
Safira melihat Mateo dari kaca transparan. Dia begitu sedih melihat selang-selang kecil berada di dada nya.
"Bagaimana keadaan nya?" tanya Safira pada Aldo.
"Hmmm, dokter yang menangani tadi mengata kan Tuan Mateo akan segera sadar, perlu beberapa saat setelah bius bekerja agar kesadaran kembali," jelas Aldo.
Shine sejak tadi diam dan tidak buka suara dan hanya menatap interaksi antar Safira dan Aldo saja.
"Boleh kah aku masuk dan melihat keadaan nya saat ini?" tanya Safira. Wajah nya memelas ke arah Aldo seperti bayi yang sedang mencari susu ibu nya untuk di hisap.
"Tentu saja boleh, tapi jangan menimbul kan keributan. Dan hanya dua orang saja, selanjut nya bertahap" jawab Aldo dengan senyuman manis nya.
Safira masuk di ikuti dengan Shine. Sepasang suami istri itu masuk dan melihat Mateo yang masih belum sadar kan diri.
"Dia melindungi ku saat kecelakaan terjadi," ucap Safira melihat ke arah Mateo.
"Itu adalah tugas nya!" jawab Shine datar.
"Apa jika dia seperti ini kaut tidak merasa bersalah?" tanya Safira kesal mendengar jawaban Shine.
"Itu resiko nya bekerja dengan ku," jawab Shine lagi.
"Semudah itu, semudah itu kau mengabai kan sebuah nyawa? Apa begini cara bekerja Mafia?" tanya Safira lagi sudah setengah emosi
"Nyonya, Tuan," suara dari arah brankar menghenti kan aksi debat mereka.
"Kau sudah bangun Mateo? Apa masih sakit?" tanya Safira.
"Sudah lebih baik Nyonya, anda sendiri bagaimana. Maaf tidak bisa melindungi Nyonya dengan benar," ucap Mateo merasa bersalah.
"Tidak, tidak aku yang harus berkata maaf dan terimakasih pada mu."
Shine mencebik mendengar sang istri khwatir terhadap pria lain dengan terang-terangan di depan nya. Dia menatap tajam ke arah Mateo yang dengan senang hati menerima kekuatiran istri nya.
Mateo merasa kan tekanan yang begitu dalam tapi bukan penyakit nya. Dia melirik ke arah samping dan ke dua pasang mata saling bertemu.
Sepasang mata menatap nya begitu nyalang dan memati kan. "Sh"it, saat sakit seperti ini saja aku sudah ingin di bunuh kembali," batin Mateo
Mateo mencari akal untuk mencari kan suasana. Nyonya nya begitu tidak peka bahwa sedang singa yang siap menerjang mangsa karena sudah kelaparan.
"Nyonya, sebaik nya tuan dan Nyonya pulang. Saya sudah baik-baik saja. Bukan kah Nyonya sudah janji pada saya untuk ikut Tuan malam ini?" ucap Mateo.
Shine mengernyit kan dahi nya mendengar ucapan Mateo.
"Sesuai dengan janji ku," ucap Safira.
"Akan ada pengawal yang akan menjaga mu," ucap Shine.
"Terimakasih Tuan," jawab Mateo.
Shine tidak menanggapi dan keluar terlebih dahulu dari ruangan itu.
"Jaga diri mu baik-baik Mateo," ucap Safira tersenyum keluar dari ruangan nya.
"Baik Nyonya," jawab Mateo.
Di luar Megan terus saja menatap Aldo
"Apa ada Yangs alah Nona?" tanya Aldo merasa di tatap sejak tadi. Dia merasa risih dan akhir nya bertanya.
"Tidak, tidak," jawab Megan cepat.
Aldo merasa aneh dengan kelakuan sahabat teman nya ini.
Shine kelaur terlebih dahulu membuat lendua insan itu kembali terdiam. Safir juga ikut keluar dari ruangan Mateo.
"Bagaimana keadaan pengawal Mateo?" tanya Megan setelah melihat Safira keluar. Tidak mungkin dia bertanya pada pria dingin tujuh kulkas itu bukan? Jantung nya tidak sekuat itu.
"Dia sudah baik-baik saja," jawab Safira.
__ADS_1
"Baiklah," ucap Megan lega.
"Kita pulang!" ucap Shine singkat.
"Tapi Megan, aku harus mengantar nya. Aku sudah berjanji pada Elvio," ucap Safira
"Xavier sudah menghubungi nya, pengawal ku Yanga akan mengantar sahabat mu," ucap Shine.
"Baiklah, Megan hati-hati oke!" ucap Safira memeluk sahabat nya.
Ke dua wanita itu nampak sudah Sangat akrab dan tidak terlalu penakut. Bukti nya mereka seperti tidak merasa kan kejadian tadi, seperti tidak terjadi apa-apa sebelum nya.
Sesampai nya di mobil, Shine dan Safira tidak buka suara. Begitu juga Xavier yang ada di depan nya.
Mobil mewah dan mahal itu membelah jalanan New York dalam keheningan, tak ada tanda kehangatan dan hanya dingin bagai musim salju.
