Istri Jelekku

Istri Jelekku
Bab 103


__ADS_3

Randy turun dari mobil yang di kemudikan oleh supir yang sengaja di siapkan oleh sang Papa. Hari ini dia sudah mulai masuk kuliah kembali.


Sebetulnya Randy ini terlalu keras kepala, dia terlalu ceroboh karena seharusnya dia masih harus banyak istirahat di rumah. Namun Randy memang lah sosok yang keras kepala. Jika dulu Dania lah yang dapat meluluhkannya, berbeda dengan saat ini, tak ada yang dapat membantah keinginannya.


Randy terdiam sejenak dan menatap sebuah pintu gerbang besar yang ada di hadapannya.


Terlihat asing sekali baginya.


Dia menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.


Perlahan dia mulai melangkahkan kakinya dan melihat ke sekeliling area kampus.


"Rand ..!"


Randy melihat ke arah datangnya suara, yang ternyata adalah Dino.


"Ya, siapa, ya?" tanya Randy menatap bingung ke arah Dino.


Dino pun tersenyum dan merangkul bahu Randy.


Dino memang sudah mengetahui kabar tentang kecelakaan Randy, Dino juga mengetahui kalau Randy kehilangan ingatannya, sehingga dia tak mengenal sebagian orang.


"Nanti gue ceritain di kelas. Yuk, kita ke kelas dulu." ucap Dino.


Randy mengangguk dan mengikuti Dino menuju kelas.


Belum sampai di kelas, Randy menghentikan langkahnya dan memegangi kepalanya.


"Auuwww .. Randy meringis saat kepalanya terasa sakit.


"Lo baik-baik aja, Rand?" tanya Dino.


Randy pun tersenyum dan mengangguk.


"Gue ga apa-apa, santai aja." ucap Randy.


Dino pun mengangguk dan melanjutkan langkahnya menuju kelas dengan Randy yang mengekori nya dari belakang.


Sesampainya di kelas, Randy melihat sekeliling kelas.


Benar-benar terasa asing. Dia harus kembali menjadi mahasiswa baru seperti saat pertama kali dia masuk ke universitas tersebut.


"Rand ..!" panggil Dino.


Randy melihat ke arah Dino dan mendekati Dino.


"Kenapa?" tanya Randy.


"Ini kursi lo, di sebelah gue." ucap Dino sambil menunjuk kursi yang ada di sebelah kursinya.


Randy pun mengangguk dan masih terus memperhatikan sekeliling.


"Gimana? Ada yang lo ingat di antara teman sekelas kita lainnya?" tanya Dino.


Randy menggelengkan kepala.


"Kayaknya gue jadi murid baru lagi disini." ucap Randy.


"Tenang aja, Rand, gue akan bantu lo." ucap Dino.


"Thanks, ya. Ngomong-ngomong siapa nama lo?" tanya Randy.


Dino menepuk jidatnya dan tersenyum.


Dia pun menyodorkan tangannya ke arah Randy.


"Gue Dino Fery, di panggil Dino." ucap Dino.


Randy pun mengangguk dan terdiam. Entah apa yang ada di pikirannya, dia seperti orang yang tak mengerti apapun.


******


Di sisi lain.


Sebuah mobil BMW putih memasuki area parkir universitas tempat Randy kuliah.


Perhatian kebanyakan mahasiswa pun beralih pada mobil tersebut. Pasalnya, selama ini tak ada mahasiswa yang memakai mobil semewah itu saat datang ke kampus tersebut. Mereka pun terlihat penasaran, siapa sebenarnya pemilik dari mobil tersebut?


Sedangkan di dalam mobil BMW putih tersebut, seorang wanita tampak terdiam sejenak. Dia melihat sekeliling kampus. Ini lah pertama kalinya dia datang ke kampus dan dia akan mulai belajar di universitas tersebut setelah kurang lebih 3 tahun dia menunda belajarnya karena berbagai macam hal yang membuatnya sampai harus mengorbankan masa belajarnya. Memang lah seharusnya di usianya saat ini, seharusnya dia sedang belajar di universitas. Tetapi tidak dengan dirinya, begitu banyak hal yang membuatnya tak bisa memasuki universitas lebih awal. Sebetulnya selain belajar, masih ada hal lainnya yang menjadi tujuannya di universitas tersebut. Itu lah sebabnya dia sengaja memilih universitas tersebut.


Wanita itu menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.


