
Saat ini Dania sudah berada di Bangkok, Thailand.
Ini adalah terakhir kalinya dia mengurus proyek di Bangkok bersama Erick, sebelum dua minggu kemudian dia tak lagi bekerja di perusahaan sang Papa.
Dan malam ini dia sudah janjian bersama Erick untuk makan malam bersama.
dia pun tengah bersiap di kamarnya, sementara Erick menunggunya di ruang tamu.
Kurang lebih tiga puluh menit dia bersiap.
"Duh, sorry ya, nunggu lama." ucap Dania yang baru saja keluar dari kamar.
Erick menatap Dania dengan penuh kagum.
"Cantik." gumam Erick.
"Kamu bilang apa, barusan?" tanya Dania.
"Ah .. Enggak apa-apa, kok. Yuk, jalan sekarang." ucap Erick.
Dania mengangguk dan mereka pun pergi menuju salah satu restauran.
Di perjalanan menuju restauran, jantung Erick tak hentinya berdegup kencang. Tubuhnya bergetar melihat Dania yang saat ini berada di sampingnya.
Dania begitu cantik dan mempesona.
Sejujurnya Erick sudah tertarik pada Dania sejak masih SMP dulu, saat dia sering ikut dengan Papanya datang ke Kediaman Hamish. Namun saat itu dia tak berani hanya untuk sekedar menyapa Dania, karena di sisi Dania selalu ada anak pria yang menemaninya yang tak lain adalah Riko.
Sesekali Erick melirik Dania yang tengah asik memainkan ponselnya.
Tak terasa sampai lah mereka di salah satu Restauran China.
Dania mengerutkan dahinya menatap Erick.
"Tahu aja, aku suka makanan China." ucap Dania sambil tersenyum.
Erick pun tersenyum.
Sebetulnya, selama beberapa tahun ini Erick sering mencari tahu tentang kesukaan Dania, dan juga apa saja yang terjadi pada Dania selama beberapa tahun ini.
Banyak yang Erick ketahui tentang Dania dari orang suruhannya, tentu saja Erick juga mengetahui bahwa Dania saat ini sudah menikah.
Erick menahan tangan Dania saat Dania akan turun dari mobil.
"Biar aku, yang bukain pintunya." ucap Erick.
Dania menatap heran, kenapa mereka jadi seperti sepasang kekasih? Pikir Dania.
Dania pun membiarkan Erick membukakan pintu untuknya.
"Thank you." ucap Dania begitu dia turun dari mobil.
Erick tersenyum dan mengangguk.
Mereka pun masuk ke dalam restauran dan langsung memesan makanan.
Sambil menunggu pesanan datang, Erick terus memperhatikan Dania. Sungguh dia benar-benar tak menyangka karena bisa bertemu lagi, bahkan bisa sedekat ini dengan Dania. Padahal dulu, dia bahkan tak berani untuk hanya sekedar say hello saja pada Dania.
Dania yang merasa di perhatikan pun mencoba mengibaskan tangannya di depan wajah Erick.
"Hey, are you okay?" tanya Dania sambil menatap heran pada Erick.
Erick pun tersenyum kikuk dan membuang muka menatap ke arah lain.
Dania hanya menggidigkan bahunya saja melihat tingkah Erick. entah apa yang ada dipikiran Erick saat ini, pikir Dania.
Tak lama pesanan datang dan mereka langsung menyantap makan malam mereka.
Setelah selesai makan malam, Erick mengantarkan Dania kembali ke apartemen.
"Makasih ya, Rick, jadi ga enak, kalau kesini ngerepotin kamu terus." ucap Dania.
"It's okay, aku seneng, kok. Hubungi aku kalau kamu butuh apa-apa." ucap Erick.
Dania pun mengangguk.
"Ya udah, aku masuk dulu. Kamu hati-hati di jalan." ucap Dania.
Erick mengangguk dan pamit pulang.
Dania melangkah menuju kamarnya yang masih gelap tanpa pencahayaan.
Dengan santai dia membuka dress yang dia kenakan.
