kamar mandi dan berdiri di samping brankar dan menatap Dania dengan datar.
"Kenapa kamu ada di Bandung?" tanya Randy.
"Aku cemas karena kamu ga bisa di hubungi, jadi, aku nyusul kamu." ucap Dania.
Randy menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Sebisa mungkin dia tak ingin marah pada Dania.
"Kenapa nomor kamu mati, sih, tadi sore? Kamu ga lagi ngelakuin macem-macem, kan." ucap Dania menyelidik.
Randy mengerutkan dahinya menatap Dania.
"Maksud kamu, apa?" tanya Randy.
__ADS_1
"Ya, kamu ga lagi main cewek, kan, di belakang aku? Jangan macem-macem, loh, kamu tuh, udah mau jadi Bapak." ucap Dania.
Randy pun terkejut mendengar ucapan Dania.
"Apa itu yang ada dipikiran kamu? Sampe kamu nyusul aku kesini?" tanya Randy dengan menatap Dania tak percaya.
Dania mengangguk sambil mengerucutkan bibirnya.
Randy mengepalkan tangannya. bisa-bisanya istrinya itu berpikir negatif tentangnya, padahal sudah jelas dia ke Bandung untuk pekerjaan.
Randy menghembuskan nafas kasar dan mengusap wajah kasar.
"Kamu keterlaluan, Dania." ucap Randy dengan geram.
"kenapa aku? yang ada kamu, tuh, yang keterlaluan. Kamu janji bakalan terus ngabarin aku, tapi udah tiga jam kamu ga hubungin aku dan handphone kamu malah mati." ucap Dania dengan nada kesal.
Randy mengusap wajah kasar dan menghembuskan nafas kasar.
"Astaga Dania, apa kamu sadar? karena sikap kekanakan kamu ini, kamu sudah menghancurkan segalanya." ucap Randy sambil menatap Dania dengan tajam.
"Kenapa jadi kamu yang marah? Harusnya aku yang marah. Oh, atau kamu tuh, emang sengaja, ya, matiin hape kamu, biar ga ada yang bisa ganggu kamu, terus kamu bisa seenaknya berduaan sama cewek simpanan kamu disini, iya?" tanya Dania kesal.
Randy mengepalkan tangannya.
Brak.
Randy menendang dengan keras kursi yang ada di hadapannya dan membuat Dania terkejut dengan apa yang dia lihat.
"Kamu keterlaluan, Dania ..! Aku udah bilang, aku kesini untuk urusan pekerjaan. Bisa-bisanya kamu berpikir aku main cewek disini." bentak Randy.
Dania semakin terkejut karena selama ini Randy tak pernah membentaknya.
"Kamu bentak aku." ucap Dania tak percaya.
"Kenapa? Apa kamu berharap aku bersikap manis, setelah kamu bunuh anak aku, ha?" ucap Randy geram.
Dania membulatkan matanya terkejut dengan apa yang Randy ucapkan.
"Apa maksud kamu?" tanya Dania panik.
Dania memegangi perutnya yang memang sejak tadi membuatnya merasa janggal.
"Ga mungkin, kan, aku-" Dania tak berani melanjutkan ucapannya.
Randy mengusap wajah frustasi.
"Dia udah ga ada." ucap Randy lirih dan Randy pun terduduk lemas di kursi. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya
"Enggak, ga, mungkin, kamu bohong, kan, kamu pasti bohong, ini ga mungkin. Bayi aku sehat, kok, dia kuat." ucap Dania di tengah isakannya.
Randy menatap Dania dengan sinis.
"Apa kamu, nangis? kenapa? Apa kamu nyesel? Huh, kenapa kamu ga pakai isi kepala kamu, ini (menjentik kening Dania) Sebelum melakukan apapun
" ucap Randy geram.
Dania semakin terisak, hatinya hancur, Dadanya sesak, hati Ibu mana yang tak akan terluka saat harus kehilangan calon buah hatinya.
"Aku minta maaf." ucap Dania di tengah isakannya.
