Istri Jelekku

Istri Jelekku
Bab 120


__ADS_3

Tok, tok, tok.


"Yank please, buka pintunya."ucap Randy.


Dia terus mengetuk pintu kamar itu berharap Dania akan membukakan pintunya dan memaafkannya.


Dia menyadari kesalahannya yang telah mempermainkan Dania, karena itu mungkin Dania pun menjadi ingin menghukumnya dengan cara menyuruhnya untuk tidur diluar.


"Yank, masa kamu tega biarin aku tidur diluar." teriak Randy.


Sungguh dia benar-benar tak ingin tidur di sofa.


Bisa sakit seluruh tubuhnya jika dia harus tidur di sofa.


Mungkin tak masalah jika dia harus tidur terpisah dari Dania saat kamar tamu tak terpakai. Tapi, kini kamar itu di pakai oleh baby Raydan dan baby Rayna.


Belum lagi ada Ajeng dan Dita di dalam kamar itu.


Tak ada sahutan dari Dania membuat Randy mendengus kesal dan mengusap wajah kasar, dia pun menenggak air minum yang kini ada ditangannya itu hingga habis dan mengambil paksa bantal yang masih tergeletak di lantai.


"Sial, harusnya gue sadar kalau Istri ngambek konsekuensinya tidur diluar." Gumam Randy.


Randy mengarahkan pandangannya ke arah sofa ruang tamu.


"Mampus lo, Rand. Malam ini dikerubungi nyamuk tidur lo." Gumam Randy.


Dia sudah membayangkan sepanjang malam dia akan dikerubungi nyamuk-nyamuk yang bahkan tak akan hanya mengerubunginya, melainkan sudah jelas akan menggigitnya dan membuat kulitnya merah-merah.


Dania bahkan tak memberikan lotion anti nyamuk untuknya.


Dia melangkah menuju sofa ruang tamu dan meletakkan gelas kosong itu di meja.


Dia pun meletakkan bantal di atas sofa dan membuka jas yang dia kenakan, kemudian membuka tiga kancing kemeja bagian atasnya.


Panas.


Dia kepanasan meski ada AC di ruangan tersebut.


Jika saja tak ada Ajeng dan Dita di apartemennya, dia mungkin akan segera membuka kemejanya dan akan membiarkan tubuhnya bertelanjang dada.


Randy merebahkan tubuhnya, dia menatap langit-langit ruang tamu.


Dia teringat akan pesan email dari orang suruhannya itu yang mengatakan pelakunya akan membongkar siapa orang yang menyuruhnya untuk mencelakai Randy.


Randy yakin, orang yang ingin membunuhnya bukanlah orang biasa. Karena itu, orang suruhan dari dalang yang sebenarnya itu terlihat takut mengatakan yang sebenarnya.


Banyak sekali pikiran-pikiran negatif di kepalanya. Ada satu orang pelaku yang tentunya ada di pikirannya. Bukan tanpa alasan dia tak mencurigai orang tersebut. Hanya saja, suatu ketika Randy pernah mendengar percakapan antara orang yang dia curigai itu saat tengah berbicara ditelpon tengah menyebut namanya. Orang itu bahkan terlihat marah pada orang yang berada di dalam telpon itu karena Randy justru masih hidup sampai sekarang.


Randy pun tak bisa berbuat apa-apa saat itu, karena dia mendengar jelas orang itu menyuruh orang yang berada di dalam telpon itu untuk terus memperhatikan gerak gerik Randy. Randy tak memiliki bukti saat itu, karena itu dia diam saja.


Saat itu pun dia belum bisa mengingat Dania.


Namun seiring berjalannya waktu, seiring banyaknya waktu yang dia jalani bersama Dania, ingatannya pun perlahan mulai pulih.


Dan saat dia tahu Dania begitu berkerja keras hanya untuk dirinya, saat itu juga Randy langsung meminta Lisa untuk mencari tahu nomor kantor Polisi yang menangani kasus kecelakaannya di Bandung dan menghubungi kantor Polisi agar mau bekerja sama dengannya.


Syukurlah Polisi itu mau bekerja sama dengannya, dengan mengatakan bahwa kasusnya akan ditutup karena tak ada bukti apapun.


Randy terus larut dalam pikirannya, dia pun teringat akan sesuatu yang Sasha berikan saat itu. Sesuatu yang satu minggu lalu sudah dia berikan pada Lisa dan dia pun meminta Lisa agar memberikannya pada Polisi.


Sesuatu berbentuk mungil yang biasa di sebut flashdisk itu adalah bukti kejahatan seseorang yang melakukan kejahatan dengan membakar restauran nya yang berada di salah satu Mall di Kota Bandung.


Orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Christian, Owner dari salah satu perusahaan Food&Beverage yang restauran nya terletak bersampingan dengan restauran miliknya.


Mungkin dia tak akan tahu jika saja Sasha tak menghubunginya dan tak memberitahunya bahwa Christ lah yang membakar restaurannya.


Flashback.


Sore hari, di saat Randy mengikuti Dania bertemu dengan Gio di Dania's Restaurant.


Randy memasuki restauran dengan menggunakan masker diwajahnya, dia bahkan memakai topi agar tak ada yang mengenalinya, termasuk Dania.


Dia pun memilih duduk di kursi yang berada disebelah meja Dania dan Gio.


Dia terus memperhatikan Dania, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Dania membuka kacamata dan mencopot tompel di pipinya. Dia tak menyangka, wanita yang dia pikir memiliki wajah tak cantik itu, ternyata aslinya memiliki wajah yang begitu cantik.


Dia merasakan sesuatu di kepalanya, dia teringat wanita yang ada dirumah sakit saat dia sadar pasca operasi.


Dia pun bergegas meninggalkan restauran dan masuk kedalam taksi.


Diperjalan menuju apartemen.


Randy mendapatkan sebuah telpon masuk.


Dia mengerutkan dahinya saat melihat nama Sasha di sana.


Saat itu Randy belum mengingat apapun tentang Dania dan wajah aslinya, kecuali Dania yang memiliki tompel di wajahnya , namun dia tak melupakan Sasha, dia masih mengingat Sasha.


Randy pun masih menyimpan nomor Sasha, dan Sasha pun sebaliknya. Karena selama ini Randy tak pernah mengganti nomor ponselnya. Bahkan dari dulu, dari saat masih jaman SMA  hingga sekarang nomornya masih lah tetap sama.


"Halo, Sha."ucap Randy.


"Halo, Rand. Gimana kabar lo?"tanya Sasha.


"Udah lebih baik, Sha. Lo kemana aja? Thanks ya, lo udah bawa gue ke rumah sakit waktu itu. Kalau aja ga ada lo, gue ga tahu akan seperti apa gue jadinya."ucap Randy.


"Waktu itu pun kebetulan gue lewat sana dan lihat mobil lo nabrak pohon besar itu, karena itu gue bawa lo kerumah sakit."ucap Sasha.

__ADS_1


"Ya, sekali lagi, makasih."ucap Randy.


"Ngomong-ngomong, ada apa lo nelpon? Tumben."tanya Randy.


"Oh, iya. Gue tahu sesuatu tentang kebakaran restauran lo. Gue punya bukti kejahatan si Christ, dia sengaja ikut membakar restauran nya supaya ga ada yang curiga sama dia."ucap Sasha.


"Christ? Siapa Christ? Dan restauran apa maksud lo?"tanya Randy bingung.


Randy tak mengerti apa maksud Sasha, dia bahkan tak mengingat apapun saat ini.


Sasha tak mengetahui bahwa Randy kehilangan ingatannya, karena saat Randy kecelakaan dan selesai operasi, Sasha langsung pergi meninggalkan rumah sakit dan semenjak itu dia tak pernah sekalipun menjenguk Randy.


Dania pun tak memberitahukan pada Sasha jika Randy kehilangan ingatannya karena tak pernah lagi bertemu dengan Sasha. Sasha hanya pernah sekali datang ke Kantor Polisi, itupun saat Polisi akan meminta keterangan dari Sasha tentang kecelakaan yang menimpa Randy.


"Lo ga ingat? Si Christ, Owner dari Perusahaan X, yang Outlet restauran nya di sebelah restauran lo."ucap Sasha.


Randy semakin dibuat bingung, dia pun kembali merasakan sakit di kepalanya. Kepalanya akan bereaksi dan terasa sakit saat ada hal tentang masa lalunya yang kembali dia dengar.


Seketika dia teringat akan "Dania's Restaurant"  yang baru saja dia datangi.


"Apa mungkin restauran itu adalah milikku dan Dania? Jadi, Pria yang bertemu Dania tadi adalah partner bisnis kami?"batin Randy.


"Halo, Rand. Lo baik-baik aja? Kenapa diem?"tanya Sasha.


"Ah, ya. Gue baik-baik aja, Sha."ucap Randy.


"Gue kehilangan sebagian ingatan gue, jadi gue ga bisa ingat semuanya tentang 4 tahun terakhir ini."ucap Randy.


"Apa? Lo serius? Jadi lo juga ga ingat sama Istri dan anak-anak lo?"tanya Shasa penasaran.


