
Randy keluar dari hotel, dan bergegas pergi menuju kontrakan Jorgie setelah sebelumnya Jorgie mengabarkan bahwa orang itu sudah sadarkan diri.
Di perjalanan menuju kontrakan Jorgie, Randy mendapatkan sebuah panggilan telpon dari Dio.
"Halo, Yo."ucap Randy.
"Halo, Rand. Lo dimana, sih?"tanya Dio dengan nada agak kesal.
"Di Bogor, kenapa?"tanya Randy dengan bingung.
"Apa? Ngapain lo di Bogor?"tanya Dio.
"Gue ada urusan kerjaan disini, kenapa, sih?"tanya Randy.
"Ya Tuhan, bisa-bisanya lo sesantai itu sementara gue disini tersiksa."ucap Dio dengan nada kesal.
"Lah, lo kenapa?"tanya Randy dengan bingung.
"Sialan, gue dari pagi nge-jogrog di depan rumahnya Dania, dan lo bilang kenapa? Gue ga makan siang, Rand. Gue bahkan belum makan malam sekarang. Sampai kapan gue harus pantengin rumah Dania, Rand? Kenapa lo tega sama gue, sih, Rand? Sumpah, gue lapar, Rand, lapar. Ya Tuhan, perut gue sakit, Rand."ucap Dio.
Dio terus berbicara tanpa memberikan waktu untuk Randy dapat menjawab ucapannya.
"Sumpah, Yo. Gue lupa kalau lo lagi di depan rumah Dania. Sorry, Yo. Lo boleh pulang deh, sekarang."ucap Randy.
Dio pun mendengus kesal, bisa-bisanya sahabatnya itu dengan mudah menyuruhnya pergi begitu saja.
"Sialan, lo makin ngeselin, deh, habis hilang ingatan. Gue lapar ini, Rand. Gue mau makan."ucap Dio dengan nada kesal.
"Ya udah, makan di Dania's Restaurant sana. Lo makan deh sepuasnya, bilang aja suruh gue."ucap Randy.
"Oke, gue bakal bikin restauran lo bangkrut, gue mau makan sepuasnya pokoknya."ucap Dio.
Belum sempat Randy menjawab ucapan Dio, Dio justru langsung mematikan telponnya.
Terlalu banyak masalah yang kini tengah dia hadapi, hingga membuatnya sampai melupakan bahwa tadi pagi dia menyuruh Dio untuk mengawasi kediaman Hamish.
"Dasar, tuh, anak. Makan, ya, makan aja. Ngapain juga pake ga makan-makan seharian."batin Randy.
Dia tak habis pikir pada temannya itu, kenapa juga temannya itu begitu menurut dan belum meninggalkan kediaman Hamish.
Dia pun tersenyum lebar.
Dia bisa membayangkan wajah kesal sahabatnya itu seperti apa.
Meski begitu, dia bersyukur memiliki Dio dalam hidupnya.
Mungkin jika ditanya siapa saja orang yang penting dalam hidupnya? Maka, nama Dio akan ada dalam daftar orang yang penting untuknya.
Kurang lebih setengah jam kemudian, Randy pun sampai di kontrakan Jorgie.
Dia bergegas masuk ke dalam kamar dan melihat orang itu tengah menatapnya. Terlihat orang itu sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan tadi siang.
Sepertinya Jorgie memang benar-benar merawat orang itu.
"Anda masih di sini, Mas Randy? Apa Non Dania ga nungguin dirumah?"tanyanya.
Randy tak menjawab ucapan orang itu, dia menatap lekat wajah orang itu yang masih jelas sekali terlihat penuh lebam.
Sungguh orang itu begitu tak tahu malu, dia bertanya dengan santai seolah tak terjadi apapun.
Tok, tok, tok.
"Masuk."ucap Randy.
Pintu kamar pun terbuka dan muncul lah kepala Jorgie dari balik pintu itu.
"Bos, ada yang mau saya omongin."ucap Jorgie.
Randy pun mengangguk dan keluar dari kamar.
"Udah dapat yang gue minta?"tanya Randy.
"Udah, Bos. Ini lihat dulu."ucap Jorgie.
Randy pun duduk di kursi dan menatap layar laptop itu.
Dia membulatkan matanya dan menatap Jorgie dengan tatapan tajam.
"Beraninya si Jorgie menunjukkan video seperti itu." batin Randy.
"Apa maksud lo nunjukin video beginian ke gue?"tanya Randy sambil menatap Jorgie dengan tatapan tajam.
Jorgie pun nyengir kuda dan menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
"Itu adiknya yang sekarang kita sekap, Bos."ucap Jorgie.
