Istri Jelekku

Istri Jelekku
Bab 66


__ADS_3

Pagi ini dania sudah berada di kantor. Dia tengah duduk di kursinya dengan terus menatap sebuah amplop putih di tangannya.


Banyak sekali pikiran-pikiran di kepalanya saat ini.


Dia terus kepikiran ucapan Mama mertuanya beberapa hari lalu saat mengundangnya dan Randy makan malam. Dia tak menyangka Mama mertuanya itu akan begitu menuntutnya soal momongan, secara yang dia lihat Mama mertuanya itu selalu diam.


Semenjak malam itu hubungan mereka menjadi tidak baik. Randy pun belum meminta maaf pada Mamanya karena Randy pikir, Mamanya mungkin butuh waktu. Bagaimana pun Randy memang sudah keterlaluan malam itu, dan tentu saja Mamanya akan merasa kecewa karena untuk pertama kalinya Randy memarahi Mamanya dan itu karena orang lain. Sebetulnya bukan lagi orang lain, karena Dania kini sudah menjadi bagian dari hidup Randy, dan otomatis dia menjadi bagian dari keluarga Sebastian juga. Hanya saja yang membuat mereka, yang tak lain Ibu dan anak itu sampai bertengkar adalah karena orang yang belum lama Randy kenal.


Dania terus menatap amplop itu dan tanpa dia sadari sedari tadi sang Papa tengah memperhatikannya. Dania bahkan tak sadar, entah sejak kapan Papanya itu berada di ruangannya.


"Ehheumm ..."


Dania tersentak mendengar suara deheman dari sang Papa.


"Kenapa? Masih pagi udah ngelamun, apa liburnya masih kurang?" tanya Papa.


Dania menggelengkan kepalanya dan mengahmpiri sang Papa yang sudah mulai duduk di kursi kebesarannya.


Dia berdiri tepat di depan meja Papanya.


Dia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Pa .." panggil Dania.


"Ya." ucap Papa.


Sang Papa menatap lekat putrinya itu, ada yang berbeda dengannya hari ini. Dia tak seperti biasanya, wajahnya bahkan tak semerona biasanya.


"Ini." Dania meletakan amplop putih itu di meja sang Papa.


Sang Papa menatap heran pada amplop itu.


"Apa, ini?" tanya sang papa sambil membuka amplop tersebut.


Sang Papa kaget saat membaca isi dari amplop tersebut.


"Surat pengunduran diri." ucap sang Papa heran.


Dania mengangguk dan duduk berhadapan dengan sang Papa.


"Aku mau mengundurkan diri, Pa. Aku akan ikuti prosedur pengunduran diri dari perusahaan." ucap Dania.


"Kenapa? Apa Randy yang minta kamu berhenti bekerja?" tanya Papa.


Dania menggelengkan kepala.


"Aku sendiri yang mau, Pa." ucap Dania.


Papa Dania membaca dengan teliti surat pengunduran diri dari Dania, Setelah selesai sang Papa menatap d


Dania penuh tanya.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa kamu lagi ada masalah?" tanya sang Papa.


"Seperti yang Papa baca di surat pengunduran itu, ini adalah alasan pribadi. Jadi, aku harap Papa mengerti." ucap Dania.


Papa Dania masih menatap Dania dengan lekat. Benar, perasaannya tidak salah. Memang ada yang berbeda dengan Dania, dan dia merasakan itu. Karena Dania memang putrinya dan tentu saja dia mempunyai ikatan bathin dengan Dania, pikirnya.


"Tapi, Dua minggu lagi kamu dan erick akan bertemu untuk membahas proyek di Bangkok."tanya sang Papa.


Dania mengangguk.


"Iya, Papa benar. Seperti yang aku bilang, aku akan ikuti aturan perusahaan, aku akan keluar setelah satu bulan kemudian." ucap Dania.


Papa Dania mengangguk, dia tak ingin memaksa putrinya itu. Walaupun sebetulnya dia agak kecewa karena Dania memilih keluar dari perusahaannya di saat dia sendiri sudah mempercayakan Dania mengurus sebuah proyek untuk pertama kalinya.


