
Tak terasa tinggal beberapa bulan lagi Dania lulus Sekolah dan Randy masih di sibukkan dengan bisnis Restauran dan Kkuliahnya.
Dalam waktu delapan bulan, Randy kini sudah mendirikan empat Outlet Restauran. Namun sepertinya sampai sekarang, Randy masih belum bisa mendapatkan hati Papa mertuantya. Pasalnya, Randy pernah berjanji pada Papa mertuanya itu, bahwa dia akan memberikan kehidupan yang layak untuk Dania. Memang betul, saat ini keuangan rumah tangga Randy dan Dania sudah jauh lebih baik di banding saat awal mereka menikah, tetapi satu hal yang belum bisa Randy tepati, yaitu sebuah rumh. Ramandy pernah berjanji, dia aka membawa Dania tinggal di dalam rumah yang dia beli dari hasil kerja kerasnya sendiri.
Terlalu besar rasa gengsinya terhadap mertuanya itu, dia tak ingin membelikan Dania rumah yang sederhana, melainkan ingin membelikan rumah mewah sekaligus. Bagaimana pun juga, Randy tak ingin mertuanya itu menganggap remeh dirinya, apalagi saat ini dia sudah bisa hidup mandiri dengan mendirikan usahanya sendiri. Bukannya sombong, hanya saja sebagai laki-laki, apalagi sebagai kepala keluarga, selain ingin membuktikan kepada mertuanya itu Randy juga ingin memberikan yang terbaik untuk Dania.
Sebetulnya Apartemen yang mereka tinggali pun sudah cukup untuk mereka berdua, namun memikirkan kedepannya tentu mereka membutuhkan rumah yang lebih besar untuk mereka tinggali bersama anak-anak mereka, apalagi Aartemen itu masih atas nama Papanya Randy.
Pukul 19.00 wib di salah satu hotel berbintang milik orang tua Dania, Papa Hamish, Mama Rania dan juga Dania, tengah menikmati makan malam mereka.
"Jadi, bagaimana bisnis f&b kamu? Dan apa rencana kamu setelah ini?" tanya Papa Hamish.
Randy menghentikan makan malamnya dan menatap Papa mertuanya itu.
"Semuanya berjalan lancar, aku akan buka Outlet baru yang rencananya akan di buka di luar daerah, kalau perlu di seluruh Indonesia." ucap Randy sambil tersenyum.
Papaa Dania pun mengangguk.
"Ingat, tinggal empat bulan lagi waktu kamu, saya tidak akan segan mengambil Dania kembali, kalau kamu tak bisa menepati janji." ucap Papa Hamish.
Dania yang sedang menikmati makan malamnya pun, jadi menghentikan makannya dan menatap sang Papa.
"Apalagi sih, Pa, yang harus di buktikan? Apa ga cukup selama ini, apa yang Randy lakukan? Selama ini Randy selalu ikutin kemauan Papa, Papa mau apalagi sekarang?" tanya Dania dengan nada agak kesal.
Dania tak suka saat Papanya membahas soal janji Randy,menurut Dania, Randy sudah menepati janjinya selama ini, namun belum menurut sang Papa.
Papa Dania menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Kamu ga akan ngerti, ini urusan antara pria" ucap Papa Hamish.
Dania pun tersenyum sinis mendengar ucapan sang Papa.
"Benar kalian sama-sama pria, lalu kenapa Papa selalu mengancam Randy supaya ga nyentuh aku? Apa Papa tahu? begitu tersiksanya Randy selama ini karena ke egoisan Papa. Selama ini Randy selalu nahan dirinya untuk ga nyentuh aku, padahal dia sendiri punya hak atas diri aku. Apa Papa pikir perlakuan Papa itu sudah benar sama kami? Papa egois, Papa selalu ikut campur urusan rumah tangga aku sama Randy. Apa karena Papa pikir kami masih terlalu muda, jadi kami ga akan bisa menjalani rumah tangga kami dengan baik." ucap Dania dengan nada kesal.
__ADS_1
Brak.
Papa Hamish menggebrak meja, membuat seluruh tamu yang ada di sana mengalihkan perhatiannya ke arah meja Dania. Papa Hamish tak terima anaknya itu bicara kurang ajar padanya. Bahkan mama Rania, Randy dan Dania pun tak kalah terkejutnya.
"Apa ini hasil dari didikan kamu sebagai suami, Randy? Anak saya jadi kurang ajar seperti ini." ucap Papa Hamish dengan geram Randy.
Randy menelan saliva dengan susah payah, tatapan Papa mertuanya begitu tajam dan rasanya sampai menusuk ke jantung. Randy berpikir, Papa mertuanya itu pasti semakin membencinya, dia bahkan belum bisa mendapatkan hati Papa mertuanya itu, kini justru istrinya membuat masalah dan membuat namanya menjadi terseret.
