Istri Jelekku

Istri Jelekku
Bab 105


__ADS_3

Hai, hai.


Author kembali 😊


Sebetulnya author masih sibuk, loh. Tapi author sempatkan menulis untuk kalian.


Terimakasih untuk yang masih setia mengikuti kisah Istri Jelekku ini. Semoga kalian tetap suka.


Oh, ya. Tolong bantu vote untuk author ya readers manisnya author 🤗


❤️ you all 🤗


******


"Anak siapa maksudnya?" tanya Randy.


Dania dan Mama Randy terkejut melihat Randy sudah berada di dapur. Entah sejak kapan dia berada di dapur.


"Sejak kapan kamu disitu, Rand?" tanya Mama Randy.


"Belum lama." ucap Randy.


Randy pun melangkah mendekati sang Mama dan Dania.


"Kalian lagi ngomongin apa, sih? Kayaknya aku dengar kata anak barusan ." ucap Randy sambil menatap menyelidik ke arah sang Mama dan Dania.


Seketika jantung Dania berdegup kencang. Entah dia akan menjawab apa.


Sang Mama pun menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.


"Anaknya Dania." ucap Mama.


"Siapa Dania?" tanya Randy bingung.


Randy memang belum mengetahui nama gadis cupu yang kini ada di hadapannya. Dia pun tak memperhatikan saat Dania memperkenalkan dirinya di kelas tadi.


"Ini dia, namanya Dania." ucap Mama.


Randy terkejut mendengar ucapan sang Mama.


"Lo udah punya anak? Kapan nikahnya?" tanya Randy sambil menatap Dania dengan tatapan tak percaya. Dia tak menyangka ternyata gadis cupu itu sudah menjadi seorang ibu.


"Empat tahun lalu." ucap sang Mama.


Lagi-lagi Randy di buat terkejut.


"Lo serius udah nikah? Jadi, malam itu kita ga -" Randy menghentikan ucapannya saat tersadar bahwa ada sang Mama di dekatnya.


"Ga apa? Kok ga diterusin ngomongnya?" tanya Mama.


"Ga apa-apa, Ma. Aku pinjem dia bentar." ucap Randy sambil menarik Dania menjauh dari sang Mama.


"Pelan-pelan, dong." ucap Dania sambil meringis kesakitan saat Randy menarik tangan Dania terlalu kuat.


Randy tak mempedulikan ucapan Dania, dia pun membawa Dania ke kamarnya.


Brak ..


Dania terkejut saat Randy menutup pintu kamarnya dengan kencang dan langsung menguncinya.


"Ayo jelasin." ucap Randy sambil menatap Dania dengan tatapan sulit di artikan.


Dia terus melangkah mendekati Dania, membuat Dania harus melangkah mundur.


"Jelasin apa?" tanya Dania bingung dan masih terus melangkah mundur.


"Jelasin sekarang, apa yang terjadi di malam itu? Jelasin, usia berapa anak lo? Kenapa Mama tahu sedetail itu tentang lo dan anak lo? Jelasin juga kapan lo nikah dan siapa suami lo?" ucap Randy.


Dania mengerutkan dahinya mendengar sederet pertanyaan yang Randy lontarkan.


Brugh ..


Dania dan Randy pun terhempas ke atas tempat tidur dengan posisi Randy berada di atas tubuh Dania.


Dania menelan air liurnya dengan susah payah. Sungguh dadanya terasa ingin meledak karena setelah satu bulan ini dia kembali dekat dengan Randy. Rasanya benar-benar sangat canggung. Rasa itu bahkan sama seperti saat dulu Dania belum mengungkapkan isi hatinya pada Randy. Rasa itu sama seperti saat pertama kali jantungnya berdetak kencang untuk pertama kalinya saat berdekatan dengan Randy.


"Kenapa diem? Ayo jelasin semuanya." ucap Randy.


"Itu, aku -" tubuh Dania gemetar, perutnya terasa sakit dan keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya.


Jantung Dania semakin berdegup kencang saat Randy mendekatkan bibirnya tepat di telinganya.


"Jelasin sekarang, atau gue bakalan lakuin hal yang ga bakal lo lupain seumur hidup lo." ucap Randy dengan nada mengancam.


Randy kembali menatap Dania dan membuka kaca mata yang Dania kenakan.