Dania pun tak memiliki pilihan lain, dua hari ini, dia bahkan tak bisa tidur tenang karena terus kepikiran ucapan sang Mama mertua yang mengatakan dia harus berhenti bekerja, karena faktor kelelahan pun bisa menjadi dia tak kunjung hamil setelah dia mengalami keguguran.


Setelah selesai menyerahkan surat pengunduran diri, Dania pun kembali sibuk dengan pekerjaannya.


Waktu menunjukan jam makan siang. Dengan malas Dania pergi menuju kantin yang berada baseman Kantor.


Dia hanya membeli jus alpukat karena sedang tak berselera makan apapun.


Setelah selesai, dia kembali ke ruangannya.


Begitu sampai di ruangannya, Dania di kejutkan saat melihat Papa mertuanya yang tengah berdiri menatapnya di depan pintu ruangannya.


"Papa ..!" ucap Dania.


Dania mendekati Papa mertuanya itu dan menyaliminya.


"Papa kapan sampe?" tanya Dania.


"Baru, aja." ucap Papa mertua.


Dania mengangguk dan mempersilahkan Papa mertuanya masuk karena kebetulan tak ada Papa Dania disana.


"Papa mau minum apa? Atau Papa mau makan siang sekalian, biar aku pesenin " ucap Dania.


"Ga perlu, Papa ga lama."


Dania mengangguk.


"Jadi, ada hal penting apa ? sampai Papa harus repot-repot datang ke kantor buat nemuin aku." tanya Dania.


Papa mertuanya itu menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Papa minta maaf atas ucapan Mama kalian, kemarin malam." ucap Papa.


Dania mengerutkan dahinya.


"Kenapa Papa minta maaf? Papa ga salah, Mama juga ga salah, Aku ngerti maksud Mama baik, cuman aku ga sangka aja Randy bakalan sampai semarah itu sama Mama. Padahal aku sama sekali ga ada niat buat bikin hubungan Randy sama Mama jadi ga baik, Pa." ucap Dania.


"Papa ngerti, kalau kalian ada waktu, datang lah ke rumah. Tolong bujuk Randy agar mau meminta maaf, dan bicara baik-baik pada Mamanya. Mamanya benar-benar sedih, untuk pertama kalinya Randy berani membentaknya, kemarin malam." ucap Papa


"Maafin aku, Pa." lirih Dania.


Papa Randy menggenggam tangan Dania.


"Papa ga nyalahin kamu. Tapi, Papa minta tolong, perbaiki lah hubungan kalian dengan Mama kalian, kasihan Mama kalian sampai sedih dan terus murung dua hari ini."


Dania pun mengangguk.


"Aku akan berusaha, Pa."ucap Dania.

__ADS_1


Papa Randy tersenyum kemudian pergi dari ruangan Dania.


"Ehheumm ..."


Dania tersentak saat sang Papa baru saja memasuki ruangannya.


"Ada urusan apa, mertua kamu datang kesini?" tanya Papa Dania.


"Ga ada, Pa. Papa mertuaku cuma minta aku sama Randy berkunjung ke rumahnya, kalau aku sama Randy ada waktu." ucap Dania.


Papa Dania pun mengangguk dan duduk di sofa ruangannya. Dia membuka kotak bekal yang sudah sang istri siapkan.


Dia pun tersenyum melihat menu kesukaannya.


Seketika dia teringat Dania, karena menu itu pun menu kesukaan Dania.


"Kamu ga makan siang?" tanya Papa.


Dania hanya menggelengkan kepala sambil meminum jus alpukatnya.


"Duduk, sini." ucap sang Papa sambil menepuk sofa.


"Kenapa, Pa?" tanya Dania sambil mendudukan dirinya di sofa.


"Ini, aaa ..." sang Papa menyendokan makanan dan mendekatkannya di depan mulut Dania.


Dania tersenyum dan menggelengkan kepala.


"Buat papa aja. Itu kan, Mama cuma bikin satu porsi. Nanti, Papa ga kenyang, lagi." ucap Dania.


Papa Dania pun menggeleng.


"Papa mau suapin, anak gadis Papa" ucap sang Papa.


