Istri Jelekku

Istri Jelekku
Bab 52


__ADS_3

Randy melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang karena jalanan Ibukota lumayan ramai malam itu.


Randy terus melajukan mobilnya dan sampailah dia di Klub malam langganan nya saat dia sekolah dulu.


Randy membuka jasnya dan menggulung lengan kemejanya sebatas sikut. Randy menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar.


Randy pun mengambil ponselnya dan meminta Dio untuk menemuinya di Klub.


Randy memasuki klub dan berjalan menuju bar.


"Wah, udah lama, nih, bro, lo ga kesini" ucap sang bartender.


Randy pun tersenyum tipis.


"Gue mau yang biasa." ucap Randy.


Saat tengah menunggu pesanannya,


tiba-tiba ada gadis cantik yang mendekati Randy dan duduk di kursi sebelah Randy.


Sepertinya usianya tak jauh beda dengan Randy, karena dari penampilannya pun jelas sekali terlihat masih muda.


"Hai, sendirian aja." ucap gadis itu.


Randy tak menjawab ucapan Gadis itu.


Gadis itu pun tersenyum dan masih terus menatap Randy.


"Kayanya lo lagi suntuk, ya" ucapnya.


Lagi-lagi Randy tak menjawabnya dan membuat gadis itu kesal.


"Lo budeg, apa gimana, sih? Apa lo ga bisa lihat gue yang cantik begini?" tanya gadis itu dengan kesal.


Randy pun menatap malas pada gadis itu.


"Eiittsss ... Ada apaan, nih?" tanya Dio yang tiba-tiba datang.


Gadis itu pun mengerutkan dahinya menatap dio.


"Lo, temennya." ucap gadis itu pada Dio.


Dio pun mengangguk.


"Gue rasa temen lo ini sakit, dia ga bisa ngeliat cewek cantik ada di dekatnya." ucapnya.


Dio mengerutkan dahinya menatap Randy.


Sedangkan Randy hanya menggidikan bahunya sambil meminum minumannya.


Dio pun tersenyum dan menatap gadis itu.


"Jelas aja temen gue ga mau lihat lo, orang, bininya jauh lebih cantik dari lo, lebih seksi, lebih mulus lagi. Elo kalau di bandingin sama dia, ga ada apa-apanya, kali"ucap Dio sambil trkikik geli.


Gadis itu pun membulatkan matanya.


Wajahnya memerah dan langsung pergi meninggalkan Randy dan Dio.


Randy dan Dio pun saling tatap dan sesaat kemudian-,


Hahahaha.


Mereka berdua tertawa.


"Kasihan banget, tuh, cewek, jahat lo, Yo." ucap Randy dengan masih menahan perutnya karena terlalu keras tertawa.


Dio pun tersenyum dan langsung memesan minuman.


"Kok lo tumben, kesini? gue pikir setelah nikah lo ga bakalan kesini lagi. Kenapa tadi lo lngsung pergi, sih, dari hotel?" tanya Dio.


"Suntuk aja." ucap Randy.


Dio pun mengerutkan dahinya menatap Randy.


"Lo berantem sama Dania?" tanya Dio.


"Entah, lah." ucap Randy.


"Kalau ada masalah mendingan selesain dirumah, kasian Dania." ucap Dio.


Randy pun menatap menyelidik ke arah Dio.


"Tadi gue lihat, dia nangis di hotel." ucap Dio.


Randy pun mengangguk.


"Dio..!"panggil Randy.


"Hhmmm.."


"Apa yang bakalan lo lakuin, kalau lo denger mantan pacar cewek lo ngomong, kalau dia udah tau cewek lo luar dalamnya?" tanya Randy tanpa menatap Dio.


"Kenapa lo nanya gitu?" tanya Dio menyelidik.


"Gue nanya, kenapa lo nanya balik?" tanya Randy.


Dio pun terkikik.


"Ya, mau di apain lagi? Udah masalalu." ucap Dio santai.


Randy pun mengerutkan dahinya menatap Dio.


"Lo ga marah? Maksud gue, apa lo ga cemburu, gitu? tanya Randy.


Dio menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar.


"Mau marah, gimana? Orang, udah kejadian. Yang penting cewek gue masih virgin, yang lainnya gue ga peduli. Toh, gue aja ga sepenuhnya bener jadi orang." ucap Dio santai.


"Lo nanya kaya gini, bukan karena Dania udah enggak vir-"


Plak.


Belum sempat Dio melanjutkan ucapannya, Randy langsung memukul kepalanya.


"Aahh .. Gila, kenapa lo mukul gue?" tanya Dio sambil meringis kesakitan memegang kepalanya.


"Lu yang bener aja, dong. Enak aja istri gue udah ga virgin, gue yang lihat sendiri darah istri gue." ucap Randy kesal.


Dio pun mengangguk.