Sekali lagi Dania menelan air liurnya. Jantungnya semakin berdegup kencang. Sungguh dia takut Randy mengenali identitas aslinya.


"Masih ga mau ngomong?" ucap Randy dengan masih terus menatap Dania.


Dania pun menggelengkan kepalanya.


"Aku susah jelasin kalau posisi kamu kaya gini." ucap Dania.


Randy mengerutkan dahinya dan membaringkan tubuhnya di samping tubuh Dania.


"Jadi, kapan lo nikah?" tanya Randy sambil menatap langit-langit kamar.


"Empat tahun lalu." ucap Dania.


Randy menatap Dania dan sesaat kemudian dia pun mengangguk.


"Terus, berapa usia anak lo sekarang?" tanya Randy dengan masih menatap langit-langit kamar. Dia sungguh penasaran, kenapa sang Mama bisa terlihat dekat dengan Dania.


"Lima bulan, jalan enam bulan." ucap Dania dengan ragu.


Randy mengerutkan dahinya dan tersenyum.


Dia pun menghela napas lega.


"Syukur lah, gue kira anak lo udah seumuran 4 tahunan." ucap Randy sambil bangun dari tidurnya dan berdiri.


Dania pun mendudukkan dirinya dan menatap bingung ke arah Randy.


"Emang kenapa?" tanya Dania.


Randy menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.


"Gue pikir anak lo anak gue juga. Tapi syukur lah, karena anak lo masih berusia 5 bulan, itu artinya anak itu bukan anak gue." ucap Randy dan berlalu meninggalkan Dania yang terdiam mematung begitu mendengar ucapan Randy.


Hati Dania terasa sakit mendengar ucapan Randy yang tak mengakui baby Raydan dan baby Rayna sebagai anaknya.


"Sabar, Dania. Dia lagi ga jadi dirinya sendiri." batin Dania.


Dania menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.


Dia pun keluar dari kamar Randy dan melangkah menuju pintu keluar apartemen.


"Mau kemana?" tanya Mama Randy.


Dania pun menghentikan langkahnya dan menghampiri sang Mama mertua.

__ADS_1


"Aku mau pulang dulu, Ma. Aku udah kelamaan ada diluar, dada aku udah sakit, Abang sama ade kayaknya mau ASI, Ma." ucap Dania.


Mama pun mengangguk dan mengantar Dania ke pintu keluar.


"Nanti Mama mampir ke apartemen kamu, Mama kangen sama Abang sama ade." ucap Mama.


Dania pun mengangguk dan pergi dari apartemen.


Dari ruang tamu Randy terus memperhatikan Dania dan sang Mama. Ada yang aneh menurutnya, karena kedua wanita itu terlihat begitu akrab.


******


Malam harinya di apartemen Dania.


Kedua baby sitter itu tengah sibuk menenangkan baby Raydan dan baby Rayna.


Entah mengapa malam ini baby Raydan dan baby Rayna menjadi rewel, tak biasanya kedua bayi menggemaskan itu menjadi rewel.


Dania pun ikut kerepotan menenangkan baby Raydan dan baby Rayna.


"Kenapa Abang rewel terus? Tuh lihat, ade jadi ikut rewel." ucap Dania sambil coba mengambil alih menggendong baby Raydan yang terus saja rewel.


"Udah, Non, makan dulu aja. Non belum makan malam, Abang biar saya yang gendong." ucap Dita, baby sitter berusia 35 tahun, berwajah manis, bertubuh tak terlalu tinggi dan berkulit kuning Langsat.


"Saya ga bisa makan, sus, di saat anak-anak rewel begini." ucap Dania.


Pikir saja, ibu mana yang bisa menyuapkan makanan ke mulutnya di saat anaknya tak bisa tenang dan terus menangis? Tentu semua ibu tak akan bernafsu memakan apapun jika mengalami hal yang sama dengan Dania.


Dania sungguh tak tega melihat baby Raydan dan baby Rayna yang terus saja rewel dan tak ingin menyusu. Jangan kan menyusu padanya, susu botol pun kedua bayi itu tak ingin meminumnya, membuat Dania semakin kerepotan.


Ting tong.


"Siapa ya, Mbak?" ucap Dania pada Ajeng, baby sitter seumuran dengan Dita, berkulit putih dan bertubuh tinggi.


