
Randy memeluk Dania dengan gemas, baru saja dia akan melancarkan aksinya tetapi justru harus terganggu oleh ketukan pintu dari sang Mama mertua.
"Yank udah, ihh, lepas, aku mau beresin rambut ku dulu, nanti kelamaan, deh." ucap Dania.
Cup.
Randy mengecup pipi Dania dan melepaskan pelukannya.
Dania pun lanjut untuk bersiap.
Dania menatap dirinya di cermin, dia senang sekaligus terharu saat melihat perutnya yang sudah terlihat.
Jika di kehamilan pertamanya dulu dia begitu khawatir karena berat badannya yang naik, berbeda dengan kehamilan keduanya kini, dia begitu menikmati proses kehamilannya dan tak begitu mempedulikan berat badannya yang sudah mulai naik setiap bulannya.
Randy tersenyum melihat istrinya itu tengah mesem-mesem sendiri di depan cermin.
"Udah, cantik." ucap Randy.
"Yuk, aku udah siap." ucap Dania.
Dania menghela nafas saat melihat Randy yang masih duduk dengan memainkan ponselnya.
"Ya ampun, yank, bukannya beresin dandanan kamu, malah mainin handphone." ucap Dania.
Randy tersenyum dan menyimpan ponselnya di saku celananya.
"Sini, aku bantu" ucap Dania.
Randy menggangguk dan membiarkan istrinya itu merapikan sekali lagi penampilannya.
"Uhh .. Sayang, kamu seksi banget, sih." ucap Dania sambil tersenyum nakal dan mengusap lembut jambang Randy.
Randy menahan tangan Dania yang masih berada di wajahnya.
"Jangan godain aku, dong, yank. Yang di bawah, aja ,belum sepenuhnya tidur." ucap Randy.
Dania pun tersenyum.
"Ya udah, ahh, ayo Mama udah nungguin kita." ucap Dania.
Randy mengangguk dan menggandeng Dania keluar dari kamar dan menuruni satu persatu anak tangga.
"Tuh, mereka udah siap." ucap Mama Rania pada Papa Hamish.
"Ya udah, kita jalan, sekarang." ucap Papa Hamish.
Mereka pun pergi menuju tempat acara resepesi pernikahan Riko dengan menggunakan mobil terpisah.
Setelah kurang lebih tiga puluh menit, sampailah di salah satu hotel berbintang.
Randy membukakan pintu untuk Dania dan menggandeng Dania masuk menuju Ballroom tempat acara resepsi pernikahan Riko. Sudah banyak tamu di sana, tetapi pengantinnya belum masuk ke dalam Ballroom. Masih ada waktu lima belas menit lagi untuk menuju pukul 19.00 wib.
"Anterin aku ke sana, yank." ucap Dania sambil menunjuk ke arah beberapa menu makanan yang menjadi hidangan di acara resepsi tersebut.
Randy mengangguk dan menggandeng Dania mendekati hidangan tersebut.
"Tolong ambilin itu, dong, yank. Yang , itu, juga, sama mau, ini juga, yank." ucap Dania sambil menunjuk ke arah menu yang berbeda.
Randy pun membantu mengambilkan apa yang istrinya itu inginkan.
"Thank you, yank, kamu mau?" tanya Dania.
"Mau , tapi suapin." ucap Randy.
"Uhh .. Manjanya ,deh, ini, aaa .." Dania menyodorkan sendok berisi makanan kemulut Randy dan di sambut oleh Randy.
"Enak, yank." ucap Randy.
"Humm... Ini makanan kesukaan Riko sama aku." ucap Dania dengan tersenyum manis.
"Masih inget, aja, kesukaan mantan." ucap Randy sambil mengerucutkan bibirnya.
Dania tersenyum dan mengusap lembut pipi randy.
"Jangan cemberut, nanti gantengnya hilang, loh,yank." ucap Dania.
Randy hanya tersenyum tipis mendengar ucapan istrinya itu.