Dia mengambil cermin kecil dari dalam tasnya.


Dia pun tersenyum lebar menatap dirinya di cermin kecil miliknya.


Sungguh tak di sangka, dia akan kembali ke masa seperti ini. Masa dimana demi pria dia rela sampai berbuat gila.


Namun berbeda dengan kali ini, karena pria yang menjadi tujuannya adalah benar-benar seseorang yang begitu berharga dalam hidupnya, masa depannya dan masa depan kedua makhluk kecil menggemaskan yang sedang berada di sebuah apartemen mewah.


Dia akan melakukan apapun demi mendapatkan kembali apa yang sudah menjadi miliknya. Dia akan melakukan apapun demi kedua makhluk kecil menggemaskan itu, demi masa depan mereka agar tak kekurangan apapun dalam hidup mereka.


Dia mematikan mesin mobilnya dan keluar dari mobil.


Banyak sekali tatapan tertuju padanya, mereka terlihat tersenyum mengejek begitu melihat siapa yang keluar dari mobil tersebut.


Wanita itu pun tak ingin ambil pusing, dan tak ingin peduli dengan mereka-mereka yang terlihat menatapnya dengan tatapan mengejek. Toh, dia datang ke universitas tersebut bukan lah untuk mereka-mereka yang tengah menatapnya dengan tatapan mengejek, melainkan demi kelanjutan masa depannya bersama kedua makhluk kecil yang berada di apartemen sana.


Sekali lagi dia menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.


Dia pun mengklik tombol kunci mobilnya dan mulai melangkah masuk lebih jauh ke dalam universitas tersebut.


"Gila, gue pikir cewek cakep yang keluar dari mobil mewah itu." ucap Alex.


Seorang pria berwajah tampan, berkulit putih dan bertubuh tinggi kekar. Dia adalah mahasiswa seangkatan Randy yang terkenal paling populer di kampus.


Pria itu pun tampak terlihat jijik melihat wanita itu, sedangkan wanita itu memilih meneruskan langkahnya.


Brugh .


"Ahh .. Sorry, sorry." ucap seorang yang tak sengaja menabrak wanita tersebut.


Wanita itu melihat ke arah orang tersebut yang mana adalah seorang wanita.


Wanita itu membulatkan matanya melihat siapa yang ada di hadapannya kini.


Wanita itu mengenal siapa yang ada di hadapannya kini, yang tak lain adalah Novi.


Ya, dia adalah Novi, mantan baby sitter yang pernah bekerja mengurus buah hati Randy.


"Maaf, gue ga sengaja." ucapnya.


"Aku yang minta maaf, karena aku buru-buru, jadinya nabrak kamu." ucap Novi.


"Mahasiswa baru, ya?" tanya Novi.


"Iya, gue duluan." ucapnya.


Wanita itu pun bergegas menuju ruang dosen.


Setelah bicara dengan salah satu dosen, dia pun di antar menuju kelasnya.


Sesampainya di kelas, tepatnya adalah kelas yang sama dengan Randy.


Semua pasang mata tertuju pada wanita itu.

__ADS_1


Yah, tentu saja dia akan menjadi perhatian semua mahasiswa yang ada di kelas.


Semua orang pun terlihat riuh dan membicarakannya.


Wanita itu kembali tersenyum tipis.


Sudah tak heran jika dia akan mengalami hal yang sama dengan kejadian beberapa tahun silam. Semua orang pun akan melihatnya dengan tatapan aneh.


Wanita itu terlihat melihat satu per satu mahasiswa yang ada di kelas. Dia terlihat mencari seseorang, tapi entah siapa yang dia cari. Tatapannya berakhir pada seorang pria yang tengah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Pria yang tak lain dan tak bukan adalah Randy. Ya, dia tak begitu mempedulikan keriuhan yang terjadi di kelas di karenakan kepalanya terasa agak pusing.


Mata wanita itu terlihat memerah, jantungnya berdegup kencang melihat Randy. Dia mengenali Randy meski tak melihat wajahnya secara langsung.


Setelah memperkenalkan diri, wanita itu pun melangkah menuju kursi kosong yang berada tepat di sebelah Randy.


Tubuhnya bergetar begitu semakin mendekati tempat duduknya.


"Woi, jalan udah kaya pengantin aja, lambat bener." ucap salah satu mahasiswi dengan setengah berteriak.


Randy terkejut mendengar teriakan itu dan ia pun mendongak.


