
Hai, hai, Author kembali.
Maaf, ya, Author lagi sibuk beberapa hari ini. Jadi, up nya terganggu.
Author akan up seperti biasa lagi, kalau urusan author udah selesai.
Yang jelas, makasih untuk yang selalu setia ikuti cerita Istri Jelekku ini.
Ngomong-ngomong, akan ada kejutan menanti (^_-)
******
Satu tamparan mendarat di pipi Randy. Membuat Randy terkejut sekaligus menatap tak percaya pada Dania.
Untuk pertama kalinya Dania berani menamparnya.
Dania pun tak kalah terkejut karena dia berani menampar Randy.
Sebenarnya dia tak ada maksud untuk menampar Randy, namun entah mengapa tangannya itu seperti otomatis melayang dan mendarat di pipi Randy.
Randy mengangkat tangannya dan sesaat kemudian dia mengepalkan tangannya.
Brak.
Randy pun menendang meja dengan keras.
Dania menelan air liurnya dengan susah payah.
"Minta maaf." ucap Randy dengan penuh penekanan.
Dania masih terdiam, dia syok dengan apa yang baru saja dia lihat.
Meski Randy tak sempat melayangkan tangan di pipinya, namun tindakan Randy itu tetap membuat nya merasa syok.
Dania bahkan menjadi takut pada Randy.
"Minta maaf, aku bilang ..!" Dania tersentak saat Randy membentak nya.
"Aku ga, sengaja." ucap Dania.
Matanya sudah memerah, dia benar-benar takut melihat ekspresi wajah Randy yang sedang marah seperti itu.
"Ga sengaja, kamu bilang, apa kamu sadar, apa yang kamu lakukan barusan itu salah? Aku ini suami kamu, harusnya kamu menghormati aku. Aku capek baru pulang, bukannya di sambut baik-baik, tapi kamu justru nampar aku." ucap Randy dengan nada geram.
"Aku kan udah bilang, ga sengaja." ucap Dania.
"Terserah." ucap Randy sambil berjalan keluar kamar.
"Kamu mau kemana?" tanya Dania setengah berteriak.
Brak.
Bukannya menjawab pertanyaan Dania, Randy justru menendang pintu kamarnya dengan cukup keras.
Dania melihat ke arah Baby Raydan dan Baby Rayna, beruntung lah ternyata kedua Bayi menggemaskan itu justru sudah tertidur pulas dan tak terganggu dengan suara berisik.
Dania terduduk lemas di tepi tempat tidurnya, Matanya memerah dan tak terasa air matanya mengalir.
"Harusnya aku yang marah, kenapa jadi kamu yang marah?" gumam Dania.
Dania mengusap air matanya, dia pun bergegas keluar kamar untuk mencari Randy.
Dia mencari Randy ke semua ruangan, namun tak menemukan Randy di mana pun.
Dania pun menghampiri Bibi yang sedang berada di dapur.
"Bi, lihat Randy, ga?" tanya Dania.
"Eh, Non, Bibi, ga, lihat." ucap Bibi.
Dania pun mengangguk dan akan kembali ke kamarnya.
"Non." panggil Bibi.
Dania pun berbalik saat Bibi memanggilnya.
"Ya, Kenapa?" tanya Dania.
"Aden pasti capek, jadi dia ga sengaja marah-marah." ucap Bibi.
Dania pun tersenyum tipis dan kembali ke kamarnya.
Begitu sampai di kamar, Dania melihat Baby Raydan terbangun.
Dia langsung menghampiri baby Raydan dan menepuk pelan bokong baby Raydan agar tertidur kembali. namun bukannya tertidur kembali, baby Raydan justru menangis.
Dania pun menggendong baby Raydan dan menidurkannya di tempat tidur Dania kemudian menyusuinya.
Saat tengah menyusui Baby Raydan, Baby Rayna yang masih berada di box bayi nya pun ikut terbangun dan langsung menangis.
Dania pun menjadi tak tenang, namun dia pun susah untuk bangun karena baby Raydan masih terus menyusu bahkan semakin kuat menyusu.
"Ade sabar, ya, sayang." ucap Dania sambil melihat ke arah baby Rayna yang berada di dalam box bayinya.
"Bi ..!" teriak Dania.
Dania mencoba memanggil Bibi untuk meminta tolong pada Bibi, namun Bibi tak kunjung datang ke kamarnya.
Dania semakin panik dan jelas sekali dia benar-benar kerepotan.
"Ngapain aja, sih, anak nangis malah di di demin?" Ucap Randy yang baru saja memasuki kamar, dia bahkan setengah membentak.
Dania terkejut mendengar ucapan Randy, dadanya terasa sakit sekali mendengar ucapan Randy.
Kenapa suaminya itu seperti berpikir bahwa dia tak peduli pada anaknya? Pikir Dania.
