
Dania membulatkan matanya, dia terkejut melihat seseorang yang kini ada di hadapannya.
Tak jauh beda dengan Dania, orang itu bahkan lebih terkejut melihat wajah asli Dania.
Saking terkejutnya orang itu bahkan sampai terjengkang ke belakang, Dania yang langsung tersadar pun mencoba meraih tompel dan kacamatanya yang sempat terjatuh tadi. Dia pun bergegas keluar dari bus dan pergi menuju toilet kampus untuk memperbaiki penampilannya.
sedangkan seseorang itu berkali-kali menepuk pipinya mencoba menyadarkan dirinya bahwa apa yang baru saja dilihat itu hanyalah sekedar mimpi, bukanlah kenyataan.
Di dalam toilet, Dania mencoba mengatur napasnya yang tersengal-sengal akibat terlalu syok karena akhirnya ada yang mengetahui identitas aslinya.
Dania membasuh wajahnya yang bahkan terlihat sangat merah saking malunya.
Di dalam bus.
semua murid sudah masuk dan duduk di kursi masing-masing sambil mendengarkan instruksi dari panitia kampus.
sebentar lagi bus akan segera berangkat menuju lokasi outbound yang berada di Daerah Ciloto, Puncak Bogor.
panitia pun mencoba mengabsen satu persatu mahasiswa agar tak ada satupun yang tertinggal di kampus.
sayangnya, entah lupa tercatat atau disengaja, nama Dania justru tak terabsen.
Bus pun segera melaju menuju lokasi outbound, meninggalkan Dania yang masih berada di dalam kampus.
Dania merapikan penampilannya dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ternyata sudah cukup lama dia berada di dalam toilet. Dia pun bergegas kembali menuju bus namun betapa terkejutnya dia saat melihat rombongan bus sudah tak ada di depan kampus.
"Ya ampun, kenapa aku ditinggalin? Apa mereka nggak sadar kalau masih ada mahasiswi yang tertinggal di dalam kampus?"ucap Dania.
Dia melihat ke kiri dan ke kanan namun terasa gelap dan sepi. Jelas saja, ini sudah pukul delapan malam. Bahkan untuk menuju jalan raya dia harus berjalan kaki kurang lebih sejauh 150 meter karena tak menggunakan kendaraan.
Dia pun kebingungan karena semua barang-barang yang dia bawa berada didalam tas, dan tasnya sudah berada di dalam bus. Ponselnya bahkan berada di dalam tas ransel miliknya.
"Udah lah, aku pulang aja." gumam Dania.
Dia sungguh menyesalkan kejadian tadi harus terjadi di saat waktu yang tak tepat. Andai saja kejadian tadi tak terjadi, maka dia tak akan pergi menuju toilet, dengan begitu dia pun tak akan ketinggalan rombongan bus.
Dia mulai berjalan menuju jalan raya dan berniat akan kembali ke rumah.
Kurang lebih 100 meter dia sudah berjalan, namun tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang datang mendekatinya.
Terdengar bunyi klakson dan kaca mobil pun terbuka.
"Naik." ucap seseorang di dalam mobil sana.
Dania terkejut karena ternyata mobil itu milik seseorang yang tadi melihat wajah aslinya.
Orang itu tak lain dan tak bukan adalah Alex, mahasiswa seangakatan dengannya yang terkenal tampan dan populer di kampus.
Dania bergegas menjauhi mobil Alex namun Alex langsung turun dari mobil dan mengejar Dania.
"Hey, tunggu ..!" Teriak Alex.
Dania tak menghentikan langkahnya dan masih terus menjauhi Alex. Dia sungguh tak siap menghadapi Alex, dia takut Alex melontarkan banyak pertanyaan padanya dan dia tak tahu akan membuat alasan apa. Rasanya konyol jika harus mengatakan alasannya karena ingin kembali dekat dengan suaminya sendiri.
"Aarrgghhh .. Tolong !!" Dania berteriak kencang membuat Alex sampai harus membungkam mulut Dania.