"Ya, kirain." ucap dio sambil tersenyum kikuk.


Randy terdiam sejenak, dan langsung bangun dari duduknya.


"Kemana, lo?" tanya Dio.


"Balik, bayarin minuman gue." ucap Randy dan langsung pergi tanpa mendengarkan Dio yang berdecak kesal.


"Sialan, lo yang bos, kenapa jadi gue yang bayar?" ucap Dio.


Randy langsung melajukan mobilnya kembali ke hotel.


setelah sampai di hotel, dia langsung mencari Dania, tetapi tak menemukan Dania.


"Udah pulang apa, ya." gumam Randy.


Randy pun menghubungi ponsel Dania tetapi sayangnya ponsel Dania tak dapat di hubungi.


Randy pun melajukan mobilnya menuju rumah.


Sesampainya di rumah, Randy langsung pergi ke kamarnya.

__ADS_1


"Yank .." panggil Randy sambil melihar ke sekeliling kamar.


Tak ada sahutan dari Dania. Randy pun berjalan menuju kamar mandi dan membuka pintu kamar mandi namun tak ada Dania disana.


Randy pergi menuju kamar Bibi dan berniat ingin menanyakan keberadaan istrinya itu.


"Dania udah pulang belum, bi?" tanya Randy.


"Eh, kayaknya belum deh, Den"ucap Bibi.


Randy pun mengangguk dan kembali ke kamarnya.


Tak terasa waktu berlalu dan jam sudah menunjukan pukul 22.30 wib. Randy pun semakin gelisah mondar-mandir di ruang tamu karena Dania belum juga pulang ke rumah.


Tin tin..


Randy mengerutkan dahinya mendengar suara clakson mobil. Karena penasaran, Randy pun pergi keluar rumah dan melihat mobil BMW putih tepat di depan pintu pagar rumah nya.


Randy mendekati pintu pagar dan betapa terkejutnya dia saat melihat Dania yang menunjukan wajahnya dari kaca mobilnya.


Randy pun membuka pintu pagar dan mobil itu memasuki garasi.


Begitu Dania turun dari mobil, Randy langsung mendekati Dania dan memeluknya.


"Maaf." ucap Randy pelan dengan masih memeluk Dania.


Randy pun melepas pelukannya dan menatap Dania.


"Maafin aku, yank, aku udah ninggalin kamu di hotel." ucap Randy merasa bersalah.


Dania tersenyum tipis dan berjalan memasuki rumah.


Randy pun mengekori Dania sampai ke kamar.


"yank.." panggil Randy.


"Hhmm.."


"Kamu bawa mobil siapa?" tanya Randy.


"Mobil aku." ucap Dania.


Randy terkejut dan mendekati dania.


"Kamu beli mobil?" tanya Randy.


Dania menggelengkan kepalanya dan masuk ke kamar mandi.


Setelah beberapa menit, Dania pun keluar dan mengambil dress tidurnya lalu memakainya.


"Kamu dapet mobil itu dari mana?" tanya randy.


"Itu mobil aku, hadiah ulang tahun dari Papa waktu aku ulang tahun ke-17 tahun" ucap Dania.


"Aku ga pernah lihat sebelumnya." ucap Randy.


"Emang aku ga pernah pake, tapi mulai sekarang, aku mau pake mobil itu, aku takut di tinggalin lagi kaya tadi, jadi, mendingan aku bawa mobil sendiri kalau pergi kemana-mana, biar ga repot" ucap Dania menyindir Randy.


Randy pun menjadi merasa bersalah.


Randy mencoba memeluk Dania, namun dania menghindarinya dan langsung merebahkan tubuhnya dan memunggungi Randy.


"Kamu marah, yank." tanya Randy.


Dania tak menjawab ucapan Randy.


Dia memilih memejamkan matanya yang terasa kantuk.


Randy pun menghembuskan nafas kasar dan merebahkan tubuhnya. Randy gelisah. Dia tak biasa tidur dengan keadaan istrinya yang sedang mendiamkannya.


Randy pun menatap tengkuk Dania yang terekspos dan seketika sesuatu di bawah sana menjadi menegang.


Randy pun mendekati dania dan memeluknya.


Cup.


Cup.


Randy mengecup tengkuk Dania lagi, dan lagi-lagi tak ada respon dari Dania.


Tangan Randy pun tak bisa diam dan mulai menggerayangi tubuh Dania.


Dugh.


"Aauwwv..." Randy meringis saat Dania menyikut Dadanya agak keras.


Dania pun menatap Randy dengan tajam.


Sedangkan Randy justru tersenyum polos.


"Sekali lagi gangguin aku, mendingan kamu tidur di luar, deh, aku capek, ngantuk." ucap Dania dan kembali tidur memunggungi Randy.


Randy pun memeluk guling dan menatap punggung Dania.


