
Sedang kan di negara Chile bagian selatan bumi, seorang pria sedang menunggu wanita nya di Bandar Udara Internasional Arturo Merino BenΓtez. Kedatangan nya yang tiba-tiba tetap membuat pria itu bahagia, meski pun dia tidak mengekpresi kan nya.
Menunggu hampir lima belas menit di ruangan VVIP yang di sedia kan bandara, akhir nya pesawat yang di tunggu-tunggu mendarat Sempurna.
"Terimakasih tuan Alaska, kami menanti kan kehadiran anda kembali," ucap sang manajer dengan sikap penjilat seperti anjing yang ingin dekat-dekat dengan tuan nya.
"Hmmm," ucap pria itu tanpa panjang lebar. Dia segera keluar dari ruangan itu menuju tempat pendaratan bandara.
Tentu saja dia tidak akan menunggu di ruang tunggu membosan kan yang ada di bandara. Untuk apa kekayaan nya jika bukan untuk di manfaat kan di situasi seperti ini.
"Baby," ucap pria itu dengan tenang namun tersemat perasaan bahagia di sana.
Yang di panggil Baby mendekat dan membalas pelukan pria yang telah menyambut nya.
Dengan senang hati wanita itu merasa kan kehangatan yang sudah di terima nya dari pria itu.
"Nona Aurora, apakah anda tidak membawa barang?" tanya asisten Alaska yang bernama Dextrosa.
Aurora menggeleng.
"Really?" tanya Alaska menatap sang kekasih.
"Yes of course. Untuk apa aku membawa nya, ada kmu yang akan membeli nya," ucap Aurora sambil berjalan mengikuti langkah Alaska ke dalam mobil.
"No problem," jawab Alaska.
Dia sama sekali tidak masalah dengan ucapan Rora. Diri nya juga banyak uang, dan baru kali ini Rora menawar kan diri nya sendiri agar di beli kan baju. Wanita itu sebelum nya belum pernah menerima tawaran apa pun dari Alaska, baik itu aksesoris, barang branded, mobil terbaru dan lain-lain tidak pernah.
Sesampai nya di dalam mobil, kedua nya tidak berbicara lagi. Namun Alaska masih setia memegang tangan istri nya dan memaksa Rora menyandar kan kepala nya ke bahu nya.
"Lebai," ucap Rora tapi tetap menyandar kan kepala nya di bahu sjah kekasih.
Alaska tidak menjawab nya, dan malah memegang erat tangan sang kekasih.
Keheningan beberapa menit membuat sekertaris Alaska mendesah malas.
"Bagiamana bisa kekasih dingin dan kejam seperti mereka berdua ini di gabung kan? Aku merasa seperti melihat vampir dan serigala yang berbeda bangsa dan bermusuhan namun suatu saat bisa dekat," batin sekertaris Dextrone.
Bagaimana tidak, Rora juga terkesan dingin dan kejam apa lagi kekasih nya Alaska jangan di tanya lagi. Entah apa maksud Tuhan menyatu kan dia orang psikopat.
__ADS_1
Sesampai nya di mansion Alaska, ke dua nya turun setelah sang sekertaris membuka pintu.
Aurora menatap mansion yang biasa di kunjungi nya.
Tidak ada yang berubah, masih sama seperti dulu-dulu saat dia berkunjung ke tempat ini.
Bunga lili adalah Bunga yang dominan menghiasi mansion ini. Sesuai dengan nama kekasih Alaska, bunga lili yang cantik dan indah.
Jika lili melihat bunga ini dia akan teringat dengan sang mommy yang melahir kan nya. Awal nya dia membenci bunga ini tumbuh di mansion Alaska, tapi dia tidak bisa menepik rasa suka nya bunga itu meski pun di bumbui rasa benci karena mengingat mommy nya.
Alaska dan Rora memilih duduk di ruang tamu yang berada di mansion itu. Mereka berbincang-bincang sejenak dan singkat.
"Apa urusan mu sudah selesai?" tanya Aurora menatap mata tajam Alaska.
"Belum, maaf. Aku akan mengurus nya secepat nya," jawab Alaska sambil mengusap lembut kepala sang kekasih.
"Butuh bantuan?" tawar Rora.
"Tidak, aku bisa menyelesai kan nya. Setelah itu aku berjanji akan membahas hubungan kita," ucap Alaska dengan pelan.
"Baiklah, ku harap kau segera menyelesai kan nya jika memang serius dengan ku. Jika tidak aku akan mencari yang lain. Dad dan Mom sudah mendesak ku, Adik ku juga," ucap Rora. Di akhir kata nya dia begitu kesal karena di desak oleh orang-orang terdekat nya.