Dania pun mencoba memberontak untuk melepaskan diri dari Alex.
"Astaga, jangan teriak, gue kan ga ngapa-ngapain. Gue cuman mau bantu lo supaya sampai ke tempat outbound." ucap Alex.
Dania berhenti memberontak dan Alex pun melepaskan Dania.
__ADS_1
"Gimana kamu tahu aku ketinggalan bus?" tanya Dania sambil menatap Alex.
Lagi-lagi Alex dibuat terkejut karena lagi-lagi tompel Dania lepas.
"Jadi, seriusan, itu tompel palsu lo?" tanya Alex dengan menatap wajah Dania dengan teliti. Alex bahkan memegang wajah Dania untuk benar-benar memastikan.
Dania melepaskan paksa tangan Alex dan segera mencari tompel nya yang hilang.
"Nyari apa?" tanya Alex.
Dania hanya diam dan terus melihat ke arah aspal untuk mencari tompel nya.
"Nyari ini?" tanya Alex sambil menunjukkan tompel palsu Dania yang ternyata tertempel di telapak tangannya.
Dania bergegas akan mengambil tompel itu namun Alex langsung meninggikan tangannya.
"Lo mau tompel ini balik? Lo pergi bareng gue ke Puncak." ucap Alex.
Dania mengerutkan dahinya menatap Alex.
"Aku ga mau." ucap Dania.
"Ya udah, tompel lo ga bakal gue balikin dan ( mengambil ponselnya, dan memotret wajah Dania ) gue akan tunjukkin wajah asli lo ke semua mahasiswi, kalau perlu gue akan tempelkan foto wajah asli lo di mading kampus." ucap Alex dengan nada mengancam.
Dania terkejut mendengar ancaman Alex. Dia pun menghembuskan napas kasar.
Mungkin memang Alex lah yang saat ini Tuhan kirimkan agar dia dapat menyusul ke tempat outbound, karena di sana juga ada Randy dan Dia bisa memanfaatkan waktu di puncak bersama Randy.
"Ya udah, tapi balikin dulu tompel nya." ucap Dania.
Alex pun tersenyum dan mengembalikan tompel palsu Dania.
Dania pun masuk ke dalam mobil.
"Gimana kamu bisa tahu, kalau aku ketinggalan bus?" tanya Dania.
"Sebenernya gue turun lagi tadi dari bus, begitu lo turun. Gue pengen pastikan kalau apa yang gue lihat tadi, tuh, salah. Eh, ternyata semuanya benar dan nyata." ucap Alex.
Dania menunduk malu, sungguh dia sangat malu saat ini. Lagi-lagi sejarah kembali dan rahasianya harus terbongkar dengan cara tak di sengaja.
"Tapi kenapa lo nyamar? Apa lo punya tujuan lain masuk ke kampus ini dengan menutupi identitas asli lo?" tanya Alex.
Dania terdiam sejenak, dia menatap Alex dengan dalam. Alex yang merasa di tatap pun langsung menghentikan mobilnya.
"Kenapa?" tanya Alex.
"Ga apa-apa." ucap Dania sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Jadi, apa sebenernya tujuan lo menutupi identitas asli lo?"tanya Alex penasaran dan kembali melajukan mobilnya.
"Yah, benar. Aku masuk ke kampus ini karena ada tujuan lain. Tapi apa itu, aku rasa bukan urusan kamu." ucap Dania.
Alex menganggukkan kepalanya. Lagi pula, dia pun tak ingin ikut campur dengan masalah pribadi orang lain. Hanya saja dia masih merasa bingung karena wanita secantik Dania harus menutupi wajah aslinya.
Di tempat lain, tepatnya di dalam bus.
Tak terasa waktu pun berlalu dan tak berapa lama lagi bus pun akan sampai di tempat tujuan yang berada di Daerah Ciloto, Puncak Bogor. Semua mahasiswa tengah bersuka ria di dalam bus, mereka memainkan gitar dan menyanyikan sebuah lagu. Lagu itu membuat Randy teringat akan sesuatu, namun apa itu? Entah lah dia pun tak mengerti.