Sementara Mama Rania mencoba menenangkan Papa Hamish.
"Papa udah dong, pah, ga baik ribut di luar begini. Gimana kalau sampe ada rekan bisnis Papa? Apa ga akan malu nantinya,pah?" ucap Mama Rania.
Papa Hamish menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar.
Randy menggenggam tangan Dania.
"Maaf, Pa, Sania ga bermaksud bicara seperti itu sama Papa, dia pasti sedang datang bulan makanya jadi agak emosian, iya kan, yank?" Randy tersenyum dan menatap Dania.
"Siapa yang lagi datang bulan? Aku emang kesal sama Papa, Papa terlalu ikut campur urusan rumah tangga kita." ucap Dania masih dengan nada kesalnya.
Papa Hamish masih diam sambil memeperhatikan Dania yang masih memasang wajah kesalnya. Dia tak habis pikir, ternyata putrinya benar-benar sudah bukan miliknya lagi, sekarang putri kecil nya itu benar-benar sudah menjadi milik orang lain. Lihat lah sekarang, putrinya itu bahkan begitu membela pria lain di hadapannya sendiri. Putri kecilnya yang saat dulu selalu bilang ingin memiliki seorang kekasih seperti dirinya kini sudah mencintai pria lain.
"Apakah aku cerminan diri Randy? Sampai-sampai Dania begitu mencintainya?" ucap Papa Hamish dalam hati.
Memang akan sangat sulit bagi seorang Ayah menerima putrinya menjadi milik pria lain, apalagi putri satu-satunya yang begitu dia sayangi.
Sejak kecil, Papa Hamish selalu memberikan apapun yang Dania inginkan, jadi wajar saja kalau saat ini Papa dania begitu takut putrinya itu menderita. Sebetulnya dia sendiri tak ingin terlibat dalam pernikahan putrinya, namun hatinya tak bisa berbohong bahwa ada rasa takut, dia takut putrinya itu terluka, karena itu dia ingin selalu melindungi putrinya.
Setelah acara makan malam selesai, Randy dan Dania ke Apartemen menggunakan motornya.
Sekedar informasi, semenjak Randy menjual mobilnya, Randy menggunakan motor untuk alat bepergian sehari-hari. Sebetulnya untuk sekarang ini dia bisa saja membeli mobil, hanya saja dia lebih memilih menabung uang itu untuk membelikan Dania rumah. Toh, Dania pun tak keberatan pergi kemana-mana naik motor, justru dania merasa senang karena bisa selalu memeluk Randy.
Sesampainya di Aparetemen, Randy menuntun Dania menuju kamar dan mendudukannya di pinggir tempat tidur. sementara Randy berlutut di hadapan Dania dan menggengam tangan Dania.
__ADS_1
"Yank, kamu sadar kan, apa yang kamu lakukan tadi itu ga baik? itu ga sopan yank, lihat Papa mertua sampai tersinggung kaya gitu" ucap Randy.
"Aku cuman ga suka aja Papa terlalu ikut campur urusan rumah tangga kita, aku kasian juga sama kamu harus nahan-nahan kalau lagi pengen." ucap Dania dengan nada kesal.
Randy pun tersenyum melihat Dania.
"Aku tahu kamu mikirin aku, aku janji setelah kamu lulus sekolah nanti aku ga akan tahan-tahan lagi, kalau perlu, setiap malem aku bakalan bikin kamu bergadang dan kecapean sampe besoknya ga bisa jalan." ucap Randy sambil tersenyum lebar.
Dania pun terkejut mendengar ucapan Randy.
"Dasar, mesum." ucap Dania.
"Biarin, orang mesum sama istri sendiri." ucap Randy.
Randy mengecup lembut kening Dania.
"Aku jadi ga sabar menanti saat itu tiba, saat di mana aku bisa menanam benih cinta aku di rahim kamu, dan benih itu tumbuh menjadi bayi-bayi yang menggemaskan." ucap Randy sambil tersenyum dan mengelus perut rata Dania.
"Aku yakin, anak-anak kita pasti cantik dan tampan, secara Bapaknya tampan begini." ucap Randy bangga.
Dania pun menatap malas pada Randy.
"Dasar, geer" ucap Dania.
"Biarin, emang aku tampan, kan? Buktinya kamu mau sama aku." ucap Randy tersenyum bangga.
"Iya, Iya, kamu tampan deh" ucap Dania dengan malas.
Randy memeluk Dania.
"I love you, sayang." ucap Randy.
"I love you too." ucap Dania.
__ADS_1
Dania pun memeluk erat tubuh Randy.