Istri Jelekku

Istri Jelekku
Bab 107


__ADS_3

Randy keluar dari kamar Dania, meninggalkan Dania yang masih terdiam.


"Mimpi apa, sih, gue? Bisa-bisanya punya istri kayak gitu." ucap Randy dengan nada kesal.


"Seperti apa maksud kamu?"


Randy melihat ke arah datangnya suara itu, terlihat sang Mama yang tengah melangkah menghampirinya.


"Mama, disini?" tanya Randy bingung.


"Ya, kenapa? Bukannya kamu sudah tahu semua kebenarannya?" tanya Mama.


Randy mendengus kesal dan mengusap wajah agak kasar.


"Aku ga habis pikir, kok bisa aku nikahin perempuan kaya begitu." ucap Randy dengan nada kesal.


Dia masih tak bisa terima bahwa kenyataannya perempuan cupu itu adalah istrinya, perempuan itu bahkan ibu dari anak-anaknya.


"Apa maksud kamu?" tanya Mama dengan bingung.


"Ya, aku ga nyangka karena bisa nikahin cewek jelek itu." ucap Randy.


Sang Mama terkejut mendengar ucapan Randy.


"Kenapa kamu ngomong kaya gitu? Apa kamu sadar? Wanita yang kamu bilang jelek itu adalah ibu dari anak-anak kamu, dia wanita yang selama 4 tahun ini setia mendampingi kamu, mencintai kamu." ucap sang Mama.


Randy terkejut mendengar ucapan Mamanya.


"Apa maksud Mama? Jadi, aku sama dia menikah 4 tahun lalu, dan itu artinya malam itu aku -" Randy menghentikan ucapannya. Dia sungguh tak bisa membayangkan kalau apa yang dia takutkan memanglah benar terjadi.


"Ya, malam itu kamu sudah melecehkan gadis malang itu." ucap Mama.


Randy membulatkan matanya, dia sungguh terkejut mendengar ucapan sang Mama.


"Aauuww .." Randy meringis saat kepalanya kembali terasa sakit.


Sang Mama pun segera memegangi Randy.


"Kamu baik-baik aja, Rand?" tanya Mama dengan nada cemas.


"Kepala aku sakit banget, Ma." ucap Randy.


"Duduk dulu disini." ucap Mama sambil memapah Randy menuju sofa yang berada tak jauh dari ruang makan.


"Tunggu sebentar, Mama ambil air dulu." ucap Mama dan bergegas menuju dapur untuk mengambilkan segelas air putih untuk Randy.


"Minum dulu, Rand." ucap Mama sambil memberikan air itu pada Randy.


Randy pun meminumnya. Setelah itu dia menyenderkan kepalanya di sofa.


"Apa kamu sudah minum obat?" tanya Mama.


Randy pun menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? Gimana mau cepat sembuh kalau kamu ga minum obat." ucap Mama.


"Kepala aku sakit gara-gara mikirin cewek itu, Ma. Aku ga mau punya istri kaya gitu. Sial banget aku." ucap Randy dengan nada kesal.


Sang Mama menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.


"Kamu tahu, Rand? Kamu dan Dania, kalian begitu saling mencintai, kamu bahkan tergila-gila pada Dania." ucap Mama.


Randy pun terkekeh geli mendengar ucapan sang Mama.


"Mama becanda, mana mungkin aku tergila-gila sama perempuan itu." ucap Randy.


"Terserah deh, kamu mau bilang apa. Yang jelas, suka nggak suka, wanita itu adalah istri sah kamu dan juga Ibu dari anak-anakmu. Jadi, mau tidak mau kamu harus bisa menerimanya dan Mama harap mulai saat ini, kalian kembali tinggal bersama. Ini semua demi kebaikan anak-anak kalian, kasihan Abang sama ade kalau mereka tak bisa tinggal bersama kedua orangtua mereka." ucap Mama.


Randy masih terkekeh mendengar ucapan sang Mama.


"Mama yang benar aja, aku ga bisa tinggal sama perempuan itu." ucap Randy.


