
Shine pergi dari mansion nya dengan rasa penuh amarah. Sejak dulu saat menikahi Safira dia memang sangat menanti kan cerai dengan wanita itu, tapi sekarang, hati nya benar-benar tidak ingin wanita itu pergi.
Dia pergi bersama dengan asisten nya Xavier ke perusahaan. Xavier yang melihat wajah tuan nya merasa tidak aman. Yah, dia harus bersiap menghadapi segala emosi Shine saat ini, asisten nya itu tentu saja sudah tau siapa penyebab atasan nya itu tidak mood seperti ini. Dia hanya bisa melakukan mobil tanpa harus bertanya lagi ke mana arah mereka.
Aurora juga tadi melihat Shine pergi dari mansion dengan wajah datar nya, namun Aurora tau di dalam wajah datar itu tersimpan emosi yang tinggi yang berusaha di pend oleh adik nya itu.
"CK, tidak Dad Dika dan Mommy Rosaline, si kecil itu dengan istri nya juga selalu perang dingin. Bagaimana aku bisa termotivasi untuk menikah?" batin Aurora sambil menyesap minum nya.
Dia sebenar nya sudah ada laki-laki yang menawari nya untuk menikah, tapi entah lah. Dia belum yakin memperkenal kan pria itu pada keluarga nya. Dia juga tidak suka jika di desak menikah, dia ingin menikmati masa muda nya versi diri nya sendiri.
Dia mengingat wajah pria yang mulai di sukai nya namun belum sepenuh nya. Hanya wajah datar yang terlihat di wajah nya, jika dia mengingat wajah pria itu, pikiran nya juga akan melayang ke pada mommy Rosaline yang akan mendesak nya menikah.
Suara tapak kaki yang turun dari lantai atas menghenti kan lamunan Aurora. Dia melihat wanita yang di sukai adik dingin nya turun dengan raut wajah kesal. "Aku yakin, jika umur adik ipar tidak akan panjang jika seperti ini terus," batin Aurora.
"Aku melihat Shine pergi ke kantor dengan kesal sama seperti wajah mu. Apa ada masalah?" tanya Aurora. Wajah wanita itu terlihat tidak mengetahui apa pun, tapi semua nya sebenar nya sudah terakap di pikiran nya penyebab adik dan adik ipar nya pernah dingin.
Safira yang turun dari tangga langsung merubah wajah kesal nya dengan biaya saja
"Mmmm, ada sedikit masalah kecil tadi kak," jawab Fira.
"Dia tidak sarapan pagi, kau boleh mengantar nya," ucap Aurora berdiri dari tempat nya. Aurora melihat wajah Safira yang enggan.
"Apa kau tidak mau? Baik, aku akan menyuruh kepala pelayan saja," lanjut Aurora lagi.
Safira gelagapan mendengar ucapan Kakak ipar nya. "Aku saja kak," jawab Aurora.
"Baiklah. Jika ada waktu aku akan datang ke sana agak siang, jadi Jiak ada waktu adik ipar boleh menunggu ku di sana" jawab Aurora berbalik dan pergi dari sana.
Safira menggaruk kepala nya yang tidak gatal. Permasalahan nya bukan masalah membuat makanan nya, tapi mengantar makanan ini, identitas nya siapa? Dan apa lagi kata Kaka ipar nya, akan datang ke sana, itu berarti diri nya harus di sana menunggu kakak ipar nya itu.
"Ada apa dengan hari ini, semua nya menguji emosi ku," batin Safira.
__ADS_1
Namun dia tetap pergi ke dapur dan membuat makanan untuk sang suami.
Dalam waktu tiga puluh menit dia sudah selesai di bantu oleh para koki dan pelayan.
Sekarang waktu nya dia pergi. Dia menarik napas sebentar dan memakai Hoodie nya.
Dia mengguna kan pakaian Hoodie dan hanya memakai tanktop crop sebagai dalam nya.
Dia sudah menyiap kan mental nya untuk pergi ke kantor suami nya itu. Jika bukan Kaka ipar nya yang menyuruh nya, dia sangat ogah untuk menemui Shien apa lagi di kantor nya.
Safira menaiki salah satu mobil Lamborghini milik suami nya, dia tidak mau di antar oleh supir. Dia tidak boleh terlihat seperti seorang wanita yang lemah lembut yang akan membuat para karyawan perusahaan nantinya akan menggosip, dia tidak suka menjadi bahan pembicaraan.
Dia membawa mobil Lamborghini itu dan parkir tepat di depan pintu perusahaan Shine suami nya.
"Gila, perusahaan ini besar sekali," batin Safira melihat gedung pencakar langit di depan nya.
"Nona, dilarang parkir di sini!" ucap satpam yang berjaga di sana. Safira malas berlama-lama menjadi tontonan orang dan memberi kan kunci itu dengan ramah pada satpam.
"Pak, saya minta tolong mobil nya di parkir kan yah, saya baru pertama kali datang ke perusahaan ini, jadi belum mengerti aturan nya," ucap Safira dengan ramah.
"Baik Nona," jawab satpam itu.
Safira langsung masuk, ketika melihat sekitar nya melihat diri nya dan menggosip. Dia tidak peduli dan dengan santai memasuki perusahaan sang suami.
"Nona, berhenti!" Cegat seorang satpam.
"Jika anda ada urusan silah kan melapor ke pada resepsionis!" ujar satpam itu. Dia juga tidak berani terlalu menyinggung Safira karena melihat wanita itu tadi membawa Lamborghini mahal.
"Apa yang bisa saya bantu Nyonya?" tanya resepsionis
"Aku ingin bertemu pemilik perusahaan ini, tapi aku bingung harus ke mana!" jawab Safira dengan ramah.
__ADS_1
Resepsionis melihat pegangan Safira.
"Maaf Nona, apa sudah membuat janji?"
Safira hanya menggeleng.
"Maaf, jika seperti itu, anda tidak bisa menemui Tuan, saat ini juga Tuan sedang sibuk."
Safira hanya menghela napas, ingin marah tapi para manusia di depan nya hanya menjalan kan aturan.
Dia berbalik hendak pergi, tiba-tiba seorang pria juga tampak ingin memasuki perusahaan.
"Xavier,' teriak Safira tiba-tiba membuat orang-orang di sekitar nya langsung menunduk.
Xavier yang dipanggil langsung mendekat ke arah suara yang memanggil nya.
"Ada apa nyo...,"
""Jangan memanggil ku seperti itu, cepat bawa aku menemui suami ku," ucap Safira pelan.
Semua orang tentu saja merasa heran melihat kedekatan Xavier dengan wanita berhoodie tertutup itu
Xavier ingin menolak mengingat tuan nya saat ini sedang sibuk. Tapi dia tidak berani menolak. Dia hanya pasrah dan membawa Safira ke tempat Shine saat ini berada.
Di depan sebuah pintu, Xavier berhenti.
"Tuan berada di dalam dan dia sed...,"
"Aku membawa makanan, kau tidak makan tadi pagi bukan?" ucap Safira sambil menutup kembali pintu.
Serempak semua orang langsung mengalih kan pandangan nya ke arah orang yang berani mengganggu rapat mereka.
__ADS_1
jangan lupa like nya 😊👍👍
Horas ✋✋✋