Istri Jelekku

Istri Jelekku
Bab 60


__ADS_3

Dania terbangun dari tidurnya dan melihat jam di samping tempat tidur. Ternyata sudah pukul 06.30 wib. Dania turun dari tempat tidur dan mencuci wajahnya.


Setelah selesai dia turun menuju dapur untuk membuatkan Randy sarapan.


Dia ingin memperbaiki hubungannya dengan Randy yang sudah seminggu ini tak baik. Dia ingin membuatkan Randy sarapan untuk permintaan maafnya karena telah mengecewakan Randy. Meskipun Dania sadar, sebuah sarapan mungkin tak akan bisa membuat Randy langsung memaafkannya, karena bagaimana pun juga luka yang dia sebabkan di hati Randy pasti sangat dalam karena harus kehilangan calon buah hatinya.


Dengan semangat Dania membuatkan sarapan kesukaan Randy.


Dia menatanya dengan semenarik mungkin agar Randy tertarik untuk memakannya.


Setelah selesai, dia pun bergegas menuju kamar yang sudah tiga malam ini Randy tinggali, kamar calon bayinya. Sudah tiga malam ini Randy tak tidur satu kamar dengan Dania.


Begitu sampai di kamar tersebut, Dania melihat sekeliling namun tak melihat keberadaan Randy, dia pun mencari ke kamar mandi namun tak juga menemukan Randy.


"Kemana, dia?" gumam Dania.


Dania turun menuju ruang tamu di mana Bibi sedang membersihkan ruangan tamu.


"Randy kemana, ya, Bi?" tanya Dania.


"Eh, non, den Randy-" belum sempat Bibi menyelesaikan ucapannya, Randy pun muncul dari pintu masuk. Sepertinya dia baru saja selesai jogging.


Randy berjalan santai menuju dapur tanpa melihat ke arah Dania.


Dania pun mengikuti Randy.


"Sarapan dulu, yuk, aku udah buatin sarapan buat kamu." ucap Dania.


Randy tak bicara dan memilih langsung duduk di kursi makan. Dia membuat sendiri sarapan roti dengan selai. Sedangkan Dania hanya bisa menghela nafas karena Randy tak memakan sarapan yang dia buat. Sesekali dia memperhatikan Randy yang masih saja dengan ekspresi datarnya.


Setelah selesai sarapan, Randy memilih pergi menuju kamarnya di lantai dia. Lagi-lagi dia mengikuti Randy ke kamar.


Randy memasuki kamar mandi dan Dania langsung menyiapkan baju untuk Randy.


Lima belas menit kemudian, Randy keluar dari kamar mandi dan melihat sekilas ke arah tempat tidur di mana disana sudah ada pakaian yang Dania siapkan, namun Randy tak mengambil pakaian itu dan memilih mengambil sendiri pakaiannya di lemari. Dia mengambil atasan kaos, celana jeans, dan jaketnya.


Sepertinya dia akan ke kampus.


Lagi-lagi Dania hanya bisa menghela nafas karena Randy pun tak ingin memakai pakaian yang sudah dia siapkan.


Jantung Dania berdegup kencang melihat Randy, dia ingin memulai pembicaraan tetapi bingung harus mulai dari mana.


"Yank ..!" panggil Dania.


Randy tetap diam dan tak ingin melihat Dania.


Dania pun memeluk Randy.


"Aku mohon, jangan diemin aku terus, aku mohon, udahan marahnya, aku sedih karena kamu diemin aku terus." ucap Dania lirih.


Matanya sudah memerah menahan tangis.


Randy pun melepaskan pelukan Dania dan memilih keluar dari kamar tanpa melihat Dania walau sekilas.


Brugh.


Dania pun terduduk lemas di lantai.


Air matanya menetes, dia sungguh sedih karena Randy tak ingin bicara padanya dan yang lebih membuatnya sedih karena Randy tak ingin menatapnya sama sekali.


