Istri Jelekku

Istri Jelekku
Bab 110


__ADS_3

Dania terkekeh mendengar Randy mendengus kesal karena dia tinggal tidur lebih dulu.


Sebetulnya dia belum benar-benar tertidur.


Dalam hatinya, rasanya dia ingin sekali tertawa keras. Ternyata tak ada yang berubah dari suaminya itu meski saat ini tengah kehilangan sebagian memori ingatannya.


suaminya itu ternyata masih saja gampang tergoda. Meski sebetulnya tak ada niat untuk Dania menggoda Randy dan membuat Randy tersiksa. Dia tahu betul suaminya itu memang gampang sekali tergoda, karena itu saat ini Randy pasti tengah merasakan kesakitan di area sensitifnya.


Sebetulnya Dania sama sekali tak merasa keberatan jika Rendy memintanya langsung. Toh, meski Randy kehilangan sebagian memori ingatannya, Randy tetaplah suami sahnya. Hanya saja, Randy sendiri tak ingin memintanya langsung. Padahal, biasanya Dania tidur atau pun tidak , jika Randy menginginkannya, Randy akan memaksa dan membangunkannya. Dania pun mengerti saat ini Randy mungkin masih ragu untuk melakukan semua itu.


Dania kembali memejamkan matanya saat terdengar suara pintu kamar mandi terbuka.


Randy mendekati tempat tidur dan mulai merebahkan tubuhnya dan tak lama Randy pun terlelap.


Setelah menunggu beberapa saat, dan saat di rasa Randy sudah benar-benar terlelap Dania pun membalikkan tubuhnya dan kini berhadapan dengan Randy.


Dania tersenyum dan mengusap lembut pipi Randy.


"Aku rindu kamu, yank. Aku akan selalu mendampingi kamu apapun yang terjadi." batin Dania.


Dania pun memejamkan matanya dan mulai terlelap.


******


Keesokan harinya.


Dania tengah sibuk mencari sesuatu di kamar, sementara Randy tengah mengajak bermain baby Rayna dan baby Raydan yang tengah duduk di stroller nya. Tak terasa sebentar lagi kedua bayi menggemaskan itu akan memasuki usia 6 bulan. Kini kedua bayi itu pun sudah mulai belajar duduk meski sesekali masih terjatuh ke belakang dan tertidur kembali.


Randy pun melihat bingung ke arah Dania.


"Nyari apa, sih?" tanya Randy.


"Nyari kunci mobil, aku bisa telat ke Kampus." ucap Dania.


"Ada sama gue." ucap Randy dengan santai.


Dania terdiam dan menatap tajam ke arah Randy. Sudah sejak tadi dia merasa kebingungan mencari kunci mobilnya, namun nyatanya kunci mobil itu justru berada di tangan Randy.


"Kok ga bilang, sih? Aku kan ga harus bingung nyariin kalau kayak gitu." ucap Dania dengan nada kesal.


Dia sudah akan terlambat datang ke Kampus, Randy justru mempermainkannya.


"Kita pergi bareng ke kampus." ucap Randy.


"Apa? Kenapa?" tanya Dania bingung. Kenapa juga suaminya itu tiba-tiba saja ingin pergi bersamanya ke Kampus.


"Lo lupa, ya, semalam kita udah sepakat kalau kita akan memulai kembali segalanya bersama? Jadi, apa salahnya kalau gue mau pergi bareng lo ke Kampus?" ucap Randy.


Dania terdiam sejenak, dia melihat ada sesuatu yang aneh pada Randy. Pasalnya beberapa hari yang lalu suaminya itu begitu membencinya, namun semenjak kemarin tingkahnya menjadi berubah drastis.


Dania menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan. Dia tak ingin berpikir negatif pada suaminya itu. Bagaimana pun juga semalam Randy sudah mengatakan ingin mencoba mengingat semuanya kembali, dan Dania pun mau membantunya.


"Oke, tapi kita udah mau telat, nih." ucap Dania.


"Ya udah, ayo berangkat sekarang." ucap Randy sambil bangun dari duduknya.


Dania mengangguk dan mengecup pipi kedua bayi menggemaskan yang tengah berceloteh ria, kedua bayi itu seolah tengah mengobrol dan saling menyahut. Sungguh membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa gemas.


Randy pun ikut mencium pipi kedua bayinya dan mereka pun pergi menuju Kampus.


******


Sesampainya di Kampus.


Randy memarkirkan mobilnya dan Dania pun akan turun dari mobil.


"Aku duluan, ya." ucap Dania sambil membuka pintu mobil.


Randy terdiam dengan pandangannya melihat ke arah Dania. Matanya bahkan tak berkedip sama sekali. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini.


Dania yang merasa di perhatikan pun mengurungkan niatnya untuk turun lebih dulu.


"Kenapa?" tanya Dania.