Jika Dania terkejut mendengar ucapan Randy, Randy pun tak kalah terkejutnya saat melihat Dania yang ternyata sedang menyusui baby Raydan.
Seketika Randy menjadi tak enak hati pada Dania, dia pikir istrinya itu sedang melakukan hal lain selain menyusui baby Raydan.
Randy pun bergegas menghampiri Baby Rayna.
"Oh, sayang, kenapa nangis, sayang?" ucap Randy sambil mulai menggendong baby Rayna.
Randy melihat ke arah Dania yang masih menyusui baby Raydan, namun lagi-lagi Randy di buat terkejut saat melihat Dania yang ternyata juga menangis.
Randy melihat Dania dan baby Rayna bergantian.
"Kenapa pada nangis begini, sih?" batin Randy.
Randy tak sadar, Karena ucapannya lah Dania menjadi menangis.
Tak lama kemudian, Bibi masuk ke dalam kamar saat mendengar suara tangisan baby Rayna.
"Maaf, Den, ada yang bisa Bibi bantu?" tanya Bibi.
"Tolong bikinin susu buat ade, ya, Bi." ucap Randy.
Bibi mengangguk dan bergegas membuatkan susu untuk baby Rayna.
Setelah selesai, Bibi memberikan susu itu pada Randy.
__ADS_1
Randy menyusui baby Rayna yang masih ada di gendongannya.
Randy melihat Dania yang baru saja selesai menyusui saat baby Raydan pun sudah tertidur.
Dania pun bangun dan memindahkan baby Raydan ke dalam box bayinya. Dania melihat sekilas ke arah Randy yang masih memberikan susu pada Baby Rayna.
Dania pun keluar dari kamar, sementara Randy melihat dengan bingung ke arah Dania. Dia pikir Dania akan mengambil alih menggendong baby Rayna, namun ternyata Dania justru meninggalkannya.
Dania pun keluar dari kamar dan pergi menuju dapur. Bukannya bermaksud untuk mengabaikan baby Rayna, hanya saja dia melihat Baby Rayna sedang menyusu dengan di bantu oleh Randy, jadi dia takut baby Rayna justru akan merasa terganggu jika dia mengambil alih menggendong baby Rayna.
Dania pun berpikir, biarkan saja baby Rayna bersama Papanya dulu sambil melepaskan rindunya karena dua hari kemarin tak bertemu.
******
Pukul 19.00 wib Randy keluar dari ruang kerjanya.
Setelah siang tadi dia selesai memberikan susu pada baby Rayna, sorenya pun dia langsung sibuk dengan pekerjaannya, hingga belum sempat bicara lagi dengan Dania.
Apalagi setelah kejadian siang tadi, saat Dania menamparnya.
Randy masih kesal pada istrinya itu karena berani sekali menamparnya. Tamparan itu bahkan cukup kuat sehingga membuat Randy merasakan perih di pipinya yang terkena tamparan Dania tadi.
Randy turun menuju meja makan, dia mengerutkan dahinya melihat meja makan. Tak ada Dania di sana dan hanya ada Bibi yang sedang membereskan dapur.
Randy pun duduk di kursi makan dan mulai menyantap makan malamnya.
"Selama aden, pergi, abang sama ade rewel terus, kasian, si, Non, kerepotan sendiri, Den." ucap Bibi.
"Si Non, bahkan sampai telat makan, karena terlalu sibuk ngurusin abang sama ade, yang terus rewel." ucap Bibi.
Randy yang akan menyuapkan makanan ke mulutnya langsung menghentikannya dan meletakkan kembali sendoknya di piring.
"Apa sekarang Dania udah makan?" tanya Randy.
"Belum, Den, tadi Bibi lihat si Non ketiduran sambil nyusuin ade. Bibi mau bangunin aja, ga, tega. Kayanya, si Non, capek banget." ucap Bibi.
Randy mengangguk dan membawa piring makannya yang sudah terisi makanan ke kamar.
Saat memasuki kamar, Randy melihat Dania yang ternyata memang benar sedang tertidur sambil masih menyusui baby Raydan.
Baby Raydan ini memang kuat sekali menyusu, mungkin karena dia adalah bayi laki-laki yang memang terkadang lebih kuat menyusu dari pada bayi perempuan.
Randy melihat baby Rayna yang justru sudah tertidur pulas di dalam box nya.
Randy duduk di tepi tempat tidur dan terus memperhatikan wajah pulas Dania.
Randy terkekeh saat melihat Baby Raydan berhenti menyusu namun mulutnya masih terlihat seperti sedang mengemut sesuatu dengan matanya yang masih terpejam, sungguh menggemaskan.
Randy mengecup pipi baby Raydan dan sekali lagi dia menatap wajah pulas Dania yang kini begitu dekat dengan wajahnya.
