
Dania masuk ke dalam kamar, menguncinya dan menghempaskan tubuhnya di tempat tidur.
Dia terisak, dia sungguh sedih mendengar ucapan Mama mertuanya tadi. Dia sama sekali tak berniat menyembunyikan kehamilannya pada siapa pun. Hanya saja, sejak awal memang dia dan Randy sudah sepakat akan memberitahukan kabar kehamilannya saat waktunya tepat agar menjadi sebuah kejutan untuk keluarga.
Kring .. kring ..
Dania mengambil ponselnya yang berdering, ada panggilan video call dari Randy ternyata.
Dania mengabaikan video call dari Randy, dia tak ingin Randy melihat keadaannya yang kacau saat ini.
kring.. kring..
sekali lagi ponselnya berdering dan Dania melihat layar ponselnya, lagi-lagi Randy menghubunginya, namun lagi-lagi Dania mengabaikannya.
Ting .. ting ..
Dania melihat lagi layar ponselnya dan ada satu pesan masuk dari Randy.
Hubby; Kenapa ga di angkat, yank ? Kamu udah tidur.
Dania mengabaikan pesan itu dan Randy pun berhenti menghubunginya.
Cukup lama dia terisak hingga tenggorokannya terasa kering. Dia keluar dari kamar dan pergi menuju dapur untuk mengambil air minum.
Saat tengah menuruni anak tangga, tiba-tiba Bibi menghampirinya dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Kenapa, Bi?" tanya Dania.
"Ada telpon dari den Randy, non." ucap Bibi dan memberikan telpon rumah pada Dania.
Dania mengambil telpon itu.
"Hallo."
"Hallo, yank, kenapa aku hubungin kamu malah ga di angkat, sih? Pesan aku juga ga kamu baca, kamu baik-baik aja kan, yank." ucap Randy dengan nada cemas.
"Iya, aku baik-baik aja, handphone nya aku taro di atas meja, tadi, trus aku silent juga, jadi ga tahu kalau kamu telpon" ucap Dania.
"Terus itu, suara kamu kenapa? Kok bindeng, gitu. Apa kamu habis nangis, yank?" tanya Randy.
"Eggak kok, aku lagi agak flu aja." ucap Dania.
"Ya, udah, matiin telponnya, kita video call, sekarang." ucap Randy.
"Besok aja, deh, yank, video call nya, sekarang aku ngantuk." ucap Dania.
"Ga bisa,aku mau sekarang, aku cemas, yank, kamu flu kayak, gitu. Udah, kita video call aja." ucap Randy.
Randy pun mematikan telponnya.
"Non baik-baik aja? Apa mau Bibi bikinin teh hangat?" tanya Bibi.
"Ga Bi, teh banyak caffeinnya, nanti aku ga bisa tidur. Tolong bikinin susu hamil ku aja, ya, Bi." ucap Dania dan di angguki oleh Bibi.
Dania kembali ke kamarnya dan mengambil ponselnya.
Dania merebahkan tubuhnya di tempat tidur, dan tak lama ada video call masuk dari Randy. Dania pun langsung menjawabnya.
Terlihat di layar ponsel, Randy tengah tersenyum.
Namun seketika ekspresi Randy jadi berubah setelah melihat wajah Dania yang sendu, matanya merah karena sebelumnya habis menangis.
"Loh, kamu kenapa, yank? Kok mata kamu merah, siapa yang bikin kamu nangis?" tanya Randy cemas melihat ekspresi wajah istrinya itu tak seceria biasanya.
"Ga apa-apa, yank, aku cuma flu aja, kamu lagi di mana?" tanya Dania.
"Jangan bohong, yank, dosa kamu, bohong sama suami." ucap Randy.
Dania terkejut mendengar ucapan Randy.
Dania jadi serba salah sendiri, di sisi lain ada suaminya dan di sisi lainya ada mertuanya.
"Beneran , aku cuma flu ( Hatchii)"
Dania berpura-pura bersin agar suaminya itu percaya padanya.
