
Randy dan Dania tengah duduk menemani baby Rayna yang sudah mulai di pindahkan ke ruang rawat. Setelah sebelumnya suhu tubuhnya tinggi dan juga sempat muntah, kini keadaannya sudah membaik. Meski demam tubuhnya masih belum turun, namun kini dia sudah mulai tenang dan tertidur.
Randy terus menggenggam tangan Dania, dia mencoba memberikan kekuatan pada Dania.
Dia tahu betul saat ini Dania benar-benar merasa cemas. Matanya bahkan menjadi sembab karena sejak tadi tak hentinya menangis.
"Aku keluar bentar, yank." ucap Randy.
Dania mengangguk dan Randy pun keluar dari ruang rawat baby Rayna.
"Pak Randy ..!" panggil seorang suster.
"Ya, sust." ucap Randy.
"Dokter memanggil anda, hasil lab baby Rayna sudah keluar. " ucap suster.
"Baik lah, sust." Randy pun mengikuti suster menuju ruangan Dokter.
Sesampainya di ruang Dokter, Randy pun langsung duduk berhadapan dengan sang Dokter, sementara suster yang mengantar Randy langsung pergi dari ruangan Dokter Riska.
"Hasil lab nya sudah keluar, ya. Saya akan menjelaskan hasil laporannya." ucap Dokter.
"Iya, Dok." ucap Randy.
"Sebelumnya saya mau tanya, apa rumah anda udaranya lembab?" tanya Dokter.
"Tidak, Dok." ucap Randy.
"Baik lah, untuk pelajaran ke depannya tolong lebih di perhatikan lagi lingkungan sekitar. Jangan sampai kejadian ini menimpa anak anda kembali atau anda, bahkan istri anda." ucap Dokter.
Randy menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Tolong katakan, apa yang terjadi pada anak saya?" ucap Randy.
"Anak anda terkena Demam Dengue." ucap Dokter.
"Apa? Apa maksudnya anak saya kena demam berdarah, Dok?" tanya Randy.
Randy sungguh terkejut, bagaimana bisa di rumahnya ada nyamuk aedes aegypti?
"Demam Dengue memang tak jauh berbeda dengan Demam Berdarah Dengue (DBD). Namun jika demam berdarah dengue adalah kondisi yang di sebabkan oleh virus dengue yang di bawa oleh nyamuk aedes aegypti atau aedes albopictus melalui aliran darah, nyamuk ini biasanya menggigit di pagi hari atau sore menjelang petang.
Tentunya ini dapat menyebabkan kerusakan, kebocoran pembuluh darah, hingga menurunkan kadar trombosit atau sel keping darah. Kondisi ini sangat berbahaya dan bisa menyebabkan kematian jika tidak di tangani secepatnya. Tetapi anak anda mengalami Demam Dengue, Ini adalah bentuk ringan dari virus dengue, meski gejalanya tak jauh berbeda dengan
DBD, di antaranya demam tinggi dan mual serta muntah. Namun jika anak anda dapat berhasil pulih, tubuhnya akan membentuk sistem kekebalan tubuh seumur hidupnya. Tapi tidak menutup kemungkinan anak anda pun akan mengalami hal yang sama untuk kedua kalinya." ucap Dokter.
"Apa ini berbahaya, Dok?" tanya Dokter.
"Ini tidak seberbahaya DBD, anda juga membawa baby Rayna tepat waktu jadi kami bisa langsung menanganinya. sepertinya dia di gigit nyamuk beberapa hari yang lalu. Karena biasanya gejalanya muncul sekitar tiga sampai empat hari setelah di gigit nyamuk aedes aegypti atau aedes albopictus." ucap Dokter.
Randy menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Berapa hari anak saya akan pulih, Dok?" tanya Randy.
"Biasanya penderita akan pulih setelah satu minggu sampai sepuluh hari ke depan. Saya akan selalu pantau keadaan anak anda." ucap Dokter.
