Istri Kontrak, Jangan Lepas

Istri Kontrak, Jangan Lepas
Part 43


__ADS_3

Shiene yang berada di kantor nya langsung panik ketika mendengar suara tembakan. Kamera yang berada di jas hitam Mateo terjatuh ketika dia harus melompat melindungi diri dari temba kan setelah menyelamat kan sang Nyonya.


Shine langsung keluar dari ruangan nya di susul Xavier.


"Istri ku sedang dalam bahaya," ucap Shine di ikuti langkah besar nya.


Xavier langsung mengerti. Dia menghubungi penjaga bayangan dan benar, mereka sudah masuk ke dalam bar dan berkoordinasi dengan Mateo demi penyelamatan sang Nyonya.


"Pengawal bayangan sudah ada di sana Tuan, dan Nyonya aman," ucap Xavier menenang kan sang Tuan.


Shine tidak menjawab dan diam saja.


Dia sangat bersyukur sang istri baik-baik saja.


Safira di dalam ruangan tidak bisa diam di tempat sambil menikmati ketenangan bahwa dia baik-baik saja.


Dia melihat bahwa banyak orang bersenjata d Ngan seragam sama datang ke dalam club'. Sedang kan Mateo dan pengawal bayangan hanya berjumlah tiga orang.


Apa lagi-lagi orang akan terluka karena melindungi nya?


Mateo masuk ke dalam club' dengan tenang. Suara dari luar yang begitu ribut terlihat tidak menggangu perasaan nya. Pengawal bayangan juga ikut masuk dan bersiaga dari dalam.


"Mateo apa yang terjadi? Dan kalian kenapa berada di sini sedang kan tembakan masih terdengar? Apa kalian takut? Tidak apa didalam saja," ucap Safira melihat Mateo dan pengawal bayangan tidak ada yang terluka.


Mateo di buat pusing oleh majikan nya ini. Bagaimana dia menjawab pertanyaan jika di beri kan secara beruntun seperti ini? Dan apa tadi takut? Oh God, jika bukan atasan nya, Mateo akan menghilang kan kepala manusia itu dari badan nya.


"Maaf Nyonya, mereka tidak menarget kan kita. Mereka seperti nya ingin melumpuh kan bar ini, namun pemilik nya sudah datang bersama anggota nya. Jadi kita tidak perlu terlibat," jelas Mateo panjang lebar agar tidak di buat pertanyaan beruntun lagi


"Maksud mu Tuan Elvio juga sudah datang?" tanya Megan yang ada di ujung sana.


"Ya benar," jawab Mateo dingin.


Berbeda dengan suara nya sebelum nya yang sopan dan lembut.


"Cih, seperti kulkas 7 pintu saja," gumam Megan namun masih mampu di dengar Mateo. Pria itu otomatis melayang kan tatapan tajam pada wanita itu.


Safira terlihat memikir kan sesuatu dan Mateo menyadari nya.


Tembakan di luaran sana pun semakin nyaring saja


"Apa ada yang bisa saya bantu Nyonya?" tanya Mateo melihat kegelisahan sang Nyonya


"Mateo, apa..Tuan mu akan datang ke sini?" tanya Safira dengan ragu.


"Tentu saja Nyonya, tuan pasti akan segera datang," jawab Mateo.


"Kau menghubungi nya?" tanya Safira lagi.


"Tidak di hubungi pun pasti datang," batin Mateo.


"Ya benar Nyonya."


"Bisa kah kau memberi tahu nya agar tidak datang? Di sini sangat berbahaya," ucap Safira khawatir dengan suami nya.


Dia tidak mau jadi janda di usia nya yang masih muda.


"Maaf Nyonya, saya tidak memiliki keberanian," ucap Mateo sambil tersenyum dalam hati.


Meski pun di lihat sang nyonya seperti anti dengan tuan nya, tapi diam-diam hati nya sangat lembut dan penuh perhatian.


"Ponsel ku tertinggal tadi di meja bar, aku tidak bisa menghubungi nya," ucap Safira.


Dengan cepat Mateo mengambil ponsel nya dan menelepon Sanga Tuan.


Tut Tut


Dering ke dua ponsel langsung dia angkat.


"Sialan, kenapa kau tidak mengangkat nya sejak tadi. Bagaimana keadaan istri ku,"


Langsung saja terdengar makian dari seberang sana membuat Safira menghangat sekaligus kesal.


"Kenapa? Aku yang menagta kan nya," kesal Ros tak terima dengan makian Shine.

__ADS_1


Shien tertegun di sana.