Tak lama terdengar suara berisik dan ternyata pengantinnya akan memasuki Ballroom.
Dania meletakkan piringnya dan menarik Randy mendekat menuju barisan para tamu yang tengah menanti pengantin memasuki Ballroom.
Setelah beberapa urutan acara di lewati, pengantin pun mulai memasuki Ballroom.
Dari kejauhan, Dania melihat Riko yang gagah dan tampan dengan balutan jas berwarna putih tulang dan istrinya yang begitu cantik dan anggun dengan balutan gaun yang senada tentunya dengan Riko.
Riko tersenyum pada Dania begitu dia berjalan tepat di hadapan Dania.
Dania pun membalas senyuman Riko. Mata Dania memerah, dia sungguh bahagia sekaligus terharu karena akhirnya sahabat kecilnya itu telah resmi berstatus sebagai suami orang.
Tanpa sadar air mata Dania pun sudah berada diujung mata, segera dihapus dengan tangannya. Randy yang sejak tadi memperhatikan ekspresi Dania pun merangkul bahu Dania. dania menatap Randy yang tengah tersenyum padanya.
Tak ada perasaan cemburu di hati Randy, dia tahu Dania menangis haru karena melihat sahabat kecilnya itu sudah menikah dan sudah akan memulai hidup barunya.
Setelah beberapa saat akhirnya giliran para tamu menyalami sang pengantin.
Randy menggenggam tangan Dania dan tersenyum menatap Dania. Dania menghembuskan nafas perlahan, dan membalas senyuman Randy.
perlahan Randy mulai menuntun Dania menuju pelaminan untuk menyalami Riko.
Begitu di depan Riko Dania tak sanggup lagi menahan tangisnya dan akhirnya mengalir lah air matanya membasahi pipi mulusnya.
Riko tersenyum menatap Dania, dia akan mengusap pipi basah Dania namun dia urungkan niatnya begitu Randy lebih dulu mengusap air mata Dania.
"Selamat ya, semoga pernikahan kalian langgeng terus dan semoga kalian bahagia." ucap Dania sambil tersenyum manis.
"Makasih ya, doa yang sama buat kamu sama suami kamu." ucap Riko yang matanya juga mulai memerah, Entah apa yang Riko rasakan saat ini berada di hadapan Dania, wanita yang pernah dia cintai atau mungkin masih dia cintai.
Dania mengangguk dan beralih menyalami istri Riko.
Dania tersenyum menatap istri Riko, istri Riko begitu cantik dan manis, Dania yakin, tak akan lama lagi Riko pasti akan jatuh cinta pada istrinya itu.
"Selamat, ya." ucap Dania sambil memeluk istri Riko.
Randy mengusap lembut bahu Dania.
"Udah yank, lihat di belakang lagi ngantri." ucap Randy.
Dania mengangguk dan Randy pun menggandeng Dania turun dari pelaminan.
"Apa kamu bahagia, yank?" tanya Randy.
"Heueum.. Banget, akhirnya Riko nikah juga." ucap Dania.
"Aku juga seneng ,yank, ga ada lagi yang gangguin hubungan kita." ucap Randy.
"Riko belum nikah, aku ga akan kegoda, yank, nama kamu itu udah lekat banget di hati aku, yank " ucap Dania.
"Namanya, doang." ucap Randy sambil memasang wajah cemberut.
"Ya, semuanya pokonya yang ada di diri kamu itu ada di dalam hati dan pikiran aku. Pokoknya, ga ada yang bisa geser posisi kamu di hati aku." ucap Dania dengan tersenyum manis.
__ADS_1
Randy tersenyum lebar mendengar ucapan istrinya itu.
Dia pun mencubit gemas pipi Dania.
"Sejak kapan istri aku ini pintar gombal, heum?" tanya Randy dengan gemas.
"Sejak kenal kamu, si tukang gombal." ucap Dania.