"Saya sarankan, lindungi anak anda dengan mengoleskan lotion anti nyamuk saat bermain di luar, namun harus yang aman untuk bayi, atau kalau tidak, berikan dia minyak telon agar terhindar dari gigitan nyamuk. Namun yang lebih penting, lingkungan di sekitarnya pun harus lah bersih, jangan sampai terdapat genangan air atau semacamnya yang dapat menimbulkan nyamuk aedes aegypti. Tapi memang kondisi ini sering terjadi pada bayi seumuran Rayna." ucap Dokter.
Randy mengangguk dan pergi dari ruangan Dokter setelah Dokter menjelaskan panjang lebar tentang keadaan baby Rayna padanya.
Randy pergi menuju kantin, sejak pagi dia dan Dania tak memakan apapun karena langsung panik dengan keadaan baby Rayna.
Setelah selesai membeli makanan, Dia pun kembali ke ruangan baby Rayna.
"Makan dulu, yank." ucap Randy sambil memberikan kotak makanan pada Dania.
"Belum mau." ucap Dania.
Randy pun melihat jam dan sudah pukul sebelas siang.
"Kamu ga sarapan tadi pagi, ini udah masuk jam makan siang masa kamu ga laper." ucap Randy.
Dania menggelengkan kepala.
Sungguh dia tak berselera memakan apapun.
"Kamu harus makan biar sehat dan bisa jagain ade. Lagi pula, Dokter bilang ade baik-baik aja, dia akan sembuh setelah beberapa hari." ucap Randy.
"Apa hasil lab nya udah keluar?" tanya Dania.
"Udah, tadi aku di panggil ke ruangan Dokter. Ade baik-baik aja, kok. Kita bawa dia tepat waktu." ucap Randy.
Dania mengangguk dan sedikit dapat bernapas lega. Meski sebetulnya dia tetap merasa cemas melihat keadaan baby Rayna.
"Ya udah, kamu makan dulu." ucap Randy.
Dania menggeleng, sungguh dia sama sekali tak bernapsu memakan apapun.
Randy menghembuskan napas perlahan dan duduk di samping Dania.
Dia membuka kotak makanannya dan menyendokkannya.
"Aaa ..." Randy menyodorkan sesendok makanan ke mulut Dania.
"Aku ga laper, yank." ucap Dania.
"Laper ga laper, kamu harus makan. Kalau kamu sakit, siapa yang jagain ade? Terus abang gimana?" ucap Randy.
Dania pun melihat ke arah baby Rayna yang tengah tertidur.
__ADS_1
"Ya udah, aku makan sendiri aja." ucap Dania.
Randy mengangguk dan memberikan makanan itu pada Dania. Randy pun ikut makan karena sudah sejak pagi dia pun belum memakan apapun.
Tak lama datang lah kedua orang tua Randy.
"Gimana keadaan ade, Rand?" tanya Mama Randy.
Randy pun menceritakan apa yang di jelaskan oleh Dokter saat di ruangan Dokter tadi.
"Kok bisa, sih, di rumah kalian ada nyamuk ganas itu. Makanya jangan jorok jadi orang, kasihan kan, yang kena imbasnya anak kalian." ucap Mama Randy.
"Mana ada jorok sih, Ma. Namanya juga musibah." ucap Randy.
"Ya, ga akan ada musibah kalau kalian telaten ngurus anak." ucap Mama Randy.
"Udah, Ma. Ade lagi istirahat." ucap Papa Randy.
"Mama ga tega sama ade, Pa. Kasihan banget bayi sekecil ini harus kesakitan." ucap Mama Randy.
Dania hanya diam saja mendengarkan ucapan mertuanya itu.
Sungguh ucapan mertuanya itu membuat kuping Dania pengap, bagaimana pun Dania lah Ibunya, tentu saja dia pun merasa kasihan pada baby Rayna. Memangnya siapa juga yang menginginkan musibah seperti ini terjadi? Dania dan Randy bahkan sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk baby Raydan dan baby Rayna.
Beberapa saat kemudian Papa Hamish datang, namun tak ada Mama Rania yang ikut bersamanya, Mama Rania memilih menjaga baby Raydan di rumah.
"Gimana keadaan ade?" tanya Papa Hamish.
"Udah mendingan, Pa. Dia udah ga rewel lagi dan bobonya pulas." ucap Dania.
Papa Hamish pun mengangguk.