Randy pun mengcup pipi Dania dan membuat Dania sampai terbangun dari tidurnya.
"Aku bawain makanan, buat kamu, mendingan kamu makan dulu, kasihan anak-anak kalau Mommy nya sampai sakit." ucap Randy tanpa melihat Dania.
Randy pun keluar dari kamar.
Sementara Dania melihat kepergian Randy dengan bingung.
"Apa dia masih marah?" batin Dania.
Dania pun mengambil makanan itu dan menyantapnya.
******
Keesokan harinya.
Dania terbangun saat mendengar celotehan Baby Raydan dan Baby Rayna.
Kedua bayi itu sudah bangun lebih dulu di banding Mommy dan Papanya.
Terbesit rasa bersalah di hatinya karena kemarin tak sengaja menampar Randy.
Dania menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
Cup.
Dania mengecup kepala Randy dan turun dari tempat tidur.
Dia menghampiri baby Raydan baby Rayna.
Tanpa Dania sadari, Randy pun sudah terbangun. Dia tersenyum mendapatkan morning kiss dari istrinya itu.
"Good morning, kesangannya Mommy." ucap Dania sambil melihat kedua buah hatinya yang menggemaskan itu.
Baby Raydan dan baby Rayna pun tersenyum melihat sang Mommy.
"Wait, Oke, Mommy bikinin kalian susu dulu." ucap Dania.
Dania pun membuatkan susu untuk baby Rayna dan baby Raydan.
Saat tengah membuat susu, Baby Rayna tiba-tiba menangis kencang.
Dengan cepat Dania berlari menghampiri baby Rayna.
Randy yang masih berpura-pura tidur pun langsung terlonjak dan berlari menghampiri box baby Rayna.
Randy dan Dania di buat terkejut saat melihat Baby Raydan tengah menggigit jari baby Rayna. Pantas saja baby Rayna menangis kencang.
"Hey, abang, kenapa gigit ade?" ucap Dania sambil mencoba melepaskan jari baby Rayna dari dalam mulut mungilnya baby Raydan.
"Aduh, abang, lepasin tangan ade, sayang." ucap Randy.
Randy dan Dania kesulitan melepaskan tangan baby Rayna dari dalam mulut baby Raydan. Sepertinya baby Raydan berpikir dia tengah menyusu pada sang Mommy.
"Huh, akhirnya." ucap Randy dan Dania bersamaan.
Akhirnya tangan baby Rayna terlepas dari mulut sang kakak.
Dania pun bergegas menggendong baby Rayna dan memberikan susunya.
Sementara Randy langsung menggendong baby Raydan.
"Hey, jagoan, kenapa jari ade di gigit?" ucap Randy sambil mencium gemas pipi baby Raydan dan membuat baby Raydan tersenyum.
"Jari ade, ga, luka, kan?" tanya Randy.
"Enggak, abang kan belum ada gigi, dia cuma gigit gemas aja. Aku juga suka di gigit sama abang, kalau lagi ngasih asi." ucap Dania.
"Duh, abang ini, ya." ucap Randy sambil mencium gemas pipi baby Raydan yang semakin hari semakin gembil.
"Kalau udah besar, ade nya di jagain, ya, bang. Boleh gemas sama ade, tapi jangan di gigit kaya barusan." ucap Randy sambil menatap gemas bayi menggemaskan itu.
Bayi itu begitu polos dan manis, wajahnya yang tak berdosa itu justru terlihat riang di gendong sang Papa.
Baby Rayna kini sudah tenang dan tak menangis lagi.
Dia pun tampak tengan di pangkuan sang Mommy.
Randy mengecup gemas baby Rayna yang alisnya masih terlihat memerah.
Baby Rayna ini memang memiliki warna kulit yang putih bersih, hingga saat menangis pun wajahnya benar-benar terlihat merah.
__ADS_1
"Aku mau ke Office hari ini, kamu ga usah siapin baju aku, jagain aja abang sama ade." ucap Randy.
Randy pun menidurkan baby Raydan di boxnya.
"Emang lagi sibuk banget, ya? Kok sekarang jadi sering ke Office." ucap Dania.
Randy menatap Dania.
"Kenapa, emang?" tanya Randy.
Dania menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
Sesungguhnya dia ingin sekali menanyakan soal kepergiannya ke Bandung bersama Sheila selama dua hari kemarin, namun Dania mengurungkan niatnya.
Dia mencoba mengesampingkan dulu rasa pensarannya itu dan memilih fokus mengurus baby Raydan dan baby Rayna saja.
"Ga, apa-apa." ucap Dania.
Randy mengerutkan dahinya dan menggidigkan bahunya.
"Aku mandi dulu." ucap Randy.
Dania mengangguk sambil terus memperhatikan Randy yang memasuki kamar mandi.
Dania merasa ada yang berbeda dengan Randy dari semenjak kepulangannya dari Bandung kemarin.