Jantungnya berdegup kencang begitu dia mendengar bagian reff lagu tersebut.
Kamu adalah bukti dari cantiknya paras dan hati.
__ADS_1
Kau jadi harmoni saat ku bernyanyi tentang terang dan gelapnya hidup ini.
Kau lah bukti terindah dari baiknya Tuhan padaku, waktu tak mengusai kan cantikmu, kau wanita terhebat bagiku.
Tolong kamu camkan itu.
Seketika dia teringat pada Dania.
Dia pun bangun dari duduknya dan melihat ke arah bangku belakang namun tak melihat ada Dania. Dia pun penasaran dan menghampiri bangku Dania dan ternyata hanya ada barang-barang Dania di sana.
"Ya Tuhan, dimana dia?" gumam Randy.
Randy pun meminta sopir menghentikan busnya.
"Ada yang ketinggalan." ucap Randy.
Semua orang terkejut.
"Siapa yang ketinggalan?" tanya Dino.
"Istri gue." ucap Randy tiba-tiba dan membuat semua orang sampai terkejut dan membulatkan matanya.
Dino bahkan tak kalah terkejut. Dia memang mengetahui Randy sudah memiliki istri, namun dia tak pernah melihat istri Randy . Lagi pula dia pun tak tahu kalau ternyata istri Randy pun kuliah di kampus yang sama dengan Randy.
"Maksud lo apa, Rand? Istri lo?" tanya Dino bingung.
Seketika Randy menjadi canggung dan langsung mengusap wajahnya.
"Itu, tadi gue lihat ada tulisan "istri gue" Jadi gue ga sengaja ngomong gitu." ucap Randy mencoba mengalihkan perhatian semua orang.
"Jadi, siapa yang tertinggal? Tanya salah satu panitia.
"Itu, cewek yang ada tompel di pipinya." ucap seseorang yang duduk di kursi belakang.
Entah mengapa Randy menjadi gelisah. Dia pun tak mengerti dengan perasaannya, mengapa dia merasa takut sesuatu terjadi pada istrinya itu.
"Eh, apa, tadi si Alex mau jemput dia, ya? Soalnya tadi dia bilang mau nunggu teman kampus kita, nah disini kan yang ketinggalan cuman cewek tompel itu." ucap seorang mahasiswa yang juga berteman dengan Alex.
Semua orang pun menghela napas lega, namun berbeda dengan Randy. Dia mengepalkan tangannya. Dadanya terasa sesak mendengar Dania pergi bersama pria lain dan hanya berdua di dalam mobil. Randy pun mengetahui kabar bahwa Alex adalah pria playboy.
"Astaga, kenapa gue kayak gini? Ga mungkin, kan, gue suka sama dia?" batin Randy.
Dia pun duduk kembali di kursinya dan tak lama bus sampai di Villa Ciloto, Puncak Bogor.
Semua mahasiswi pun turun dari bus dan pergi menuju kamar yang sudah di atur oleh panitia. Satu kamar ditinggali dua sampai tiga orang mahasiswa, dan begitupun dengan kamar mahasiswi yang juga di tinggali oleh dua sampai tiga orang mahasiswi.
Randy bergegas pergi ke kamarnya dan berencana akan menunggu Dania di pintu masuk Villa.
Begitu dia keluar dari kamar, dengan setengah terburu-buru dia melangkah menuju pintu Villa. Namun belum sampai dia di Pintu gerbang masuk ke Villa, Dania terlihat turun dari mobil Alex dengan Alex yang membukakan pintu untuk Dania.
Napas Randy memburu dan dia mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Sial." ucap Randy dengan geram.
Dia pun berbalik dan memilih berkumpul dengan teman-temannya yang lain yang tengah menyalakan api unggun.
******
Hai, hai readers manisnya author🤗
Tak hentinya author ingin berterimakasih untuk yang sudah memberikan vote untuk novel Istri Jelekku ini. Tolong terus bantu dukung novel Istri Jelekku ini dengan cara memberikan vote kalian.
__ADS_1