"Sejak kapan anda datang, tuan Sebastian?" tanya Papa Hamish.
"Belum lama, tuan Hamish." ucap Papa Randy.
"Di mana jeng Rania, tuan Hamish.?" tanya Mama Randy.
"Rania menjaga Raydan di rumah. Dia belum bisa kesini karena Raydan ga bisa di bawa ke rumah sakit." ucap Papa Hamish.
Mama Randy mengangguk dan mereka pun lanjut berbincang.
******
Malam harinya.
Dokter tengah memeriksa keadaan baby Rayna.
Pasalnya, belum lama ini baby Rayna suhu tubuhnya tinggi dan sempat mengalami kejang.
Dania tak hentinya menangis, dan Randy pun ikut menangis melihat baby Rayna mengalami kejang.
Melihat buah hati sakit, rasanya kita pun ikut merasakan sakit. Begitu kuatnya rasa cinta dan ikatan batin orang tua terhadap anaknya hingga ia pun akan meraskaan sakit jika anaknya tersakiti.
Randy berusaha menenangkan Dania, sementara Dania masih terus terisak di pelukan Randy.
Sedih sekali rasanya melihat bayi sekecil itu harus menderita.
"Tenang lah, Moms. Baby Rayna tidak apa-apa, kejang saat demam tinggi itu hal biasa, tidak akan memberikan efek apapun terhadap si penderita. Tetapi, memang harus di tangani dengan cepat. Kami akan terus memantau perkembangan baby Rayna." ucap Dokter.
Baby Rayna pun menangis kencang setelah tak lagi mengalami kejang.
"Berikan ASI sesering mungkin, karena ASI obat paling efektif untuk menurunkan demam pada bayi." ucap Dokter.
Dania mengangguk dan bergegas berbaring di brankar baby Rayna dan menyusuinya.
"Tapi Dok, apa di kemudian hari akan ada efek sampingnya?" tanya Randy.
"Sebagian besar tidak, anda tidak perlu khawatir, baby Rayna akan baik-baik saja." ucap Dokter.
"Baik lah, Dok, terimakasih." ucap Randy.
Dokter tersenyum dan mengangguk.
Dia sungguh kagum melihat pasangan muda ini, keduanya terlihat saling melengkapi.
Dokter pun pamit dan keluar dari ruangan baby Rayna.
Di saat tengah menyusui baby Rayna ponsel Dania berdering.
Dania pun mengerutkan dahi melihat satu nama yang ada di layar ponselnya.
Niken.
Sungguh Dia merasa muak pada Niken karena selalu memaksanya untuk mendekatkan Riko dengannya.
Dania tak menjawab telpon Niken.
Randy pun menatap ke arah ponsel Dania.
"Niken .." gumam Randy.
Randy membawa ponsel Dania keluar kamar dan menjawab telpon Niken.
"Hallo Dania, lo gimana sih, ha? Lo jangan coba-coba mainin gue, ya. Kalau lo berani, gue bakalan-
"Bakalan apa?" tanya Randy.
"Ahh , maaf Kak. apa Dania nya ada?" tanya Niken.
__ADS_1
"Jangan hubungi Dania lagi, Niken." ucap Randy dengan penuh penekanan.
"Ya ga bisa dong, Kak. Kami sudah membuat kesepakatan, dan Dania harus menepati janjinya." ucap Niken.
"Sebuah kesepakatan akan terjadi, jika sama-sama menguntungkan kedua belah pihak. Tapi disini, Lo memaksa Dania dan mencoba mengancam Dania." ucap Randy.
"Lagi pula, ancaman lo itu sama sekali ga mempengaruhi gue, karena gue percaya sama Dania. Jadi, lebih baik lo jangan ganggu Dania lagi." ucap Randy dengan nada kesal dan langsung mematikan telponnya.
"Ganggu aja, orang lagi ribet malah di gangguin." gumam Randy.
Randy pun memblokir nomor Niken dan kembali masuk ke ruangan baby Rayna.
******
Randy terbangun dari tidurnya saat mendengar suara ponselnya berdering.
Dengan malas Dia mengambil ponselnya. Dia pun mengerutkan dahi dan melihat jam di layar ponselnya.
Pukul dua pagi.