"Apa kamu sebenci, itu, sama aku? Kenapa kamu ga mau lihat aku? Kenapa kamu ga bisa lihat, kalau aku juga sama sedihnya karena harus kehilangan anak kita?"ucap Dania lirih di tengah isakan tangisnya.


Sementara Dania tengah menangis di kamar. Randy langsung melajukan mobilnya.


Di perjalananan, pikirannya tak karuan, antara ingin ke kampus atau pergi ke tempat lain untuk menenangkan dirinya.


Randy mengusap wajah kasar dan menghembuskan nafas kasar. Akhirnya dia tak pergi kekampus dan memilih pergi ke tempat lain.


Kurang lebih tiga puluh menit Randy sampai di salah satu rumah mewah bercat krem, yang tak lain adalah rumah dari orang tuanya.


Setelah memarkirkan mobil, Randy pun menghampiri Mamanya yang tengah sibuk di taman depan rumah.


Dari kejauhan, Mamanya sudah menyambutnya dengan senyuman manis.


"Kok, sendirian? Dania ga ikut?" tanya Mama.


Randy hanya menggelengkan kepala dan tersenyum tipis.


Sang Mama langsung mengalihkan tugas menyiram taman pada tukang kebunnya dan memilih menemani Randy masuk ke dalam rumah.


Randy langsung pergi menuju dapur dan mengambil minuman di dalam lemari es.


"Gimana keadaan Dania?" tanya sang Mama.


"Baik." jawab Randy santai.


"Hubungan kalian baik-baik aja, kan?" tanya Mama.


Randy yang tengah menenggak minumannya pun menghentikan kegiatannya dan menatap sang Mama sekilas kemudian mengangguk.


Saat Randy akan pergi dari dapur, mama pun menahan tangannya.


"Kamu bohong, kalian tidak baik-baik saja, iya, kan?" tanya Mama menyelidik.


Randy menghembuskan nafas perlahan dan menatap Mama.

__ADS_1


"Entah, lah, aku masih marah sama dia, Ma, aku belum bisa terima semua ini." ucap Randy.


Mama Randy menghembuskan nafas kasar dan menarik Randy menuju salah satu kamar di lantai dua. Kamar yang selama hampir 20 tahun lebih itu selalu terkunci rapat dan tak ada yang berani memasuki kamar tersebut. Kamar tersebut memang sengaja di kunci setelah Randy lahir.


Begitu sampai di kamar tersebut, Suasana terasa hening, ruangan itu gelap tanpa adanya cahaya matahari karena gorden yang menutupi jendela kamar.


"Kenapa kita kesini?" tanya Randy bingung.


Mama hanya diam dan berjalan menuju jendela. Dia membuka gorden jendela hingga kini kamar tersebut tampak terang dengan cahaya matahari pagi.


Terlihat sekeliling ruangan itu bercat pink dengan design kartoon di sana. Di sana juga ada sebuah box bayi berwarna putih, dan beberapa mainan bayi.


"Kamu tahu, Rand, ada satu rahasia yang selama ini Mama sembunyikan dari kamu. Bukan maksud Mama tak ingin memberitahu kamu, tetapi bagi Mama, ini adalah sebuah luka yang teramat menyakitkan, dan memang harus Mama kubur dalam-dalam." ucap sang Mama.


Randy hanya diam mendengar ucapan sang Mama, dia merasa bingung dengan ucapan sang Mama.


"Sebelum Mama mengandung kamu, Mama pernah mengandung selain kamu, yang tak lain adalah kakak mu." ucap Mama.


Randy terkejut mendengar ucapan sang Mama. Pasalnya, selama ini yang dia tahu, dia lah satu-satunya anak dari keluarga sebastian.


"Mama amat senang luar biasa saat itu, karena itu merupakan kehamilan pertama Mama, begitu pun Papamu, dia begitu bahagia karena akan menjadi seorang ayah." ucap Mama.


"Kamu tahu, saat Mama mengandung kakak kamu itu di saat usia mama 18 tahun, sama seperti istri kamu. Tentu saja itu usia yang sangat muda untuk seorang wanita mengandung. Usia yang seharusnya menjadi masa-masa indah seorang gadis karena bisa bergaul bersama teman-teman seusianya.