"Ga apa-apa." ucap Randy sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya udah, aku turun duluan." ucap Dania.


Randy pun mengangguk dan Dania langsung keluar dari mobil, dia pun pergi menuju kelas lebih dulu. Setelah itu Randy pun keluar dari mobil dan pergi menuju kelas.


Tak lama kelas pun dimulai. Semua mahasiswa tampak memperhatikan apa yang sedang dijelaskan oleh Dosen, sementara Randy justru tengah memperhatikan yang lain, tepatnya memperhatikan Dania yang duduk di kursi yang berada disebelah kanan tempatnya.


Dia melihat Dania dengan tatapan bingung, entah dia bingung karena apa, yang jelas tatapan itu terlihat tak biasa.


Sesaat kemudian Dania melihat ke arah Randy dan Randy pun tersenyum tipis kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Dosen.


******


Jam kelas pun berakhir.


Semua mahasiswa beranjak keluar dari kelas, namun Dania memilih diam di kelas.


Tak hanya Dania, Randy dan Dino pun memilih diam di kelas dan tak pergi menuju kantin.


Dania mengambil ponselnya dan menghubungi Dita untuk mengetahui keadaan baby Raydan dan baby Rayna.


Tak lama video call pun tersambung.


"Hai, kesayangan Mommy." ucap Dania begitu terlihat wajah baby Raydan dan baby Rayna yang ternyata tengah bermain dengan kedua baby sitter nya.

__ADS_1


Randy yang mendengar Dania menyebut "kesayangan Mommy" pun langsung mengalihkan pandangannya pada Dania. Dino bahkan terkejut mendengar Dania menyebut dirinya sebagai Mommy.


"Apa iya, dia udah nikah?" ucap Dino.


"Udah, udah punya anak dua." ucap Randy tiba-tiba.


Dino mengerutkan dahinya dan menatap menyelidik kearah Randy.


Seketika Randy pun menjadi canggung.


"Kok lo tahu, Rand?" tanya Dino.


"Itu, gue pernah lihat dia dorong stroller bayi pas di Mall, makanya gue nebak aja, sih, itu pasti anaknya." ucap Randy dengan salah tingkah. Entah mengapa Randy tak ingin mengakui Dania sebagai istrinya, dia justru berbohong demi mengalihkan perhatian Dino.


Tanpa curiga Dino pun mengangguk dan mengajak Randy menuju kantin. Mereka pun pergi menuju kantin sementara Dania masih tetap bicara lewat video call bersama kedua bayi menggemaskan itu.


Beberapa menit kemudian Dania mematikan video call nya dan kini dia tengah memejamkan matanya sambil mendengarkan musik menggunakan headset di telinganya.


Dia terkejut saat ada sesuatu yang dingin menyentuh pipinya.


Dia langsung membuka matanya dan melihat Randy yang tengah terkekeh sambil menatapnya.


"Iseng banget, sih." ucap Dania.


Randy hanya tersenyum dan memberikan kantong plastik di tangannya yang berisi minuman dingin dan sebungkus roti pada Dania.


Dania menatap bingung ke arah Randy.


"Dimakan." ucap Randy.


Dia pun duduk di kursinya dan memakan roti miliknya.


Dania pun membuka roti itu dan memakannya.


Setelah jam istirahat selesai, jam kelas kedua pun di mulai.


Ada pemberitahuan bahwa minggu ini kampus akan mengadakan acara outbound di Daerah Ciloto, Puncak Bogor.


Semua mahasiswa pun antusias menyambut acara tersebut.


Sementara Randy dan Dania mereka justru saling tatap. Entah apa yang ada di pikiran mereka masing-masing.


******


Kelas pun berakhir.


Di perjalanan menuju apartemen, Randy dan Dania hanya saling diam. Dania fokus melihat jalanan, sementara Randy fokus menyetir hingga tak terasa sampailah di apartemen mereka.


"Sebentar." ucap Randy sambil menahan tangan Dania begitu Dania akan turun dari mobil.


"Kenapa?" tanya Dania.


"Lo mau ikut outbound?" tanya Randy.


"Aku tergantung kamu, kalau kamu ngizinin, aku ikut. Tapi, kalau kamu ga izinin, aku ga ikut." ucap Dania.


"Kalau kamu? Apa kamu mau ikut? Dan apa kamu ngizinin aku ikut? " tanya Dania.


Randy menghembuskan napas perlahan.


"Belum tahu, kasihan anak-anak kalau ditinggal." ucap Randy.


Dania pun terdiam. Sebetulnya dia berharap Randy mengizinkannya untuk ikut dan Randy pun ikut ke acara itu, setidaknya dia memiliki banyak waktu bersama Randy, mungkin dengan begitu ingatan Randy akan cepat kembali. Namun juga jika memikirkan anak-anak, memang kasihan jika harus meninggalkan anak-anak hanya bersama baby sitter mereka, Dania pun tak akan tega meninggalkan kedua bayinya itu.


