
Empat hari sudah Randy dan Dania berada di Bangkok, sudah beberapa destinasi wisata yang mereka datangi di Bangkok, dan salah satunya adalah Pantai Pa**aya yang berada sekitar tiga jam perjalanan dari kota Bangkok.
Pukul 06.00 waktu setempat, Randy terbangun dari tidurnya.
Di lihatnya ke samping, namun tak ada dania disana.
"Pagi, yank." sapa Dania.
Baru saja dia keluar dari kamar mandi.
"Emmm .. Pagi." ucap Randy.
"Ayo bangun, yank, ini hari terakhir kita disini, jadi harus manfaatin waktu sebaik mungkin." ucap Dania.
Randy mendudukkan dirinya dan melihat jam di ponselnya.
"Masih pagi, yank." ucap Randy.
"Udah siang, yank, ayo cepetan bangun, terus mandi, sana." ucap Dania.
randy mengangguk dan berjalan malas menuju kamar mandi.
Sementara Dania langsung bersiap-siap.
Lima belas menit kemudian, Randy keluar dari kamar mandi dan langsung memakai pakaiannya yang sudah di siapkan oleh Dania.
Setelah selesai bersiap, mereka pun memilih untuk breakfast terlebih dulu sebelum memulai aktivitas mereka.
"Emang kita mau kemana, sih, yank.?" tanya Randy di tengah sarapannya.
"Kita cari sesuatu yang unik, aku mau beli souvenir juga beberapa makanan khas sini buat oleh-oleh di rumah."ucap Dania.
Randy mengangguk.
Mereka pun melanjutkan breakfast mereka.
Setelah selesai, mereka keluar dari hotel.
Pertama kali tempat yang mereka datangi adalah pasar tradisional Chat**hak.
Dania langsung sibuk memilih-milih beberapa souvenir. Sementara Randy tengah asyik mengabadikan moment istrinya itu belanja menggunakan handycamnya.
"Lihat sini, yank, say hello, please." ucap Randy.
Dia meminta Dania melihat ke kamera hanya untuk sekedar say hello di depan kamera.
"Hai." ucap Dania sambil tersenyum di depan kamera.
Randy pun tersenyum.
"Kamu lagi nyari apa, sih, yank?" tanya Randy sambil masih tetap merekam kegiatan Dania.
"Ini, loh, jadi aku, tuh, lagi nyari souvenir-souvenir cantik khas sini, tuh, kan, pada bagus-bagus semua, jadi pengen beli semuanya, deh. Gimana, yank, boleh, ga?" tanya Dania sambil menunjukkan beberapa souvenir yang terdapat di salah satu toko yang berada di pasar tradisional tersebut.
"Up to you, darling, apapun itu, yang penting kamu suka, beli aja." ucap Randy.
Dania pun tersenyum dan mengangguk.
"thanks, babe." ucap Dania.
Akhirnya Dania membeli cukup banyak souvenir yang akan di bawa pulang untuk buah tangan orang rumah.
Mulai dari souvenir-souvenir kecil, beberapa tas anyam yang unik, dan baju-baju lucu.
Setelah selesai mengabadikan kegiatan istrinya itu, kini Randy tengah sibuk memilih beberapa barang klasik khas Bangkok, karena memang Randy menyukai hal-hal yang klasik dan antik.
Setelah puas menyusuri pasar tradisional Chat**hak, Randy dan Dania pun memilih pergi ke tempat-tempat lainnya.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sudah banyak barang yang Randy dan Dania beli.
Waktu pun sudah menunjukkan pukul 18.00 waktu setempat.
"Yank udahan dulu, ya, belanjanya, aku laper, nih" ucap Randy.
"Ya, udah, ayo kita cari makan malam dulu, abis makan malam aku masih mau cari beberapa barang lagi."ucap Dania.
Randy menatap malas pada Dania. Entah apa lagi yang akan Dania cari, padahal sudah banyak sekali barang yang dia beli, batin Randy.
Mereka pun masuk kedalam salah satu Restauran dan langsung memesan makanan.
Sambil menunggu makanan datang, Dania kembali mengecek beberapa barang belanjaannya.
"Emang masih mau nyari apaan lagi, sih, yank?" tanya Randy.
"Apa aja, yang lucu-lucu." ucap Dania.
"Udah banyak gini yang kamu beli, yank" ucap Randy.
Dania pun menggelengkan kepalanya.
"Kan buat orang rumah juga, yank, buat Mama sama Papa, buat Mama sama Papa mertua juga, temen-temen aku, buat orang-orang di rumah kita juga, jangan pelit kenapa, sih,sama istri sendiri" ucap Dania dengan nada kesal.
"Ya, udah, deh, terserah kamu aja."ucap Randy.
"Gitu dong, itu baru suami yang baik. Kalau istri seneng, nanti kerjaan kamu juga lancar, loh, yank, jadi rejekinya juga lancar." ucap Dania sambil tersenyum.
"Iya, iya." ucap Randy.
Randy pun tersenyum melihat wajah istrinya yang seketika menjadi ceria.