"Iya, awalnya. Tapi sekarang gue udah tahu dari Mama, dan sekarang gue udah tinggal sama Dania dan anak-anak, lagi."ucap Randy.


"Oh gitu, syukurlah, Rand. Semoga lo cepat pulih."ucap Randy.


"Thanks, Sha. Jadi, bukti apa yang lo punya?"tanya Randy.


"Lo yakin, mau tahu bukti itu? Apa ga apa-apa disaat keadaan lo belum pulih betul?"tanya Sasha memastikan.


"Iya, gue ga apa-apa, kok."ucap Randy.


"Oke, nanti gue kasih bukti itu sama lo kalau udah ada waktu yang tepat. Sekarang gue belum bisa ke Jakarta karena gue ga mau si Christ curiga sama gue. Apalagi saat dia tahu kalau kita udah saling kenal sebelumnya."ucap Sasha.


"Thanks, Sha. Kabarin gue kalau lo udah di Jakarta."ucap Randy.


Telpon itu berakhir dan dia pun kembali ke apartemen.


********


Waktu pun berlalu.


Tak terasa, sudah berhari-hari berlalu dari saat Sasha memberi tahu tentang bukti kejahatan Christ.


Dia tak menyangka bahwa Christ akan menyuruh orang untuk membakar restauran nya.


Flashback end.


Tring .. Tring ..


Randy mengerutkan dahinya saat mendengar ponselnya berdering.


Dia pun mengambil ponselnya dan terlihat nama Gio di sana.


"Halo, Yo." ucap Randy.


"Halo, Rand. Gimana kabar lo?" tanya Gio.


"Baik, Yo." ucap Randy.


Gio memang sudah mengetahui kalau Randy sudah pulih dari ingatannya karena Randy menghubungi Gio sesaat setelah menyuruh Lisa memberikan bukti itu pada Polisi.


Hanya saja, Randy meminta Gio agar merahasiakannya dari siapapun. Randy bahkan meminta Gio untuk merahasiakan segalanya dari Sheila. Terlalu rumit jika wanita sudah ikut campur, pikir Randy.


"Apa Polisi udah ngabarin masalah restauran?" tanya Gio.


"Mereka belum ngabarin. Kenapa lama banget, ya, Yo. Udah satu minggu tapi belum ada kabar dari Polisi. Menurut lo, mungkin ga, kalau si Christ ada main sama Polisi?" tanya Randy.


"Ga mungkin, lah, Rand. Kita lihat aja sampai besok, kalau besok Polisi belum ngabarin juga, gue akan datang ke kantor Polisi."ucap Gio.


"Thanks, ya, Yo. Lo jadi repot sendiri ngurusin masalah ini."ucap Randy.


Telpon itu pun berakhir.


Sebetulnya dia ingin juga datang ke Kantor Polisi dan menanyakan langsung tentang kasus kebakaran restauran nya pada Polisi. Namun sayang, dia justru ditimpa masalah baru yang tak lain adalah terbongkarnya rahasianya oleh Dania. Jadilah mau tak mau, saat ini dia harus berpikir keras agar dapat membujuk Istri kesayangannya itu.


Randy mengalihkan pandangannya saat terdengar pintu kamar buah hatinya itu terbuka, dan ternyata Dita lah yang keluar.


Dia pun bergegas merubah posisinya menjadi duduk.


"Eh, Mas."ucap Dita.


"Ya, Mbak. Abang sama ade udah tidur?"tanya Randy.


"Sudah, ini saya mau ambil air panas untuk bikin susu kalau Abang sama ade bangun. Air panasnya udah habis soalnya."ucap Dita.


Randy pun mengangguk dan menyalakan televisi.


Sedangkan Dita bergegas masak air panas di dapur. Dia sebetulnya tahu majikannya itu sedang bertengkar dengan sang Istri. Karena saat Randy mengetuk pintu kamar tadi, suaranya sampai terdengar ke dalam kamar baby Raydan dan baby Rayna.

__ADS_1


Namun, Dita tak ingin ikut campur dan memilih bersikap seolah dia tak mengetahui apapun.


Setelah selesai membuat air panas, Dita pun kembali masuk ke dalam kamar.


Cukup lama Randy menonton televisi, sesekali pandangannya mengarah menuju pintu kamarnya. Dia sungguh berharap ada keajaiban yang membuat istrinya itu mau memanggilnya dan mengajaknya tidur bersama di dalam kamar.


Sesaat kemudian dia pun tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.


"Mana mungkin dia manggil lo, Rand. Mimpi lo ketinggian, Istri lo itu kan kalau udah ngambek, lebih serem dari macan."gumam Randy.


