
Setelah acara selesai Shine langsung mengusir semua manusia dari sana tak terkecuali Daddy dan Mommy nya. Keluarga Xavier juga yang awal berniat meminta Shine untuk menginap di mansion ini namun Shine tak mengizin kan nya karena tak ingin privasi nya di ganggu. Itu adalah alasan Klise pria itu.
"Kau mengusir Daddy mu sendiri? Mommy mu juga?" Rhadika menatap tajam putra nya.
"Bukan mengusir, hanya saja aku merasa privasi ku akan terganggu," Shine terlihat berdecak mendengar suara Daddy nya yang mengintimidasi.
"Kau, perintah kah pelayan untuk menyiap kan kamar. Anak durhaka sialan Ini selalu saja memancing emosi ku,' Rhadika kesal bukan main mendengar alasan Shine yang tidak masuk akal.
"Dad, suami ku hanya bercanda, dia sangat merindu kan Dad dan mommy. Itu hanya..."
"Dengan wajah nya yang menyebal kan itu? Bercanda nama nya?" Rhadika dengan kesal membantah argumen menantu nya.
"Siap kan juga kamar untuk keluarga Orlando!" perintah Rhadika dengan kesal.
"CK, dasar pria tua," decak Shine.
"Nak, kami bisa menginap bukan?" kini suara lembut Rosaline terdengar di tengah pertengkaran anak dan ayah itu.
Shine langsung melangkah ke arah Mommy nya dan langsung memeluk Rosaline dengan sayang.
"Jika Mommy ingin tentu saja, selama nya pun tak apa tapi tidak dengan pria tua itu," Shine menatap tak suka pada Daddy nya.
Ingin sekali Rhadika menghabisi putra nya itu, tapi sangat di sayang kan Shine adalah anak tunggal, bisa habis di tangan sang istri diri nya nanti.
Sedang kan keluarga Orlando hanya sebagia penonton setia saja. Mereka Herna melihat bagaimana seorang anak menindas ayah nya. Tega sekali.
Tring Tring Tring
Tiba-tiba deringan ponsel menghenti kan tatapan sengit antara Shine dan Rhadika. Ponsel yang berada di saku jas Rhadika mengalih kan atensi mereka semua.
"Baby, kita harus pulang sekarang. Ada hal penting di perusahaan," Rhadika menatap sang istri dan melepas kan tangan Shine yang membelit pinggang Rosaline.
"CK, sudah ku kata kan Dad, ini bukan tempat mu," Shine mendengus.
"Bagaimana dengan kalian Max, apa kalian menginap?"
"tidak, kami akan ikut pergi jika kalian pergi!"
"Bagus lah. Mommy?
"Mommy tentu saja harus ikut dengan Daddy mu, sangat di sayang kan!" Rosaline terlihat sedih
...****************...
Kini mansion Shine sudah kembali sepi. Tak ada lagi suara perdebatan atau tertawa seperti kemarin
Memulai hidup kembali setelah meraya kan kebahagiaan adalah hal yang paling membosan kan.
"Aku pergi kerja yah Sayang, tetap di rumah. Jangan kemana-mana hmmm," ucap Shine mengecup singkat bibir singkat bibir istri nya.
"mmmm, cari uang yang banyak untuk aku dan Princess," ucap Safira.
Shine tersenyum ke arah istri nya dan masuk ke dalam mobil.
Safira masuk ke dalam mansion. Hari-hari membosan kan nya akan di mulai.
Sesampai nya di markas Shine langsung menuju ruangan di mana Xavier sudah ada di sana.
"Bagaimana penelitian nya?" Shine buka suara. Kemaren pria itu memberi kan darah nya untuk di teliti di laboratorium markas.
"Racun di tubuh anda berkurang Tuan, tapi itu hanya sedikit saja. Orang-orang kita tidak menemu kan mengapa racun itu bisa berkurang, namun di perkira kan jumlah yang menyebar semakin berkurang," jelas Xavier.
__ADS_1
"Apa itu jenis racun baru?" tanya Shine.
"Benar Tuan, itu adalah jenis raci kan baru San belum di temu kan di pasaran apa pun, bah kan dalam dunia gelap pabrik penghasil racun itu tidak di temu kan sama sekali," Xavier sangat menyayang kan keadaan ini tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Shine menatap lurus ke depan. Ada satu lagi yang ingin di tanya kan nya, tapi dia sangat teliti jika jawaban yang di beri kan Xavier sama seperti yang ada di dalam hati nya.
"Apa dampak dari racun itu?"
Xavier menghela napas sejenak
"Racun itu akan menyerang organ-organ dalam Tuan. Naum berjalan secara perlahan seperti akan menyiksa si penderita, pertama akan menyerang ginjal, namun lama ke lamaan akan berpindah ke organ lain nya dan akhir nya kan menyerang jantung dan..."
"Singkat saja Vier. Apa itu akan membuat ku mati?"
Xavier tidak bisa menjawab, dia tidak menjawab to the point karena tak kuasa mengata kan kata mati dari mulut nya.
Shine juga takut dengan kematian, baru kali ini tidak dengan sebelum-sebelum nya saat peluru menghujam nya, dia masih ingin menghabis kan waktu dengan sang istri yang baru saja berada dalam dekapan nya. Dia benar-benar tak ingin meninggal kan sang istri.
"Apa sakit yang ku alami secara tiba-tiba itu juga karena racun itu?"
"Benar Tuan."
Shine mengambil rokok yang selalu tersedia di laci meja kerja nya.
Dia menghisap nya dengan dalam.
"Istri ku tidak terkontaminasi bukan?"
"Nyonya bebas Tuan, kandungan nya juga baik-baik saja," jelas Xavier.
Kehiningan melanda dia orang yang merupa kan atasan dan bawahan itu.