"ASTAGA ..!


Randy pun semakin terkejut dan langsung bangun dari duduknya saat melihat seseorang yang ada di hadapannya.


"Elo ..!" ucap Randy sambil melihat ke arah wanita itu dengan ekspresi terkejutnya.



Wanita itu adalah Dania, istrinya sendiri.


Hanya saja Randy tak mengenali siapa Dania sebenarnya. Yang Randy tahu, Dania adalah adik kelasnya saat SMA yang pernah dia bawa pergi dari klub malam saat kurang lebih 4 tahun yang lalu, tepatnya saat mereka masih seorang pelajar SMA.


Pertanyaannya, bagaimana bisa Dania masuk ke kelas yang sama dengan Randy? Ya, berkat dukungan sang Papa lah Dania pun dapat masuk ke kelas yang sama dengan Randy. Meski sebetulnya terlalu jauh Dania tertinggal, karena kenyataannya Randy dan Dania pun tak lulus di tahun yang sama. Namun seperti pepatah mengatakan, siapa yang berkuasa, dia lah yang jadi pemenang. Sang Papa memakai kekuasaannya demi membantu putrinya itu. Dia pun melakukannya demi masa depan putri sekaligus cucu-cucunya.


Selama sebulan kemarin Dania tak lagi menemui Randy karena dia tengah mempersiapkan segalanya untuk memasuki universitas. Terutama mempersiapkan mental tentunya.


Yang mana dia harus mengulang sejarah dengan berpenampilan cupu kembali seperti saat 4 tahun silam. Bukan hal mudah untuk menjadi orang lain, dan dia pun sudah merasakannya saat SMA dulu.


Jika dulu Dania berpenampilan seperti itu demi untuk mencari tahu perempuan seperti apa yang sudah menghancurkan hubungannya dengan Riko, berbeda dengan saat ini. Meski alasannya sama, karena seorang pria. Namun kali ini dia akan memperjuangkan keutuhan rumah tangganya kembali. Dia akan membawa Randy kembali mengingat dirinya, mengingat baby Raydan dan baby Rayna, mengingat semua yang pernah mereka lalui bersama, susah, senang, tangis, tawa, dia akan berusaha untuk mengembalikan ingatan Randy agar Randy mengingat semua itu. Dia akan membantu Randy mengembalikan ingatannya.


Meski harus bersusah payah menjadi orang lain, semua itu bukan lah masalah baginya jika memang ingatan Randy dapat kembali dengan cara dia harus berpenampilan jelek kembali.


Dania pun mengambil langkah itu, karena Randy hanya mengingatnya saat berpenampilan seperti itu.


Dan seperti saat ini terbukti Randy pun masih mengenalinya dengan berpenampilan seperti itu.


Dania yang melihat Randy terkejut pun menjadi ikut terkejut.


Jantungnya semakin berdegup kencang.


Saat Randy akan membuka suara lagi, masuk lah seorang dosen pria. Dosen itu bernama Kevin, berusia 37 tahun. Bertubuh tinggi dan kekar, berkulit putih, penampilannya pun terlihat berwibawa. Ya, tentu saja, dia adalah seorang dosen, tentu dia akan terlihat berwibawa dan tampangnya pun terlihat manis.


Tak lama kelas pun di mulai.


Randy pun mengurungkan niatnya dan kembali duduk di kursinya.


Sedangkan Dania langsung duduk di kursinya dengan jantungnya yang masih berdegup kencang hingga membuat dadanya terasa sesak.


******


Kelas pun berakhir.


Randy terus memperhatikan teman-teman sekelasnya saat satu per satu mereka mulai meninggalkan kelas.


"Ke kantin yuk, Rand." ucap Dino.


"Duluan aja." ucap Randy.


Dino mengerutkan dahi dan mengikuti arah pandang Randy yang diam-diam mencuri lihat ke arah Dania.


Dino pun tersenyum.


Randy mengangguk dan terus memperhatikan sekitar. Dania pun sengaja tak buru-buru keluar dari kelas, karena dia teringat ucapan Randy sebulan yang lalu, saat Randy mengatakan bahwa ada yang ingin dia katakan kepada gadis berkaca mata tebal, yang rambutnya diikat dua dan terdapat tompel di pipi kanannya, yang tak lain adalah dirinya sendiri. Dania akan menunggu Randy mengatakannya.