"Aaarrgghh ..." Dania menjerit keras saat tiba-tiba ada yang memeluknya dan mengangkat tubuhnya.
"Siapa, lo?" Dania memberontak agar orang itu melepaskannya.
Brugh.
"Aauuwww ..." Dania meringis saat orang itu menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.
Bugh.
"Aaaarrrrghhhhhhhh ..." orang itu menjerit keras saat Dania menendang alat vitalnya.
Dania pun terkejut saat mendengar suara jeritan orang tersebut, suara yang tak asing baginya.
Dengan cepat dia menyalakan lampu kamarnya dan dia membulatkan matanya melihat seseorang yang tengah meringis kesakitan di hadapannya.
"Ya ampun, yank." Dania menatap tak percaya ke arah orang itu, yang tak lain adalah suaminya sendiri. Entah sejak kapan Randy ada di apartemennya, atau lebih tepatnya berada di Bangkok.
Seingat Dania, pagi tadi saat Randy mengantarnya ke Bandara, tak ada yang mencurigakan, Randy bahkan tak mengatakan bahwa dia akan menyusulnya ke Bangkok. Yang Dania tahu, Randy hanya bilang padanya bahwa dia akan pergi ke Bali untuk melihat Outlet restauran yang masih dalam tahap pembangunan.
Dania pun menghampiri Randy.
"Kamu baik-baik aja, kan, yank." ucap Dania cemas.
Randy menatap Dania dengan tajam dan terus memegang alat vitalnya yang masih terasa sakit akibat tendangan Dania.
__ADS_1
"Baik-baik aja gimana, sih? Dia kesakitan, nih." ucap Randy.
Dia terus meringis kesakitan membuat Dania semakin cemas.
"Apa mau ke Dokter?" tanya Dania cemas.
Randy menggelengkan kepala dan terduduk lemas di lantai.
Dania pun berlari menuju dapur dan mengambilkan segelas air putih.
"Minum dulu, nih, yank." ucap Dania sambil menyodorkan segelas air.
Randy menggelengkan kepala. Jangankan minum, saat ini dia bahkan sulit untuk bernafas karena menahan sakit.
Dania memapah Randy menuju tempat tidur dan mendudukkannya di tepi tempat tidur.
"Kamu mau apa?" tanya Randy terkejut, saat Dania menyentuh area sensitifnya.
"Biar aku periksa, sendiri. Apa iya, separah itu? sampai kamu kesakitan banget, kayanya." ucap Dania.
Randy terkejut mendengar ucapan istrinya itu.
Bisa-bisanya istrinya itu tak mempercayainya, kalau dia memang benar-benar merasakan sakit.
Randy menepis tangan Dania dan membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
Dania hanya bisa menghela nafas melihat Randy yang sepertinya marah padanya.
Seketika Dania tersadar bahwa dia sudah sempat membuka dress tidurnya.
Dia pun menyeringai dan mulai mendekati Randy. Dia membungkukkan tubuhnya hingga dadanya tepat berada di depan wajah Randy.
Dia sengaja ingin menggoda Randy. Biasanya Randy akan luluh saat dia menggodanya.
"Yank." panggil Dania dengan suara yang di buat seseksi mungkin.
Tak ada respon dari Randy, Randy justru menutupi seluruh tubuhnya dengan selimutnya.
Lagi-lagi Dania hanya bisa menghela nafas. Sekali lagi dia mencoba menggoda Randy, namun tetap tak ada respon dari Randy.
Hingga Dania mencoba untuk yang ketiga kalinya.
"Uhhh .. Yank." bisik Dania dengan suara yang lagi-lagi di buat seseksi mungkin. Dania mengelus lengan Randy dari luar selimutnya.
"Ngapain, sih?" tanya Randy dengan nada kesal dan menatap tajam ke arah Dania.
Dania pun terkejut melihat ekspresi Randy.
"Kamu beneran marah, yank." ucap Dania.
Randy menatap malas pada Dania.
Dania pun menjadi kesal karena Randy terus mengabaikannya sejak tadi.