Biasanya saat Dania marah, Randy akan merayunya agar tak marah lagi padanya.
Berbeda dengan saat ini, padahal Randy tahu betul dia marah karena tahu Randy pergi bersama Sheila ke Bandung. Bukannya menjelaskan yang sebenarnya terjadi, Randy justru mengabaikan kejadian itu dan seperti tak pernah terjadi moment kebersamaan Randy bersama Sheila.
Setelah beberapa menit, Randy keluar dari kamar mandi.
Dia pun mulai bersiap.
Dania mengerutkan dahinya melihat Randy mengeluarkan satu set stelan jasnya.
"Aku pulang telat, mau ada acara dulu di luar, nanti malam." ucap Randy.
"Acara apa?" tanya Dania.
"Ada undangan pernikahan dari teman SMA aku." ucap Randy.
"Jadi, kamu datang sama siapa?" tanya Dania.
"Sendiri." ucap Randy.
Dania menatap Randy dengan tatapan menyelidik.
"Aku ga mungkin ngajakin kamu. Nanti abang sama ade, ga ada yang jagain." ucap Randy.
Dania menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Ya, udah." ucap Dania.
Setelah selesai bersiap, Randy pun berangkat ke Office, setelah sebelumnya mencium baby Raydan dan baby Rayna. Namun tidak dengan Mommy kedua bayi manis itu.
Randy tak memberikan ciuman padanya.
Dania pun tak ingin ambil pusing.
Dia berpikir, Randy mungkin masih marah padanya.
******
Sore hari.
Dania melihat ponselnya yang berbunyi.
Ada satu pesan masuk dari nomor tak di kenal.
Dania pun membuka pesan itu, yang ternyata adalah sebuah video.
Dania mengklik video dan terdownload lah video itu.
Dania pun mulai membuka video itu.
Di video itu terlihat Randy yang mulai memasuki sebuah hotel.
Dania ingat betul saat tadi pagi Randy mengatakan dia akan datang sendiri ke acara pernikahan teman SMA nya.
Namun berbeda dengan apa yang terlihat di video tersebut.
Randy tak datang sendirian, dia bersama perempuan.
Dania terus memperhatikan video itu.
Dania terkejut sekaligus melihatnya dengan rasa tak percaya.
Lagi-lagi perempuan yang bersama Randy adalah Sheila.
Dania langsung menghubungi nomor tak dikenal itu berniat akan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, namun ternyata nomor itu tak bisa di hubungi.
Dania pun menghubungi Randy, namun ponsel Randy pun ternyata tak bisa di hubungi. Randy mematikan ponselnya.
Akhirnya Dania menghubungi Dio.
"Hallo, Dio." ucap Dania.
"Ya, Dania." ucap Dio.
"Iya, sorry ganggu, Yo. Mau tanya, Yo." ucap Dania.
" Iya, kenapa, Dania?" tanya Dio.
"Resepsi pernikahan teman SMA kamu sama Randy, tuh, di hotel apa, ya?" tanya Dania.
"Apa? Resepsi pernikahan, temen SMA aku, ga ada yang nikah." ucap Dio.
"Apa? Serius, Yo?" tanya Dania.
"Iya, Eh, bukannya kamu sama Randy lagi dinner, ya?" tanya Dio.
"Dinner." ucap Dania.
" Iya, tadi aku ketemu sama Randy, terus dia bilang lagi mau dinner sama orang yang spesial di hotel X. Jadi, ya, udah pasti sama kamu , kan. Lagian sama siapa lagi, coba?" ucap Dio.
Tubuh Dania mendadak terasa lemas mendengar ucapan Dio.
"Apa katanya? Dinner. Jangankan dinner, Dania bahkan tak menyangka lagi-lagi Randy membohonginya dan pergi bersama Sheila.
Dania meminta Bibi untuk menjaga baby Raydan dan baby Rayna.
Dia akan menyusul Randy ke hotel yang tadi Dio sebutkan.
Sesampainya di hotel, Dania langsung menanyakan keberadaan Randy kepada resepsionis.
Ternyata ada nama Randy Sebastian disana. Nama Randy Sebastian masuk ke dalam list yang membooking ruangan vip Restauran yang masih berada di dalam hotel tersebut untuk malam ini. Tak hanya itu, Randy pun memesan kamar hotel untuk malam ini.
Dengan perasaan tak karuan, antara gelisah, takut, Dania melangkah menuju Restauran terlebih dulu.
Karena saat Dania melihat jam, ternyata sudah memasuki jam makan malam. Bisa jadi, Randy sedang berada di Restauran saat ini.
__ADS_1
Begitu sampai di Restauran, Dania di buat terkejut sekaligus tak percaya saat melihat apa yang ada di hadapannya saat ini.
Sesaat kemudan, tangis Dania pun pecah.