
Pagi ini Dania tengah menyiapkan sarapan di meja makan.
Di tengah kegiatannya, keluar lah Randy yang baru saja bangun tidur, wajahnya bahkan terlihat sekali wajah-wajah bekas tempelan bantal.
"Dimana anak-anak?" tanya Randy begitu duduk di kursi makan.
"Masih di kamarnya, kamu sarapan dulu, deh." ucap Dania sambil menyiapkan nasi goreng kesukaan Randy.
Randy menatap lekat ke arah nasi goreng yang sudah tertata di piring itu, setelah itu dia terus memperhatikan Dania.
Randy berpikir, dua hari tinggal bersama, wanita di hadapannya ini memang memerankan perannya sebagai seorang istri. Dia menyiapkan segala kebutuhan Randy.
"Apa iya, semua yang Mama bilang itu benar? Apa iya, gue tergila-gila sama, nih, cewek? Kelihatannya, sih, dia perempuan yang baik. Apa iya, gue pernah suka sama dia?" batin Randy.
Dia masih tidak percaya dengan kenyataan bahwa dia dan Dania memanglah sudah menikah. Gadis-gadis yang pernah dekat dengannya bahkan memiliki wajah yang cantik, apa iya jodohnya justru wanita yang sama sekali tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Jangan kan cantik, Randy bahkan sudah merasa sebal melihat wajahnya.
Namun memang ada yang berbeda dengan dua hari ini, entah mengapa di setiap waktu tertentu Randy merasakan adanya sesuatu dari dalam dirinya setiap kali melihat Dania.
"Ehheumm .. Kenapa ga dimakan sarapannya?" tanya Dania.
"Ini juga mau." ucap Randy.
Dania mengangguk dan duduk di kursi. Dia pun mulai menyantap sarapannya.
"Ngomong-ngomong siapa nama anak-anak?" tanya Randy.
Dania menghentikan kegiatan makannya.
"Raydan dan Rayna." ucap Dania.
"Nama yang bagus, nama panjangnya siapa?" tanya Randy tanpa melihat Dania.
"Kamu ga ingat siapa nama kepanjangan anak-anak? Kamu sendiri yang memberikan nama itu." ucap Dania.
Randy menghentikan makannya dan menatap Dania sekilas.
"Maaf, gue belum ingat apapun." ucap Randy.
Dania menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.
"Anak laki-laki kita bernama Raydan Sebastian, dan anak perempuan kita Rayna Hamish ." ucap Dania.
"Kenapa Hamish? Kenapa nggak Sebastian dua-duanya untuk nama belakang mereka?" tanya Randy.
"Hamish adalah nama kepanjangan aku dan nama Papa aku, jadi waktu itu kita memilih Hamish untuk ade karena agar adil, nama kedua keluarga ada didalam nama anak kita." ucap Dania.
Randy pun mengangguk.
"Terus, kenapa harus nama Raydan dan Rayna?" tanya Randy.
"Karena kedua nama itu diambil dari nama kita, Randy dan Dania." ucap Dania.
Randy terdiam sejenak, dia menatap lekat wajah Dania. Dia membayangkan seandainya tak ada tompel di pipi Dania.
Randy tersenyum menatap Dania, sungguh Dania akan menjadi wanita yang cantik jika saja pipi kanan itu polos dan tak terdapat tanda apapun di pipinya. Pikir Randy.
Randy membulatkan matanya, dia menatap lekat mata Dania. Mata yang sepertinya tak asing baginya. Kenapa setelah dua hari ini, dan setelah dia memperhatikan dengan lekat mata Dania, sepertinya ada sesuatu dimatanya. Entah mengapa rasanya dia selalu ingin menatap mata itu, wajahnya mungkin tak cantik, namun mata itu terlihat indah di mata Randy.
Dania menatap bingung ke arah Randy.
Dia melambaikan tangannya ke arah wajah Randy hingga membuat Randy terkejut dan kembali melahap sarapannya.
Dania hanya menggelengkan kepalanya. Dia pun menyunggingkan senyum tipisnya, entah mengapa ada perasaan bahagia melihat suaminya itu menatapnya dengan tatapan yang tak pernah berubah. Meski Randy tak menyadari perasaannya, tetapi Dania masih bisa merasakan tak ada yang berubah dari pandangan mata Randy. Semuanya masih terlihat sama, dimata itu masih terlihat adanya rasa cinta. Meski Randy sendiri mungkin belum menyadari perasaannya.