Dania pun mengerti, mengapa Randy memilih tak ikut ke kantin dengan Dino, sudah pasti akan ada yang Randy lakukan tanpa sepengetahuan temannya itu.


Saat semua mahasiswa sudah keluar dari kelas, Dania pun mencoba bangun dari duduknya dan akan melangkah.


"Tunggu ..!"


Bruk.


Randy memanggil Dania dan menarik tangannya dengan agak kuat membuat Dania sampai menubruk tubuh Randy dan mereka pun terjatuh ke lantai dengan posisi Dania berada di atas tubuh Randy.


Untuk sesaat mereka terdiam dengan saling tatap.


Dania terus menatap Randy. Sungguh dia sangat merindukan Randy, merindukan segalanya tentang Randy. Dia begitu bergantung pada Randy hingga rasanya begitu sesak saat harus berjauhan dengan Randy.


Jantungnya kembali berdegup kencang, untuk pertama kalinya setelah satu bulan dia bisa sedekat itu dengan Randy.


Dania tersentak dan menatap ke arah dada Randy saat dengan jelas dia dapat merasakan detak jantung Randy yang juga berdegup dengan kencang sama seperti dirinya.


Dania kembali menatap Randy yang juga masih menatapnya.


"Betah amat tidur di atas gue, berat, nih." ucap Randy.


Dania pun langsung bangun.


"Aaarggghh .." Randy memekik saat tak sengaja Dania menekan area sensitifnya.


"Sorry, sorry, ga sengaja." ucap Dania sambil tak sengaja langsung memegang area sensitif Randy dari luar celana jeans yang Randy kenakan.


Randy pun terkejut dengan tingkah Dania.


"Ngapain di pegang?" tanya Randy.


Dia benar-benar tak menyangka, gadis yang terlihat lugu yang kini ada di hadapannya itu ternyata begitu agresif.


Dania pun segera membenarkan posisinya dan berdiri.


"Ga sengaja." ucap Dania sambil melihat ke arah lain.


Randy mengerutkan dahi dan ikut berdiri.


Dania pun akan melangkahkan kakinya namun lagi-lagi Randy menahan tangannya.


"Ada yang mau gue omongin sama lo, tapi sebelumnya gue mau nanya, dan lo harus jawab dengan jujur." ucap Randy.


Dania pun mengerutkan dahinya.


"Emang mau nanya apa?" tanya Dania.


"Janji dulu, lo harus jawab jujur." ucap Randy.


Dania pun mengangguk. Dia ingin tahu apa sebenarnya yang akan suaminya tanyakan.


"Lo adik kelas gue waktu di SMA XX kan?" tanya Randy.


Randy ingin memastikan bahwa wanita cupu yang ada di hadapannya kini adalah benar adik kelasnya dulu yang pernah dia bawa pergi dari sebuah klub.


Dania pun mengangguk.


Randy mengelus dadanya dan menghela napas lega.


"Udah kan? Aku permisi dulu." ucap Dania namun lagi-lagi Randy menahan tangannya.

__ADS_1


"Gue belum selesai ngomong." ucap Randy.


"Apa lagi?" tanya Dania.


"Gimana caranya lo bisa masuk ke kelas gue?" tanya Randy.


Dania terkejut mendengar ucapan Randy. Mengapa juga dia tak kepikiran untuk mencari alasan saat pertanyaan itu keluar dari mulut Randy.


"Eumm .. Itu, aku -"


Ucapan Dania terhenti saat Randy menarik tangannya keluar dari kelas.


"Udah lah, itu ga penting. Sekarang lo ikut gue." ucap Randy.


"Tapi kita mau kemana?" tanya Dania.


"Kemana aja, yang penting bukan disini." ucap Randy sambil terus menarik tangan Dania menuju parkiran.


"Astaga, gue lupa." ucap Randy saat berhenti di parkiran.


"Kenapa?" tanya Dania.


Randy pun berbalik dan melihat ke arah Dania.


"Lo naik apa kesini?" tanya Randy.


"Naik mobil." ucap Dania.


"Lo bawa mobil sendiri?" tanya Randy.


Dania pun mengangguk.


"Sini kuncinya, biar gue yang bawa mobilnya." ucap Randy.


Dania menjadi bingung melihat tingkah Randy. Namun dia pun penasaran tentang apa yang akan di lakukan suaminya itu.


Dia memberikan kunci mobilnya pada Randy dan langsung masuk kedalam mobil dengan di susul Randy yang juga masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil.