"Apa? Lo serius?"tanya Randy.
"Serius, Bos. Adik satu-satunya."ucap Jorgie.
"Dari mana lo dapat video ini?" tanya Randy.
"Gampang buat saya mah, Bos. Kepala saya kan liar, saya bisa dapetin semua ini dengan mudah." ucap Jorgie sambil tersenyum bangga.
"Jangan-jangan lo suka koleksi beginian, lagi." ucap Randy sambil menatap Jorgie dengan tatapan selidik.
Jorgie ersenyum lebar dan tak menjawab ucapan Randy.
Randy hanya menggelengkan kepalanya dan berpikir sejenak, dia pun bangun dari duduknya.
"Bawa video ini ke dalam."ucap Randy.
Jorgie pun mengangguk dan mengikuti Randy masuk ke dalam kamar dengan membawa laptop itu.
"Kenapa anda tidak pulang saja dan diam di rumah?"ucap orang itu.
Randy tak menjawab ucapan orang itu.
Dia tersenyum penuh kemenangan. Kali ini dia yakin, orang yang kini ada di hadapannya itu tak akan lagi bisa menutup mulutnya.
Randy pun menyuruh Jorgie untuk keluar dari kamar.
"Anda masih penasaran, siapa yang menyuruh saya untuk mencelakakan anda? "tanya orang itu dengan ekspresi sulit di artikan.
Entah ekspresi seperti apa, tapi Randy bisa melihat ada rasa sakit dalam ekspresi itu.
"Gue ga akan maksa lo, terserah aja kalau lo ga mau ngasih tahu gue."ucap Randy.
Orang itu mengerutkan dahinya, dia merasa bingung mendengar ucapan Randy.
Bukankah tadi pagi Randy justru memaksanya untuk membuka mulut?
Lalu, kenapa kali ini Randy justru bersikap seolah biasa saja dan tak begitu ingin tahu segalanya.
Randy duduk di kursi dan kini posisinya berhadapan dengan orang itu.
"Sebenarnya gue penasaran, siapa yang niat banget pengen hancurin keluarga gue. Dan, jujur gue juga penasaran, kenapa lo sampai ngelakuin semua ini. Salah apa gue sama lo?"tanya Randy.
Randy terus menatap orang yang kini ada di hadapannya itu.
Orang yang tak lain dan tak bukan adalah orang yang bekerja di kediaman Hamish. Pria yang usianya sekitar 30 tahunan yang dia kenal sejak empat tahun lalu, semenjak dia menikah dengan Dania. Meski tak dekat, bahkan Randy tak tahu siapa nama orang itu, namun Randy pernah melihatnya beberapa kali saat tengah berkunjung ke kediaman Hamish.
Orang itu masih tetap tak ingin bicara dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Gue ga akan maksa lo buat ngomong. Gue tahu, lo pasti punya alasan kenapa lo sampai ngelakuin semua itu. Tapi -"
Randy menghentikan ucapannya dan mengambil laptop itu.
Dia pun mengarahkannya pada orang itu.
"Gimana kalau video ini gue sebar? Dengan begitu kita impas, kan? Biar keluarga kita sama-sama hancur."ucap Randy sambil menyunggingkan seringai liciknya.
__ADS_1
Orang itu membulatkan matanya, napasnya memburu dan menatap Randy dengan tatapan tajam.
"Dari mana anda dapat video itu?"tanyanya.
"Gue dapet dari mana, itu ga penting. Tapi, karena lo udah bertele-tele dan buang-buang waktu gue, lebih baik gue sebar video ini biar semua orang tahu, kalau adik lo itu JALANG."ucap Randy dengan penuh penekanan saat dia mengucapkan kata jalang.
Orang itu pun tertunduk lemas.
Sungguh dia tak tahu harus berbuat apa.
Jika dia sampai membuka mulutnya, sudah jelas orang yang menyuruhnya mencelakai Randy tak akan tinggal diam dan sudah pasti akan membuat perhitungan padanya. Karena dia tahu betul, orang itu adalah orang yang sangat berpengaruh.
Namun, disisi lain dia pun tak bisa membiarkan video porno tentang adiknya itu sampai tersebar kemana pun. Karena sudah jelas keluarganya akan merasa malu, dan adiknya bisa saja menjadi gila jika sampai video itu sampai tersebar.
Randy menatap orang itu dengan tatapan sinis, dia tak peduli lagi jika dia harus menggunakan cara licik dengan cara mengancam orang itu agar mau membuka mulutnya.
