
Di sebuah ruangan yang bernuansa gelap di padu kan dengan warna biru, seorang pria baru saja terbangun sinar matahari yang memasuki ruangan dengan kaca transparan di kamar nya.
Perlahan, mata itu terbuka dan mendapati wajah seorang wanita cantik merapat ke arah nya karena panas yang menerpa punggung nya.
Pria itu tersenyum dan menutup punggung wanita nya. Dia melihat wajah damai dan tenang itu, sangat berbeda jika sedang marah atau dalam wujud aslinya sebagai queen mafia.
Dia adalah Alaska, pria yang masih dalam diam dan tidak pernah ikut campur urusan Aurora. Tidak pernah mencari identitas Aurora sebenar nya dan tidak pernah bertanya tentang keluarga wanita itu, begitu juga dengan Aurora yang sama sekali tidak mengetahui identitas nya sendiri yang sudah sebatang kara.
Yah, sesuai komitmen nya dengan Aurora saat itu bahwa mereka tidak akan memberitahu kan identitas dari sama lain sebelum urusan mereka selesai.
Ingin sekali rasa nya Alaska menyelesai kan urusan nya dengan keluarga Browns, tapi tak semudah itu. Lawan nya bukan lah mafia rendahan yang bisa di rata kan begitu saja.
"Sudah selesai memandangi wajah cantik ku?" tiba-tiba suara serak dan percaya diri tinggi muncul memenuhi telinga Alaska.
Pria itu tersenyum melihat kepercayaan diri wanita nya.
"Ya kau memang sangat cantik. Puas, CK," decak Alaska.
Aurora tersenyum manis mendengar jawaban tak ikhlas pria nya.
"Al...," panggil Aurora.
"Hmmm."
"Boleh aku bertanya?"
"Tanya kan saja Sayang, apa pun akan ku usaha kan menjawab nya,"
"Apa urusan mu masih lama?"
Al menatap Aurora dengan tatapan sulit di arti kan.
"Akan ku selesai kan secepat mungkin." ucap Alaska mengelus lembut kepaa wanita nya dengan penuh sayang.
"Jika butuh bantuan, klan ku siap mendukung mu,"
"No, ini adalah urusan ku,"
"Tapi kenapa misi mu sangat lama selesai? Apa dia berbahaya, apa dia Sangat kuat?"
"Ya, dia adalah pria berbahaya. The most feared mafia man," jawab Alaska jujur.
"Bukan kah Daddy adalah mafia paling di takuti, dan satu lagi adik kecil ku Shine. Tapi tidak mungkin, itu terlalu jauh, antar negara tidak mungkin saling bermusuhan. Shine juga baru di nobat kan, belum banyak manusia yang mengetahui nya" batin Rora.
"Mafia negara mana?" tanya Aurora penasaran dengan identitas pria musuh sang kekasih.
"Mafia Amerika," jawab Alaska.
Pria itu sudah menebak ke mana arah pembicaraan Aurora, jika dia memberi tahu kan bahwa musuh nya saat ini adalah ketua mafia black Sky keturunan dari Spanyol yang tinggal di New York, Rora pasti akan dengan mudah mencari nya. Jadi lebih baik dia tidak memberitahu identitas pria paling berbahaya itu pada kekasih nya.
"Dan kau tidak perlu ikut campur hmm," ucap Al pada Aurora sambil gemas menyubit hidung mancung Aurora.
Aurora yang kesal menepis tangan Al yang tidak ramah. Bagaimana diri nya yang notabene adalah seorang queen mafia di buat seperti itu, hilang sudah wibawa nya.
__ADS_1
**
Berbeda dengan suasana mesra di atas tempat tidur Alaska, ruangan belakang ruang sakit masih di penuhi dengan suara hening namun ada gera kan memati kan dari ke dua pria yang masih beradu di atas ring.
"Menyerah lah," ucap Shine pada Elvio yang sudah mulai nampak lelah karena sakit nya.
Elvio tersenyum remeh.
"Tidak, dan jika pun aku mati di sini. Istri mu bukan semakin mencintai mu, but sebalik nya, dia akan semakin membenci mu king mafia," ucap Elvio menahan rasa sesak di bagian dada nya.
"Jangan menambah rasa sakit mu Elvio," ucap Shine seakan tau apa yang terjadi pada Elvio.
Elvio menatap tajam Shine, ucapan itu seakan tau apa yang terjadi pada nya.
Dan Elvio tidak perlu meragu kan kecepatan Shine mengetahui kondisi nya meski pun sudah di tutup rapat-rapat oleh tim medis.
"Aku hanya sedang latihan," ucap Elvio tersenyum sambil bangkit berdiri kembali.
Shine menatap Elvio dengan tatapan sulit di arti kan. Tetapi dia tetap membentuk ancang-ancang untuk menerima serangan Elvio nanti nya.
Elvio mengangkat kepalan tangan nya, sedang kan Shine mengangkat kaki berotot nya untuk memberi kan pukulan terakhir.
Hampir saja kaki Shine mengenai perut Elvio dan tangan Elvio hampir mengenai rahang Shine, namun ke dua nya tiba-tiba mematung karena temba kan yang tiba-tiba datang.
Dor
Dengan santai seorang wanita memuntah kan timah panas nya di antara ruang kosong antara Elvio dan Shine.