"Oh, ya, sore nanti aku ada janji sama teman, aku mau keluar sebentar." ucap Dania.
Randy menghentikan makannya dan menatap Dania. Dia teringat pesan yang masuk ke ponsel Dania tadi malam.
"Apa mungkin Dania akan bertemu dengan Pria bernama Gio itu?" batin Randy.
"Kalau lo pergi, gimana sama anak-anak?" tanya Randy.
"Anak-anak sama Mbak, Aku usahakan pulang cepat. Lagi pula, aku akan stok Asi untuk anak-anak, kalau pun kurang, mereka juga di bantu dengan susu formula." ucap Dania.
"Terserah, yang penting anak-anak ga kekurangan apapun." ucap Randy dan berlalu meninggalkan meja makan.
Dania hanya menggelengkan kepalanya sambil terus melihat Randy yang semakin menjauh dan tak terlihat.
********
Sore hari.
"Selamat sore." ucap Greeter begitu Dania sampai di Outlet restauran yang berada di daerah Jakarta Pusat. Tepatnya sore ini dia sudah janjian bersama Gio untuk membicarakan masalah kebakaran restauran.
Dania mengangguk dan menghampiri Gio yang sudah menunggunya terlebih dulu di no smoking area.
Tanpa Dania sadari, sejak tadi, bahkan sejak masih dari apartemen ada seseorang yang terus mengikutinya hingga ke restauran.
Orang itu duduk disebelah meja Dania dan Gio.
"Maaf, nunggu lama." ucap Dania.
Gio mengerutkan dahinya menatap Dania.
"Maaf siapa, ya?" Tanya Gio dengan ekspresi bingung.
__ADS_1
Dia bingung karena dia janjian bertemu dengan Dania, namun nyatanya yang datang menghampirinya adalah seorang wanita berkaca mata dengan tompel di pipi kanannya.
"Loh, aku Dania, istri Randy." ucap Dania.
Gio membulatkan matanya dan berdiri. Dia sungguh terkejut mendengar bahwa wanita yang kini ada di hadapannya adalah istri dari Randy, temannya sendiri.
"Kenapa kamu jadi kaya gini?" tanya Gio dengan menatap Dania dengan tatapan tak percaya. Sungguh dia syok melihat penampilan Dania.
Dania meraba wajahnya dan membulatkan matanya.
"Ya ampun, maaf aku lupa." ucap Dania sambil melepaskan kacamata dan tompel yang tertempel di pipi kanannya.
Dia memang sengaja berpenampilan seperti itu saat masih berada di apartemen karena tak ingin Randy mencurigainya, tetapi ternyata dia lupa melepaskan kacamata dan juga tompelnya saat akan bertemu Gio.
Lagi-lagi Gio dibuat terkejut karena ternyata wanita bertompel tadi adalah benar Dania, istri dari Randy.
Sama halnya dengan Gio, seseorang yang mengikuti Dania pun tak kalah terkejutnya saat melihat penampilan Dania. Dia tak menyangka bahwa ternyata wanita bertompel itu adalah wanita yang cantik. Dania bahkan sangat cantik, benar-benar jauh dari bayangan orang itu. Orang itu bahkan seperti pernah melihat wajah cantik Dania.
"Astaga, kamu apa-apaan berpenampilan seperti ini?" tanya Gio.
Dania pun tersenyum tipis.
"Ceritanya panjang. Yang jelas, karena penampilan seperti inilah aku bisa dekat lagi dengan Randy, dan anak-anak bisa kembali dekat dengan Papanya." ucap Dania.
Gio mengerutkan dahinya, dia sungguh tak mengerti apa maksud dari ucapan Dania. Namun dia pun tak ingin mengambil pusing dengan memikirkan masalah Dania. Toh, itu bukan urusannya melainkan adalah urusan pribadi Dania dan Randy.
Gio pun mengangguk.
Dania memanggil pelayan dan langsung memesan minuman.
Setelah selesai memesan, Gio mengeluarkan sebuah rekaman cctv yang sebelumnya sudah dia minta pada polisi. Karena kebetulan malam itu entah di sengaja atau tidak, cctv restauran yang di Bandung ternyata mati dan tak dapat merekam aktivitas apapun selama kejadian itu berlangsung.
"Ini aku minta khusus dari polisi, sebetulnya ini adalah bukti dan tak bisa dimiliki sembarangan. Tapi aku sengaja minta pada polisi. Ini diambil dari cctv restauran yang ada didepan restauran kita. Coba kamu lihat orang yang ada didalam cctv ini, apa kamu kenal orang itu? Karena jujur aku ga kenal siapa orang itu." ucap Gio sambil melihat layar laptop miliknya yang terlihat di sana aktivitas seseorang sebelum terjadi kebakaran.