"Ini juga salah kamu, suruh siapa ngagetin aku? Aku kan jadi ngira ada perampok yang mau perkosa aku, makanya aku lawan." ucap Dania dengan nada agak kesal.
Randy mendudukkan dirinya dan menatap Dania yang tengah memakai baju tidurnya.
"Mana bisa mikir buat ngendus wangi tubuh orang, kalau keadaannya kayak tadi, aku panik, lah."ucap Dania.
Randy menghembuskan nafas perlahan. Memang ini salahnya juga karena telah mengejutkan Dania dan memang lah pantas Dania memberontak dan menendangnya. Akan sangat aneh, jika Dania diam saja di peralakukan seperti tadi. Sementara Dania tak mengetahui siapa orang yang memeluknya.
Randy pun bangun dan mendekati Dania.
"Maaf, ya. Iya, sih, salah aku juga." ucap Randy sambil memeluk Dania dari belakang.
Dania menghembuskan nafas perlahan dan membalikkan tubuhnya hingga kini berhadapan dengan Randy.
"Lain kali, jangan kayak tadi lagi, gimana kalau aku sampai jantungan? Emang kamu siap, jadi duda." ucap Dania asal.
Randy membulatkan matanya mendengar ucapa Dania.
"Sembarangan aja, kalau ngomong." ucap Randy.
Dania pun tersenyum tipis dan melepaskan pelukannya.
"Kamu kok, kesini? Bukannya kamu mau ke Bali, ya." ucap Dania.
"Iya, tadinya, tapi aku batalin dan suruh sekretaris aku aja yang kesana." ucap Randy.
"Kenapa?" tanya Dania sambil menatap Randy dengan heran.
"Ya, karena aku kangen kamu, lah, yank. Emangnya apa lagi?" ucap Randy.
Dania pun mengangguk.
Tak terasa karena ke asyikan berbincang, kini waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 waktu setempat.
Dania pun mulai mengantuk.
"Tidur yuk, yank." ucap Dania sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Randy mengangguk dan langsung merebahkan tubuhnya di samping Dania.
Tanpa menunggu lama, mereka pun langsung terlelap.
Sedangkan di sisi lain.
Erick tengah gelisah di kamarnya.
Berkali-kali dia mengusap wajah kasar. Dia tak habis pikir karena dia terus mengingat suara Dania yang menurutnya begitu indah di telinganya yang dia dengar dua minggu lalu saat tengah menelpon Dania. Di tambah lagi saat dia bertemu Dania tadi membuatnya semakin frustasi.
"Ya ampun, Erick. Lo benar-benar gila, bisa-bisanya mikirin istri orang sampe segitunya." gumam Erick.
Erick meringis saat merasakan miliknya yang terasa sesak hanya karena teringat suara seksi Dania.
Erick mengacak rambut frustasi.
Dia pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur kepalanya dengan air dingin.
__ADS_1
Dia berharap di kepalanya itu tidak ada lagi pikiran-pikiran aneh dan tak lagi terngiang suara Dania saat di telpon dua minggu lalu.
******
Pukul 07.00 Dania tengah bersiap di kamar. Sementara Randy tengah menyiapkan sarapan di dapur.
Ting tong.
Randy mengerutkan dahinya saat mendengar suara bel berbunyi.
Siapa juga yang datang pagi-pagi, begini? pikirnya.
Randy pun berjalan menuju pintu dan membuka pintu. Di lihatnya seorang pria yang tengah berdiri di hadapannya.
Pria itu adalah Erick.
Ya, dia datang karena akan menjemput Dania dan pergi bersama menuju ke lokasi proyek.
"Morning." ucap Erick sambil tersenyum lebar namun sesaat kemudian wajahnya berubah menjadi masam saat melihat Randy yang ada di hadapannya.
"Siapa, ya?" tanya Randy dingin.
"Apa Dania nya ada? Saya Erick, partner kerja nya Dania." ucap Erick sambil menyodorkan tangannya namun tak Randy sambut.
Randy menyilangkan kedua tangan di dadanya sambil menatap lekat dari ujung kaki sampai ujung rambut Erick.
"Masuk." ucap Randy dingin.