Randy dan Dania pun turun dari mobil.


Begitu sampai di unit apartemennya, Dania langsung pergi menuju kamar baby Raydan dan baby Rayna.


"Hai, Mbak." sapa Dania pada Dita dan Ajeng.


"Eh, Non. Udah pulang." ucap Dita.


Dania mengangguk dan mendekati baby Rayna dan baby Raydan. Terlihat kedua bayi menggemaskan itu tengah tertidur pulas.


"Mereka ga rewel kan, Mbak?" tanya Dania.


"Nggak, Non. Mereka bayi yang manis, mereka ga pernah rewel." ucap Dita sambil tersenyum melihat kedua bayi itu.


Dania mengangguk dan mengusap lembut pipi baby Raydan baby Rayna. Kedua bayi itu benar-benar menggemaskan. Dania begitu beruntung karena selain manis, kedua bayi itu pun tampak tumbuh sehat dan tak pernah rewel.


Ting tong.


Dania keluar dari kamar dan pergi menuju pintu begitu mendengar suara bel. Di lihatnya Randy yang tengah membukakan pintu.


Ternyata ada Papa Hamish dan Mama Rania yang datang berkunjung ke apartemen.


"Maaf, cari siapa, ya?" tanya Randy bingung.


Papa Hamish dan Mama Rania saling tatap. Mereka lupa bahwa Randy sedang mengalami amnesia. Sejujurnya orang tua Dania sudah sejak jauh-jauh hari ingin melihat keadaan Randy, namun mereka baru saja selesai melakukan perjalanan bisnis yang cukup panjang, karena itu mereka baru bisa datang hari ini. Mereka hanya mengetahui kabar dari Dania bahwa akibat dari kecelakaan itu, Randy menjadi kehilangan sebagian memori ingatannya. Namun meski begitu, orang tua Dania tetap mendukung Dania untuk berusaha mengembalikan ingatan Randy yang hilang. Sang Papa bahkan membantu Dania masuk kedalam universitas dan masuk ke kelas yang sama dengan Randy. Papa Hamish dan Mama Rania bahkan mengetahui kini Dania kembali menyamar demi untuk dekat dengan Randy.


Dania menghampiri orang tuanya dan menyalami mereka.


"Mereka itu orang tua aku, mereka mertua kamu." ucap Dania.


Randy terkejut mendengar bahwa yang kini ada dihadapannya adalah orang tua Dania. Seketika dia menjadi canggung dan langsung menyalami orang tua Dania.


"Maaf, aku ga ada maksud untuk ga sopan, tapi aku -"


"Ga masalah, kami mengerti kamu sedang kehilangan sebagian memori ingatan kamu, tapi kami yakin, kamu pasti akan secepatnya pulih kembali." ucap Mama Rania.

__ADS_1


Randy mengangguk dan mempersilahkan mertuanya itu untuk masuk.


"Dimana anak-anak?" tanya Papa Hamish.


"Ada di kamarnya, Pa." ucap Dania.


"Papa kangen banget sama cucu-cucu Papa." ucap Papa Hamish.


Dania tersenyum dan pergi menuju dapur untuk membuatkan minum.


"Kami bawa oleh-oleh buat Abang sama ade, Mama juga masakin makan siang untuk kalian." ucap Mama Rania sambil berlalu menuju dapur dan meletakkan makanan yang dia bawa.


" Mama mau nemuin cucu-cucu sayangnya Mama dulu, udah kangen banget soalnya." ucap Mama Rania dan berlalu menuju kamar baby Raydan dan baby Rayna.


Sementara di ruang tamu kini hanya tinggal Papa Hamish dan Randy.


"Gimana keadaan kamu, Rand?" tanya Papa Hamish sambil menatap Randy.


"Udah lebih baik, Om." ucap Randy.


Papa Hamish mengerutkan dahinya mendengar Randy memanggilnya Om, bukan lah Papa seperti biasanya.


"Maaf, Om. Eh, Pa, aku masih belum terbiasa." ucap Randy canggung.


"Ga masalah." ucap Papa Hamish.


"Apa kalian baru pulang dari kampus?" tanya Papa Hamish begitu Dania sampai diruang tamu dengan membawakan tiga gelas minuman dan meletakkannya dimeja.


"Iya, belum lama sebelum Papa sama Mama datang." ucap Dania.


Papa Hamish pun mengangguk.


Tak lama Mama Rania kembali ke ruang tamu dengan wajah cemberutnya.


"Loh, Mama kenapa?" tanya Papa Hamish.


"Abang sama ade lagi tidur, padahal Mama kangen mau main sama mereka." ucap Mama Rania.