"Untung gue cinta, kalau enggak udah gue tinggalin dan nyari yang ga suka ngambek. Sayangnya mau kayak apapun Dania, mau galak kayak apapun dia saat ngambek, rasa cinta gue ga akan pernah berubah. Rasa itu justru tumbuh setiap hari dan semakin dalam."gumam Randy.


Randy pun tersenyum dan kembali merebahkan tubuhnya.


"I love you, sayangku, cintaku, Istriku, Mommy nya anak-anak. Semoga suatu saat kamu bakalan ngerti kenapa aku ngelakuin semua ini dan mau maafin aku. Aku sayang kamu, yank. Sayang banget."gumam Randy dengan terus menatap pintu kamarnya.


Tak lama dia pun terlelap.


Keesokan harinya.


Randy terbangun dari tidurnya saat mendengar suara alarm di ponselnya.


Dia pun mengambil ponselnya dan melihat layar ponselnya, terlihat sudah pukul tujuh pagi.


Dia mendudukkan dirinya dan menatap pintu kamarnya.


"Apa Dania belum bangun?"gumam Randy.


Dia pun bangun dari duduknya dan pergi menuju dapur.


Dia mengambil air minum dan langsung menenggaknya.


Dia melihat ke arah meja makan, tak ada sarapan di sana, itu artinya Dania memang lah belum bangun.


Dia terpikir sesuatu untuk membujuk Istrinya itu agar mau memaafkannya.


Dia pun membuatkan sarapan toast dengan saus madu dan segelas cokelat hangat kesukaan Dania. Setelah selesai membuat dan menatanya dimeja, dia bergegas menuju kamarnya dan mengetuk pintu kamarnya.


"Yank."panggil Randy.


Tak ada sahutan dari Dania.


"Yank, kamu udah bangun?"tanya Randy.


Lagi-lagi tak ada sahutan dari Dania.


Dia pun mencoba membuka pintu kamar dan ternyata tak di kunci.


"Yank."panggil Randy begitu dia memasuki kamar, dia melihat sekeliling kamar namun tak ada Dania di sana. Dia mencoba mencari ke kamar mandi, namun lagi-lagi tak menemukan Dania di sana.


Dia berjalan menuju balkon , dan tak ada Dania juga di sana.


"Apa dia di kamar anak-anak?"gumam Randy.


Dia pun bergegas keluar dari kamar dan pergi menuju kamar baby Raydan dan baby Rayna.


Dia pun membuka pintu kamar itu dan melihat sekeliling kamar, namun tak ada siapapun di sana.


"Kemana mereka?"gumam Randy.


Randy membulatkan matanya saat tiba-tiba teringat sesuatu.


Dengan cepat dia berlari menuju kamarnya dan membuka lemari pakaian Dania.


Randy di buat terkejut saat melihat beberapa baju Dania yang tak ada ditempatnya.


"Oh, sial. Beraninya kamu, yank, pergi ga bilang-bilang. Pakai bawa anak-anak, lagi."ucap Randy dengan nada kesal.


Dia pun bergegas menelpon taksi dan keluar dari apartemen. Dia bahkan tak ingat bahwa dia belum mandi.


Begitu taksi sampai di apartemen, dia langsung masuk ke dalam taksi dan meminta sang supir untuk mengantarnya menuju Kediaman Hamish.


Entah mengapa, pertama kali yang ada di pikirannya adalah Dania pergi ke rumah mertuanya itu.


Sesampainya di Kediaman Hamish.


Randy bergegas turun dari dalam taksi dan menekan bel rumah.


"Ya, Mas."ucap security.


"Saya mau masuk, tolong buka pintunya."ucap Randy.


"Maaf, Mas. Anda tidak di izinkan masuk."ucap Security.


Randy mengerutkan dahinya.


"Kenapa? Siapa kamu berani melarang saya masuk? Saya Suami Nona rumah ini, saya menantu dari pemilik rumah ini. Lalu, kenapa saya ga di izinkan masuk ke dalam?"tanya Randy dengan bingung.


"Saya tak tahu pasti, tapi Tuan Hamish lah yang melarang anda memasuki rumah ini."ucap Security.


Randy membulatkan matanya, dia mengepalkan tangannya kuat-kuat.


"Lagi-lagi kayak gini, mau main-main sama gue?"batin Randy.


Dia memundurkan langkahnya, dan menatap pintu gerbang yang cukup besar itu.


"Cih."

__ADS_1


Randy pun membuang ludahnya dan pergi dari kediaman Hamish.


__ADS_2