Dania memperhatikan dengan seksama seorang pria bertubuh tambun yang tengah mondar-mondir itu. Namun pria itu tentu saja berpakaian rapi dan tertutup, sehingga tak terlihat jelas wajahnya.
"Aku ga bisa ngenalin orang yang ada di cctv itu. Kayaknya aku juga nggak punya kenalan orang dengan bentuk tubuh seperti itu." ucap Dania.
"Apa ada bukti lainnya?" tanya Dania.
Gio pun menggeleng.
"Kalau begitu, dia orang bayaran." ucap Gio.
"Apa? Maksud kamu, ada orang lain selain dia?" tanya Dania.
"Aku rasa begitu, bisa jadi dia orang suruhan saingan bisnis kita."
Dania pun mengangguk.
"Apa mungkin pelakunya orang yang sama dengan pelaku kecelakaan Randy? Aku masih ga habis pikir, sih, karena sampai sekarang Polisi belum juga menemukan titik terang untuk masalah kecelakaan Randy. Aku sedih karena dia masih belum ingat keluarganya. Dia bahkan benci banget sama aku. Aku benar-benar merindukan Randy, aku merindukan semua kebersamaan kami." ucap Dania dengan ekspresi wajahnya yang berubah menjadi sendu.
"Kamu yang sabar, ya. Aku yakin, mau sepintar apapun pelakunya, suatu saat nanti pasti akan terbongkar juga." ucap Gio.
Dania pun mengangguk.
"Aku harap begitu, semoga aja." ucap Dania.
Dania dan Gio pun lanjut membicarakan masalah pekerjaan.
Sementara orang yang mengikuti Dania itu langsung pergi dari restauran.
******
Di apartemen.
Pukul 19.00 wib Dania memasuki apartemen. Dilihatnya ruang tamu yang tampak sepi.
Dania melangkah menuju kamar dan terdengar suara Randy dari dalam kamar baby Raydan dan baby Rayna.
Dania pun memilih masuk kedalam kamar baby Raydan dan baby Rayna terlebih dulu.
Begitu pintu terbuka, Randy melihat kearah pintu dan seketika jantungnya berdegup kencang begitu melihat Dania.
"Astaga, tenang." batin Randy.
Dia menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.
"Baru pulang?" ucap Randy.
"Iya, maaf aku kelamaan diluar. Apa ade sama Abang rewel?" ucap Dania.
"Mereka baik seharian ini, kami menghabiskan banyak waktu bertiga." ucap Randy.
Dania menatap Dita bergantian dengan Ajeng. Dania seolah meminta jawaban, apa benar seharian ini anak-anak menghabiskan banyak waktu dengan Papa mereka.
Ajeng dan Dita pun hanya tersenyum.
" Gue belum makan malam ." ucap Randy dengan masih bermain dengan kedua bayi menggemaskan itu.
"Apa? Kenapa ga makan duluan? Aku udah masakin makan malam buat kamu, tinggal dipanasin aja, kok." ucap Dania.
"Gue males, lagian itu kan tugas lo sebagai istri. Jangan karena lo sibuk di luaran sana, lo jadi mengabaikan tugas lo sebagai seorang istri, apalagi mengabaikan tugas lo sebagai seorang ibu." ucap Randy.
Dania terdiam sejenak.
__ADS_1
Mengapa juga Randy harus berbicara seperti itu? Padahal jelas-jelas pagi tadi dia sudah meminta izin pada Randy.
"Ya udah, aku siapin makan malam dulu." ucap Dania.
"Hhmmm .."
Dania pun bergegas menuju dapur dan memanaskan makan malam, setelah itu menatanya di meja makan.
Saat dia akan memanggil Randy, Randy sudah lebih dulu menuju dapur dan duduk di kursi makan.
Dania pun mengambilkan nasi dan juga lauknya untuk Randy.
"Mau kemana?" tanya Randy sambil menatap Dania saat Dania akan pergi dari dapur.
"Mau lihat anak-anak dulu." ucap Dania.
"Mereka udah tidur, mendingan lo makan dulu." ucap Randy.
Dania mengangguk dan duduk.
Dia pun mulai mengambil makanan.
"Oh, ya. Apa lo bisa bantu gue?" tanya Randy di tengah kegiatan makannya.