"Ya udah, kamu istirahat, deh, yank, langsung tidur, ya. Miss you." ucap Randy.
"Iya, yank, miss you too" Dania pun mengakhiri video callnya dan langsung mematikan ponselnya.
Tak lama Bibi datang dengan segelas susu hangat dan Dania langsung meminumnya hingga habis.
tak butuh waktu lama karena sudah kelelahan akibat menangis cukup lama akhirnya Dania langsung terlelap.
********
Keesokan harinya..
Pagi ini Randy sudah sampai di rumahnya. Dia sengaja pulang lebih awal karena merasa cemas dengan keadaan Dania. Dia merasa istrinya itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya, tak mungkin juga istrinya itu flu sampai membuat matanya merah dan sembab.
"Ehh den, udah pulang."ucap Bibi.
"Iya, Bi, Dania belum bangun Apa Bi?" tanya Randy.
"Iya, si non, masih tidur kayanya, den." ucap Bibi.
Randy mengangguk, saat dia akan melangkahkan kaki, tiba-tiba dia teringat akan mata Dania yang sembab semalam, Dia pun menjadi penasaran.
"Oh ya, Bi, apa Bibi tahu sesuatu tentang Dania? Kayanya, semalam dia bukan flu, tapi habis nangis kayanya, ya?" tanya Randy.
"Iya, den, maaf aden jangan marah, ya." ucap Bibi.
"Kenapa aku harus marah? Apa yang Bibi tahu?"tanya Randy.
"Semalam ada Mama dan Papanya aden datang. Bibi ga sengaja dengar karena saat itu Bibi ada di dapur dan si non lagi makan malam. Mamanya aden marah-marah sama si non, karena tidak memberitahukan tentang kehamilan si non sama orang tua aden, Mamanya aden berpikir kalau si non mau jauhin cucunya dari mereka." ucap Bibi.
Randy terkejut mendengar ucapan Bibi, pantas saja mata Dania sembab semalam, ternyata kecurigaan nya benar, Dania memang menyembunyikan sesuatu darinya.
Randy mengambil ponselnya dan menghubungi orang tua juga mertuanya. Randy mengundang mereka untuk makan malam di rumah.
"Oh ya, Bi, nanti malam akan ada makan malam keluarga, tolong masak banyak, ya." ucap Randy.
Bibi mengangguk dan bergegas mencatat bahan-bahan masakan apa saja yang di butuhkan.
"Ya, udah, aku ke atas dulu." Randy bergegas naik ke lantai dua menuju kamarnya.
Dia membuka pintu kamarnya perlahan dan melihat Dania yang masih tertidur lelap. Randy melangkah mendekati Dania, di tatap nya wajah lelap istrinya itu.
Cup.
__ADS_1
Randy mengecup pipi Dania.
Hoek.
Tiba-tiba saja Randy mual dan langsung membangunkan Dania.
Dania terkejut melihat orang yang kini ada di hadapannya.
"Kapan kamu pulang, yank?" tanya Dania bingung.
"Baru aja, aku kangen kamu, yank." ucap Randy.
"terus gimana kerjaan kamu?" tanya Dania.
"Ada Lisa, kok " ucap Randy.
Dania mengangguk dan mendudukkan dirinya sambil bersender di kepala tempat tidur.
"Oh ya, nanti malam akan ada makan malam keluarga, di rumah kita." ucap Randy.
"Apa? Tapi, kenapa ? Emangnya ada acara apa, yank?" tanya Dania bingung.
"Kita akan kasih tahu semua keluarga, tentang kehamilan kamu, yank." ucap Randy.
"Tapi, yank, aku-"
"Kamu di omelin sama Mama kemarin malam, iya, kan." ucap Randy.
"Apa? Kata siapa? Enggak, kok." ucap Dania.
Randy tersenyum dan duduk disamping Dania.
"Kamu ga mau jujur sama aku, takut aku marah sama mama lagi, ya." ucap Randy.
Dania pun mengangguk pelan.