"Mendingan puasa, dari pada maksa istri dan ujungnya di usir keluar, kan, brabe." batin Randy.


Randy mulai memejamkan matanya dan tak lama dia pun tertidur.


******


Pukul 07.00 wib Dania dan Randy tengah menikmati sarapan. Tak ada yang bicara dan mereka memilih fokus pada sarapan.


Setelah selesai sarapan, Dania meninggalkan meja makan dan kembali ke kamarnya.


Randy pun mendengus kesal melihat Dania yang terus saja mendiamkannya.


"Bisa begitu, ya, harus nya gue yang marah gara-gara ucapan cowok sialan itu, lah, ini, kenapa jadi ke balik? Sekarang malah dia yang marah." batin Randy


Randy pun memilih pergi ke kampus tanpa berpamitan pada Dania. Percuma juga berpamitan, Dania pasti tak akan meresponnya, pikirnya.


Randy pun berjalan keluar rumah dan melajukan mobilnya.


******


Pukul 15.00 wib Randy pergi ke Office untuk sekedar menenangkan dirinya. Hari ini dia tak pergi ke Restauran karena mood nya sedang tidak baik.


Randy duduk di kursi kebesarannya dan menyenderkan kepalanya dengan mata terpejam.


Randy teringat kembali ucapan Riko semalam.


Randy mengepalkan tangannya dan mengusap wajahnya kasar.


"Sial, gue ga bisa bayangin, kalau apa yang si Riko bilang itu, bener." ucap Randy.


Sesaat kemudian Randy teringat kembali saat pertama kali dia menyentuh Dania, rasanya tak ada yang aneh dengan tubuh istrinya itu. Semuanya tampak original seperti tak pernah terjamah tangan pria manapun sebelumnya.


Soal kegadisan Dania, tentu saja tak usah di pertanyakan lagi, karena dia sendiri lah yang telah menerobos selaput dara istrinya itu.


Namun tetap saja, rasanya dia tak terima mendengar ada pria lain yang tahu bagian dalam istrinya selain dirinya.


"Tapi bener juga, gue pun ga lebih baik dulunya, gue aja brengsek dulu, tapi, kan, gue masih perjaka, Arrghh.. Dania aja masih virgin, kok." " gumam Randy kesal.


Saat ini dia merasa frustasi sendiri dan ingin segera memperbaiki hubungannya dengan Dania.


Sungguh dia tak enak hati melihat istrinya itu mendiamkannya.


Randy meminta sekretarisnya untuk menghampirinya ke ruangannya.


"Permisi, Pak, apa Bapak panggil saya." tanya Lisa, sekretaris Randy.


"Ah, iya, saya mau tanya, dong.

__ADS_1


Kamu kan cewek, kamu juga udah nikah , kira-kira kalau cewek lagi ngambek sukanya di kasih apaan, sih? Istri saya lagi ngambek, saya pusing di diemin istri, asli, ga enak banget, deh, ah" ucap Randy.


Lisa pun tersenyum.


"Kalau saya, sih, paling suka di kasih yang romantis-romantis, Pak, kejutan kecil pun ga masalah, yang penting manis, misalnya cincin emas gitu, Pak, apalagi cincin yang bermatakan berlian." ucap Lisa sambil tersenyum.


Randy tersenyum dan mengangguk.


"Selain itu, apa?" tanta Randy.


Lisa pun berpikir sejenak.


"Eemm ... Liburan romantis mungkin istri Bapak akan menyukainya." ucap Lisa.


Randy pun mengerutkan dahinya.


"Liburan romantis, maksudnya gimana?" tanya Randy bingung.


"Maksudnya, kaya semacam honeymoon gitu, Pak." ucap lisa.


Randy pun berpikir sejenak dan tersenyum.


"Bener juga, ya, gue kan sama Dania belum pernah honeymoon sampe sekarang." bathin Randy.


"Kamu boleh pergi" ucap Randy.


Lisa pun pamit dan keluar dari ruangan Randy.


******


Pukul 19.00 wib randy sampai di rumah. Dia langsung masuk ke kamar dan melihat Dania yang tengah asyik memainkan ponselnya.


Randy pun memasuki kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.


Lima belas menit berlalu, Randy pun selesai membersihkan tubuhnya.


Randy melihat Dania yang masih tetap fokus dengan ponselnya.


Randy pun mendekati Dania dan duduk di samping Dania sambil mencuri lihat layar ponsel Dania.


Dania pun menatap Randy dengan tajam.


"Ngapain, sih, kamu?" tanya Dania.


"Kamu masih marah, yank." ucap Randy.


"Pikir aja, sendiri." ucap Dania kesal.


Randy pun mendengus kesal.


"Kok jadi kamu yang marah, ya? Harusnya, tuh, aku yang marah sama kamu." ucap Randy kesal.