Bahkan saat sampai, tidak ada juga yang buka suara. Semua nya langsung keluar dan masuk ke dalam mansion melaju kan kesibukan masing-masing.
Sesampai nya di kamar Shine dan Safira sama-sama tetap diam. Shine tidak tahan dengan ini, sudah cukup mereka saling mendiam kan sejak tadi.
"Apa maksud Mateo kau sudah berjanji?" tanya Shine buka suara.
"Dia menyelamat kan ku tanpa lecet sedikit pun dan mengorban kan diri nya untuk ku. Dia mengata kan aku harus ikut dengan mu ke pesta karena itu adalah pesta yang sangat penting untuk perusahaan. Aku tidak ingin menyia-nyia kan orang sudah berjuang dan berkorban untuk ku dan mempertaruh kan nyawa nya untuk ku," ucap Safira kemudian berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Shine merasa tersindir dengan kalimat terakhir yang di ungkap kan oleh Safira. Dia menuju ke arah balkon, dia mengambil benda berbentuk tabung panjang dari laci nakas dan menghirup nikotin itu dengan teratur sambil mengepul kan asap ke udara terbuka.
Dia mengingat ucapan Dad dan Mommy nya.
"Jangan menyesal di kemudian hari,"
"Tidak akan."
Itulah jawaban tegas Shine itu, tapi sekarang seakan semua nya runtuh tak bersisa keyakinan sialan itu.
Melihat Safira selalu memberi kan jarak pada nya membuat diri nya frustasi. Apa dia terlalu egois mempertahan kan Safira di sisi nya karena sudah mengabai kan kelembutan dan kebai kan wanita itu selama 3 tahun. Dan dia malah sibuk bermain bersama wanita-wanita di luaran sana.
Musuh pun sudah mulai menunjuk kan taring nya. Shine yakin target utama dari kecelakaan tadi adalah istri nya. Para musuh mulai menyerang kelemahan nya, musuh nya, musuh dad nya pasti akan menarget kan istri nya terlebih dahulu. Inilah resiko nya jika sudah mengungkap kan identitas istri nya.
Xavier begitu heran saat melihat tuan nya yang tidak pernah menunggu sesuatu apa pun itu kini dengan tenang duduk dan melihat iPad nya.
"Nyonya memang luar biasa," batin Xavier.
Safira turun dari tangga dengan mengguna kan heels bermotif Mutia selaras dengan dress nya berwarna biru langit dengan warna dasar yang bermotif mutiara juga.
Hampir sama dengan diri nya yang dianggap semua orang sebagai mutiara yang ada di hati masing-masing.
Shine mematung istri nya yang begitu cantik malam ini. Ingin rasa nya diri nya mengurung Safira hanya untuk diri nya sendiri namun itu tidak mungkin dan tidak akan pernah terwujud.
"Apakah masih jelek, oh ayolah. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin agar tidak mempermalu kan mu seperti dulu. Bahkan sengaja couple dengan mu" ujar Safira menyindir shine yang dulu malu membawa nya ke pesta.
Ya, Shine juga di balut dengan jas mahal berwarna biru langit. Siapa pun pasti menilai bahwa pasangan itu sangat lah romantis. Tapi ingat, jangan menilai isi dari cover nya bukan?
Itu karena dress menor dan make up Tante-tante yang di ajar kan oleh wanita murahan milik Shine. Entah tingkah berapa kebodohan Safira saat itu hingga mau di dandani seperti tante-tante yang sedang menawar kan diri.
"Aku yakin, kau pasti malu membawa ku bukan? Baiklah aku lebih baik tidak ikut jika kau masih malu membawa ku," ucap Safira.
Tidak ada raut wajah sedih di sana, biasa saja. Ikut dan tidak ikut pun menurut nya sama saja.
Shine menghela napas. Safir selalu menyinggung perlakuan nya dulu pada istri nya itu.
"Tidak, kamu cantik. Lebih cantik dari apa pun. Dan suatu kebanggaan bisa membawa bidadari cantik seperti mu ke pesta itu," jawab Shine dengan lembut.
Safira terhenyak mendengar ucapan shine yang begitu lembut. Bahkan kata-kata itu, sejak kapan Shine bisa mengata kan kata-kata manis seperti itu.
Lamunan Safira buyar kala merasa pinggang nya di tarik dan di peluk secara posesif oleh Shine.
Setengah jam dalam perjalanan, akhir nya Shine dan rombongan nya sampai di pesta yang di gelar. Pintu terbuka tepat di karpet merah yang bentang kan panjang di antara jalan yang di sedia kan di sana.
Sorot kamera yang tadi nya begitu heboh menyoroti para pasangan yang datang ke para tiba-tiba berhenti.
__ADS_1
Ya, Safira tau kenapa hal itu terjadi. Shine si penguasa dan pebisnis terkenal nan kejam itu tidak ingin diri nya melihat flash kamera yang begitu mengganggu. Dia tidak terlalu suka itu.
Safira hanya bisa tersenyum ketika orang-orang di sana menunduk kan kepala ke arah nya. Berbeda dengan pria di samping nya yang memasang wajah datar sejak tadi.
