
Shine memapah Safira ke atas ranjang. Tubuh wanita itu tiba-tiba saja limbung dan terjatuh. Untung saja Shine cepat bergerak dan menahan tubuh Safira.
Shine langsung menghubungi Xavier.
Xavier yang mendapat perintah segera menghubungi Darren si jas putih.
"Sebaik nya kau cepat sebelum nyawa mu melayang, Nyonya pingsan," ucap Xavier dengan penuh tekanan karena mendengar dentuman musik dari ponsel nya.
"SH it, aku tidak pernah mendapat ketenangan," umpat Darren dengan segera beranjak dari sana dan menyingkir kan wanita-wanita seksi di pangkuan nya.
Untung saja apartemen Darren dekat dengan club dia mencari kesenangan, dia dengan cepat mengemudi kan mobil nya ke gerbang apartemen di mana pelayan di apartemen nya sudah memegang alat-alat nya.
Dalam sepuluh menit, Darren sampai dengan menerobos di lampu merah dan mendapat kan umpatan manis dari para pengemudi yang di salip nya dengan penuh kegilaan.
"Di mana kakak ipar?" tanya Darren sambil menaiki lantai atas.
"Di kamar utama, segeralah!" ucap Xavier.
Sambil berjalan, Xavier mengingat bagaimana Darren selalu berhasil membuat emosi Shine naik.
"Ingat, Tuan dan Nyonya bertengkar hebat sebelum nya, jangan memancing emosi Tuan."
Darren mengerti keadaan yang terjadi. Dia mengangguk.
Shine yang berada di kamar tidak buka suara sama sekali. Darren pun mengambil bagian dan langsung memeriksa Safira.
Setelah memeriksa Safira, Darren Meres kan obat dan memberi kan nya pada Xavier.
"Suruh kepala pelayan membeli nya sekarang!" perintah Darren.
Shine menatap tajam Darren. Kode itu di mengerti di jas putih.
"Nyonya butuh istirahat, kita bicara kan di luar," ujar Darren.
Shin menurut dan mengikuti langkah Darren.
Di ruang kerja nya Shine, Darren dan Xavier duduk di sofa.
Daren terlebih dahulu buka suara.
"Apa Kakak ipar hari ini melaku kan pekerjaan melelah kan?" tanya Darren mengubah nama panggilan untuk Safira.
"Yah, Nona berbelanja ke mall dan hampir menjelajahi seluruh isi mall," jawab Xavier.
"Salah satu nya itu, Nyonya terlalu ke lelahan namun itu tidak berbahaya, yang penting jangan di ulangi lagi." Jelas Darren.
"Kenapa dia pingsan?" tanya Shine. Aura nya saat ini sangat pekat dengan emosi yang tinggi. Apa dia penyebab istri nya sakit seperti ini?
"Kakak ipar tidak boleh mendapat kan tekanan yang tinggi. Emosi nya harus di jaga, karena tekanan yang di rasa kan janin yang ada di tubuh Kakak ipar melemah, sebaik nya apa pun yang di ingin kan di turuti saja, bisa jalan-jalan, bisa ke mall, tapi hanya sekedar saja," jelas Darren.
Xavier mengangguk kan kepala nya. Ternyata Darren pintar sedikit dengan tidak menanya kan penyebab Safira tertekan.
"Dan satu lagi, kemauan seorang ibu hamil harus di turuti, karena itu bisa menjaga emosi nya, meski pun suatu saat itu tidak berpengaruh karena kesensitifan ibu hamil," ujar Daren.
"Apa bayi nya baik-baik saja?" tanya Xavier.
"Baik, tapi dia lemah, mungkin jika kejadian ini terjadi lagi di tri semester pertama akan sangat berbahaya," jelas Darren serius. Dia benar-benar mengeluar kan image dokter nya.
"Tidak sia-sia penikmat bawah pusar Ini sekolah," batin Xavier bangga memiliki sahabat seperti Darren.
TRANG
Pecahan gelas berserakan di mana-mana.
__ADS_1
Kata harus menuruti permintaan istri nya adalah kata paling dia takuti dari segala penjelasan Darren.
"Breng sek, sialan. Ini semua terjadi karena ku," ucap Shine. Dia berbalik dan meninju dinding di samping nya.
Xavier yang mengetahui sifat Tuan nya langsung mengajak Daren ke luar. Shine butuh waktu sendiri dan itu lah yang di butuh kan Shine saat ini
Ini terjadi untuk yang ke dua kali nya. Xavier peka dan mengingat keadaan ini. Rasa marah namun penuh kepedihan di mata Shine membuat Xavier mengerti. Belum lagi tangan yang melempar gelas itu terlihat gemetar.
Ini untuk ke dua kali nya Shine mengalami ini. Pertama saat Rosaline mommy shine tidak.menyetujui Angelin saat itu sebagai kekasih Shine. Di Tambah Angelin tiba-tiba menghilang dan Shine menebak itu adalah ulah mommy nya. Namun di telusuri semakin jauh Angelin memang pergi sendiri dengan keinginan nya.
"Kenapa setiap orang yang ku sayang dalam hidup ku akan pergi meninggal kan ku, apa salah ku?" ucap Shine jatuh berjongkok di depan dinding yang dia pukul tadi.