Dania diam saja melihat Randy membawanya pergi dari kampus. Dia sama sekali tak merasa takut, justru dia senang karena bisa berdekatan lagi dengan Randy. Lagi pula Randy adalah suaminya, jadi dia tak akan pernah takut dibawa pergi kemana pun.


Randy menghentikan mobil itu di depan sebuah restauran.


"Ngapain kita kesini?" tanya Dania.


"Tidur." ucap Randy.


Dania mengerutkan dahinya mendengar ucapan Randy.


"Ya, makan lah." ucap Randy.


Dania pun mengangguk dan turun dari mobil.


Randy dan Dania memasuki restauran dan memilih meja yang letaknya tak jauh dengan bar restauran tersebut.


"Mau pesan apa?" tanya Randy.


"Gimana kalau kita sharing aja? Kita pesan nasi putih sama lauknya." ucap Dania.


Randy mengerutkan dahinya namun sesaat kemudian dia pun mengangguk.


"Oke, lo aja yang pesan." ucap Randy .


Dania pun mengangguk dan menyebutkan beberapa menu makanan.


Randy terkejut saat mendengar Dania menyebutkan makanan kesukaannya semua.


Setelah memesan makanan, pelayan itu pun meninggalkan meja Dania dan Randy.


"Kenapa?" tanya Dania sambil melihat Randy yang terlihat bingung.


"Ga apa-apa." ucap Randy.


Dania pun mengangguk.


Suasana menjadi canggung dan mereka pun tak saling bicara.


Sebetulnya Randy memiliki beberapa pertanyaan untuk Dania. Namun dia ragu untuk mengatakannya.


Cukup lama mereka saling diam dan makanan pun sampai di meja mereka.


Mereka pun mulai memakan makanan mereka.


Di tengah kegiatan makan siang, tiba-tiba Randy menjadi gelisah saat tak sengaja melihat bibir merah muda Dania yang terlihat seksi saat sedang mengunyah makanan.


Randy menelan makanannya dengan susah payah, dia pun membuka tutup mineral waternya dan langsung menenggaknya.


"Oh ya, apa gue boleh tanya sesuatu.?" tanya Randy sambil menatap Dania yang masih asik menyantap makan siangnya.


Dania pun mengangguk.


"Apa lo ingat kejadian saat di dalam mobil sekitar 4 tahun yang lalu?" tanya Randy.


Dania menghentikan makannya dan menatap Randy.


"Maksudnya?" tanya Dania.


"Ya, malam itu, malam saat kita didalam mobil setelah kita keluar dari bar, apa lo ingat?" ucap Randy.


Dania pun menenggak mineral water nya.


Mengapa juga Randy menanyakan hal memalukan itu? Pikir Dania.


"Itu udah lama, ga perlu di bahas." ucap Dania.


"Gue tahu. Tapi sumpah, gue kepikiran terus." ucap Randy.


"Maksudnya kepikiran apa?" tanya Dania.


"Sebetulnya sebulan yang lalu gue mengalami kecelakaan, jadi gue kehilangan sebagian ingatan gue, dan anehnya kejadian yang terakhir gue ingat cuma saat kita di mobil." ucap Randy.


Dania terdiam sejenak.


"Apa yang bikin kamu jadi kepikiran?" tanya Dania.


"Apa malam itu kita sampai melakukannya?" tanya Randy sambil menatap Dania.


Dania mengerutkan dahinya.


"Maksudnya apa?" tanya Dania.


"Maksud gue, apa malam itu kita sampai melakukan hubungan intim?" tanya Randy.


Sebelumnya Dia memang sangat dekat dengan Sasha, tapi dia pun tak sampai hati akan merusak seorang gadis dengan merebut kesuciannya. Karena itulah meski sangat dekat, dia tak sampai melakukan hubungan intim semacam hubungan suami istri dengan Sasha.


Entah mengapa dia menjadi takut kalau-kalau dia sampai merenggut mahkota Dania. Sudah pasti dia akan merasa bersalah. Karena itu juga, dia jadi terus kepikiran selama sebulan ini.


Uhuk , uhuk , uhuk ..


Dania pun tersedak mendengar pertanyaan Randy.


******


Hai, hai, readers.

__ADS_1


Gimana? Sesuatu kan? 🤗


Author kasih visualnya Dania yang lagi pakai tompel. Itu kaca matanya anggap aja kaca mata tebal ya guys. 😉🤗🥰


__ADS_2