Ternyata ini adalah perayaan terbesar gelanggang model internasional di mana donatur terbesar nya adalah Shine Damian Browns.
Sebenar nya Shine tidak terlalu berminat dengan bisnis ini, tapi Xavier memberi kan rekap masukan dari acara ini dan bisa di kata kan lumayan, jadi Shine tidak melepas nya.
"Cih, pria bajingan ini ternyata hanya ingin melihat model-model seksi yang hampir menampak kan tubuh mereka. Aku yakin ,pria ini sangat menyukai nya," batin Safira melihat beberapa model lewat dari depan Meraka hendak membentuk formasi. sepertinya mereka akan tampil.
"Nyonya Shine?" tiba-tiba seorang wanita cantik berpenampilan seksi dengan punggung terbuka lebar, dada rendah menampak kan belahan dada nya dan dengan perut rata terekspos.
"Gila, siapa pun pria pasti akan menatap lapar tubuh seksi nan bohay wanita ini," batin Safira.
"Hai Tuan Shine Damian Browns," ucap wanita itu lagi. Tatapan memuja dari wanita itu nampak jelas di mata Safira, namun wanita itu tidak peduli.
"Seperti nya aku pernah melihat mu," ucap Safira meneliti wajah wanita seksi di depan nya. Safira menatap Shine.
"Apa kau mengenal nya?" tanya Safira pada sang suami.
Safira menghela napas. Percuma saja dia bertanya pada pria di samping nya. Si dingin dan hemat bicara. Pada hal jika di mansion terutama di dalam kamar, pria ini tidak sependiam itu.
"Shien adalah pacar saya waktu SMA, dan belum ada kata putus dari kami berdua sejak itu," tiba-tiba saja wanita itu tidak lagi formal dan sok akrab langsung memanggil Shien tanpa embel-embel tuan.
"Kau yang ada di baru itu, Julie?" tebak Safira.
"Ya benar," ucap Julie.
"Aku akan menemui rekan ku sebentar, Vier jaga istri ku," ucap Shine berlalu dari sana. Xavier menunduk dan berdiri di belakang sang Nyonya.
"Seperti nya hubungan kalian sangat bagus hingga...kau sampai saat ini tidak hamil," sindir Julie. Secara terang-terangan wanita itu menyerang Safira.
"Atau...kau mungkin mandul?" tebak Julie lagi.
"Jaga ucapan anda Nona," ucap Xavier dengan tatapan tajam nya.
Safira menatap Xavier dengan kode tangan menyuruh Xavier diam.
"Aku yakin kau tidak melayani kekasih ku dengan baik-baik," ucap Julie.
"Apakah ini kode bahwa kau sudah merambat menjadi seorang *** ***?" kekeh Safira.
Julie terpancing, namun wanita itu masih berhasil mengontrol nya.
"Tidak apa bukan jika *** *** dari pria yang di cintai nya. Aku pikir itu lebih baik dari pada istri yang tidak memuas kan suami nya," jelas Julie.
"Cih, apa sekarang seorang *** *** juga ingin tau urusan ranjang suami istri," ejek Safira.
"MMM, tentu saja. Bah kan aku tau kau tidak memberi kan Shine hak nya," ucap Julie dengan puas karena melihat Safira yang syok dengan pernyataan Julie.
"Tapi itu sangat menguntung kan ku. Shine tidak menjamah mu bukan dan malah menghabis kan panas bersama ku, kekasih nya. Sangat menyenang kan, bahkan dia lah yang pertama untuk ku," jelas Julie membuat Safira tambah syok.
Safira berusaha untuk menahan emosi Yang ada dalam diri nya. Dia semaksimal dan sekuat mungkin menahan emosi nya.
"Ohhh, benar kah. Dan kau bangga memberi kan nya pada suami orang lain?Ah, aku lupa profesi mu," ucap Safira tertawa setelah berhasil mematah kan semangat membara Julie yang menghina nya.
"Tutup mulut mu wanita rendahan. Apa kau pikir aku menjajal kan tubuh ku pada pria kaya hah? Kau pikir aku adalah wanita miskin seperti mu yang mengais kekayaan pada pria kaya? Acara ini adalah milik Daddy ku. Sedang kan kau, entah wanita apa kau tanpa Shine," ejek Julie.
"What, aku berpikir dia adalah wanita malam," batin Safira setelah melihat wanita itu beberapa kali ada di club' malam. Tapi Safira saat ini sudah mengerti situasi.
Xavier yang diam sejak tadi mendengar pembicaraan itu di buat pusing. Namun mata tajam nya di kaget kan siluet cahaya merah yang mengarah ke pada sang Nyonya.
Dor
Satu tembakan meleset ke arah Safira tanpa di duga.
"Sh"it, lindungi nyonya," ucap Xavier menunduk sambil menekan darah yang keluar dari tubuh Nyonya nya.
Bebrapa temba kan muncul dari beberapa arah merusak pesta itu hingga tak terbentuk.
__ADS_1
Jangan lupa like nya 😊
Agar author nya semangat dan tau kalau kalian menyukai karya ini 🙏👍👍