"Biar saya buka pintunya, Non." ucap Ajeng.


Dania pun mengangguk dan Ajeng bergegas membuka pintu apartemen.


Terlihat seorang ibu-ibu dan seorang pria muda di sana.


"Maaf cari siapa, ya?" tanya Ajeng.


"Saya mau bertemu dengan pemilik apartemen ini." ucap ibu-ibu itu.


"Dengan ibu siapa, ya?" tanya Ajeng.


"Bilang saja Randy dan Mamanya datang berkunjung." ucap ibu-ibu yang ternyata adalah mertua Dania. Dia datang bersama Randy.


Randy pun terkejut mendengar namanya di sebut. Pasalnya sejak di rumah, sang Mama hanya mengatakan akan berkunjung ke rumah rekannya.


"Emang teman Mama kenal aku juga?" bisik Randy.


Mama pun mengangguk.


"Temen Mama yang mana emang?" bisik Randy lagi.


"Nanti juga kamu lihat sendiri." ucap Mama.


Randy pun mengangguk.


Ajeng pun mempersilahkan mereka masuk dan meminta menunggu di ruang tamu, sementara Ajeng pergi memanggil Dania.


"Siapa, Mbak?" tanya Dania.


"Itu ada mas Randy dan Mamanya datang berkunjung, Non." ucap Ajeng.


Dania membulatkan matanya. Dia tak menyangka Mama mertuanya dan suaminya datang berkunjung ke apartemennya.


"Non." ucap Dita dengan ekspresi terkejutnya.


"Ssttt .. Nanti saya jelasin. Saya harus ke ruang tamu dulu, tolong titip Abang sama ade." ucap Dania.


Dania pun bergegas menuju ruang tamu, meninggalkan Dita dan Ajeng yang masih terdiam mematung. Mereka masih bingung melihat Dania yang tiba-tiba saja merubah penampilannya.


"Kalian disini?" ucap Dania begitu sampai di ruang tamu. Jantungnya berdegup kencang, napasnya terengah karena dia setengah berlari dari lantai dua menuruni anak tangga menuju ruang tamu. Apartemen Dania ini memang berlantai dua, dan kamarnya terletak di lantai dua.


Randy terkejut melihat Dania ada di hadapannya. Dia menatap sang Mama dengan penuh tanya, sementara sang Mama hanya tersenyum tipis.


"Ini apa maksudnya, Ma? Kenapa kita jadi ke rumah dia? Jadi, yang Mama bilang teman Mama tuh, maksudnya dia?" ucap Randy sambil menunjuk Dania.


Dia sungguh syok melihat Dania ada di hadapannya.


"Kenapa kamu syok gitu, sih, Rand? Kalian bukannya udah saling kenal, ya?" tanya Mama.


"Bukannya gitu, Ma. Tapi kenapa juga kita harus datang kesini?" ucap Randy bingung.


"Ya karena Mama kangen sama cucu Mama." ucap Mama Randy.


Dania terkejut mendengar ucapan Mama mertuanya itu. Pasalnya mereka sudah sepakat untuk tak memberitahukan Randy dengan cepat. Mereka sepakat memberitahukan Randy secara perlahan. Tapi kenapa Mama Randy justru memberitahukan semuanya secepat ini? Pikir Dania.


Tak jauh berbeda dengan Dania, Randy bahkan lebih terkejut mendengar ucapan sang Mama. Dia pun menatap sang Mama dengan tatapan penuh tanya.


"Mama sudah anggap anak Dania seperti cucu Mama sendiri. Sepertinya kamu sudah harus menikah, Rand. Mama sudah pengen timang cucu." ucap Mama.


Dania pun bernapas lega mendengar penjelasan Mama mertuanya itu. Namun berbeda dengan Randy, dia justru merasa ada yang tidak beres di antara sang Mama dan gadis cupu yang kini ada di hadapannya.


"Loh, anak-anak lagi nangis, ya?" tanya Mama Randy saat mendengar tangisan baby Raydan dan baby Rayna.


Tangisan kedua bayi itu sampai terdengar ke ruang tamu.


"Iya, Ma -" ucapan Dania terhenti saat dia tak sengaja melihat Randy yang sedang menatapnya dengan tatapan dan ekspresi tak biasa.