"Wanita dong, Pa. Aku kan, udah nikah. Jadi, bukan gadis lagi." ucap Dania sambil tersenyum.


"Bagi Papa, kamu tetap anak gadis Papa. Papa mau mengenang saat kamu kecil, Papa suka suapin kamu." ucap Papa.


Dania tersenyum dan mengangguk.


"Iya, deh, iya." ucap Dania.


"Ya udah, aaa ... Kita makan bareng, biar romantis." ucap Papa sambil tersenyum.


Dania terkikik mendengar ucapan sang Papa. dia pun menyambut suapan sang Papa.


"Papa kaya Randy, deh, sama-sama romantis" ucap Dania.


"Lebih romantis siapa? Papa atau Randy." tanya sang Papa.


Dania pun berpikir sejenak.


"Randy dong, Pa"ucap Dania sambil tersenyum bangga.


"Huhh, Iya, deh. Mentang-mentang udah ada yang baru, yang lama di lupain."ucap sang Papa dengan memasang wajah sedih.


Dania tersenyum dan mengambil alih sendok yang ada di tangan sang Papa. Dia menyendokkan makanan dan menyuapi sang Papa.


"Aku ga akan pernah lupain Papa, bagaimana pun, Papa lah pria pertama yang membuat aku jatuh hati." ucap Dania sambil tersenyum.


Papa pun tersenyum dan menyambut suapan Dania.


Cup.


"Makasih sayang, Papa bahagia, kalau kamu bahagia dengan pria yang sudah membuat kamu jatuh hati, selain Papa"


Dania tersenyum dan mengangguk.


Mereka pun melanjutkan makan siang bersama.


******


Pukul 17.30 wib Dania sampai di rumah dan di lihatnya mobil Randy sudah ada di garasi rumah.


Dania pun memasuki rumah dan pergi menuju kamarnya. Dia melihat Randy yang sepertinya juga baru saja sampai karena masih menggunakan kemeja kerja yang dia siapkan tadi pagi.


"Baru sampe, yank. ucap Dania.


Randy menengok ke arah Dania dan tersenyum.


Randy pun memeluk Dania.


Cup.


Randy mengecup Pipi Dania.


"Iya, gimana hari ini? Apa, capek?" tanya Randy.


Dania menggeleng dan tersenyum.


"Yah,seperti biasa. Oya, dua minggu lagi, aku mau pergi ke Bangkok." ucap Dania.


"Ke Bangkok, lagi." ucap Randy.


"Iya." ucap Dania.


"Tapi kenapa sering banget?" tanya Randy.


"Papa kan, minta aku ikut bantu ngurusin proyek, ini" ucap Dania.


Randy menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Berapa hari?" tanya Randy sendu.


"Aku belum tahu, yank." ucap Dania.


"Ya udah, terserah, lah" ucap Randy sambil berlalu meninggalkan Dania dan memasuki kamar mandi.


Dania agak aneh mendengar ucapan Randy, pertama kalinya Randy mengatakan terserah saat menanggapi ucapan Dania.


Namun Dania tak ingin ambil pusing.


Dania pun duduk di sofa sambil menunggu Randy selesai mandi. Beberapa menit berlalu.


Ting ting.

__ADS_1


Satu pesan masuk ke dalam ponsel Dania.


Dania mengambil ponselnya dan mengerutkan dahinya saat melihat nama Erick di layar ponselnya.


Erick; Hai, Dania.


Dania; Hai, Rick, ada apa?


Erick; Apa kamu suka, kadonya?


Dania teringat kado dari Erick setelah membaca pesan terakhir dari Erick.


Dia pun akan mengambil kado dari Erick yang dia simpan di laci lemari samping tempat tidurnya.


"Loh, kemana?" Dania bingung karena kado yang Erick berikan tak ada di laci itu. Padahal seingatnya, dia meletakannya di dalam laci samping tempat tidur.


Dania mencari ke setiap laci namun lagi-lagi tak menemukannya.


"Nyari,ini." ucap Randy tiba-tiba.


Dania menengok ke arah Randy yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang menutupi pinggangnya.


di lihatnya kado yang Erick berikan ada di tngannya.


"Kenapa ada di kamu?" tanya Dania.


