
Setelah berdebat hampir satu jam, akhir nya Safira memutus kan untuk ikut pulang bersama Shine ke mansion Browns.
Sesampai nya di mansion, Safira langsung beristirahat kembali tanpa menyapa Shine yang sejak tadi berada di samping nya.
Safira benar-benar bersikap acuh pada Shine. Shine juga tidak mempermasalah kan itu semua asal kan Safira tetap berada di sisi nya.
Safira langsung menutup seluruh tubuh nya hingga tidak kelihatan. Shine tau Safira menghindari nya, namun dia tetap peduli pada Safira.
Dia membuka selimut yang melingkupi tubuh Safira.
"Jangan tutup, kamu akan kekurangan oksigen," ucap Shine membuka selimut itu.
Safira langsung berbalik dang membelakangi Shine. "Apa peduli mu," ucap Safira ketus tetap membelakangi Shine.
"Aku peduli segala nya tentang mu. Aku akan pergi ke kantor, tetap lah di mansion..." Shine menjeda ucapan nya sejenak.
Safira yang membelakangi Shine menunggu jawaban yang keluar dari mulut suami nya.
"Jaga kandungan mu, dokter mengata kan itu masih rentan," ucap Shine berbalik dan meninggal kan ruangan itu.
Belakangan ini pekerjaan nya menumpuk dan semakin banyak karena mengabai kan segala urusan pekerjaan karna istri nya yang berada di rumah sakit.
Safira ayang sudah tidak merasa kan kehadiran Shine bangkit berdiri. Dia beranjak dari tidur nya karena mendengar suara mobil, lalu pergi ke arah jendela kaca di mana dia bisa melihat mobil suami nya di sana.
"Apa aku keterlaluan pada nya? CK, tidak. Aku tidak peduli, ini hukuman untuk nya," batin Safira.
Dia menatap sekeliling kamar mewah yang di tinggali nya saat ini. Mewah, elegan dan berdemage khas seorang king mafia dan CEO kaya.
Awal nya saat pulang dari rumah sakit dia ingin pisah kamar, tapi dia tidak tega meninggal kan kamar mewah ini.
Dia memilih ke luar dari kamar utama menuju lantai bawah. Dia terlalu bosan berada di kamar ini.
Saat hendak membuka pintu kamar, Safiea di kaget kan oleh seorang pelayan yang membawa segelas minuman.
Safira memegang jantung nya yang sejenak berpacu.
"Maaf Nyonya, saya benar-benar minta maaf sudah mengaget kan Nyonya," ucap pelayan itu merasa bersalah. Dia menunduk kan kepala nya.
"Aku tidak terluka dan masih berdiri. Kau tidak perlu merasa bersalah. Berlebihan sekali," ucap Safira. Entah kenapa dia kesal sendiri melihat pelayan yang suka merasa bersalah ini.
Pelayan itu semakin menunduk kan kepala nya karena lagi-lagi dia di salah kan. Dia tidak berani mata tajam sang Nyonya karena nyonya nya yang lembut dan rendah hati sudah hilang di telan burung.
Safira menghela napas melihat sikap pelayan yang ada di depan nya.
"Ada apa?" tanya Safira pada akhir nya memilih mengalah.
"Nyonya, sebelum tuan pergi, beliau berpesan untuk memberi kan susu hangat ini pada Nyonya," ucap si pelayan memberi kan susu di tangan nya pada Safira.
Safira mengernyit kan dahi nya.
"CK, apa kepala nya terbentur?" batin Safira tapi tetap menerima minuman itu.
Pelayan itu pergi kembali mengurus pekerjaan nya. Dia tidak berniat lama-lama di samping nyonya nya karena dia paham bagaimana mood seorang wanita yang hamil muda berubah-ubah dan akan berdampak pada diri nya nanti.
Baru saja melangkah, pelayan itu menghenti kan langkah nya. Seperti nya dia akan di uji sekali lagi kesabaran nya.
__ADS_1
"Terimakasih susu nya, enak," ucap Safira sambil menyesap susu yang baru saja di beri kan pelayan.
Takaran gula di padu kan dengan takaran susu sangat pas di lidah nya dan hangat di perut. Tapi Safira tidak pernah meminum susu rasa seperti ini
Pelayan itu tersenyum mendengar ucapan nyonya nya. Dia pikir lagi-lagi dia melaku kan kesalahan
"Itu buatan Tuan Nyonya, sebelum pergi ke kantor Tuan menyiap kan susu hamil untuk anda," ucap Pelayan itu.
Safira mengernyit kan dahi nya.
"Suami ku?"
"Benar Nyonya,"
"Baiklah, kau boleh pergi," ucap Safira.
"Lumayan," batin Safira. Lidah nya tak henti-henti nya ingin menyesap minuman itu lagi-lagi.
"Ah pantas aja aku tidak pernah meminum susu seperti ini," ucap Safira. Dia mengelus perut rata nya.
"Apa kau baik-baik saja di dalam sana Baby?" ucap Safira mengelus perut nya dengan penuh sayang.
Dia tidak menyangka akan ada kehadiran seorang nyawa di rahim nya hanya sekali bermain dengan pria ba* jingan yang tidak mengakui anak nya.
Safira tidak ingin larut mengingat-ingat tingkah suami sialan nya. Dia memilih turun dari lantai atas ke lantai bawah.
Sesampai nya di lantai bawah, Safira terkejut melihat kehebohan para pelayan yang berada di dekat ruang tamu. Meraka mondar mandir seperti semut yang mencari makan di musim kemarau.
Safira menghenti kan langkah pelayan yang menunduk sejenak pada nya.