"Sa...sayang, are you okay? Apa Mateo menjaga mu dengan baik?" Shine langsung gugup di sana.


"Yah aku baik-baik saja. Mateo dan teman nya menjaga ku dengan baik," jawab Safira.


"Apa kau akan datang ke sini?" tanya Safira setelah hening beberapa menit.


"Tentu saja, sebentar lagi aku akan sampai. Mateo akan tetap di sisi mu, jangan takut!" ucap Shine dengan lembut.


"Tidak, jangan datang ke sini. Penjahat nya tadi banyak dan mereka membawa pistol. Pemilik Club' tadi sudah datang bersama anggota nya, tunggulah sebentar lagi," ucap Safira. Tersirat nada khwatir di sana.


Shine tersenyum manis di sana. Ternyata sang istri diam-diam khwatir di sana. Dia sangat senang, apa begini rasa nya di peduli kan oleh orang yang kita sayang.


"Shine, apa kau masih di sana? Apa terjadi sesuatu? Panik Safira.


"No Sayang, aku akan segera ke sana, kau tidak perlu khawatir karena aku bisa mengatasi nya," ucap Shine lagi.


"Mereka bersenjata Shine."


"Apa kau tidak melihat Mateo dan teman nya memegang senjata?" tanya Shine dari sana.


Safira mengalih kan pandangan nya ke arah Mateo dan dua orang yang berjaga di pintu bersiaga dan memegang senjata.


Dia baru sadar, "siapa sebenar nya kau Shine?" batin Safira.


"Baiklah, ingat hati-hati. Aku tidak mau janda di umur ku yang masih muda," ucap Safira tanpa pikir panjang dan langsung memati kan ponsel nya.


Shine tersenyum senang di sana . Apa itu kode bahwa Safira tidak akan meminta cerai lagi. Oh betapa bahagia nya Shine saat ini.


Xavier yang tidak bisa mendengar isi percakapan hanya bisa fokus pada kemudi nya. Tapi sudah jauh lebih tenang, mengingat tuan nya tadi sudah santai bicara.


"CK, Safira, ternyata kau Sangat mencintai suami mu," ucap Megan yang mendengar isi percakapan itu.


"Maksud nya?" tanya Safira enggan mendengar ucapan sahabat nya.


"Mungkin kalian sedang berkelahi sebelum nya maka nya datang kau datang ke club' bukan? Tapi itu tidak akan menyelesai kan masalah, harus dengan kepala dingin Fira cantik. Kemaren saja saat putus kau menyelesai kan nya dengan kepala dingin. Di mana Safira yang ku kenal, yang berprinsip satu kali menikah?"


"Megan, nasehat Mus seperti orang sudah menikah," jawab Safira dengan halus menyindir Megan.


"Kau..kau mengejek ku?" ucap Megan.


Mereka kembali bercanda gurau, dan tidak memduli kan tembakan di luar pintu yang sudah mulai reda.


Seroang pria yang ada di sana terpesona dengan tawa manis wanita yang ada di hadapan nyonya nya. Baru kali ini dia merasa tertarik dengan seorang wanita pada pandangan pertama.


**


Shine sudah berada di depan club' yang bisa di kata kan lumayan hancur.


Meski pun sudah banyak temba kan di sana sini, tapi tidak ada polisi atau keamanan yang datang.


"Cih, mafia memang anti polisi," batin pria itu sambil mengeluar kan pistol nya.


Para bawahan Shine pun mulai masuk. Meski pun bukan mafia, tapi bukan berarti kemampuan nya berada di bawah.


Xavier yang berada di belakang mengawasi sekitar tuan nya, jangan sampai terluka. Sedang kan bawahan lain nya sudah menyebar membantu kelompok Elvio.


Sudah tidak terlalu banyak yang di urus, musuh kalah cepat meski pun bar tak berbentuk lagi.


Dor


Tiba-tiba satu temba kan melayang ke arah Shine. Untung saja refleks pria itu cepat, dia menghindar namun menggores sedikit pipi tampan nya hingga mengeluar kan sedikit darah.


Dengan cekatan Shine langsung menembak pria yang menarget kan nya tanpa harus bersembunyi untuk melindungi diri.


"Anda tidak apa-apa Tuan?"


"Hanya luka kecil," jawab Shine.


"Aaaaa...aaa, tolong lepas kan. Lepas kan!" tiba-tiba suara teria kan seorang wanita terdengar di salah satu sudut.


Shine yang mendengar itu langsung menyuruh Xavier menyelamat kan nya.

__ADS_1


Shine mengedar kan pandangan nya dan tidak lagi melihat baku tembak.