Erick pun masuk dan duduk di ruang tamu.
"Sayang kamu lihat dalaman atas aku, ga, sih." ucap Dania sambil berteriak.
Erick membulatkan matanya mendengar teriakan Dania.
Namun berbeda dengan Randy yang justru menyeringai.
"Di koper aku ada, yank. Aku sengaja bawain karena kamu memang suka lupa bawa." ucap Randy sambil berteriak.
Erick semakin terkejut mendengar ucapan Randy. Mendadak wajahnya memerah, tangannya bahkan mengepal.
Tak lama Dania pun keluar dari kamar.
"Ehh kok, ada erick. Kapan sampe?" tanya Dania heran.
"Baru, aja." ucap Randy.
Dania mengangguk dan pamit pada Randy untuk pergi ke lokasi proyek.
Erick dan Dania pun bergegas pergi menuju lokasi proyek.
Setelah di rasa Dania dan Erick pergi dari apartemen, dengan cepat Randy mengambil jaketnya dan mengikuti Dania menuju lokasi proyek.
Sesampainya di lokasi, Dania dan Erick langsung sibuk mengecek proyek. Sedangakan Randy menunggu di dalam mobil yang sudah dia sewa sebelumnya.
Waktu pun berlalu dan kini saatnya jam makan siang.
Erick dan Dania pergi menuju salah satu restauran yang tak begitu jauh dari lokasi proyek.
Lagi-lagi Randy mengikuti Dania.
Sesampainya di restauran, Randy pun mengikuti Dania dan Erick sampai ke dalam restauran.
Randy memilih duduk di kursi yang cukup jauh dari kursi Dania dan Erick.
Beberapa menit berlalu dan pesanan pun datang.
Randy membulatkan matanya,di terkejut melihat Erick tengah mengusap bibir Dania.
Randy mengepalkan tangannya, dadanya terasa panas. Dia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Sebisa mungkin dia mencoba tak ingin mengamuk saat itu juga. Tak lama lagi-lagi Randy terkejut melihat Erick menyodorkan botol mineral water yang sebelumnya sudah dia buka terlebih dulu tutupnya.
Randy pun bangun dari duduknya dan bergegas mendekati meja Dania.
Brak.
Randy menendang kursi yang ada di samping meja Dania dan langsung menarik tangan Dania.
"Kamu kok disini, yank?" tanya Dania heran.
"Knapa, ha? Ga suka aku disini, atau kamu ngerasa ke ganggu ada aku disini. Jadi, kalian ga bisa mesra-mesraan." ucap Randy dengan nada geram.
Dania terkejut mendengar ucapan Randy.
"Apa maksud kamu?" tanya Dania.
"Sorry, Bro, lo salah paham." ucap Erick.
Randy tersenyum sinis menatap Erick.
"Salah paham, lo bilang? mana, yang salah paham? Saat lo nyentuh bibir istri gue atau saat lo bukain tutup botol mineral water istri gue, ha?" tanya Randy geram.
Dania terkejut mendengar ucapan Randy. Itu artinya sudah sejak tadi Randy mengikutinya, pikirnya.
"Apa kamu ngikutin aku dari tadi?"tanya Dania sambil menatap Randy tak percaya.
Randy hanya diam dan mengusap wajahnkasar.
Dania menggelengkan kepala. Dia sungguh tak menyangka suaminya itu akan sampai mengikutinya.
Apa segitu tak percaya suaminya itu sampai-sampai mengikutinya, pikir Dania.
Dania mengambil tasnya dan menatap Randy sekilas.
"Aku ga nyangka, seragu itu kamu sama aku sampai kamu buang waktu buat ngikutin aku." ucap Dania kemudian bergegas keluar dari restauran.
Randy mengusap wajahnya kasar dan menatap tajam pada Erick.
"Jadi cowok, tuh,harus gantle man, Bro. Masih banyak cewek di luaran sana, jangan istri orang yang lo deketin. Brengsek." ucap Randy sambil mendorong bahu Erick.
Dia pun bergegas ke luar dari restauran.
__ADS_1
Sedangkan Erick hanya diam.