Tak lama, makanan pun datang, dan mereka langsung menyantap makan malam mereka.
Setelah selesai makan malam, mereka pun kembali menyusuri jalanan kota Bangkok.
"Yank, kesana, yuk." ucap Dania sambil menunjuk ke salah satu toko yang menjual berbagai macam makanan ringan khas Bangkok, Thailand.
__ADS_1
"Ayo." ucap Randy.
Mereka memasuki toko tersebut dan mulai memilih-milih mana saja yang akan di beli.
Sudah beberapa toko yang Dania masuki, dan Randy hanya mengekori Dania.
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 22.00, dan sudah seharian mereka berjalan-jalan.
"Yank, abis ini udah, ya, ga usah belanja lagi, sumpah tanganku pegel banget dari tadi bawa barang belanjaan sebanyak ini." ucap Randy dengan kesal karena Dania tak henti-hentinya belanja dari sejak tadi pagi.
Dania menatap Randy bergantian dengan barang-barang yang Randy bawa.
Dania pun tersenyum dan mengangguk.
"Iya, ini terakhir, kok. Abis ini, kita balik ke hotel" ucap Dania.
Setelah puas berbelanja, Randy dan Dania memilih kembali ke hotel.
Di perjalanan, Dania mengambil alih kamera yang Randy bawa.
"Yank, kamu lucu, deh, ini bagus buat di abadikan." ucap Dania.
"Apaan, yank?" tanya Randy bingung.
"Sini deh, lihat kamera, gaya sedikit, lah." pinta Dania.
Randy pun melihat ke kamera.
"3, 2, 1, Oke."
Cekrek.
Dania mengerutkan dahinya melihat hasil foto Randy di kamera.
"Jelek banget, sih, yank, kaya begitu." ucap Dania sambil tersenyum.
Randy pun menatap Dania dengan malas.
"Udah capek-capek seharian bawain barang belanjaan kamu, bukannya di sayang-sayang, kek, malah di ejek" ucap Randy sambil mengerucutkan bibirnya.
Dania pun terkekeh melihat ekspresi Randy.
"Duhh .. Iya, iya, nanti kalau udah di hotel, aku pijitin kamu, deh" ucap Dania.
"Bener, ya." ucap Randy sambil tersenyum senang.
Dania pun mengangguk dan mereka pun kembali ke hotel.
Sesampainya di hotel, Randy langsung menghempaskan tubuhnya di tempat tidur.
"Aahhh ... Pegelnya." ucap Randy.
Dania pun langsung memasuki kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Setelah seharian berada di luar, membuat tubuhnya terasa lengket.
"Yank." panggil Randy.
Tak ada sahutan dari Dania.
Di lihatnya Dania yang sedang berendam.
Randy langsung membuka pakaiannya dan ikut berendam dengan Dania.
Dania pun tersenyum melihat Randy.
"Aahhh ... Rileks." ucap Randy begitu tubuhnya terendam air hangat.
Beberapa menit berlalu.
"Yank." panggil Randy sambil melihat Dania yang tengah memejamkan matanya.
Tak ada sahutan dari Dania.
Dia masih saja memejamkan matanya.
Randy mengguncang tubuh Dania.
Randy terkejut saat memegang tubuh Dania yang ternyata suhu tubuhnya tinggi.
"Ya ampun, kamu demam, yank" ucap Randy panik.
Randy pun segera mengambil handuk dan memakainya.
randy langsung mengangkat tubuh Dania dan membaringkannya di tempat tidur, kemudian memakaikan dania baju.
Randy langsung menghubungi room service dan meminta untuk di panggilkan Dokter.
Setelah menunggu kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya Dokter pun datang.
"Tolong, dok, istri saya demam." ucap Randy.
Dokter mengangguk dan mulai memeriksa denyut nadi Dania.
Dokter tersenyum dan langsung memeriksa perut bawah Dania.
"Gimana, Dok? Istri saya ga apa-apa, kan? Dia cuma kelelahan aja, kan? Soalnya seharian ini kami jalan-jalan keluar"ucap Randy dengan cemas.
Dokter pun tersenyum menatap Randy.
"Perubahan suhu tubuh, itu karena adanya perubahan hormon pula, dan itu wajar di masa kehamilan." ucap Dokter.
Randy membulatkan matanya, dia terkejut mendengar ucapan sang Dokter.
Jantungnya terasa berdegup kencang.
"Apa, Dok? Istri saya hamil?" tanya Randy memastikan.
"Betul, yang saya rasakan sepertinya baru memasuki empat minggu, tetapi untuk memastikan lebih jelas, langsung saja datang ke rumah sakit untuk melalukan USG, agar tahu sudah berapa minggu usia kehamilan istri anda." ucap Dokter.
__ADS_1
"Dokter, ga salah, kan?" tanya Randy.
"Menurut pengalaman saya, cukup dengan mengecek denyut nadinya saja saya bisa pastikan bahwa istri anda sedang mengandung, namun untuk lebih jelasnya, langsung saja anda bawa istri anda kerumah sakit." ucap Dokter.