Semua pengisi ruangan itu juga kaget mendengar tembakan itu, segera dan serempak anggota Elvio dan Shine langsung meng luar kan senjata mereka dan h Ndak mengarah kan moncong senjata mereka pada orang yang berani mencari masalah di kandang lawan, namun urung saat melihat wajah si pelaku.
Yah dia adalah Safira, menurut nya Shine dan Elvio terlalu ke kanak-kana bermain di rumah sakit. Belum lagi Safira melihat Elvio seperti menahan sesuatu tapi tetap melawan Shine.
Spontan Shin dan Elvio menoleh ke arah Safira yang melipat tangan dengan mengguna kan baju pasien nya.
Bukan nya marha pada Safira karena hal yang di laku kan nya bisa saja merenggut bahwa diri nya atau Elvio, justru Shine merasa khawatir karena Safira sudah ke luar dari ruangan nya.
"Sayang, what are you doing here?" tanya Shine datar turun dari ring.
Sedang kan Elvio dia tidak bisa lagi hanya sekedar berdiri. Megan yang berada di b lakang Safira maju dan segera menuju Elvio bersama dengan Asisten Elvio.
Megan hanya bisa menghela napas, lagi-lagi dia harus menjadi penyelamat bagi Elvio. Megan hanya bisa menggeleng kan kepala nya karena ulah Elvio yang sama sekali tidak peduli dengan kesehatan nya.
Megan tau apa yang terjadi di tempat ini, dia bukan wanita polos seperti Safira yang sama sekali tidak peka dengan situasi yang terjadi.
"Jika kalian ingin beradu kekuatan klan siapa yang paling kuat, jangan membuat keributan di sini. Untung saja Asisten Elvio memberi tahu ku kalau tidak, salah satu dari antara kalian pasti mati, kan rumah sakit nya jadi rugi nama. Kalau ingin mati, setidak nya jangan di sini" jelas Safira tanpa rasa bersalah.
Mendengar penjelasan Safira bebrapa pengawal menjatuh kan rahang nya.
"Apa setelah Nyonya masuk rumah sakit jiwa nya menjadi jiwa tuan yang juga seperti sycopath?" itu lah pertanyaan yang muncul dalam hati para pengawal.
Elvio yang tadi juga sudah bisa berdiri hampir terjatuh kembali mendengar ucapan Safira yang tanpa belas kasihan. Sedang kan Megan dia hanya menggeleng kan kepala nya karena sudah sering menghadapi tingkah absurb sahabat nya.
Shine? Tentu saja dia biasa saja, dia sudah sering menghadapi tingkah istri bahkan lebih dari ini belakangan ini.
__ADS_1
Tapi satu yang terbesit di pikiran nya.
Apa setelah orang hamil maka sifat nya akan berubah menjadi seorang psikopat?
Shine masih mengingat ketika dia mengajari Safira menembak, wanita ini masih gemetar meski pun sasaran nya sudah mengenai target.
"Ayo kembali ke ruangan mu, suasana di sini tidak cocok untuk mu," ucap Shine dengan lembut sambil merangkul bahu Safira.
Safira melepas kan tangan Shine dengan kasar.
"Aku bisa jalan sendiri, aku tidak lumpuh," ucap Safira dan meninggal kan semua manusia yang ada di ruangan itu.
Saat keluar dari pintu, Safira berhenti sejenak.
"Megan, tolong bantu Elvio," ucap Safira.
Shine mengepal kan tangan nya dengan kuat.
Ternyata Safira hanya mempeduli kan Elvio saja di banding kan dia yang adalah suami Safira sendiri.
Shine mengikuti langkah Safira yang menuju ruangan nya.
Sesampai nya di ruangan Safira, wanita yang masih merasa belum nyaman dengan perut nya langsung berbaring di atas ranjang nya.
Shine yang siap sedia mengikuti Safira langsung bergerak memperbaiki selimut wanita itu.
"Aku bisa sendiri," ucap Safira lagi-lagi menepis tangan Shine.
Pria itu hanya bisa menghela napas panjang. Dia memilih diam dan duduk di sofa yang ada di sana.
Hening beberapa menit, Safira akhir nya buka suara.
"Dokter sudah mengizin kan ku pulang," ucap Safira.
"Xavier akan menyiap kan segala nya,"
"Aku minta tolong pada Shine waktu itu untuk mengurus surat cerai, apa itu sudah selesai?"
Habis sudah kesabaran Shine.
"Jangan pernah menyebut kan kata itu Safira jika kau mengharap kan kebebasan dari ku,"
"Aku tidak butuh izin siapa pun, aku adalah aku, tubuh ku adalah milik ku dan kau tidak berhak Shine," ucap Safira mulai panas
"Apa kau ingat kau lah yang datang pada ku? Sesuatu yang sudah di miliki oleh Shin Damian Browns tidak akan pernah lepas," ucap Shine menatap tajam Safira .
Aura membunuh dari pria itu benar-benar menguat di ruangan. Shine tidak main-main dengan ucapan nya kali ini.
"Dan jika itu pun takdir, aku akan mematah kan nya dengan cara ku sendiri," ucap Pria itu dengan penuh keyakinan.
Jangan lupa like nya 😊👍👍👍👍
Agar author nya makin rajin up nya 🙂
__ADS_1