Tetapi berbeda dengan Mama, Mama harus mengorbankan masa muda Mama karena Kakek mu menjodohkan Mama dengan Papamu.


Mama terpukul saat itu, karena sejujurnya Mama tak ingin menikah muda, di tambah lagi saat itu Mama tak mencintai Papamu.


Tapi, ya, seiring berjalannya waktu perasaan cinta mulai tumbuh di antara kami. Sampai akhirnya, suatu hari Mama di nyatakan hamil dan tentu saja Mama dan Papa bahagia. Namun siapa sangka kebahagiaan itu tak bertahan lama, karena di kehamilan trimester pertama Mama, yang tak lain juga sama persis dengan yang istri kamu alami saat ini, Mama harus kehilangan kakak kamu, penyebabnya pun sama karena Mama terlalu kelelahan, kebetulan saat itu Mama juga sedang kuliah." ucap Mama.


"Kamu tahu, Rand, Papamu sangat marah waktu itu. Dua bulan Papa kamu mendiamkan Mama karena dia kecewa Mama tak bisa menjaga kehamilan Mama, dan itu membuat Mama stress. Bagaimana tidak stress? Daat itu semua orang menyalahkan Mama atas kepergian kakak kamu, apa lagi Nenek Ranti (Ibu dari Papa Randy) dia selalu menyalahkan Mama. Hidup Mama hancur, Rand. Mama kehilangan kakak kamu dan setelah itu tak ada satu orang pun yang mendukung Mama. Dan kamu tahu, apa yang Mama lakukan ? Mama mencoba mengakhiri hidup Mama, Mama frustasi dan bunuh diri mungkin satu-satunya cara yang tepat. Yah, walaupun akhir nya Mama masih bisa di selamatkan karena Papa mu langsung membawa Mama ke Rumah Sakit.


Asal kamu tahu, Rand, tak ada satu pun orang tua yang tak akan bersedih saat kehilangan buah hatinya, Papa kamu sedih saat itu, dan tentu saja Mama pun sangat sedih. Mama yang mengandung, Mama yang mengidam, Mama yang merasakan mual. Yah, campur aduk rasanya, hamil itu, itu sebabnya Mama pernah bilang, kan, sama kamu, kalau orang hamil itu tingkahnya suka aneh-aneh, terkadang mereka akan bersikap ke kanakan, karena adanya perubahan hormon dalam tubuhnya. Itulah yang juga terjadi pada Dania, Dania tak menyadari sikapnya saat, itu. Orang hamil itu, jika menginginkan sesuatu, maka dorongan untuk mendapatkannya akan sangat kuat, terkadang menjadi tak sabaran." ucap sang Mama.


Mama menarik nafas dalam dan menghembuskan nya perlahan.


"Karena itu, jangan biarkan istrimu sendiri, jangan sampai dia merasa tak ada yang mendukungnya, jangan sampai dia melakukan hal yang sama, seperti apa yang mama lakukan dulu. Karena dulu pun Mama menyesal telah melakukan semua itu dan beruntungnya Mama, karena Tuhan masih memberi Mama kesempatan hidup, dan setelah itu Mama bisa mengandung kama. Mama sungguh bahagia karena kamu hadir ditengah keluarga kami (mengelus pipi randy) Percayalah, meski Dania terlihat baik-baik saja, tetapi Mama yakin betul hatinya tidak lah baik-baik saja. Saat ini dia membutuhkanmu, nak. Dia butuh dukungan dari kamu, karena kamu lah sumber kekuatannya. yakin lah di setiap masalah yang terjadi pasti akan ada hikmah yang menanti. mama yakin, setelah ini Dania masih bisa mengandung, dia masih muda dan tak memiliki masalah kesehatan, apalagi Dokter pun mengatakan bahwa Dania masih bisa mengandung lagi setelah tiga bulan, kalian bisa mencobanya lagi, jangan berlarut dalam kesedihan , nak. Itu hanya akan menyiksa diri kamu sendiri." ucap Mama sambil mengelus lembut kepala Randy.