"Aku ga akan marah sama Mama, lagi, kok, kamu ga usah khawatir, ya. Aku yakin, setelah kita jelasin semuanya, Mama pasti akan ngerti, kok." ucap Randy.
"Gimana kalau, Mama tambah marah?" tanya Dania.
"Enggak akan, yank. Mama kan mau banget punya cucu, mana mungkin dia marah-marah, lagi. Aku yakin, dia seneng sebenernya tahu kamu hamil, cuma Mama emang, gitu, orangnya, gengsian." ucap Randy sambil tersenyum.
Dania pun mengangguk dan tersenyum.
******
Waktu menunjukkan pukul 18.00 wib.
Semua keluarga sudah berkumpul di kediaman Randy.
"Kok tumben, kalian ngundang kami semua makan malam, ada acara apa?" tanya Mama Rania.
Randy menggenggam tangan Dania dan tersenyum menatap Dania.
"Ada sesuatu yang ingin kami sampaikan ke kalian semua. Tapi, sebenernya, sih, kami kangen kalian aja, makanya ngundang kalian semua makan malam di rumah kami." ucap Randy.
Mama Rania mengangguk dan tersenyum. Berbeda dengan Mama Randy yang menampilkan wajah datarnya.
Mereka semua pun memulai acara makan malam.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka selesai menyantap makan malamnya.
Randy dan Dania saling tatap.
"Oh ya, ada yang mau kami sampai kan ke kalian semua." ucap Randy.
"Apa, itu?" tanya Mama Rania.
"Sebentar lagi, kalian akan punya cucu." ucap Randy.
Papa dan Mama Dania terkejut, sekaligus bahagia mendengar kabar kehamilan Dania.
"Benar kah sayang, kamu lagi hamil sekarang, sudah berapa bulan?" tanya Mama Rania.
"Sudah minggu ke tiga belas, Ma." ucap Dania.
"maaf sebelumnya, kami baru kasih tahu sekarang, karena kami pikir kami akan memberikan kejutan untuk kalian semua. Kami sama sekali ga ada niat untuk menyembunyikan kabar kehamilan Dania, kami hanya menunggu waktu yang tepat aja, sih, sebenernya " ucap Randy dengan menatap sang Mama yang juga tengah menatapnya.
Mama Rania bangun dari duduknya dan memeluk Dania.
"Selamat, sayang, semoga kamu dan baby kamu sehat-sehat, ya." ucap mama rania.
"Makasih, Ma." ucap Dania.
Papa Hamish pun memberi selamat dan memeluk Randy bergantian dengan Dania.
Berbeda dengan Papa dan Mama Randy yang terlihat biasa saja. Tentu saja mereka tak lagi terkejut karena sudah mengetahuinya lebih awal, namun di dalam hati mereka sejujurnya mereka pun merasa sangat bahagia mendengar kabar kehamilan menantunya itu, hanya saja Mama Randy masih marah kepada anak dan menantunya itu.
"Seneng ya, jeng, kita akan jadi Nenek." ucap Nama Rania.
Mama Randy mengangguk dan tersenyum tipis.
Mereka pun berpindah duduk di ruang keluarga dan lanjut berbincang.
di tengah bincang-bincang, Mama Randy pergi ke toilet. Randy yang melihat pun langsung menarik Dania untuk mengikuti sang Mama. Dia ingin secepatnya menyelesaikan masalah dengan Mamanya.
"Ma ..!" panggil Randy.
Mama randy menghentikan langkahnya namun tak menengok kearah Randy dan Dania.
Randy menggenggam tangan Dania dan menuntunnya mendekati sang Mama.
"Apa kita bisa bicara sebentar, Ma?" tanya Randy.
"Mau bicara apa?" tanya sang Mama datar.
"Tolong maafin aku, Ma. Aku sadar, aku salah, Ma, karena waktu itu pernah bentak Mama. Tapi, aku sama sekali ga ada niat untuk nyakitin Mama, aku sayang sama Mama, aku mohon jangan marah lagi sama aku dan Dania, kami sedih lihat Mama terus marah sama kami." ucap Randy.