Dania pun terkekeh melihat ekspresi menggemaskan Mamanya itu. Meski sudah tak muda lagi, namun sang Mama masih terlihat cantik dan awet muda. Bahkan bentuk tubuh Dania dan sang Mama terlihat sama dan tak jauh berbeda, jika saja wajah keduanya mirip, tentunya mereka akan terlihat seperti Kakak beradik. Namun wajah Dania memang lebih banyak mirip dengan sang Papa.


"Ya udah, Ma, Pa. Mendingan kita makan siang dulu aja." ucap Dania.


Papa Hamish dan Mama Rania pun mengangguk dan pergi menuju meja makan. Sementara Randy masih terdiam sambil melihat ke arah kedua mertuanya itu. Rasanya masih seperti mimpi, dia tak menyangka begitu bangun dari mimpi buruknya yang di akibatkan oleh kecelakaan itu, dia justru harus menghadapi kenyataan bahwa dia sudah memiliki keluarga baru.


Dia pun menyusul menuju meja makan dan ikut makan siang bersama.


"Oh, ya, apa Minggu ini kalian ada acara? Main-main dong, ke rumah Mama, bawa juga anak-anak." ucap Mama Rania.


Randy dan Dania menghentikan makan mereka dan saling tatap.


"Maaf, Ma, Minggu ini kami ada acara kampus. Jadi, kami ga bisa datang." ucap Randy.


Mama Rania menatap Randy bergantian dengan Dania dan tersenyum.


"Ya sudah, kalian belajarlah yang sungguh-sungguh, mumpung masih muda,tapi juga jangan mengabaikan tugas kalian sebagai orang tua." ucap Mama Rania.


Randy pun mengangguk. Sementara Dania merasa bingung dengan apa yang baru aja Randy ucapkan. Pasalnya belum lama Randy mengatakan bahwa dia kasihan jika harus meninggalkan anak-anak, namun nyatanya dia justru memilih untuk datang ke acara kampus.


******


Seminggu kemudian.


Dania dan Randy datang terpisah menuju kampus, mereka datang menggunakan taksi karena selanjutnya akan pergi menuju lokasi outbound dengan menggunakan bus.


Begitu turun dari taksi, Dania terlihat kesulitan membawa tas ranselnya yang cukup besar.


"Hei." ucap Salah seorang mahasiswa sambil mendekat ke arah Dania.


Penampilan mahasiswa itu sama persis seperti Dania, memakai kacamata tebal namun tak memiliki tompel di wajahnya.


"Sini aku bawain tas kamu." ucapnya.


Dania mengerutkan dahinya dan menatap bingung ke arah mahasiswa itu.


"Ga usah, aku bisa sendiri." ucap Dania.


"Ga apa-apa, aku ga tega lihat cewek bawa barang-barang berat." ucapnya.


Dania menghela napas sejenak dan mengangguk. Tak ada salahnya bukan, jika ada seseorang yang berniat membantu?


Dania pun memberikan tas ranselnya pada pria itu.


Pria itu pun membawakan tas Dania kedalam bus.


Begitu Dania masuk kedalam bus, Dania memilih duduk di kursi paling belakang, namun belum sampai dikursinya, tiba-tiba saja ada yang tak sengaja menabraknya dari belakang dan membuatnya tersungkur jatuh.


Dania membulatkan matanya saat tak sengaja kacamata dan tompel nya terlepas. Dengan segera dia akan mengambil tompel itu, namun tiba-tiba saja ada kaki yang menginjak tompel palsunya itu.


Seketika jantungnya berdegup kencang, dia tak berani melihat ke arah orang tersebut.


Dia pun menutupi pipi kanannya dan perlahan akan berdiri, namun orang itu sudah lebih dulu berjongkok, orang itu menarik paksa tangan Dania dan membuat Dania terkejut. Tak jauh beda dengan Dania, orang itu bahkan lebih terkejut melihat wajah asli Dania.


******


Hai, hai, readers manisnya author 🤗


Kalian masih aja pada ribut kalau author ga up, sebenarnya author senang, sih, itu tandanya kalian begitu antusias menanti kelanjutan cerita Istri Jelekku ini.


Tapi sebelumnya kan author sudah pernah bilang, kalau author telat update, silahkan kalian cek kolom komentar, kemarin author sudah tulis pemberitahuan loh kalau author sedang sibuk sampai author ga bisa ngetik kemarin itu. Tapi sayangnya kalian ga baca pemberitahuan yang author tulis.

__ADS_1


Oh, ya, author mau bilang makasih untuk yang sudah bantu vote novel Istri Jelekku, tolong dukung terus dengan cara bantu vote ya, readers manisnya author 🤗🤗🤗😘😘😘


Oh, ya, yuk, di follow IG author @dania_zulkarnaen, love you all 🤗🤗😘😘


__ADS_2