Dania mengerutkan dahinya dan menghentikan kegiatan makannya.
"Kamu mau aku bantu kamu soal apa?" tanya Dania.
Randy menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.
"Apa lo bisa bantu gue mengingat segalanya? Mengingat apa yang terjadi selama 4 tahun terakhir ini. Mengingat segalanya tentang kita dan tentang waktu yang pernah kita lalui bersama anak-anak." ucap Randy dengan menatap dalam ke arah mata Dania.
Jantung Dania berdegup kencang, dia tak menyangka Randy akan meminta bantuannya untuk memulihkan kembali ingatannya. Mata Dania memerah, ada perasaan bahagia yang tak terkira di hatinya. Akhirnya Randy mau berusaha mengembalikan ingatannya.
"Tentu, tanpa kamu minta pun aku pasti akan bantu kamu, aku akan bantu kamu untuk mengingat segalanya kembali, aku akan berusaha mengembalikan ingatan suami aku dan juga Papa dari anak-anak." ucap Dania. Dia tak kuasa lagi menahan air matanya hingga keluarlah air matanya dan membasahi pipi mulusnya.
Entah mengapa dada Randy terasa begitu sakit melihat Dania menangis. Dia dapat melihat ada kesedihan di mata Dania.
"Kalau begitu, mari kita memulainya bersama." ucap Randy sambil mengulurkan tangannya ke hadapan Dania.
Dania tertegun, tangisnya semakin lirih namun itu adalah tangisan haru.
Dania pun mengangguk dan menyambut tangan Randy.
"Ya, ayo kita berusaha bersama. Aku akan selalu mendampingi kamu apapun yang terjadi." ucap Dania.
Dia tersenyum di tengah tangis harunya.
Randy pun tersenyum dan mengangguk.
Sebetulnya masih ada perasaan tak yakin dalam hatinya, namun dia ingin mencoba mengingat segalanya. Dia ingin mencoba mengingat kembali segalanya yang pernah dia dan keluarga kecilnya itu lalui bersama.
******
Pukul 21.00 wib.
Randy memasuki kamar dan di lihatnya Dania yang baru saja keluar dari kamar mandi. Sepertinya dia baru saja mengganti pakaian yang dia pakai tadi sore dengan dress tidurnya.
Randy menatap intens tubuh Dania dari ujung kaki hingga ujung kepalanya.
Entah mengapa berbeda dengan sebelumnya, Dania terlihat begitu seksi.
Dania pun merasa tak nyaman diperhatikan seperti itu oleh Randy.
"Itu, aku ga ada baju tidur dengan setelan celana, semuanya kaya gini." ucap Dania sambil melihat penampilannya sendiri. Sebetulnya dia ingat ucapan Randy kemarin malam saat Randy mengatakan "sebaiknya kalau tidur pakai celana aja, jangan pakai baju begituan."
"Ga apa-apa." ucap Randy sambil berlalu ke kamar mandi.
Dania pun melangkah menuju tempat tidur.
Sementara di kamar mandi, Randy terlihat gelisah dan mondar-mandir tak jelas.
Dia mengusap wajah kasar. dia meringis merasakan ngilu dari tubuh bagian bawahnya.
"Astaga, gue ga tahan." ucap Randy sambil mencoba menahan gairahnya.
"Ya ampun, gimana pun juga gue laki-laki normal. Tapi, gue harus apa? Masa iya gue minta duluan sama dia?" ucap Randy.
Dia sungguh dilema, gairahnya sudah menumpuk dan dia pun ingin segera menuntaskannya. Namun, dia ragu untuk mengajak Dania berhubungan dengannya.
"Astaga, bisa gila gue. Terserah lah, dia istri gue, dia sah buat gue, gue ga akan menahannya." ucap Randy.
Randy pun bergegas keluar dari kamar mandi dan menghampiri Dania.
Tubuh Randy melemas begitu melihat Dania yang ternyata sudah memejamkan matanya.
"Astaga, ternyata dia udah tidur." ucap Randy sambil melihat Dania yang sudah tertidur.
"Sabar, ini ujian." ucap Randy sambil mengelus dadanya.
Dia pun kembali masuk kedalam kamar mandi.
******
Hai, hai readers manisnya authorπ€
__ADS_1
Terimakasih untuk yang sudah mendukung novel Istri Jelekku ini dengan vote kalian. Tolong selalu dukung novel Istri Jelekku ini, ya, dengan bantu vote novel Istri Jelekku ini π€π€
Love you all πππ€π€