Alaska menatap tajam Rora yang mengata kan akan mencari yang lain.
"Aku hanya menawar kan saja Tuan Alaska, siapa tau anda tidak berminat dengan gadis per awan tua seperti saya," ucap Rora.
"Apa ini kode untuk ku sayang?" tanya Alaska tersenyum smirk.
"Aku akan menendang burung mu jika itu sampai terjadi," ancam Rora tidak main-main.
"Ini akan berfungsi membuat Alaska junior Sayang," ucap Alaska menutup milik nya.
Dia takut dengan istri licik nya ini yang bisa selalu saja mengancam harta berharga milik nya. Rora hanya mencebik kesal mendengar ucapan frontal sang ke kasih.
Sekertaris Dextrone tersenyum melihat tuan nya bisa banyak bicara bersama dengan pujaan hati nya. Setidak nya ada orang yang membuat sang tuan melupa kan dendam yang menggebu-gebu dari sang tuan.
"Apa benar adik mu juga ikut mendesak mu menikah?" tanya Alaska setelah mendengar kan penuturan sang kekasih.
"Cih, bahkan si tengok kecil itu mengata kan aku tidak tau bagaimana sikap wanita pada umum nya. Bah kan dia selalu menunjuk kan kemesraan di depan ku, Cih itu membuat ku muak melihat tingkah anak kecil itu," kesal Rora.
__ADS_1
"Dia sudah menikah Sayang, bukan anak kecil lagi," ujar Alaska.
"Umur nya dan status nya memang sudah dewasa, tapi tingkah nya seperti anak kec...,"
Ucapan Rora terhenti ketika merasa kan bibir nya sudah basah Akran ulah Alaska yang tiba-tiba.
Setalah melihat wanita nya berhenti bicara dia melepas kan tautan Mereka.
"Kau tidak..."
Sekali lagi ucapan itu terputus ketika Alaska kembali membungkam bibir yang tiba-tiba cerewet seperti pantat ayam milik Rora.
Kali ini wanita itu tidak menolak dan justru membalas kecapan demi kecapan yang di beri kan oleh Alaska, bahkan wanita itu tidak sadar bahwa posisi mereka saat ini sangat intim membuat pria jomblo seperti sekertaris Dextrone malu sendiri.
Dia memilih pergi dari sana dan meninggal kan ke dua sejoli yang sedang di mabuk asmara itu.
Saat ini justru Aurora lah yang mendominasi. Aurora benar-benar tidak sadar dengan kondisi saat ini di mana posisi mereka Sangat intim.
Alaska berada di bawah dan Rora menindih nya dari atas. Alaska merasa menang banyak kala merasa kan posisi ini sangat menarik.
Belum lagi dress yang di guna kan Rora saat Ini paha tersingkap hingga menunjuk kan paha mulus nya.
Bahkan dada Aurora saat ini membuat iman Alaska tergoda, terlihat dua benda kenyal yang masih terbungkus kain empuk nya menggantung di depan wajah Alaska.
Alaska menelan Saliva nya dengan kasar. Belum lagi keganasan Safira turun menyusuri leher Alaska, rasa nya pria itu ingin terbang merasa kan kegilaan Aurora saat ini, tapi tentu saja dia tidak akan kalah. Dia juga harus mendapat kan kesenangan milik nya setelah kekasih nya puas.
"Nghhh," Alaska mend esah ketika Safira mengigit dan menjilati kuping nya dengan menggoda.
Aurora yang mendengar suara itu di buat sadar kemudian dengan posisi nya saat ini. Sungguh seperti posisi seorang istri yang ingin berc inta dengan pria nya.
Dia hendak berdiri namun pinggang nya langsung di tahan oleh Alaska.
"Apa kamu sudah puas Sayang, tentu nya aku juga akan memberikan ndapat giliran ku bukan?" ucap Alaska dengan seringaian nya.
Dia langsung berdiri membuat Aurora tejingkat kaget. Kaki nya otomatis mengait pada pinggang Koko Alaska karena pria itu tiba-tiba berdiri.
"Kita akan menyelesai kan nya di kamar Sayang, bersiap lah. aku akan mendapat kan kesenangan ku," ucap Alaska.
Aurora merutuki kebodohan nya yang memancing sang kekasih. Wajah nya memucat mengingat nanti nya diri nya Mungkin akan di makan oleh Alaska, oh tidak apa yang harus di laku kan nya, mengapa dia membangun kan singa jantan Yangs Edang tertidur? Tidak ada lagi yang bisa di laku kan Aurora hanya bisa pasrah.
__ADS_1
Jangan lupa like nya ya Sayang π
Agar author nya bisa semangat dan rajin up yah ππππππ