"Randy please, setidaknya kamu kesampingkan perasaan kamu saat ini demi kedua bayi tak berdosa itu. Kenapa kamu harus memikirkan ego kamu sendiri di saat ada dua orang bayi polos itu yang menginginkan kasih sayang dari kedua orang tuanya?" ucap Mama.


"Tapi, Ma, aku -"


"Mama mohon, Rand. Mama kasihan sama cucu-cucu Mama. Sebulan ini mereka ga bisa tinggal dengan Papa mereka. Kamu dengar sendiri kan kemarin siang mereka begitu rewel? Mama yakin mereka merindukan kamu, Rand. Mereka merindukan Papanya." ucap Mama.

__ADS_1


Randy menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan. Dia bangun dari duduknya dan akan melangkahkan kakinya.


"Mau kemana?" tanya Mama.


"Ke atas." ucap Randy.


Dia pun pergi menuju lantai atas, tepatnya menuju kamar Dania.


Sementara di kamar.


Dania mendekati cermin dan menatap dirinya di cermin. Dia memegang tompel palsu yang tertempel di pipi kanannya.


"Aku pikir kita bisa dekat dengan cara aku berpenampilan kaya gini, ternyata aku salah, kamu justru benci banget sama aku karena aku jelek." ucap Dania.


Dia rela berpenampilan seperti itu demi untuk bisa dekat dengan Randy, namun nyatanya Randy justru membencinya karena fisiknya.


Dia membuka kacamata dan melepas tompel yang tertempel di pipi kanannya itu.


"Lebih baik jujur dan menjadi diri sendiri memang, apapun hasilnya, seharusnya aku bisa terima semua itu." ucap Dania dengan masih menatap wajah cantiknya dari pantulan cermin di hadapannya.


Kreeekkkk..


Dania terkejut saat tiba-tiba pintu kamar terbuka.


" Siapin semua barang-barang yang lo perlu, barang-barang anak-anak juga." ucap Randy yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.


Dania pun terkejut dan bergegas memakai kacamata dan tompel nya kembali.


Randy menatap bingung ke arah Dania yang terlihat memucat.


"Ngapain, sih?" tanya Randy dengan nada ketus.


Dania menggelengkan kepala dan berusaha mengatur napasnya yang terasa sesak akibat jantungnya berdegup kencang saat tiba-tiba Randy masuk ke dalam kamarnya. Sungguh dia tak siap jika sampai identitasnya terbongkar saat itu juga.


"Ngapain bengong? Cepetan siapin barang-barang lo." ucap Randy.


"Emang kita mau kemana?" tanya Dania bingung.


"Mau balik, mulai sekarang lo sama anak-anak tinggal di apartemen gue." ucap Randy.


"Apa? Tapi kenapa?" tanya Dania bingung.


"Masih nanya kenapa? Lo itu istri gue, kan? Terus kenapa lo mesti nanya disaat gue mau bawa lo tinggal di apartemen gue? Harusnya sebagai istri lo itu nurut sama suami, kan?" ucap Randy.


Dania terkejut mendengar ucapan Randy.


Dia tak menyangka Randy akan memintanya untuk kembali tinggal bersama.


"Kamu serius? Apa itu artinya kamu udah bisa terima aku? Apa kamu juga udah bisa terima anak-anak?" tanya Dania.


Randy terdiam sejenak dan menatap Dania.


"Gue ngelakuin ini semua demi anak-anak, bukan demi lo (menunjuk Dania) Jadi, lo jangan kepedean jadi orang, karena sampai kapan pun gue ga akan rela punya istri kaya lo." ucap Randy.


Dania terdiam sejenak. Dia mencoba mencerna ucapan Randy.


Dia pun tersenyum tipis. Meski Randy belum bisa menerimanya, namun dia bahagia karena Randy mau menerima anak-anaknya dan mau mengajaknya untuk kembali tinggal bersama dalam satu atap. Setidaknya dia mempunyai banyak kesempatan untuk memulihkan kembali ingatan Randy jika tinggal bersama Randy. Sungguh di kepalanya sudah terlintas beberapa cara untuk membuat Randy kembali mengingat masa lalunya yang pernah mereka berdua lalui bersama.


Tentunya dia pun harus memiliki kesabaran yang ekstra agar bisa menghadapi sikap Randy yang tampak terang-terangan menolaknya.