Randy merangkul bahu Dania.
"Apa yang aku ucapin, ga ada yang gombal, yank. Semua itu emang nyata dan itu keluar dari dalam hati aku, melalui bibir aku" ucap Randy.
Dania mengangguk dan memeluk Randy.
Setelah acara selesai, Randy dan Dania pun kembali ke rumah setelah menyalimi orang tua Dania.
*********
Keesokan harinya..
Sore ini Randy dan Dania sudah berada di Rumah Sakit untuk mengecek kandungan Dania.
"Silahkan berbaring, kita akan mulai periksa." ucap Dokter.
Dania pun berbaring di atas brankar dan dokter mulai memakaikan gel di perut Dania sebelum melakukan pemeriksaan.
"Apa kalian mau dengar, detak jantungnya?" tanya Dokter yang bername tag Ika itu.
"Apa bisa, Dok?" tanya Randy.
Dokter tersenyum dan mengangguk.
"Ini dia, suara detak jantungnya." ucap Dokter.
Randy dan Dania mendengarkan dengan seksama.
Dug dug dug ..
Jantung Randy berdegup kencang saat mendengar suara detak jantung calon buah hatinya itu.
"Apa itu suara detak jantungnya, Dok?" tanya Randy dengan matanya yang sudah memerah.
"Iya, betul, itu suara detak jantungnya. Dan bayi nya terlihat sehat, ya." ucap Dokter Ika.
Randy tak kuasa lagi menahan rasa harunya. Untuk pertama kalinya dia mendengar suara detak jantung calon buah hatinya itu. Dia sungguh tak menyangka bisa mendengarkannya. Dulu. di saat kehamilan pertama Dania, Randy dan Dania tak sempat mendengarkan detak jantung calon buah hatinya karena kejadian tak terduga justru menimpa Dania dan sampai membuatnya harus kehilangan sang janin yang masih berada di dalam perut.
Dania tersenyum melihat Randy menangis. Dia pun sama bahagianya mendengar suara detak jantung sang calon buah hatinya.
Da yang lebih membuat Randy dan Dania bahagia karena ada hal mengejutkan yang membuat dada mereka rasanya akan meledak saking bahagianya. Randy dan Dania benar-benar bersyukur. Ungkapan tentang;
"Akan ada hikmah di balik setiap ujian atau pun musibah yang terjadi."
Ungkapan itu memang benar adanya. meski mereka pernah mengalami sakitnya saat kehilangan calon buah hati pertama mereka, tetapi ternyata Tuhan memiliki kejutan yang sungguh luar biasa setelahnya.
setelah selesai di periksa dan menebus vitamin Ibu hamil, Randy dan Dania pun kembali ke rumah.
Di perjalanan menuju Rumah, Dania merasakan ingin memakan sesuatu.
"Aku mau makan martabak keju, dong, yank" ucap Dania.
"Iya, nanti kalau ada yang jual kita berhenti." ucap Randy.
Tak lama akhirnya terlihat lah yang berjualan martabak.
Randy memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dan memesan martabak keju yang Dania inginkan dari dalam mobil.
Setelah menunggu lumayan lama karena pembelinya cukup banyak dan mengantri akhirnya pesanan Dania pun selesai.
"Kita, pulang" ucap Randy.
"Mau, makan sop durian, dong, yank." ucap Dania.
"Di mana, nyarinya?" tanya Randy.
"Ya, ga tau, kita keliling aja, cari." ucap Dania.
Randy mengangguk dan mulai menyusuri jalanan mencari sop durian yang Dania inginkan.
Cukup lama mencari mereka tak juga menemukan penjual sop durian.
"Kita cari di aplikasi aja deh, yank, siapa tahu ada?" ucap Randy.
Dania menggelengkan kepalanya.
"Aku mau makan di tempatnya, yank." ucap Dania.
"Ya, tapi dari tadi kita ga nemu yang jualan sop durian, yank." ucap Randy dengan nada agak kesal.