Dania pun menatap Randy dengan malas.


"Aku kesel kamu ga mau dengerin aku, malah ninggalin aku sendirian di hotel." ucap Dania kesal.


"Ya, maaf, kalau gitu jelasin sekarang, apa bener kamu sama dia dulu berhubungan sampe sejauh itu? Sampe dia bilang tahu kamu luar dalem." ucap Randy.


Dania menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Aku bingung sama kamu, kamu percaya sama omongan orang lain, ketimbang percaya sama apa yang kamu rasain sendiri." ucap Dania.


"Maksud kamu, apa?" tanya Randy bingung.


"Kamu tahu betul kamu sendiri yang ngambil kegadisan aku, tapi kenapa kamu malah mikir tentang aku sampe sejauh itu?" ucap Dania.


"Aku ga lupa, itu, tapi maksud aku, apa bener dia pernah lihat bagian dalam tubuh kamu? " tanya Randy.


Dania pun tersenyum sinis.


"Aku pikir kamu tulus cinta sama kau, tapi kenyataannya kamu ngeraguin aku, kamu berpikir seolah aku ini cewek nakal yang rela telanjang di depan cowok mana pun. Asal kamu tahu ini, Randy Sebastian ..! seumur hidup aku, kamu lah laki-laki brengsek yang berani melecehkan aku meski kita ga saling kenal saat itu, kamu lah orang yang pertama kali menjamah tubuh aku. Kamu tahu, Riko itu sahabat kecil aku, sejak kecil, bahkam sejak kami masih bayi kami sudah di dekatkan, kami selalu bermain bersama. Yah, aku akui, Riko ga bohong dia tahu aku luar dalam, tapi bukan maksud dia tahu bagian dalam tubuh aku, dia selalu mengerti isi hati aku, dia slalu tahu apa yang aku pikirin, apa yang aku mau, dia selalu mengerti aku saat kami masih dekat dulu." ucap Dania.


Randy hanya diam, dia mencoba mencerna ucapan Dania.


Randy menatap dania yang kini matanya sudah memerah menahan tangis.


"Maaf, yank, aku-"


Tangis dania pun pecah.


Randy langsung memeluknya dan mencoba menenangkannya.


Randy mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


Dia berlutut menatap Dania dan menggenggam tangan Dania.


"Sayang, aku mohon, tolong maafin aku, aku janji ga akan meragukan kamu lagi, yank, aku cinta banget sama kamu, yank." ucap Randy dengan penuh rasa bersalah.


Dania pun masih menangis dan tak menjawab ucapan Randy.


"Kamu mau, kan, maafin aku? Aku harus gimana, biar kamu mau maafin aku? Aku bakal ngelakuin apa aja supaya kamu mau maafin aku" ucap Randy.


Dania mengusap pipi basahnya.


"Tolong jangan samakan aku sama perempuan-perempuan nakal di luar sana, aku ga suka, aku ga kaya gitu." ucap Dania.


Randy pun memeluk Dania dan mengusap lembut punggung Dania.


"Maaf, yank, aku janji ga akan kaya gitu lagi, aku sayang banget sama kamu." ucap Randy.


Dania pun mengangguk dan membalas pelukan Randy.


setelah beberapa saat pelukan itu pun terlepas.


"Itu, apa?" tanya Dania sambil menunjuk ke arah kertas yang Randy pegang.


Randy pun tersenyum dan duduk di samping Dania.


"Kita honeymoon, yuk, yank, dari pertama nikah sampe sekarang kita belum honeymoon, loh." ucap Randy.


"Honeymoon, kemana?" tanya Dania.


"Kemana aja yang kamu mau, yang penting kamu seneng. Aku udah ga sabar pengen punya banyak anak dari kamu." ucap Randy sambil tersenyum.


"Banyak." ucap Dania heran.


Randy pun mengangguk dan tersenyum lebar.


"Sepuluh anak, atau lebih, yank." ucap Randy sambil tersenyum lebar.


Dania pun membulatkan matanya.


Dugh.


"Aauw ... Kok aku di pukul, sih, yank." ucap Randy.


"Kamu aja yang ngelahirin, aku ga mau, ya, badan aku jadi ga karuan, jadi gendut, lah, lemak dimana-mana gara-gara habis lahiran." ucap Dania.


Randy pun menggenggam tangan Dania dan menatap Dania penuh cinta.


"Denger, ini, yank, aku ga peduli seperti apa kamu setelah melahirkan nanti, aku akan tetap cinta sama kamu, cuman kamu yang ada dihati aku sampe kapan pun." ucap Randy.


"Gombal." ucap Dania sambil tersenyum tipis.


"Aku ga gombal, yank, aku serius." ucap Randy.


Cup.


Randy mengecup kening Dania.


"I love you." ucap Randy.

__ADS_1


"I love you too." ucap Dania.


__ADS_2