Lagi pula, orang itu saja begitu jahat pada keluarga kecilnya. Lalu, untuk apa dia harus berbaik hati menghadapi penjahat yang kini ada di hadapannya? Pikirnya.
Randy menghembuskan napas kasar. Sungguh dia kesal karena orang itu sudah membuang banyak waktunya. Harusnya saat ini dia sudah bisa menjemput Dania dan juga anak-anaknya, namun karena masalah ini yang tak kunjung selesai, dia pun jadi tak bisa menyelesaikan masalahnya dengan Dania
dengan cepat.
"Oke, ini pilihan lo."ucap Randy.
Randy pun mengarahkan laptop itu pada orang itu dan akan mengunggah video.
"Saya akan kasih tahu anda, siapa orang yang menyuruh saya untuk membuat anda celaka."ucapnya.
Randy menghentikan kegiatannya dan melihat ke arah orang itu.
Dia pun mengerutkan dahinya.
"Jadi, siapa orangnya?"tanya Randy.
"Orang ini sangat berpengaruh, dia bisa saja menyakiti keluarga saya setelah saya memberitahu anda."ucapnya.
Randy mengepalkan tangannya.
Jangan sampai ketakutannya itu terjadi. Jangan sampai apa yang ada di pikirannya itu menjadi kenyataan.
"Apa yang lo mau dari gue?"tanya Randy.
"Saya cuman mau, anda dapat menjamin keselamatan keluarga saya, terutama adik saya."ucapnya.
Randy mengerutkan dahinya. Dia pun bangun dari duduknya dan berpikir sejenak.
Dia menghembuskan napas perlahan dan kembali melihat ke arah orang itu.
"Oke, gue janji."ucap Randy.
"Ya, saya percaya. Karena itu, saya ga akan tutupi apapun lagi dari anda.
"Tapi, saya harap, anda tidak menganggap saya bohong, karena apa yang akan saya ucapkan, itulah kenyataannya."ucapnya.
"Udah, deh, ga usah bertele-tele. Lo kalau emang niat mau ngasih tahu, ya, kasih tahu aja sekarang. Tapi, kalau lo emang ga mau kasih tahu, ya , udah. Gue masih punya cara lain buat bikin lo buka mulut lo."ucap Randy dengan nada kesal.
Randy menutup laptopnya dengan keras dan akan melangkah menuju pintu keluar kamar.
"Mertua anda."ucap orang itu tiba-tiba.
Randy menghentikan langkahnya dan berbalik menatap orang itu.
"Apa lo bilang?"tanya Randy memastikan.
"Mertua anda, Tuan Hamish, Papa Non Dania yang menyuruh saya membuat anda celaka."ucapnya.
Randy mengepalkan tangannya, napasnya memburu, sebisa mungkin dia coba menahan amarahnya.
Dia menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.
Dia menatap tajam ke arah orang itu dan mendekatinya.
PLAK.
Satu tamparan keras mendarat di pipi orang itu dan membuat sudut bibir orang itu menjadi berdarah.
"Beraninya lo fitnah mertua gue."
PLAK.
Sekali lagi Randy menampar keras pipi orang.
"Shit, saya sudah coba jujur dan anda ga percaya sama saya? Terserah anda, tapi saya bersumpah, saya mengatakan kebenarannya. Kalau anda tidak percaya, saya masih menyimpan pesan yang Tuan Hamish kirimkan pada saya." ucap orang itu.
Randy menatap orang itu dengan tatapan sulit di artikan.
"Ponselnya ada di tangan orang anda." ucapnya.
Randy pun memanggil Jorgie dan meminta ponsel orang itu.
Dengan tangan gemetar dia membuka aplikasi Whatsapp orang itu dan mencari pesan dari mertuanya.
Terlihat nama mertuanya di antara barisan pesan masuk lainnya.
Tuan Hamish: Lakukan malam ini juga, saya tidak mau tahu kamu menggunakan cara apa, yang jelas, saya ingin mendengar kabar Randy secepatnya.
Randy mengerutkan dahinya dan mengklik foto profil itu. Benar, itu memang foto mertuanya yang tengah memakai stelan formal.
Randy menelan air liurnya dengan susah payah, jantungnya mendadak terasa berhenti berdetak, tubuhnya melemas, dunianya seperti hancur seketika.
Bukankah selama ini mertuanya itu sudah menerimanya? Bukankah tiga tahun yang lalu mertuanya itu mengatakan sendiri, kalau dia sudah menerimanya? Lalu, apa maksud semua ini?
Randy menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Dia teringat sesuatu saat beberapa waktu lalu orang tua Dania datang ke apartemennya. Saat itu dia masih belum mengingat apapun, tapi satu hal yang dia ingat. Saat itu dia tak sengaja mendengar Tuan Hamish berbicara di telpon dan menyebut namanya.