"Sama seperti yang menyerang Nyonya ketika insiden mobil itu Tuan."
"Apa kau sudah memeriksa seluruh anggota tidak ada mata-mata?"
"Kita bersih Tuan,"
"Jadi mengapa Mereka bisa mendapat kan informasi bahwa aku masuk rumah sakit?"
Xavier menggeleng, seperti nya dia kecolongan belakangan ini. Memang tidak semudah kasus-kasus sebelum nya, kasus ini sedikit berbelit dan membingung kan.
Kemaren saat pesta, tak jauh dari letak mansion , Xavier melihat beberapa mobil parkir di jalan raya tapi menuju ke arah mansion, tapi mereka pergi selama beberapa jam kemudian tanpa melaku kan keributan, pada hal Xavier yakin mereka bukan orang biasa yang ikut parkir di tepi jalan.
"Apa aku harus ikut turun tangan Vier? Beri kan aku jawaban pasti!"
"Tidak Tuan, saya akan segera mendapat kan siapa dalang sebenar nya." Xavier terlihat begitu yakin dengan diri nya saat ini.
"Dan untuk penyakit ku, jangan sekali pun berita ini bocor sampai ketelinga istri ku!"
Shine bangkit dari sana dan ke luar dari markas.
Dia merasa rasa sakit akibat racun itu mulai terasa. Dia tidak mau para bawahan nya melihat ketua mereka melemah, itu bukan keadaan yang baik untuk di lihat
Shine mengendarai sendiri mobil nya menuju ke perusahaan. Wajah itu nampak mulai memerah menahan rasa sakit yang mendera tubuh nya. Tubuh Shine terasa mulai dingin, namun didalam begitu panas seperti api yang membara.
Shine mulai ketingat dingin, tubuh nya melemah.
"Sh it, siapa pun akan ku balas lebih dari ini," batin Shine.
Sesampai nya di kantor, dia berusaha menahan rasa sakit nya dengan menebak kan wajah datar dan dingin nya.
__ADS_1
Sampai di lift, Shine bertekuk lutut Karana tak kuasa menahan rasa sakit. Dia mulai berjalan tertatih-tatih ke arah sofa di ruangan CEO, tangan nya terulur dengan lemah meraih botol kecil yang ada di saku setelah milik nya.
Tring Tring Tring
Ponsel Shine nampak berdering. Shine meraih ponsel nya yang ada di meja.
My Beautiful Wife
Shine tersenyum tipis di tengah rasa sakit nya. Dia meletak kan ponsel itu kembali. Rasa sakit yang di rasa kan nya perlahan-lahan menghilang karena dia sudah meminum penawar nya. Shine menghela napas mengingat ucapan Darren.
"Pil ini juga akan berdampak pad kesehatan mu. Usaha kan jangan meminum nya, jika benar-benar sakit baru telan pil ini, tapi usaha kan jangan sering!"
Tatapan Shine beralih ke ponsel milik nya yang tak berhenti berdering. Pria itu nampak menarik napas nya secara perlahan
"Ha..."
"Kenapa lama, is kesel," suara Safira terdengar sangat kesal.
Shine tersenyum tipis mendengar suara dari wanita yang di cintai nya. Pasti wajah wanita itu sangat imut sekarang.
"Hmmm, banyak pekerjaan Sayang," jawab Shine lembut.
"Benar kah,tapi kamu baik-baik saja kan? Perasaan ku tak enak," ucap Safira di seberang telepon dengan nada khwatir.
"I'm okay, hanya banyak pekerjaan saja."
"semangat suami ku."
Shien tersenyum melihat tingkah lucu sang istri. Baru kali ini Safira mengakui diri nya sebagia suami pada hal mereka sudah menjalin hubungan hampir tiga setengah tahun lebih.
Shine memulai pekerjaan nya dengan semanga. Dia melupa kan rasa sakit sebelum nya yang begitu menyakit kan.
\*\*\*\*\*\*\*\*
"Apa kalian sudah mendapat kan apa yang kita sepakati sejak dulu? Jangan karena aku sibuk belakangan ini dengan suami ku kalian tidak melaku Kan apa-apa."
Wajah yang sebelum nya tersenyum ceria kini berhadapan dengan dua pengawal pribadi nya dengan raut wajah yang dingin
Dua pengawal pribadi itu saling memandang dan meneguk ludah nya dengan kasar.
"Kami tidak menemu kan apa pun Nyonya, tapi ada satu orang yang kami simpan ketika dalam perjalan kita Nyonya"
"Perjalanan. Kucing?" tebak Safira.
Mateo dan Nia sama-sama melihat satu sama lain.
"Kalian pikir bisa mengecoh ku?" tanya Safira tersenyum miring.
"Jangan kalian pikir aku orang bodoh! Sebenar nya kalian memihak pada ku atau bukan?" kesal Safira.
"Saya hanya tak ingin anda terlibat Nyonya, apa lagi saat ini anda sedang hamil," Nia mencoba memberi kan pengertian pada Safira.
"Keutuhan keluarga ku sedang di pertaruh kan di sini, apa semudah itu jawaban yang kau beri kan Nia?" Safira tak suka dengan jawaban Nia.
"Bawa aku pada pria itu, aku sendiri yang akan menginterogasi nya, ingat jangan sampai pangawal mansion tau! Jangan sampai berita ini di ketahui oleh suami ku!"
Ke dua suami istri itu nampak menyembunyi kan sesuatu dari sari sama lain. Tidak ada yang tau apa itu akan akan berdampak pada ke dua nya atau justru boomerang untuk diri mereka sendiri.
Jangan lupa like nya 😊👍👍👍
Agar author nya semakin semangat up nya 🙂👍👍👍👍👍👍
__ADS_1