"Ini adalah stok susu hamil yang di beli Tuan Nyonya, baru sampai tadi pagi jadi kami belum sempat memberes kan nya. Sebentar lagi Nyonya, kami akan menyelesai kan nya agar Nyonya bisa bersantai di ruang tamu," jelas pelayan itu kemudian undur diri.
Melihat Sang Nyonya mereka sedang menunggu mereka bersiap, para pelayan yang merasa belum Nyonya nya menunggu mempercepat langkah mereka.
"CK, kenapa dia memang kan suami yang baik sekarang seolah-olah dia mengakui anak ku," ucap Safira.
Safira berbalik ingin mengubah tujuan nya dari yang semula namun dia di kejut kan oleh sebuah patung bernapas yang membuat jantung nya kembali gugup.
"Mateo, kenapa kau tiba-tiba ada di sini. Aish, kenapa penghuni mansion ini tiba-tiba seperti malaikat pencabut nyawa yang tiba-tiba datang?" kesal Safira.
"Maaf Nyonya," jawab Mateo datar tapi penuh hormat.
Safira mendengus kesal.
Safira melangkah, Mateo juga mengikuti nya.
"Apa yang kau laku kan? Kenapa kau mengikuti ku?" tanya Safira mulai kesal dengan tingkah Mateo.
"Saya akan menjaga anda selama Tuan tidak di mansion Nyonya," jawab Mateo.
Kepala Safira semakin di buat pusing.
"Apa sebenar nya maksud semua ini Shine?" batin Safira.
"Terserah, tuan dan anak buah nya sama-sama mengesal kan dan bodoh," ucap Safira.
__ADS_1
Mateo sama sekali tidak tersinggung, dia terpa seperti patung bernapas yang bakal bergerak.
Dia memilih melangkah ke meja makan karena perut nya terasa lapar, pada hal dia Baru saja meminum segelas susu buatan suami nya. Safira mengabai kan patung bernapas yang selalu mengikuti nya.
Makanan yang tersaji di meja membuat selera Safira semakin besar saja. Melihat makanan enak tersaji ingin rasa nya dia menelan segala makanan dari ujung ke ujung meja.
"Oh God, kenapa tiba-tiba aku seperti babi yang kelaparan," batin Safira mulai duduk di kursi. Dia sama sekali tidak ada niatan mengajak Mateo yang berada di samping nya.
"Aku mulai dari...,"
Belum mulai Safira Safira menyentuh makanan nya, dia sudah di ganggu oleh keributan dari luar.
"Siapa? Kenapa aku tidak bisa sekali saja menikmati suasana di mansion ini dengan tenang," kesal Safira menatap Mateo.
Tiba-tiba suara tapak heels terdengar di lantai marmer mansion.
Mateo menatap tajam wanita yang dengan Bernai nya mendatangi mansion pria beristri.
Safira mengernyit kan dahi nya melihat Wanita yang menatap nya dengan intens.
"Kenapa dia bisa masuk?" tanya Mateo menatap penjaga yang berada di depan yang saat ini berada di belakang wanita yang menerobos masuk
"Maaf Tuan, Nona ini memaksa masuk. Kami tidak berani menyentuh nya karena tuan tidak memberi kan larangan untuk Nona ini masuk ke mansion," jawab seorang pengawal.
Meski pun gelar pengawal itu sama dengan Mateo bukan berarti peran mereka di mansion ini juga sama. Meraka lebih menghormati Mateo karena dia adalah anggota pilihan.
"Kamu, seperti nya aku pernah melihat mu..mmmm di club' bukan?...Mmmmm, kekasih Shine, atau mantan atau sejenis nya?" tanya Safira menebak.
"Ya benar, aku kekasih SMA Shine," ucap wanita itu. Ternyata dia salah Angelin yang Bernai datang ke mansion Shine. Dia sama sekali tidak mendapat kan balasan pesan dari Shine belakangan ini membuat diri nya kesal setengah mati dan memilih mendatangi mansion Shine. Tidak peduli ada istri sah Shine ada di sini.
Safira merasa kesal melihat kepercayaan diri Angelin. Di lihat dari segi mana pun dia lebih cantik dari wanita penggila suami nya.
Yah inilah Safira saat ini. Tingkat kenarsisan nya sangat tinggi.
"Boleh aku pinjam ponsel mu Mateo?" tanya Safira dengan suara rendah.
"Silah kan Nona," ucap Mateo memberi kan ponsel nya.
Safira langsung mengetik nomor yang bersarang di kepala nya tanpa bertanya pada Mateo yang tentu saja sudah menyimpan nomor tujuan Safira.
Entah pesan apa yang di kirim kan Safira pada. nomor itu, hanya bebrapa saat Safira mengembali kan ponsel nya.
"Aku ingin menemui Shine, dia ada di ma.....,"
ucapan Angelin terpotong karena suara Safira yang tidak ramah untuk di dengar.
"Tau diri lah bi tch, ini bukan mansion mu," ucap Safira kemudian dia beralih pada Mateo.
"Beri tahu tamu yang ada di mansion ini bahwa aku sedang makan, jika ingin di jamu nanti saja setelah aku makan. Anak ku lebih penting dari pada siapa pun, apa lagi anak ku tidak bisa di banding kan kepentingan dengan seorang *** ***," ucap Safira panjang lebar di ikuti ucapan ramah nya di kuping Mateo.
Angelin mengepal kan tangan nya dengan kuat. Ingin sekali kuku panjang nya mencabik-cabik wanita Yang saat ini berlagak sombong pada nya.
Jangan lupa like nya yah gays 🙂🙏👍👍👍
Agar author nya rajin up dungs 😊👍😊
__ADS_1