
Nia dengan santai masuk ke dalam ruangan dan menghenti kan percintaan panas yang sedang berlangsung tadi.
Nia mendekat ke arah Darren.
"Cih, awas burung mu di gigit semut Tuan Darren," ucap Nia dengan malas.
Darren tidak bisa mengunci burung nya saat ini karena si junior nya masih menegang dan tidak akan muat di rumah nya saat ini.
"Cih, lihat atasan mu tidak berniat melanjut kan kegiatan panas kalian lagi. Apa semurahan ini diri mu perawat?" ejek Nia dengan sarkas.
Wanita itu melihat memohon ke arah Darren namun Darren sama sekali tidak menanggapi Lauren. Diri nya sudah hilang minat terhadap wanita itu.
"Guna kan pakaian mu Lauren!" perintah Darren namun mata nya tetap mengarah ke pada Nia.
Dengan kesal dan masih di ambang gairah, Lauren berusaha mengguna kan pakaian nya dengan gemetar.
"Anda juga tuan Darr...," ucapan Nia terhenti kala Darren menyerang nya dengan brutal.
Darren tidak mengirau kan lagi ucapan Nia dan langsung fokus menyerang Nia. Dengan sigap bibir Darren sudah menguasai bibir Safira Bahkan tangan pria itu sudah bergerak melepas kan pakaian Nia.
dalam sejenak pakaian Nia sudah tergeletak di lantai dan saat ini punggung nya sedang di jamah dengan lembut oleh Darren.
Nghhh
Terserah erangan Nia karena bibir Darren sudah turun ke dada nya yang masih ter kpos dan meneliti kembali ke leher jenjang nya dan tulang selangka nya.
Darren dengan lembut mer emas nya bukit milik Nia. Kemudian tangan nya brgeril ya ke belakang dan melepas kan pengait penghalang buah ke sukana Darren.
Uhhhh
Nia semakin naik gairah nya karena saat ini bibir Darren sedang memanja kan dada nya. Tergesa-gesa dan terkesan lembut, itu lah Darren saat ini.
Kini Darren mengangkat Nia ke meja di mana tempat itu adalah tempat Darren menyiksa Lauren.
Dengan pelan ciuman Darren turun ke perut rata Nia dan tangan nya di bawah mengusap lubang kenikmatan Nia yang masih di baluti kain segitiga tipis.
Darren melihat sejenak ke arah Nia yang terengah-engah seakan meminta izin, Nia langsung membuka paha nya lebar-lebar. Darren sangat senang, kode ini membuat nya mabuk kepalang.
Dengan wajah tergesa-gesa, Darren memasuk kan saru jari nya dan menusuk ke dalam Nia
Memaju meu dir kan dengan pelan dan lama kelamaan menambah kan volume jari dan kecepatan nya.
Uh...ah..uhh..ahhh
"A..aku sampai Darren," ucap Nia dengan bergetar. Darren langsung berjongkok di hadapan Nia dan menyesap dalam milik wanita itu.
Nia meringis sekaligus kenikmatan melanda nya. Darenw dengan tidak sabaran mengangkat Nia ke sofa panjang Yang ada di sana.
"Kini giliran ku honey,". Ucap Darren dengan napas memburu siap mengarah kan milik nya ke dalam lubang Nia.
Namun kegiatan nya terhenti ketika Nia tanpa perasaan mendorong dada Darren.
Pria itu sangat frustasi atas penolakan Nia.
"Ada apa honey?" ucap Daren dengan raut wajah merah karena menahan gairah nya. Di sini seakan Darren lah yang meminta dan menjadi tukang servis. Lauren yang ada di sana pun paham dengan itu.
"Apa kau tidak ingin bermain lagi dengan *** *** mu itu? Dia sedang menanti mu. Lihat dia sudah basah," ejek Nia karena dia bisa melihat Lauren sedang memain kan milik nya dengan jari nya.
Ini lah tujuan Nia menyiksa wanita itu mempermain kan dan membuat nya menderita dengan basah sendiri, pertunju kan nya dengan Darren adalah edukasi nya.
"Honey apa yang kau kata kan?" tanya Darren dengan nafas terengah-engah.
Lauren juga di sana terengah-engah dan sangat tersiksa dengan keadaan nya yang saat ini sangat ingin di puasa kan
"Setidak nya suruh perawat mu membersih kan benda-benda yang beranta kan ini. Kepala ku sakit melihat nya!" ucap Nia.
Daren tidak tau apa hubungan berc inta dengan benda-benda sialan itu, namun Darren menuruti perintah Nia.
"Kau dengar? Beres kan itu!" perintah Darren kemudian mendekat ke arah Nia.