Randy hanya memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut dan hangat sang Mama.


Randy menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


Randy memeluk sang Mama dengan erat dan terisak di pelukan sang Mama.


"Cup, cup .. Masa udah gede masih aja cengeng, udah jadi kepala rumah tangga, loh, masih aja nangis kayak gini." ucap sang Mama sambil mengelus lembut punggung Randy.


Randy melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya.


"Makasih ya, Ma, Mama memang yang terbaik." ucap Randy.


"Ya udah, sana pulang, peluk istri kamu, berikan dia kekuatan." ucap Mama.


Randy tersenyum dan mengangguk.


"Randy pamit pulang, Ma." ucap Randy dan di angguki oleh Mama.


Randy bergegas kembali ke rumah dan begitu sampai di rumah, Randy tak melihat mobil Dania di garasi.


"Dania pergi ya, Bi." ucap Randy.


"Iya, den, tadi non Dania pergi bawa mobil." ucap Bibi.


"Sama pak Adi, kan?" tanya Randy.


"Apa aden manggil saya?" tanya Pak Adi yang tiba-tiba datang dari arah dapur.


"Loh, kok, Pak Adi, disini? Katanya Dania pergi, Apa maksudnya Dania pergi sendiri, gitu? nApa dia nyetir sendiri?" ucap Randy terkejut.


Pak Adi dan Bibi pun saling tatap.


"Maaf den, tadi saya sudah menawarkan membantu, non Dania, tapi si, non nya malah menolak." ucap Pak Adi.


Randy mengusap wajah kasar.


"Pak Adi gimana, sih? Dania tuh, baru aja keguguran, dia belum boleh nyetir mobil sendiri, kalau emang dia nolak, kenapa juga ga ngabarin saya, sih? Seenggaknya kasih tahu saya, kek."ucap Randy kesal.


"Maaf den, saya-" Belum selesai Pak Adi melanjutkan ucapannya tetapi Randy langsung menyelanya ucapannya.


"Kemana dia pergi? Apa dia bilang, sama kalian?" tanya Randy.


Bibi dan Pak Adi pun menggelengkan kepalanya.


Randy mengusap wajah kasar dan dengan cepat dia mengambil ponselnya kemudian menghubungi Dania, namun nomornya tak dapat di hubungi.


Randy mencoba menghubunginya untuk kedua kalinya, namun lagi-lagi tak dapat di hubungi.


"Aaarrgghhh ... Sial, ga mungkin dia kabur dari rumah, kan, gara-gara gue diemin." gumam Randy sambil mengacak rambut frustasi.


"Oh Randy, dasar bodoh lo." gumam Randy kesal.


Dengan cepat Randy menaiki anak tangga menuju kamarnya dan langsung membuka lemari pakaian.


"Ahh .. Syukur lah, semua bajunya masih ada." ucap Randy dengan mengelus dadanya.


Randy berpkir Dania kabur dari rumah.

__ADS_1


"Dia suntuk kali, ya. Jadi, pergi keluar. Tapi kenapa dia mesti nyetir sendiri, sih? Ngeyel juga jadi orang, suka-suka sendiri aja, ga tau, apa, gue jadi khawatir" ucap Randy kesal.


Randy akhirnya memilih menunggu Dania di rumah.


Tak terasa waktu berlalu dan kini sudah menunjukan pukul 17.00 wib. Randy kembali cemas karena sudah mau malam Dania masih belum pulang.


Randy kembali menghubungi nomor Dania, tetapi masih tidak dapat di hubungi.


Seketika Randy teringat ucapan sang Mama soal bunuh diri, Randy pun panik dan bergegas turun menuju garasi melajukan mobilnya. Tempat yang pertama kali dia datangi adalah rumah mertuanya.