Dia kesal, karena sejak tadi tak kunjung menemukan yang berjualan sop durian.
Akhirnya Randy pun memilih bertanya pada orang-orang yang melintas di jalanan.
Ada yang menunjukkan ke arah menuju kafe yang menjual sop durian.
Randy pun bergegas berputar arah dan melajukan mobilnya ke arah yang sudah di beritahukan oleh seseorang saat dia bertanya tadi.
"Bagi martabaknya, dong, yank." ucap Randy.
Randy mulai merasa lapar karena sudah memasuki jam makan malam.
"Habis, yank." ucap Dania.
Randy melotot dan melihat ke arah tempat martabak yang sudah kosong tak ada isinya.
"Kamu habisin beneran, yank. Apa iya, satu loyang kamu habisin semua?" tanya Randy menatap tak percaya pada istrinya itu.
"Apa Dania udah mulai ngidam?" bathin Randy.
Randy pun merasa beberapa hari ini rasa mualnya tak separah saat awal-awal dulu.
"Iya, aku habisin, semuanya." ucap Dania sambil tersenyum polos.
Randy tersenyum dan mengangguk.
Dia pun memilih fokus mengemudi kembali.
Beberapa menit kemudian, sampai lah di salah satu kafe yang menjual sop durian.
"Lah, ini kan, tempat yang kita lewati, tadi." ucap Randy.
"Iya, ya." ucap Dania.
"Parah ,sih, dari tadi di lewatin malah ga ketahuan kalau ada sop durian, disini." ucap Randy agak kesal.
Randy dan Dania pun turun dari mobil dan masuk ke dalam kafe tersebut.
"Rand ..!" Panggil seseorang.
Randy melihat ke arah datangnya suara dan terlihat Dio tengah melambaikan tangannya dan ada seorang gadis imut, dan manis yang tengah duduk di samping Dio.
Randy menuntun Dania untuk menghampiri Dio.
__ADS_1
"Lo disini juga." ucap Dio.
"Iya, noh, Dania, pengen makan sop durian, katanya." ucap Randy.
Dio mengangguk dan mengajak Randy duduk bergabung dengannya.
"Gimana, yank? Kamu mau duduk disini, gabung sama si Dio?" tanya Randy.
"Aku sih, mau-mau aja, seru juga, kan, kita jadi double date." ucap Dania sambil tersenyum manis.
Randy mengangguk dan menarik kursi meminta Dania untuk duduk.
Dania langsung memesan sop durian yang sudah sedari tadi memenuhi pikirannya.
Sambil menunggu pesanan datang, Dania pun membuka pembicaraan.
"Hai, aku Dania." Dania memperkanalkan dirinya pada gadis di samping Dio.
"Aku Meli, Kak." ucap gadis tersebut.
"Kok Kakak, sih, panggil nama aja." ucap Dania sambil tersenyum manis.
"Enggak Kak, aku ga enak." ucap Meli dengan tersenyum tak kalah manisnya.
"Lah, emang berapa usia kamu?" tanya Dania.
"16 tahun, Kak." ucap Meli.
"Ohh .. Masih SMA." ucap Dania.
"Iya, Kak." ucap Meli.
Gadis itu terlihat manis dan lugu.
"Bokin baru, lo, yo?" bisik Randy.
"Belom , masih PDKT." ucap Dio.
"Lah, tumben lo deketin anak kecil. Biasanya tante girang yang lo deketin." ucap Randy.
Plak.
"Gila, kenapa lo mukul gue?" Randy meringis kesakitan saat Dio memukul kepalanya.
"Lo, sih, ember. Kan, brabe kalau sampe si Meli denger." ucap Dio kesal.
"Ya, kan, biasanya lo suka yang lebih pengalaman, tapi yang ini kayanya beda, kelihatannya lugu, gitu, yak." bisik Randy.
"Kelihatannya aja, lugu. Lo belum tahu, aslinya." ucap Dio sambil menyeringai.