"Ga sengaja lihat, tadi. Emang apaan, sih, nih?" tanya Randy.


Dania menggelengkan kepala.


"Aku ga, tau. Itu, di kasih temen." ucap Dania.


Randy pun mengangguk dan memberikan kado itu pada Dania. Dania pun mengambilnya dan membukanya.


Dania menatap bingung pada isi kado yang Erick berikan.


"jam tangan." gumam Dania.


"Loh, kok, di ambil." Dania terkejut saat dengan cepat Randy menggambil jam tangan itu.


"Wow, royal juga, ya, temen kamu mau ngasih jam tangan seharga ribuan dollar." ucap Randy sambil menatap Dania penuh selidik.


"Itu, hadiah dari temen lama aku, karena kami baru ketemu lagi." ucap Dania.


"Oh, ya, kapan kamu ketemu temen kamu?" tanya Randy bingung.


"Waktu ke Bangkok. Kebetulan, dia partner kerja aku." ucap Dania.


Randy pun mengangguk.


"Cewek." ucap Randy sambil menatap Dania.


dania pun menggelengkan kepala.


Randy mengerutkan dahi menatap Dania yang hanya menggelengkan kepalanya.


"Jadi, cowok." ucap Randy.


"Heueum .. Jangan salah paham, kami ga ada apa-apa" ucap Dania.


Kring .. kring..


Belum sempat Randy membuka suara, ponsel Dania pun berdering.


Randy mengambil ponsel Dania yang terletak di atas meja dekat sofa.


Randy menatap layar ponsel Dania dan ternyata Erick yang menelpon.


"Siapa, Erick?" tanya Randy sambil menatap Dania menyelidik.


"Itu dia, yang ngasih kado. " ucap Dania.


Randy mengangguk dan memberikan telpon itu pada Dania.


"Angkat aja" ucap Randy.


Tanpa curiga Dania pun mengangkat telpon Erick.


"Hallo, Rick" ucap Dania.


"Hallo, Dania. Apa kamu suka, kadonya?" tanya Erick.


"Oh, iya, maka- aaarrghhh ..."


Belum sempat Dania melanjutkan ucapannya, dia justru memekik saat Randy mendorong tubuhnya hingga terhempas di atas tempat tidur dan ponsel yang dia pegang pun jadi ikut terhempas ke atas tempat tidur.


Dania melotot menatap Randy.


"kamu ngapain, sih? tanya Dania.


Bukannya menjawab, Randy justru menanggalkan seluruh pakaian yang menutupi tubuh Dania dan menanggalkan handuk yang dia kenakan.


Dia langsung **** tubuh Dania dengan kasar.


Dania sampai memekik saat Randy melakukan penyatuan dengan kasar, dan membuat area intimnya terasa perih.


Beberapa menit berlalu, Randy pun mencapai pelepasannya.


Dia merebahkan tubuhnya di samping tubuh polos Dania dan nafasnya masih terengah-engah.


Bugh.


"Auuww ..." Randy memekik saat Dania memukul dadanya.


"Sekali lagi kamu main kasar kaya tadi, mendingan seterusnya kamu puasa, dan ga ada main lagi." ucap Dania dengan kesal.


Dia kesal karena suaminya itu sudah bermain dengan kasar dan sudah menyakitinya. Dia bahkan tak bisa menikmatinya sama sekali.


"Maaf yank, habisnya ga tahan." ucap Randy dengan masih terengah.


Sebetulnya, Randy sendiri tak mengerti mengapa dia sampai bermain kasar? tetapi, dia begitu kesal mendengar ada pria lain yang memberikan hadiah pada istrinya itu.


Di tempat lain.


Tanpa Randy dan Dania sadari, sedari tadi telpon dari Erick belum terputus, dan baru lah terputus saat Erick tak lagi mendengar suara dari dalam ponselnya.

__ADS_1


Erick yang awalnya terkejut saat mendengar pekikan Dania, semakin lama justru semakin panas mendengar suara-suara yang keluar dari bibir Dania. Suara itu terdengar seksi di telinganya.


Dia pun beregas masuk ke dalam toilet.


__ADS_2