Mama Randy menatap Randy bergantian dengan Dania.
"Apa kamu pikir, Mama juga ga sedih, Rand? Mama ga habis pikir, aja , kamu tega bentak Mama waktu, itu, cuma gara-gara istri kamu." ucap sang Mama.
"Enggak, Ma, Dania ga salah. Aku yang salah, Ma. Aku salah karena udah nyakitin Mama, Mama mau, kan, yaa, maafin aku, aku kangen sama Mama, aku kangen di sayang-sayang sama Mama." ucap Randy dengan matanya yang mulai memerah, dia sungguh menyesal karena pernah melukai hati Mamanya.
Randy memeluk erat sang Mama, menumpahkan rasa penyesalannya di pelukan sang Mama.
Tak terasa Mama Randy pun meneteskan air matanya. Sebenernya dia sedih, karena sudah hampir dua bulan ini, hubungannya dengan Randy tak baik, sejujurnya dia pun merindukan anak satu-satunya itu. Dania yang melihat Ibu dan anak itu menangis pun menjadi ikut menangis.
"Mama mana bisa marah lagi, kalau kamu sudah seperti ini, Mama mau maafin kamu tapi jangan lagi nyembunyiin apapun dari Mama, sungguh Rand hati Mama sakit saat kamu membentak Mama." ucap sang Mama.
__ADS_1
Randy mengangguk dan mencium tangan sang Mama.
"Aku janji, aku ga akan lagi bentak Mama, aku nyesel, Ma." ucap Randy.
Mama Randy menarik Randy kepelukannya.
Sambil memeluk Randy, Mamanya menatap Dania yang tengah terisak juga.
Dia melepaskan pelukannya dengan tatapan yang tak lepas dari Dania.
Jantung dania berdegup kencang di atap seperti itu oleh sang mertua.
"Kemari." ucap Mama Randy sambil merentangkan tangannya.
Dania terkejut dan menatap Randy. Randy tersenyum dan mengangguk, dengan cepat Dania memeluk Mama mertuanya itu dan Randy pun ikut memeluk dua wanita yang diA cintai itu.
"Selamat ya, kalian akan jadi orang tua. Ingat pesan Mama, jangan sia-siakan lagi calon bayi kalian, di jaga baik-baik, ya." ucap Mama Randy.
Dania semakin terisak dan kembali memeluk Mama mertuanya. Randy pun tersenyum melihat dua wanita itu saling memeluk satu sama lain.
*********
Satu bulan kemudian..
Randy tersenyum melihat tubuh istrinya itu kini semakin berisi dan perut Dania pun semakin terlihat. Tak seperti kebanyakan ibu hamil lainnya yang perutnya akan tak begitu terlihat di usia kehamilannya ke empat bulan, kehamilan Dania ini terlihat seperti usia enam bulan. Cukup besar di usia yang kurang lebih baru 17-minggu. Bahkan baju-baju Dania pun sudah tak ada yang muat lagi. Seperti saat ini, karena akan menghadiri acara resepsi pernikahan Riko yang akan di gelar pukul 19.00 wib nanti, Dania tengah sibuk mencari gaun yang pas di tubuhnya.
"Ya ampun, udah pada ga muat baju-baju ku, yank." ucap Dania.
Randy tersenyum dan mengambil sebuah kotak dus berisikan sebuah dress cantik.
"Ini, aku beliin buat kamu." ucap Randy sambil memberikan kotak dus tersebut pada Dania.
Dania membukanya dan betapa terkejutnya dia saat melihat dress yang berukuran besar.
"Kamu ga, salah, nih, milihin aku dress ukuran kayak begini, yank?"tanya Dania.
"Coba, dulu." ucap Randy.
Dania mengangguk dan langsung mencobanya.
"Ehh, muat, yank, malahan pas." ucap Dania sambil tersenyum.