"Maksud aku iya, Tan. Mereka lagi rewel. Kalau gitu aku permisi dulu." ucap Dania dan bergegas menghampiri baby Raydan dan baby Rayna.


Mama Randy akan mengikuti Dania dan Randy langsung menahan tangan sang Mama.


"Mama mau kemana?" tanya Randy.


"Mau ke atas." ucap Mama.


"Mau ngapain?" tanya Randy bingung.


"Ya mau lihat bayi yang lagi nangis itu, lah. Kamu ini gimana, sih? Masa kamu diam aja disini, sementara Dania sibuk nenangin kedua bayi itu." ucap Mama.


Randy mengerutkan dahinya. Dia sungguh tak mengerti apa maksud ucapan sang Mama.


"Maksud Mama apa, sih? Apa hubungannya bayi itu sama aku? Aku ga mau ke atas." ucap Randy.


Sang Mama menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.


"Ya udah, kamu tunggu aja disini, Mama mau ke atas." ucap Mama.


Mama pun bergegas naik ke lantai dua, sedangkan Randy duduk menunggu di ruang tamu.


Sepuluh menit berlalu tetapi baby Raydan dan baby Rayna masih tetap rewel dan terus menangis.


Randy yang mendengar suara tangis kedua bayi itu dari ruang tamu pun entah mengapa hatinya menjadi tak tenang begitu mendengar tangisan kedua bayi itu.


Dia menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.


Dia pun pergi menuju lantai dua untuk menghampiri kedua bayi itu.

__ADS_1


Begitu sampai di pintu kamar yang dia yakini adalah kamar sang bayi karena terdengar suara tangisan sang bayi itu, entah mengapa seketika jantungnya berdegup lebih kencang dan tangannya begitu gemetar saat akan membuka lebih lebar pintu kamar yang sudah setengah terbuka itu.


"Huh, kenapa gue deg-degan?" gumam Randy.


Sungguh rasanya tak nyaman merasakan perasaan yang seperti saat ini dia rasakan.


Dia terdiam sejenak dan tak membuka pintu kamar itu.


Dadanya terasa sesak, kepalanya sungguh terasa sakit.


"Sial." gumam Randy. Dia mencoba menahan sakit di kepalanya dan bergegas keluar dari apartemen, dia tak peduli dengan sang Mama yang masih berada di apartemen itu.


******


Malam harinya.


Dio menggelengkan kepalanya melihat Randy yang tak hentinya menenggak minuman beralkohol.


"Lo kenapa, sih, Rand? Lo lupa, kalau lo belum pulih betul?" ucap Dio.


Dio tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya itu hingga membuatnya tak berhenti menenggak minuman beralkohol itu.


Randy bahkan tak bicara sepatah kata pun, dia hanya diam.


Lagi-lagi Randy akan menenggak minuman yang entah sudah gelas ke berapa yang dia minum, namun Dio langsung menahan tangannya.


"Udah cukup, Rand. Kepala lo bisa tambah sakit kalau lo terus minum." ucap Dio.


"Gue rasa lo juga lupa, kalau nih minuman nggak ada apa-apanya buat gue." ucap Randy dan menghempaskan tangan Dio hingga terlepas. Dia pun menenggak minuman itu dan bangun dari duduknya.


"Mau kemana lo?" tanya Dio.


"Cabut." ucap Randy.


"Apa? Di saat lo kaya gini? Biar gue antar." ucap Dio.


Randy pun menggelengkan kepala.


"Gue masih ada urusan, lo ga usah khawatir, gue masih sadar." ucap Randy dengan setengah sadar.


Dio pun memaksa ingin mengantar Randy namun lagi-lagi Randy pun menolak.


"Gue ga kenapa-kenapa." ucap Randy.


Randy pun bergegas keluar dari klub dan masuk ke dalam mobilnya.


"Gue akan buktiin apa maksud ucapan lo tadi siang." gumam Randy dengan setengah sadar. Sebetulnya Randy sudah mulai mabuk, namun dia mencoba biasa saja di hadapan Dio. Dia tahu sahabatnya itu pasti akan cemas jika dia pergi sendiri, lagi pula dia pun pergi menggunakan taksi.


Taksi itu pun melaju menuju alamat yang sudah Randy ucapkan sebelumnya.


Sepuluh menit kemudian.


Ting tong.


Ting tong.