"Honey...aku tidak tahan," rengek Darren
__ADS_1
langsung menyerang bibir Nia. Nia dengan cekatan mengimbangi Darren. Milik pria itu yang sudah mengeras sejak tadi menyentuh pangkal paha Nia membuat wanita itu semakin bergairah. Dia juga ingin merasa kan nikmat nya senjata Darren di lubang milik nya namun demi memberi kan pelajaran pada pria itu dia menahan nya sejak tadi.
Nia yang sudah terduduk di sofa itu karena dorongan Darren langsung membalik kan keadaan. Kini Darren yang duduk di sofa saat ini.
"Honey....Izin kan aku masuk ah....,"
Darren dan Nia sama-sama mengerang nikmat karena secara tak terduga Nia mengarah kan milik Daren memasu Ki nya.
"Ouh honey...kau ah..sangat hebat ah.."
Darren Mende sah karena Nia saat ini bergerak di pangkuan nya dengan liar.
Buah dada yang menggantung itu bergerak seirama menantang Darren meraup nya.
Daren segera meraih benda itu dan mer emas nya seperti mainan kecil Yang sangat di sukai nya. Tangan nya membantu pinggang Nia untuk bergerak maju mundur.
"Ouh. ..honey milik mu..pun menjepit ku. Ini ah...sangat enak...," ucap Darren di penuhi dengan kenikmatan.
Nia tersenyum manis dan juga merasa kan kenikmatan luar biasa.
"Ah...Dar...milik mu ah... sangat besar dan ah...membuat sesak tapi jikamt," ucap wanita itu.
Lauren yang mendengar dua sejoli yang memadu kasih semakin tersiksa dan semakin liar memasuk kan jari nya yang sama sekali tidak membuat nya puas. Dia basah beberapa kali mendengar kan desa Han Nia dan erangan Darren. Benda-benda itu sama sekali tidak ada yang kembali ke tempat nya karena rasa tersiksa nya Lauren
""Darren...ah..aku..
"Bersama," ujar Darren semakin mempercepat gerakan pinggang Nia
"Uhhh...kau sangat nikmat Al," bisik Darren.
Nia tersentak ringan di pelu kan Darren karena pria itu menyebut nya dengan awalan nama kedua nya, Alba.
Grep
Darren kemudian berdiri dan membalik kan posisi mereka.
"Apa yang kau laku kan ah...,"
Nia memekik kaget karena Darenw langsung menusuk Milik Nia dengan satu henta kan dan hentakan itu langsung memenuhi rahim Nia.
"Ouhhhh...Al," kau sangat nikmat Honey. Erang an itu terdengar menyiksa di telinga Lauren.
Setalah setengah jam kemudian, Daren sangat puas dan sangat menikmati percintaan nya dengan Nia.
Saat ini, Nia sedang berada di dalam pelu kan Darren, sama-sama telanjang dengan Lauren yang tergeletak di tengah-tengah lantai itu karena lemas sendiri dengan hasrat nya yang menyiksa.
"Honey..boleh kan lagi," ucap Daren dengan memohon. Dia bisa melihat Nia juga dengan hasrat yang masih besar di wajah nya.
Tiba-tiba Nia melompat dari pelukan Darenw dan segera mengguna kan pakaian nya.
"Holy ****, kenapa aku lupa dengan tujuan utama ku," umpat Nia tergesa-gesa mengguna kan pakaian nya.
"Ar, cepat gunakan pakaian mu," ucap Nia.
Darren tersenyum manis mendengar nama panggilan dari Nia.
Entah mengapa dia menuruti ucapan wanita itu mengguna kan pakaian nya.
"Ada apa Honey?" tanya Daren mengguna kan pakaian nya dengan santai tanpa beban sedikit pun
"Sial, aku lupa mengata kan bahwa tuan dan Nyonya akan segera datang," ucap Nia dengan tergesa-gesa.
"Fu ck," umpat Darenw juga tergesa-gesa mengguna kan pakaian nya, hampir satu jam dia bermain dengan Nia sejak kedatangan wanita itu. Jangan bilang Shine dan Kakak ipar nya sudah menunggu di luar, Jiak itu terjadi, nyawa nya tidak aman saat ini.
Jangan kan nyawa nya, Nia akan lebih parah karena wanita itu adalah Anggota Black Sky. Jika melibat kan urusan pribadi dengan pekerjaan, maka Nia akan mendapat kan hukuman berat.
"Fu ck, bodoh kau Darren. Kau memang maniak bawah pusar," umpat pria itu pada diri nya sendiri.
Dia bodoh, sejak awal dia sudah tau tujuan Nia ke rumah sakit karena mengingat janji nya sebelum nya pada Safira Kakak ipar nya agar membawa Shine, tapi lain di hati nya lain di otak nya.
...****************...