"Maaf, kamu, bilang, ku ga ngerti sama kamu, apa yang ga aku lakuin buat kamu selama ini, ha? Semuanya aku lakuin buat kamu, aku ikutin semua keinginan kamu selama ini, aku mengesampingkan segala keinginan aku demi kamu, tapi, kenapa kamu ga bisa percaya sama aku, Dania?" ucap Randy geram.
Randy benar-benar emosi saat ini, ia bahkan tak mempedulikan perasaan Dania yang saat ini juga tengah hancur sama sepertinya.
Dania menggelengkan kepala dan semakin terisak, dia memegang dadanya yang terasa amat sesak.
Randy mengacak rambutnya frustasi dan menatap Dania kemudian memegang bahu Dania, memaksa Dania agar menatapnya.
"Apa jangan-jangan kamu sengaja ngelakuin semua ini, biar kamu ga perlu hamil lagi, terus, kamu bisa dengan bebas balikan lagi sama si Riko sialan, itu, iya?" tanya Randy menatap Dania tajam.
Dania pun terkejut mendengar ucapan Randy.
Plak.
Entah mendapat kekuatan dari mana dengan keras Dania menampar pipi Randy. Randy pun tersenyum sinis sambil memegang pipinya yang terasa mgilu.
"Apa-apaan kalian ini? Kalian baru saja kehilangan anak kalian, bukannya saling menguatkan, mengapa kalian justru bertengkar?" ucap Mama Dania yang baru saja tiba di Rumah Sakit.
Tak hanya ada Mama Dania disana, tapi anggota kedua keluarga inti itu saat ini sudah memasuki ruangan Dania.
"Ma." lirih Dania.
Mama Dania pun langsung memeluk Dania dan Dania semakin terisak di pelukan sang Mama.
"Tenang sayang, kamu kuat, nak."ucap Mama Dania sambil mengelus lembut punggung Dania.
Sedangkan Randy mendengus kesal dan Mama randy langsung mencoba menenangkan Randy.
__ADS_1
"Mama lihat menantu Mama ini, dia keterlaluan Ma, dia ga mau lihat Randy seneng, Ma, dia ceroboh, Ma, anak Randy, Ma." ucap Randy lirih di pelukan sang Mama.
"Tenang, lah, nak." ucap Papa.
Randy menggelengkan kepalanya.
"Kamu tidak bisa menyalahkan anak saya juga, Randy."ucap Papa Dania dengan menatap Randy tajam.
Randy pun tersenyum sinis menatap Papa mertua.
"Jadi, ini salah siapa? salah aku, huh, apa Papa tahu? aku selalu ingetin Dania, kalau dia ga boleh kecapean apalagi stress, bahkan pagi tadi aku masih ngingetin dia akan hal ini. Tetapi apa? Dia ngeyel, dia keras kepala dan justru nyusul aku kesini. Oke lah, ga, masalah kalau dia nyusul aku kesini, tapi kenapa harus nyetir sendiri? Aku bahkan sengaja siapin supir buat Dania, sekarang Papa lihat sendiri kan, apa akibatnya? Aku harus kehilangan anak akun" ucap Randy dengan nadabkesal.
"Dia juga anak aku ..!" teriak Dania.
Sudah sejak tadi Dania diam saja mendengarkan Randy yang terus menyudutkannya, dan saat ini dania tak dapat lagi menahan kekecewaannya pada Randy. kenapa juga suaminya itu tak bisa mengerti? Kalau dia pun tak kalah bersedihnya atas kejadian ini. Apalagi dia lah yang mengandung.
"Dia juga anak aku, aku Mamanya, aku yang mengandungnya, kenapa kamu ga bisa ngerti kalau aku juga sedih?" ucap Dania lirih dan masih terisak.
"Huh, kalian para wanita selalu ingin di mengerti tetapi tak ingin mengerti kami para pria." ucap Randy kesal.
Brak.
Randy keluar dari ruangan dDania dan menutup pintu keras.
Papa Dania hanya diam saja melihat menantunya itu pergi. Papa Dania tahu betul Dania memang kerasa kepala. Sebagai sesama pria, Papa Dania dapat melihat betul rasa sakit yang Randy rasakan. Tetapi Papa Dania pun prihatin pada putrinya itu, Dania benar-benar terlihat kacau saat ini.