Tuan Hamish bahkan terlihat marah karena menyebutkan targetnya masih dalam keadaan hidup.
Randy menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan. Matanya memerah, dan lolos lah sudah buliran air mata dari sudut matanya.
Dia sungguh tak menyangka akan mendapatkan kejutan sebesar ini dari sang mertua.
Ternyata apa yang dia takutkan memanglah menjadi kenyataan.
Dan inilah alasannya, mengapa dia tak memberitahu Dania dan dia tetap berpura-pura kehilangan ingatannya. Karena dia ingin mencari tahu sendiri kebenarannya.
Dia takut jika dia mengatakan kecurigaannya pada sang Papa mertua pada Dania, hubungannya dan Dania justru akan memburuk. Dan Dania sudah pasti akan merasa sedih.
Dadanya terasa sakit dan sesak, mungkin ini lebih sakit dari hujaman seribu pisau sekalipun.
Dia mengusap air matanya dan mengambil ponselnya.
Tanpa berpikir panjang, dia pun menghubungi kantor polisi tempat kasus kecelakaannya di tangani.
Setelah selesai menghubungi Polisi, dia menghubungi Lisa dan meminta Lisa untuk menyiapkan sebuah berkas untuk di serahkan pada Polisi.
Setelah selesai menghubungi Lisa, Randy menyimpan kembali ponselnya dan pandangannya mengarah pada orang suruhan sang mertua.
"Maafkan saya, saya terpaksa."ucapnya sambil menundukkan kepalanya.
Randy tak menjawab ucapan orang itu dan keluar dari kamar.
Dilihatnya Jorgie yang tengah duduk diruang tamu dan tengah memainkan ponselnya.
"Udah mau balik, Bos?"tanya Jorgie.
"Lepaskan dia." ucap Randy.
Jorgie membulatkan matanya dan bangun dari duduknya.
"Apa? Kenapa di lepas?"tanya Jorgie dengan bingung.
__ADS_1
"Karena gue ga ada urusan lagi sama tuh orang."ucap Randy.
Jorgie mengerutkan dahinya, dia sungguh tak mengerti apa maksud ucapan Randy.
Tak lama, Randy pun bergegas pergi dari kontrakan setelah memesan sebuah taksi.
Di perjalanan menuju hotel.
Randy hanya terdiam dengan pandangan yang kosong.
Banyak sekali pikiran negatif tentang mertuanya itu didalam kepalanya, namun dia pun ingin sekali menepis segala pikiran buruk itu.
Dia masih tak percaya dengan apa yang dia dengar dari orang itu.
Tapi jika di pikir-pikir, orang itu adalah orang yang bekerja di kediaman Hamish, tentu saja kemungkinan semua itu adalah benar sangatlah mungkin.
Tapi, kenapa mertuanya itu berbohong dan bersikap seolah selama ini telah menerimanya? Kenapa mertuanya itu ingin menyakitinya? Bukankah dia tahu betul, Dania sangat mencintai Randy? Lalu, mengapa dia justru ingin menghancurkan hidup Dania dengan cara menyakiti Randy?.
Banyak sekali pertanyaan di kepalanya saat ini.
Dia pun memijat kepalanya yang terasa sakit.
Di tempat lain.
Dio masih setia menunggu di depan kediaman Hamish.
Ada rasa tak tega juga jika tak membantu temannya itu,
Karena itu dia masih tetap diam di depan kediaman Hamish, meski Randy telah menyuruhnya untuk pulang.
Dia pun penasaran, apakah Dania ada di rumah orang tuanya atau tidak.
Beberapa saat menunggu, Dio pun mendengus kesal karena tak juga melihat keberadaa Dania.
Seharian ini dia terus mengawasi rumah orang tua Dania, namun nyatanya dia tak melihat Dania sama sekali. Dia sudah memilih tak makan siang karena demi mengikuti keinginan Randy agar dia mengawasi rumah orang tua Dania.
Kali ini dia benar-benar tak bisa menahan rasa lapar di perutnya.
Dia pun memilih untuk pergi ke restauran karena ingin makan malam terlebih dulu.
Saat dia akan menyalakan mobilnya, tiba-tiba dia melihat pintu pagar rumah Dania terbuka dan keluarlah sebuah mobil sedan hitam. Dengan penuh rasa penasaran akhirnya dia mengikuti mobil itu dan ternyata mobil itu menuju salah satu hotel.