__ADS_1
Di sebuah mansion di ranjang king Size, seorang wanita tiba-tiba saja tersentak bangun Karan merasa kan tangan nya basah.
Dia tersentak bangun dan langsung menatap ke atap di mana dia tidur. Tidak bocor, tidak mungkin bukan dia pipis celana. Dia langsung menyibak kan selimut yang melingkupi tubuh nya. Tapi yang basah adalah bagian atas nya, tapi Safira tetap menyibak kan selimut nya.
"Shine...." pekik Safira karena melihat dari pria itu lah sumber basah yang mengenai Safira.
Tubuh wanita itu keringat luar biasa.
"Bangun hei, ada apa Shine?" ujar Safira sambil berusaha menyasar kan Shine dengan menggoyang kan tubuh Shine.
Safira berlari sejenak ke arah walk in closet dan mengambil lap untuk membersih kan keringat yang bercucuran di wajah Shine.
"Ku mohon bangunlah emmm. Ada apa, mana yang saki" tanya Safira dengan panik ketika melihat Shine dengan sayu sayu membuka mata nya.
"Sa..sayang. Rasa nya sakit," ucap Shine dengan serak sambil memeluk pinggang Safira.
"Tahan sebentar yah, aku...aku akan memanggil Xavier," ucap Safira berusaha melepas kan Shine yang masih memegang erat pinggang nya. Safira juga sangat gugup saat ini karena Shine akan kenapa-kenapa.
"No, don't leave me please. Ini sangat menyakit kan," ujar Shine.
"Aku tidak akan meninggal kan mu Shine, lepas sebentar agar aku bisa memanggil Xavier," ucap Safira.
"No... seperti ini saja," ucap Shine membenam kan kepala nya di perut Safira.
" Ah...Sial, kenapa sesakit ini," batin Shine.
Uhuk uhuk
Shine mulai batuk keras namun tetap berusaha memegang pinggang Safira.
"Pelase lepas sebentar saja. Aku ...,"
"Don't leave me!" pinta Shine dengan lirih
"Berapa kali harus ku kata kan hah, aku tidak akan meninggal kan mu. Sebentar saja, aku hanya mengambil ponsel," ucap Safira.
"Promise?"
"Ya..ya, cepat lah!"
"Forever????" tanya Shine dengan masih m nahan sakit yang bergejolak di tubuh nya.
Safira bimbang saat ini, tidak mungkin dia berjanji, masih ada yang harus mereka selesai kan
"Ini bukan saat yang tepat Shine," ujar Safira.
"Ah yahhh, benar. Biar kan saja seperti ini kalau begitu. Setidak nya sisa hi..."
"Yah aku berjanji. Sekarang lepas kan," ucap Safira berusaha menarik lengan kekar Shine tapi dia kalah kuat.
Tiba-tiba Safira merasa kan tangan Shine longgar begitu saja dan sangat mudah di lepas kan.
"Shine...hei...You hear me???? Heiiii," Safira sangat panik. Diri nya menarik wajah Shine dan benar saja pria itu sudah tidak sadar kan diri.
"Kenapa kau sangat keras kepala," ucap Safira di runding rasa khwatir yang sangat besar. Dia meletak kan kepala Shine ke bantal ranjang dan langsung mengambil ponsel.
"Cepat ke kamar utama Xavier, suami ku pingsan!" ucap Safira dengan nada tinggi membuat Xavier langsung bergerak cepat ke kamar dan memanggil anggota nya.
Dia bersikap tenang seolah tidak ada yang terjadi. Mateo melirik ke arah Xavier dengan dahi berkedut.
"Pergilah ke kamar utama, aku akan membawa anggota inti," perintah Xavier dan Mateo segera bergerak.
"Nyonya, ada ada?" tanya Mateo saat melihat buliran air bening meluruh di wajah cantik sang Nyonya.
"Suami ku, dia ....dia pingsan. Tolong segera bantu dia. Kita ke rumah sakit," ucap Safira menghapus air mata nya dengan kasar.
Jangan sampai Xavier yang sangat pro dengan Shine mengetahui dia Sangat mengkhawatir kan pria itu jika ingin bebas dari Shine
Sedang kan Mateo, dia akan selalu bisa di andal kan dan lebih mengerti Safira.
"Tenang Nyonya, kita harus tenang dan tidak boleh gegabah. Kita tidak tau tuan terkena racun dari mana. Sekarang kita harus menunggu perintah dari Tuan Max. Saat ini kita tidak bisa memasti kan mansion dalam keadaan aman sebelum kita mengetahui asal usul racun itu," ucap Mateo tenang.
__ADS_1
Jangan lupa like nya 😊👍👍👍
Agar author nya semangat up nya 🙂🙏👍👍👍👍👍