"Ya, makanya aku sengaja minta tolong sama embaknya, buat cariin gaun untuk Ibu hamil." ucap Randy.
Dania tersenyum dan memeluk Randy.
"Makasih ya, kamu emang suami idaman banget, deh, ah." ucap Dania sambil tersenyum.
"masa, sih. Kalau gitu kasih aku hadiah, dong." ucap Randy.
Dania menatap malas pada Randy.
"Baru juga di puji, udah perhitungan, aja." ucap Dania sambil mengerucutkan bibirnya.
Cup.
Dania melotot menatap Randy saat Randy tiba-tiba mengecup bibirnya.
"Salah siapa? Pake di monyongin, tuh, mulut. bikin pengen cium, kan, jadinya." ucap Randy sambil tersenyum lebar.
Dania hanya tersenyum tipis.
Randy menatap kagum pada istrinya itu. istrinya itu terlihat cantik memakai dress yang dia pilihkan. Di tambah lagi dengan perutnya yang sudah terlihat jelas membuat Dania semakin seksi.
Seketika sesuatu di bawah perutnya menjadi mengeras, bahkan sudah terasa sesak.
"Yank." panggil Randy.
"Hhmm..."
"Yank ..!" panggil Randy.
"Kenapa, yank?" tanya Dania tanpa melihat ke arah Randy.
"Mau, dong, yank." ucap Randy.
Dania yang tengah merapikan rambutnya langsung melihat ke arah Randy.
"mau apa?" tanya Dania bingung.
"Mau itu, yank" ucap Randy.
Dania tak mengerti maksud Randy.
"Mau apaan, sih, yank?" tanya Dania.
Randy menghembuskan nafas perlahan dan memeluk Dania dari belakang.
"Mau ini" ucap randy sambil menyentuh area sensitif Dania dari luar dress nya.
Dania tak sengaja mengeluarkan suara lenguhan dari dalam mulutnya.
Dengan cepat Randy tubuh Dania dan kini saling berhadapan.
Randy menempelkan bibir nya di bibir Dania, dan sesaat kemudian Randy memberikan lumatan lembut.
"Kita mau ke acaranya Riko, yank." ucap Dania.
"Sebentar, yank, ga lama , kok. Aku udah ga tahan, yank. Please, dua bulan aku puasa, aku udah ga bisa nahan lagi." ucap Randy lirih karena menahan gairahnya yang sudah menumpuk di bawah perutnya dan ingin segera menyalurkannya. selama dua bulan ini dia tak menyentuh istrinya itu, karena tak ingin sesuatu terjadi pada sang bayi jika dia menyentuh Dania di saat hamil muda.
Dania pun mengangguk dan tersenyum.
Randy tersenyum dan mengecup bibir Dania sekilas.
Dia membalikkan tubuh Dania dan dengan tergesa-gesa dia membuka kain yang menutupi area sensitifnya itu dan perlahan mulai memposisikan nya ke area sensitif Dania.
Tok tok tok..
Randy Terkejut dan langsung menjauh dari Dania dan bergegas merapikan celananya, Dania pun segera merapikan dress nya saat terdengar suara ketukan pintu.
"Sayang, kalian udah siap?" tanya mama Rania.
Randy mengusap wajah kasar dan menatap Dania sekilas.
Dania tersenyum kikuk menatap Randy dan sesaat kemudian..
Hahahaha.
Randy dan Dania tertawa terbahak-bahak, Randy memeluk Dania dengan gemas.
__ADS_1
"Bentar lagi, Ma. Mama tunggu di bawah aja, dulu." teriak Dania.
"Aku lupa kalau di rumah kita ada Mama sama Papa, untung pintu kamar di kunci. Jadi, ga kecyduk kayak dulu lagi, yank, bisa brabe, kan, Mana bagian belakang aku kepampang polos hahaha." Randy masih tertawa terbahak-bahak. Entah mengapa dia menjadi geli sendiri membayangkan dia akan malu setengah mati jika sampai Mama mertuanya melihat bagian belakangnya yang terpampang polos.