******
Setelah di rawat empat hari di salah satu rumah sakit swasta di Bandung, akhirnya hari ini Dania sudah di perbolehkan pulang.
Dengan di temani Tandy dan semua anggota keluarga inti, Dania pulang ke rumahnya dengan Randy.
Dania langsung beristirahat di kamar. sSetelah itu, para orang tua pun meninggalkan rumah itu.
"Kamu istirahat dulu, aku mau suruh Bibi siapin makan malam buat kamu, kamu harus minum obat." ucap Randy.
Randy pun keluar dari kamar dan meminta Bibi membawakan makanan untuk Dania.
Tak lama Bibi pun masuk dengan membawa makanan.
"Dimana Randy, Bi?" tanya Dania.
"Den Randy tadi pergi keluar, non, bawa mobilnya." ucap Bibi.
Dania mengerutkan dahinya dan mengangguk.
Dania memakan makanannya dan setelah itu meminum obatnya.
Pukul 23.00 wib Dania tak juga dapat memejamkan matanya. Dia masih menunggu Randy di kamarnya.
Berkali-kali Dania melihat jam dan ponselnya tetapi tak ada pesan atau panggilan telpon dari Randy.
Ini adalah pertama kalinya selama menikah Randy pergi tanpa memberitahu Dania.
Dania pun cemas dan berjalan keluar keluar kamar. Saat akan menuruni anak tangga, tiba-tiba dia melihat ke arah pintu kamar kosong yang tadinya akan di jadikan kamar calon bayinya itu tak tertutup rapat.
Dania pun membuka pintu dan masuk ke kamar itu.
di lihatnya Randy yang tengah tertidur telentang sambil memeluk sesuatu.
"Kenapa dia tidur disini?" batin Dania.
Dania mendekati Randy dan menatap Randy yang tengah terlelap dengan memeluk baju bayi yang waktu itu Randy dan Dania beli.
Dania menunggu sejak tadi di kamar, tetapi Randy tak juga masuk ke kamar. Jadi inilah alasannya, karena Randy tidur di kamar yang akan jadi kamar calon bayinya.
Mata dania memerah menatap wajah lelap Randy bergantian dengan baju bayi yang Randy peluk.
Dania mendudukan dirinya di lantai dan menempelkan dagunya di pinggir tempat tidur dengan masih menatap wajah Randy.
Dania pun terisak. Dia sungguh sedih karena semenjak Dia keguguran, Randy seperti sengaja menjauhinya. Bahkan Randy tak lagi banyak bicara. Tak ada lagi candaan yang biasa Randy lakukan padanya. Randy benar-benar dingin padanya dan dia benar-benar merasa kehilangan sosok Randy yang hangat.
Yang membuat tambah sedih lagi, karena dia melihat Randy memeluk baju bayi itu.
"Maaf, aku udah bikin kamu kecewa, aku ga ada maksud bikin anak kita celaka." ucap Dania di tengah isakannya.
Setelah cukup lama terisak, akhirnya Dania pun terlelap dengan posisi terduduk di lantai.
Tanpa Dania sadari, sejak tadi Randy ternyata belum tertidur. Bagaimana bisa tertidur jika tak ada istrinya itu di sampingnya? Hanya saja karena masih marah pada Dania, Randy pun menjadi enggan berdekatan dulu dengan Dania. Dia takut tak akan bisa menahan emosinya. Entah mengapa Randy masih terus terbayang darah yang mengalir dari area sensitif Dania saat itu yang sampai membuatnya harus kehilangan calon buah hatinya. Jika mengingat itu, dia merasakan sesak di dadanya.
Randy bangun dari tidurnya dan mengangkat tubuh Dania ke kamar dan membaringkannya di tempat tidur.
Randy menatap wajah lelap Dania dengan intens. Randy menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
Cup.
Randy pun mengecup kening Dania.
__ADS_1
"Maaf, tolong kasih aku waktu." gumam Randy.
Randy pun keluar dari kamar Dania dan kembali ke kamar sebelumnya.