Randy pun menjawab telpon tersebut yang tak lain dari Gio.
"Hallo, Yo." ucap Randy dengan nada serak khas bangun tidur.
"Hallo, Rand. Sorry Rand, gue ganggu malem-malem." ucap Gio.
"Ya, ada apaan emang, Yo?" tanya Randy.
"Barusan gue dapat telpon dari menejer Outlet di Bandung, Outlet mengalami kebakaran, Rand." ucap Gio.
Randy membulatkan matanya dan terlonjak dari tidurnya.
"Apa? Kapan? Terus sekarang gimana? Ada korban jiwa, ga? Terus, gimana keadaan restauran?" tanya Randy dengan cemas.
Dania yang sedang tidur pun menjadi terbangun karena suara Randy yang cukup keras, untung saja baby Rayna tak terganggu oleh suara berisik sang Papa.
"Ada apa, sih, yank?" tanya Dania.
Randy tak menjawab pertanyaan Dania dan menyuruhnya untuk diam melalui isyarat tangannya.
"Ga ada korban, ini pemadam kebakaran lagi coba padamkan apinya, kemungkinan ada konsleting listrik dari restauran lain, terus merambat ke kita, Rand. Karena di lantai yang sama bukan cuma Outlet kita aja yang ke bakar. Sekarang udah ada polisi juga di lokasi. Lo kalau bisa secepatnya datang ke lokasi, ya, Rand. Soalnya gue lagi di Jepang ada urusan mendesak." ucap Gio.
Randy mengusap wajah kasar.
Dia melihat ke arah baby Rayna.
"Anak gue lagi di rawat di Rumah sakit, gue ga bisa ke Bandung. Suruh Sheila aja dulu buat cek ke lokasi." ucap Randy.
"Sheila lagi di Paris, dia lagi ada pemotretan." ucap Gio.
Randy pun mendengus kesal.
"Ya udah, deh. Gue usahakan." ucap Randy.
Randy pun menutup telpon itu dan duduk di sofa.
"Ada apa, yank? Kok kamu panik kaya gitu." ucap Dania.
"Aku harus ke Bandung." ucap Randy.
"Di saat kaya gini? Ada hal penting apa emang?" tanya Dania.
"Outlet di sana kebakaran, Gio dan Sheila ga bisa cek ke lokasi." ucap Randy.
Dania terkejut mendengar ucapan Randy.
"Terus sekarang gimana keadaan disana? Ga ada korban jiwa kan, yank?" tanya Dania.
Sungguh akan sangat panjang urusannya jika sampai ada korban jiwa.
Randy memijat kepalanya yang terasa pusing.
Belum juga selesai masalah baby Rayna, sekarang di tambah lagi dengan restauran yang mengalami kebakaran.
"Kenapa di saat kaya gini?" gumam Randy.
"Aku ga mungkin ninggalin kamu sendirian." ucap Randy.
Dania menggeleng dan duduk di samping Randy.
"Aku ga apa-apa, kok. Kamu ke Bandung aja, yank. Nanti aku minta Bibi buat temenin aku." ucap Dania.
"Kalau ada apa-apa sama ade, langsung kabarin aku, ya. Aku sih berharap ade baik-baik aja, biar aku juga tenang." ucap Randy.
"Iya, aku akan langsung kabarin kamu. Ya udah tunggu besok pagi aja, baru kamu berangkat ke Bandung." ucap Dania.
"Kamu ga apa-apa, aku tinggal pulang ke rumah? Aku mau ganti baju dulu soalnya." ucap Randy.
"Ga apa-apa, kok. Di sini juga ada suster dan Dokter jaga." ucap Dania.
Randy mengangguk dan menghampiri baby Rayna. Dia mengecup kening baby Rayna.
"Cepat sehat ya, sayang. Papa pergi dulu sebentar, Papa janji akan usahakan pulang cepat." ucap Randy.
Dania mengusap lembut bahu Randy dan Randy pun menatap Dania.
Dia pun mengecup kening Dania.
"Aku pulang dulu, kamu sama ade hati-hati, ya." ucap Randy.
__ADS_1
Dania pun mengangguk dan mengantar Randy sampai ke pintu.