Dania terbangun saat mendengar suara bel.


Dia pun melihat jam yang berada di samping tempat tidurnya dan ternyata sudah pukul satu dini hari. Siapa juga yang bertamu tengah malam begini. Pikir Dania.


Dania pun bergegas turun menuju pintu, dia terkejut melihat Randy di layar kamera yang berada di samping pintu masuk.


Dengan cepat dia berlari menuju kamarnya dan memakai kaca mata juga tompel nya.


"Aduh ngapain, sih, dia kesini tengah malam?" gumam Dania.


Dengan napas terengah-engah dia kembali ke pintu.


Ting tong.


Lagi-lagi terdengar suara bel.


Dania pun mencoba mengatur napasnya dan perlahan membuka pintu apartemennya.


Belum sampai terbuka sepenuhnya, Randy langsung menerobos masuk dan mendorong Dania dengan cukup keras hingga punggung Dania menabrak dinding dan membuat Dania sampai meringis kesakitan.


"Kamu apa-apaan, sih?" tanya Dania bingung dengan masih merasakan sakit di punggungnya.


"Kenapa? Bukannya ini yang lo mau?" tanya Randy.


Dania mengerutkan dahinya. Dia tak mengerti apa maksud ucapan Randy.


"Maksudnya apaan, sih?" tanya Dania.


Randy menarik Dania ke lantai atas menuju kamar Dania.


"Kamu kasar banget, sih. Tangan aku sakit." ucap Dania.


Randy tak mempedulikan ucapan Dania dan langsung mendorong tubuh Dania hingga terhempas ke atas tempat tidur. Dia langsung mendindih tubuh Dania dan menatap Dania dengan tatapan sayu.


Dia memegang tangan Dania yang tadi dia genggam kuat saat menarik Dania menuju kamar.


"Lo bilang tangan lo sakit, kan? Tapi apa lo tahu? Hati gue lebih sakit karena harus mempunyai pasangan hidup yang jelek kaya lo." ucap Randy.


Dania mengerutkan dahi mendengar ucapan Randy. Dia semakin bingung dibuat Randy.


"Maksudnya apa, sih? Aku ga ngerti." ucap Dania.


Randy tersenyum tipis dan melumat bibir Dania. Dania membulatkan matanya, jantungnya berdegup kencang. Dia sungguh terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu dari Randy. Pasalnya sudah sebulan ini dia tak pernah lagi bersentuhan dengan Randy, membuatnya menjadi merasa canggung mendapatkan perlakuan seperti itu. Untuk sesaat dia terdiam dan tak lama kemudian dia pun tersadar. Dia langsung mendorong tubuh Randy hingga Randy terjengkang dan jatuh ke atas lantai. Dia pun segera duduk dan menatap Randy dengan tatapan tak percaya.


Randy pun tersenyum sinis menatap Dania.


"Kenapa, ha? Kenapa lo nolak gue? Bukankah ini biasa di lakukan oleh setiap pasangan? Jadi, kenapa lo nolak gue? Harusnya lo layani gue dengan baik." ucap Randy sambil berdiri dan membuka kaos yang dia kenakan.


Dania semakin di buat bingung melihat tingkah Randy.


"Maksud kamu apa, sih? Tolong bicara yang jelas, aku benar-benar nggak ngerti apa maksud kamu." ucap Dania.


"Jangan pura-pura lagi didepan gue. Apa karena gue hilang ingatan, kalian semua jadi sembunyikan semua kebenaran ini dari gue


, ha?" bentak Randy.


Dania terkejut mendengar bentakan Randy.


Dia pun bergegas menghampiri Randy.


"Kamu baik-baik aja?" tanya Dania.


Randy kembali mendorong tubuh Dania dan **** tubuh Dania.


"Kenapa, ha? Kenapa harus lo yang jadi istri gue? Kenapa harus lo, ha? Cewek jelek yang sama sekali bukan tipe gue. Kenapa lo yang harus jadi ibu dari anak-anak gue?" ucap Randy sendu.


Dania menelan air liurnya dengan susah payah.


"Kenapa, ha? " bentak Randy sambil menatap Dania dengan tatapan penuh kebencian.


******


Nah, loh.


Menurut kalian, Randy tahu dari siapa dan sejak kapan Randy tahu Dania itu istrinya? 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2