"Ya udah, aku siap-siap dulu." ucap Dania.


Randy menatap bingung ke arah Dania yang kini mulai menyiapkan kopernya.


"Heran, nih cewek terbuat dari apa, sih? Gue terus ngomong kasar pun dia tetep aja ga marah." batin Randy.


Randy pun keluar dari kamar dan menghampiri kamar baby Raydan dan baby Rayna.


"Tolong siapkan semua keperluan anak-anak, kita akan pindah dari sini." ucap Randy sambil menatap kedua baby sitter itu secara bergantian.


Ajeng dan Dita pun saling tatap.


"Maaf, Mas. Kita akan pindah kemana, ya?" tanya Dita.


"Ke apartemen saya." ucap Randy.


Randy pun pergi dari kamar itu.

__ADS_1


"Habis ngapain, sih, Rand?" tanya Mama begitu melihat Randy yang mulai menuruni satu per satu anak tangga.


"Kami akan pindah dari sini." ucap Randy.


"Maksudnya kami siapa?" tanya Mama sambil menatap Randy dengan tatapan bingung.


"Ya, kami . Aku , anak-anak dan Mommy nya anak-anak." ucap Randy dengan malas saat mengucapkan kata Mommy.


Sungguh dia kehilangan selera untuk melakukan apapun jika teringat wajah istrinya itu.


Sang Mama pun tersenyum dan mendekati Randy.


"Gitu dong. Itu namanya pria sejati, pria bertanggung jawab. Mama senang karena kamu mau membawa istri dan anak-anak kamu untuk tinggal bersama kamu lagi." ucap Mama.


Randy hanya tersenyum tipis.


Sebetulnya di kepalanya di penuhi pikiran-pikiran jahat untuk mengerjai istrinya itu. Dia sungguh kesal dengan istrinya itu. Entah apa yang membuatnya kesal, karena sebetulnya jika di lihat dengan seksama pun, wajah perempuan cupu itu tak terlalu buruk. Perempuan itu justru memiliki bentuk tubuh yang bagus dan kulitnya begitu putih mulus tanpa terlihat cacat atau pun bekas goresan luka sedikit pun di kulitnya.


******


**Sesampainya di apartemen Randy.


Dania terdiam sejenak begitu sampai diruang tamu apartemen Randy.


Dia teringat kembali masa-masa awal pernikahannya dengan Randy. Masa yang sulit untuknya dan untuk Randy dulu.


Dimana mereka berdua harus memperjuangkan cinta mereka agar Papa Dania mau memberikan restunya untuk pernikahan mereka. Masa dimana mereka hidup serba pas-pasan dan jauh dari kata mewah. Dia bahkan pernah makan malam hanya dengan nasi yang di berikan kecap manis karena tak ingin Randy yang sudah lelah bekerja sampai tak bisa makan malam. Dia rela tak memakan telur yang hanya tersisa satu di dapurnya itu hanya agar Randy bisa makan malam dengan baik. Setidaknya Randy sudah lelah bekerja, tentu saja Randy butuh gizi yang cukup agar tubuhnya tetap sehat. Itu lah pemikiran Dania saat itu.


Dania masih terus memperhatikan sekeliling, matanya mulai memerah dan berkaca-kaca.


Andai waktu dapat diputar kembali, dia akan memilih saat dulu pada masa awal pernikahannya dengan Randy. Meski sulit, tapi mereka berjuang bersama. Dania tak merasa sendiri karena Randy selalu ada bersamanya dan mau berjuang bersama demi rumah tangga mereka. Tidak seperti sekarang yang hanya Dania yang harus berjuang keras demi mengembalikan semua ingatan Randy yang terhapus sebagian. Sungguh tak mudah menjadi dirinya karena harus memikul beban seberat itu. Tapi apapun itu, tentu saja dia pun optimis untuk bisa memulihkan ingatan Randy. Selain karena anak-anak yang masih sangat membutuhkan Papanya, tentu saja di hati Dania pun rasa itu tak pernah berubah. Rasa cintanya terhadap Randy masih tetap sama meski akhir-akhir ini Randy selalu menyakiti hatinya. Dania memaklumi sikap Randy saat ini. Dia yakin, suatu saat nanti Randy akan kembali memperlakukan nya dengan baik, layaknya dulu Randy memperlakukannya bak seorang ratu yang membuatnya selalu merasa di cintai oleh Randy. Sebelumnya dia selalu merasa bersyukur karena Randy telah menjadi suaminya, dia sungguh bahagia dicintai oleh pria seperti Randy. Dan nyatanya meski ingatan Randy tentang dirinya telah hilang, dia masih tetap bersyukur. Karena di keadaan Randy yang sekarang, Randy masih mau bertanggung jawab kepada anak dan istrinya dengan mau mengajaknya dan anak-anak tinggal bersamanya.