Randy dan Dio pun terkikik geli berdua.
"Kalian kaya sepasang kekasih aja, mesra." ucap Dania sambil terkekeh melihat Randy dan Dio.
"Lah, kamu ga tahu, Dania. Si Randy, tuh, waktu SMP dulu, dia ga bisa jauh-jauh dari aku, dia bahkan ga bisa tidur kalau aku ga ada di sampingnya, semenjak SMA aja dia jadi sembuh." ucap Dio sambil terkikik geli.
Dania membulatkan matanya terkejut mendengar apa yang Dio katakan.
Plak.
Randy memukul balik kepala Dio.
"Sialan, jangan di dengerin, yank. Aku pria sejati, dan kamu juga udah sering lihat buktinya, kan." ucap Randy.
Dio dan Dania pun terkikik mendengar ucapan Randy.
Sementara Meli hanya mesem-mesem.
Tak lama pesanan Dania pun datang.
"Apa Kakak lagi hamil?" tanya Meli.
"Iya, Kenapa?" tanya Dania.
"Kalau lagi hamil ga boleh makan durian, Kak." ucap Meli.
Randy dan Dania pun saling tatap. Mereka merasa bingung dengan ucapan Meli.
"Emang, kenapa?" tanya Randy.
"Katanya, sih, suka bikin janin di perut jadi keguguran." ucap Meli.
"Apa ..?" Randy dan Dania terkejut mendengar ucapan Meli.
"Yank .." rengek Dania.
"Jangan di makan dulu." ucap Randy.
Randy mengambil ponselnya dan menghubungi dokter Ika, Dokter kandungan Dania.
"Kamu tahu dari mana?" tanya Dio.
"Kata orang tua, gitu, Mama aku juga ngelarang Kakak aku makan durian, waktu hamil." ucap Meli.
Dania menelan air liurnya melihat sop durian yang sudah berada di depan matanya.
"Boleh kok, kata dokter Ika." ucap Randy yang baru saja seleai bicara di telpon dengan Dokter kandungan Dania.
"Seriusan, yank." ucap Dania memastikan.
Dia takut akan terjadi hal yang tidak di inginkan jika salah mendapatkan informasi.
"Iya, kata Dokter Ika boleh, tapi jangan terlalu berlebihan. Ya, apapun yang berlebih, itu, kan , memang ga baik, yank, jadi makan secukupnya aja." ucap Randy.
Dania mengangguk dan mulai memakan sop duriannya.
"Kalau yang lain berlebihan ga apa-apa, yank." ucap Randy sambil menyeringai.
"Misalnya kaya apa?" tanya Dania.
"Ya, misalnya bikin dede banyak-banyak, itu, baru ga apa-apa, yank." ucap Randy sambil tersenyum lebar.
Dania terkekeh mendengar ucapan Randy.
Sementara Dio menatap malas pada Randy.
"Amit-amit dah, di otak lo ena-ena mulu, isinya." ucap Dio.
"Halah .. Bilang aja lo ngiri karena ga bisa ena-ena kaya gue, uhhh .. Mantep, loh, Yo. Lo bakalan ketagihan begitu nyobain. Rasanya beda jauh sama main sendiri." ucap Randy sambil terkikik.
"Sialan lo, jangan manasin yang belum kawin, ini, woy." ucap Dio.
Randy terkikik melihat ekspresi kesal Dio.
"Udah yank, nanti Dio ngiler, loh, di ledekin mulu " ucap Dania sambil tersenyum manis.
"Iya, deh, kasihan juga yang jomblo, ngenes Lo, Bro." ucap Randy.
"Ejek aja terus, hina aja terus, ade ikhlas bang, asal abang bahagia." ucap Dio dengan suara di buat seperti suara wanita.
"Najis, geli gue dengernya." ucap Randy sambil bergidig.
__ADS_1
Sesaat kemudian mereka pun tertawa.