Randy pun mengangguk dan tersenyum lebar. Rasanya dadanya seperti ingin meledak saking bahagia tak terkira.
Akhirnya yang di tunggu-tunggu akan segera hadir.
Setelah selesai memeriksa, Dokter pun pamit dan keluar dari kamar Randy.
Randy menatap Dania yang masih terlelap. Dia pun tersenyum lebar dan senyuman itu tak kunjung hilang dari bibirnya.
Randy menggenggam tangan Dania dan mengusap lembut rambut Dania.
"Emh ..." Dania pun terbangun dan menatap Randy.
"gimana, perasaan kamu? udah baikan?" tanya Randy sambil tersenyum.
"Emang aku kenapa?" tanya Dania bingung.
Dania pun mendudukan dirinya.
Randy tak menjawab ucapan Dania. Dia justru tersenyum lebih lebar membuat Dania semakin bingung.
"Kamu sehat, yank?" tanya Dania sambil menyentuh kening Randy.
"Banget." ucap Randy.
"Kok senyum-senyum kayak, gitu, bikin ngeri aja." ucap Dania.
Dania pun akan turun dari tempat tidur, namun Randy mencegahnya.
"Bilang aja, kalau kamu butuh sesuatu" ucap Randy.
Dania pun mengerutkan dahinya menatap randy. Dia benar-benar merasa bingung dengan perubahan sikap Randy.
"Kamu kenapa, sih, yank? aneh banget." tanya Dania bingung.
"Pokoknya mulai detik ini, kamu ga boleh kecapean, ga boleh banyak pikiran, ga boleh kemana-mana sendiri, aku akan siapin supir buat kamu, supaya kamu ada yang jagain kalau aku ga bisa nganter kamu pergi."ucap Randy.
"Kenapa gitu? Kamu, kok, aneh banget, sih." ucap Dania sambil menatap malas pada Randy.
Dania pun mengambil air minum yang ada di meja samping tempat tidur dan meminumnya.
Randy menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Aku cuman ga mau kamu dan calon anak kita kenapa-napa." ucap Randy.
Byurr.
"Ya ampun, yank, kenapa kamu nyembur aku, sih?" tanya Randy kesal saat Dania menyemburkan air minum di mulutnya ke wajah Randy.
Dania pun mengambil tisu dan langsung melap wajah Randy.
"Maaf yank, aku ga sengaja, tadi kamu bilang apa? calon anak kita." ucap Dania.
"Emmm.. Iya, selamat sayang, kamu akan menjadi seorang Ibu." ucap Randy sambil menatap Dania penuh sayang.
Dania membulatkan matanya dan tangannya langsung memegang perutnya yang masih rata itu,
Tak terasa air matanya menetes.
"Hey, kenapa nangis?" tanya Randy cemas.
Dania pun menggelengkan kepalanya.
Randy memeluk Dania dan mengusap lembut punggung Dania.
"Apa kamu sedih, yank, karena kamu akan jadi ibu?" tanya Randy.
Bugh.
"Auw .. Kenapa aku di pukul?" ucap Randy sambil meringis kesakitan memegang lengannya.
"Kamu ga bisa bedain, ya, tangis haru sama tangis sedih? mana mungkin aku sedih karena mau jadi ibu, yang ada aku seneng banget. terharu aku, yank, ternyata kamu tokcer juga " ucap Dania.
Randy pun tersenyum.
"Siapa dulu, dong, Randy sebastian gitu, loh." ucap Randy bangga sambil menepuk pelan dadanya.
Dania pun tersenyum menatap Randy.
"Orang tua kita udah tau?" tanya Dania.
Randy menggelengkan kepalanya.
"Belum, kita bikin surprise aja, yank, nanti tahu-tahu udah lahir aja bayinya, baru kita kasih tau " ucap randy sambil tersenyum lebar.
Dania pun membulatkan matanya mendengar ucapan Randy.
"Mana bisa begitu, sih. Ya, tetap ketahuan, lah, lama kelamaan kan perutku jadi buncit, yank." ucap Dania.
Randy tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Iya, sih."ucap Randy.
Randy pun memeluk erat tubuh Dania.
"Makasih, ya, begitu banyak kebahagiaan yang kamu kasih buat aku, buat keluarga kita, aku ga tahu lagi harus bilang apa? Yang jelas, aku bahagia banget, yank, aku bersyukur bisa menikahi kamu dan sebentar lagi aku juga akan jadi Ayah"ucap Randy.
Dania pun mengangguk dan membalas pelukan Randy.
"Aku juga bahagia, yank, bisa jadi istri kamu, aku juga bahagia mengandung anak kamu, aku bahagia akan jadi Ibu." ucap Dania sambil tersenyum.
Randy melepaskan pelukannya dan menatap Dania penuh cinta.
Randy menundukkan kepalanya dan mengecup lembut perut Dania.
Randy pun menggenggam tangan Dania dan mengecupnya.
__ADS_1
"I love you." ucap Randy sambil menatap Dania dan tersenyum.
"I love you too." ucap Dania.