Begitu sampai di rumah mertuanya tak ada siapapun di sana kecuali para asisten rumah tangga yang bekerja di sana, Randy pun mencari Dania kekamarnya dan tak menemukan dania disana. Pandangan Randy tak sengaja melihat ke arah bingkai foto Dania dengan Riko yang tengah saling menggenggam di tengah turunnya salju. Di foto itu mereka terlihat tertawa riang. Randy mengepalkan tangan dan membuang foto itu ke tempat sampah yang berada di kamar Dania.


Saat Randy akan keluar dari kamar tiba-tiba, dia jadi kepikiran sesuatu.


Dengan cepat Randy menghubungi sang Mama mertua dan meminta alamat rumah Riko. Entah mengapa dia jadi terpikir bahwa saat ini istrinya itu sedang bersama Riko. Randy beralasan bahwa ada barang Riko yang tertinggal di restauran miliknya dan ingin mengembalikannya. Tanpa curiga Mama mertuanya pun langsung memberikan alamat rumah Riko dan Randy pun bergegas menuju rumah Riko.


Tak lama, Randy sampai di rumah Riko, karena rumah riko dan dania ini jaraknya tak begitu jauh.


Ting tong.


Randy memencet bel dan begitu terbuka tampak lah seorang asisten rumah tangga.


"Maaf cari siapa, ya?" tanya asisten rumah tangga.


"Saya mau cari Riko, saya temannya Riko, Riko nya ada, kan, ya?" tanya Randy.


"Mas Riko ada, silakan masuk biar saya panggilkan"


"Ga perlu, Bi, saya tunggu disini aja." ucap Randy.


Randy pun menunggu di luar, sementara Bibi langsung memanggil


Riko.


Tak lama,Riko pun keluar.


"Sorry lo siapa, ya?" tanya Riko.


Randy pun berbalik.


Bugh.


Randy menghantam wajah Riko, membuat Riko tersungkur karena tak siap menerima hantaman Randy.


"Lo apa-apaan, sih?" tanya Riko sambil meringis kesakitan karena hantaman Randy.


Randy menarik Riko agar berdiri.


"Dimana, Dania?" tanya Randy dengan penuh penekanan.


Riko mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Randy.


Riko pun melepaskan tangan Randy.


"Kenapa lo nanya gue? Lo yang suaminya, harusnya lo yang lebih tahu." ucap Riko.


Randy mengusap wajah kasar dan menatap Riko tajam.


"Lo jangan main-main, sama gue." ucap Randy geram.


"Kalau lo ga percaya, lo gledah aja rumah gue. Bisa gue pastiin, lo ga bakalan ketemu Dania disini." ucap Riko.


Randy menghembuskan nafas kasar.


"Awas kalau lo berani bohongin gue."ucap Randy.


Randy pun pergi dari rumah Riko.


"Dasar sial, main tonjok, aja." gumam Riko sambil meringis kesakitan.


Riko jadi kepikiran soal Dania.


"Kemana dia, sebenernya?" gumam Rko.


Riko pun masuk ke dalam rumah dan tak ingin berpikir negatif tentang keadaan Dania.


Sedangkan Randy langsung melajukan mobilnya, dia bingung mau mencari dania kemana lagi?


Randy sebetulnya mengingat Mia dan Ina, tetapi dia tak tau di mana rumah Mia dan Ina, Randy juga tak memilki nomor ponsel teman-teman nya Dania itu.


Randy terus mencari Dania ke tempat-tempat yang pernah dia dan Dania datangi. Dari mulai restauran, kafe, lesehan. Yah, tempat-tempat makan yang pernah dia dan Dania datangi.


Waktu sudah menunjukan pukul 23.00 wib, Randy benar-benar lelah mencari Dania kemana-mana, namun tak juga menemukan Dania. Dia bahkan lupa makan malam.


Tersisa satu tempat lagi yang belum Randy datangi, Randy mencoba mencari ke apartemennya yang dulu dia tempati bersama Dania.


Sesampainya disana Randy langsung mencari Dania kesetiap ruangan.


Brugh.


Randy pun terduduk lemas di sofa.


"Dimana kamu, yank?" gumam Randy.


Randy menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


Dia sungguh lelah, karena lagi-lagi tak menemukan Dania disana.


__ADS_2