Dia menelepon Mateo untuk bertanya posisi mereka. Dia sudah tidak sabar melihat sang istri.


Di ruangan mana?" suara bariton itu terdengar oleh Safira. Dia langsung merebut ponsel itu dari Mateo.


"Apa kau tidak apa-apa, aku akan keluar sekarang!" ucap Safira. Masih tersirat nada khwatir di suara lembut nya.


"Tidak, tetap lah di sana. Aku yang akan menjemput mu sayang," ucap Shine.


"Shine, kau ada di sini juga?" seorang wanita tiba-tiba datang dengan keadaan yang menyedih kan. Rambut beranta kan, dress yang sudah tak berbentuk.


Safira bisa mendengar suara seorang wanita memanggil suami nya dengan nada menyedih kan namun di ikuti suara menghoda. Tapi Shine tidak buka suara, membuat Safira kesal dan langsung memati kan ponsel nya.


"Ohh, jadi dia mengata kan aku tidak keluar agar dia bisa bersama wanita itu. Cih, baji Ngan tetap lah baji Ngan," ucap Safira lantas duduk di sofa dan meletak kan ponsel itu dengan kesal.


Dia melihat Xavier di belakang nya yang tertunduk. "Nona Julie tadi hampir di perkosa tadi Tuan," ucap Xavier.


"urus dia," ucap Shine dengan dingin tanpa berniat membantu Shine. Dia melihat ponsel nya yang sudah mati.


"S*hit, jangan sampai dia salah paham," umpat Shine.


"Shine, apa kau tidak ada niatan menolong ku. Apa tidak ada lagi sisa cinta untuk ku?" tanya Julie dengan air mata yang sudah menetes.


Shine tidak mempedulikan nya dan melanjut kan jalan nya menuju ruangan di mana istri nya berada.


"Cih, cemburu mu menjijik kan Safira. Pada hal saat bersama di Patrick sialan itu kau selalu abai jika dia di dekati perempuan,' ucap Megan.


"Cih, jangan mengingat kan ku pada penghianat itu," jawab Safira kesal karena di ingat kan pada Patrick si penghianat.


"Sayang, are you okay?" saat pintu terbuka seorang pria langsung berjalan ke arah nya dan berlutut di hadapan Safira sambil memeriksa tubuh sang istri.


Safira sempat tertegun dengan perlakuan Shine.


"A..aku baik-baik saja," ucap Safira.


Dia melihat luka sang suami yang berada di pipi. Ingin menyentuh nya tapi mengingat suara perempuan tadi dia menjadi kesal.


"Lepas kan, tidak usah berlebihan," ucap Safira kesal.


"Ayo Megan, kita pulang," ucap Safira.


Megan ikut saja, tinggal di sini pun bukan pilihan yang baik saat ini. Dia akan meminta izin pada tuan nya Elvio nanti.


Shine ikut berdiri dan menjauh kan Safira dari Megan agar ia bebas memeluk pinggang ramping sang istri. Safira tentu saja memberontak, tapi kekuatan nya tidak sebanding dengan Shine.


Saat keluar Safira melihat Xavier bersama seorang wanita dengan pakaian beranta kan dan jas Xavier berada di pundak wanita itu.


"Maaf Nyonya, saya adalah Julie teman tuan Shine," jawab Julie dengan air mata yang masih menetes.


Safira melihat ke arah suami nya, Shine tidak mempeduli kan wanita yang bernama Julie itu.


"Tidak ada urusan kah," tanya Safira pada suami nya.


Hanya Megan yang tau bahwa kalimat itu adalah kode keras ketika Safira marah dan kesal lebih tepat nya cemburu


"Bukan urusan ku," jawab Shine santai dan datar.


"Maaf Nona Julie, kami harus pulang. Seperti nya suami ku tidak berniat bernostalgia dengan anda," ucap Safira tersenyum penuh kemenangan.


Kemudian mereka berjalan di ikuti Xavier dan m gan dan yang lain nya.


Megan pun sudah minta izin pada Elvio untuk menginap di mansion Safira tapi untuk malam ini saja.


Sebelum sampai di mobil, Safira melepas paksa rangakulan Shine.


"Cih," ucap Safira berdecih.


Shine mengambil keputusan yang salah ketika memperboleh kan Megan sahabat istri nya ikut ke mansion, dia saat ini harus duduk bersama Xavier di depan dan ke dia wanita itu di belakang.


Jangan lupa kasih like nya yah readers tercinta


Biar author nya semangat dan tau kalian menyukai nya 🙏👍👍👍

__ADS_1


__ADS_2