"Kenapa diem?" tanya Randy sambil menyenggol lengan Dania.


Bugh.


Dania tersentak dan tak sengaja memukul dada Randy, membuat Randy sampai meringis kesakitan.


"Apa-apaan, sih? Main nonjok orang aja." ucap Randy dengan nada kesal.


"Maaf, ga sengaja." ucap Dania.


Randy menatap malas pada Dania.


"Ya udah, sana temenin anak-anak ke kamarnya, gue mau mandi dulu, gerah." ucap Randy.


Dia pun pergi menuju kamarnya, sementara Dania langsung menyuruh kedua baby sitter itu untuk membawa baby Raydan dan baby Rayna ke dalam kamar mereka.


"Tolong titip anak-anak sebentar, ya, Mbak. Saya mau ke kamar dulu." ucap Dania.


Dita dan Ajeng pun mengangguk. Dania pun bergegas menuju kamarnya yang dulu dia tempati bersama Randy dan menyiapkan baju ganti untuk Randy.


Di kamar mandi.


Randy melihat ke arah tubuhnya yang tak terbungkus sehelai benang pun. Dia menatap intens pada area sensitifnya.


"Gue heran, apa iya gue bisa nafsu sama tuh cewek? Bahkan tuh cewek bisa sampai ngelahirin anak gue, dua anak sekaligus pula. Gue ga habis pikir, apa iya dia bisa bangun ngelihat tuh cewek?" ucap Randy dengan masih terus memperhatikan alat sensitifnya itu.


Randy pun terkekeh geli membayangkan seperti apa dia dulu saat berhubungan intim dengan istrinya itu. Moodnya bahkan langsung buruk hanya dengan melihat wajah istrinya itu.


Dia pun menggelengkan kepalanya.


"Terserah lah, ngapain juga gue mikirin semua itu. Mungkin aja pas lagi begituan, gue selalu matiin lampu biar nggak lihat muka tuh cewek." ucap Randy dengan masih terkekeh geli. Sungguh dia geli sendiri membayangkan seperti apa dia saat berhubungan intim dengan istrinya itu.


Randy bahkan berpikir, mereka selalu berhubungan pada saat lampu dalam keadaan mati agar tak melihat wajah istrinya yang menurutnya sangat menyebalkan itu.


"Untung anak-anak gue ga mirip sama tuh cewek, kasihan kan mereka. Huh, anak-anak gue emang manis-manis banget, mereka benar-benar menggemaskan. Pertama kali lihat aja gue langsung jatuh cinta sama mereka. Beda sama ibunya, bawaannya gue kesal mulu lihat tuh cewek. Mama juga apa-apaan, sih? Masa gue dibilang tergila-gila sama tuh cewek. Amit-amit deh, mimpi kali." ucap Randy.


Dia pun menyalakan shower dan memulai ritual mandinya.


Setelah beberapa saat dia pun selesai mandi dan keluar dari kamar mandi.


Dia mengerutkan dahinya melihat baju yang sudah siap di atas tempat tidur.


"Kayaknya gue belum siapin baju, deh." ucap Randy sambil mengambil baju itu dan mulai memakainya.


Pandangan Randy melihat ke arah koper Dania yang berada di samping tempat tidur.

__ADS_1


"Pantas aja, ternyata dia yang siapin." ucap Randy.


"Jadi begini rasanya punya istri? Habis mandi udah di siapin baju." ucap Randy sambil tersenyum tipis.


__ADS_2