Dari kejauhan Dio terus memerhatikan mobil itu, dan benar saja kecurigaannya, Dania memang lah berada di mobil itu.
Dio pun turun dari mobil dan mengikuti Dania juga kedua orang tuanya masuk ke dalam restauran yang berada di hotel tersebut.
Dia pun mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Randy.
"Halo, Yo." ucap Randy.
"Halo, Rand. Lo dimana?" tanya Dio.
"Masih di Bogor, kenapa?" ucap Randy.
"Gue lihat Dania."ucap Dio.
"Apa? Dimana? Please, lo tahan Dania dulu, gue balik sekarang."ucap Randy.
"Apa? Gimana caranya? Dia lagi makan malam sama orang tuanya di salah satu hotel. Bisa di amuk gue nanti sama Papanya." ucap Dio.
Randy mengusap wajah kasar dan menghembuskan napas kasar.
"Please, Yo. Lo tolongin gue kali ini aja. Ini masalah hidup dan mati gue, Yo."ucap Randy.
"Astaga, please deh. Jangan lebay begitu."ucap Dio dengan nada kesal.
"Please, Yo. Gimana pun caranya terserah lo, yang penting jangan sampai ketahuan mertua gue."ucap Randy.
"Ya, ya, gue coba deh."ucap Dio.
"Oke, thanks, ya. Gue usahakan cepat sampai."ucap Randy.
Telpon itu pun berakhir.
Pikiran jahil Dio seketika muncul, dia terpikir sesuatu dan langsung menghubungi nomor Dania.
"Ya, halo."ucap Dania.
"Halo, Dania. Dania gawat ini."ucap Dio dengan nada yang di buat sepanik mungkin.
Terlihat dari kejauhan Dania mengerutkan dahinya. Sepertinya dia kebingungan mendengar ucapan Dio.
"Ada apa? Apanya yang gawat?"tanya Dania.
"Randy."ucap Dio.
Dio melihat kearah Dania yang tengah melihat kearah kedua orang tuanya dan sepertinya dia izin pergi pada orang tuanya.
"Halo, Yo. Ada apa? Randy kenapa?"tanya Dania.
"Randy, Dania, aduh ini gawat."ucap Dio dengan nada yang masih dibuat panik.
"Iya, Randy kenapa? Ngomong yang jelas, dong."ucap Dania dengan nada mulai kesal.
Sepertinya Dio berhasil membuat Dania mulai merasa cemas.
"Randy gantung diri di apartemennya."ucap Dio.
Tut tut tut..
Telpon itu pun berakhir.
"Astaga, kenapa mati, sih? Aduh, rencana gue berhasil atau enggak, ya."ucap Dio.
Saat Dio akan pergi dari hotel, dia melihat Dania dari kejauhan yang tengah berlari tanpa heelsnya dan matanya terlihat memerah.
Dio terkejut melihat Dania yang kini tengah menangis sambil berlari menuju keluar hotel.
"Astaga Dio, lo bikin anak orang nangis. Huh, apa daya. Ini semua gara-gara si cinta, gue jadi ngerjain Dania." Gumam Dio.
"Eh, apa gue kata? Sialan, amit-amit deh. Jomblo juga ga sampe bikin gue belok." ucap Dio sambil menggelengkan kepalanya.
Dio pun bergegas keluar dari hotel dan mengikuti mobil Dania menuju apartemen Randy.
Sesampainya di apartemen, Dio berlari mengikuti Dania yang tampak secepat kilat menuju lift.
"Ya Tuhan, kenapa si Dania lari cepet amat, sih? Udah kaya lomba lari maraton gue jadinya ngikutin, nih, anak." Gumam Dio.
Dio begitu ngos-ngosan mengikuti Dania.
Sesampainya di pintu apartemen, Dio mencoba menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.
Dia pun masuk ke dalam apartemen.
Dio mencari Dania di ruang tamu namun tak menemukan Dania di sana.
Dia pun bergegas menuju kamar dan pintu kamar terbuka, benar saja Dania ada di dalam kamar.
Dengan cepat dia mengambil kunci, dan mengunci pintu kamar.
Dania yang merasa terkejut pun langsung menggedor pintu kamarnya.
"Dio, buka."teriak Dania.
"Sorry, Dania. Ini semua ide Randy.
Kalau lo mau marah, marah aja sama suami tercinta lo itu."ucap Dio.
Dio pun terkekeh geli dan meletakkan kunci kamar itu di atas meja di ruang tamu.
"Udah, ah, balik gue. Capek seharian dikerjain anak sialan."ucap Dio.
__ADS_1
Dia pun keluar dari apartemen Randy dengan tersenyum lebar.