Apa dia harus menyerah. Jika dia bertahan dengan keegoisan nya, dia akan mencelakai dua orang sekaligus, istri dan Baby nya.
***
Safira yang berada di kamar nya merasa kan pusing yang luar biasa.
"Sial aku. terbawa emosi," ucap Safira.
"Nyonya, silah kan di minum obat nya," ucap Avicennia tanpa memberi kan jeda pada Safira untuk sekedar menunggu agar penglihatan nya jelas.
"Tidak bisa kah kau kasihan pada ku sedikit. Bahkan aku belum bisa melihat wajah mu dengan jelas," kesal Safira.
Avicennia tidak terlalu peduli dengan ucapan Safira dan langsung memberi kan obat itu.
"Menyebal kan," ucap Safira namun tetap meminum obat itu.
"Apa Shine tidak ada di sini?" tanya Safira.
"Tidak Nyonya, tuan Shine ke luar bersama dengan dokter dan Tuan Xavier menuju ruang kerja Tuan.
"Apa dokter itu menyinggung kandungan ku?" tanya Safira.
"Kandungan Nyonya baik-baik saja, mereka menip kan informasi itu tadi," ujar Nia
"Tentu saja Nyonya, tapi belum saat nya kami menerima hukuman, jika Nyonya sudah sadar mungkin kami akan menerima hukuman nanti," jawab Nia dengan santai.
"Kau tidak takut?" tanya Safira mengingat kebengisan suami nya.
"Sudah hal biasa Nyonya, apa anda baik-baik saja sekarang?" tanya Nia mengalih kan topik pembicaraan mereka.
"Aku sudah baik-baik saja," jawab Safira menanggapi ucapan Nia. Nia sudah sengaja tidak membahas topik itu dan Safira mengerti akan hal itu.
"Nyonya sebagai pelayan anda, saya hanya ingin mengata kan utama kan kandungan anda di ata segala nya. Jangan sampai hilang Kendali dan menyebab kan kejadian ini berulang," ucap Avicennia dengan sungguh-sungguh.
Safira mengangguk, tapi ada kata yang tidak di terima Safira.
"Tapi kau tidak manampil kan diri mu sebagai pelayan Safira, lihat gaya mu sudah seperti Nyonya di rumah ini," ucap Safira melihat pakaian seksi Nia yang berbeda dengan pelayan lain nya.
Xavier dan Shine sudah terbiasa dengan pakaian yang di guna kan Nia saat berlatih di markas. Sudah di tekan kan akan di keluar kan dari anggota Black Sky tapi Nia tetap bersikeras. Setelah di beri kan penjelasan, akhir nya Shine dan Xavier mengerti dengan perasaan Avicennia. Ternyata di balik Nia berpakaian seperti itu ada kisah kelam di balik nya.
"CK, Nyonya biasa saja," jawab Nia menurun kan sedikit rok pendek nya.
"Kau tidak berniat menggoda suami ku bukan?" tanya Safira mendelik tajam.
"Nyonya anda terlalu berlebihan, masih banyak pria di lautan sana yang bisa saya goda, tuan bukan tipe pria yang akan saya goda," jawab Nia
"Nia...a.., apa kau sudah pernah melaku kan nya?" tanya Safira dengan tidak enak karena terlalu privasi. Tapi dia sangat penasaran.
Nia tersenyum melihat Nyonya nya yang penasaran.
"Sering Nyonya, terutama dalam misi. Sekarang pun sering, itu sudah jadi kebutuhan ku saat ini," jawab Nia.
__ADS_1
Safira menutup mulut nya.
"Apa kau pecandu nark0ba?" tanya Safira menebak.
"Jika seseorang suka s3x bukan berarti dia pecandu Nyonya, saya hanya suka saja. Di klan Black Sky barang haram itu di larang," jelas Nia dengan sabar. Memang ibu hamil Sangat sudah di atasi.
"Gila...gila, apa yang ada di pikiran mu Nia," heran Safira. Di balik muka kadang polos, kadang sangar, kadang menyebal kan Nia ternyata wanita itu sangat menyeram kan.
Nia hanya tersenyum biasa saja. Menurut nya itu tidak salah. Persepsi tiap orang berbeda bukan?
Safira baru mengingat sesuatu kenapa diri nya hilang kendali tadi, pada hal dia hanya mencoba-coba.
"Nia, kau tau aku hilang kendali tadi bukan tanpa alasan. Aku memang terbawa suasana tapi pemicu nya bukan masalah di mall," jelas Safira.
"Maksud anda Nyonya?" tanya Avicennia berusaha menyimak ucapan Safira.
"Gedung sebelah kiri, gedung paling tinggi aku melihat pantulan cahaya dari sana mengarah ke tempat ini. Suruh Mateo memeriksa tiap gedung sebelah kanan tiap hingga jarak lima kilo meter, aku yakin musuh suami ku mengincar kelemahan nya yaitu diri ku," ucap Safira.
Avicennia langsung menangkap maksud Safira.
"Anda yakin Nyonya hanya dari arah dari sana Nyonya? Bisa saja dari arah dekat" tanya Avicennia
"Aku tidak bisa menjawab sepenuh nya Nia, aku belum jeli dalam hal-hal seperti itu. Maka dari itu kau dan Mateo harus mengajari ku setidak nya, seperempat dari kalian," ujar Safira yakin.
"Baik Nyonya, aku akan meminta Anggota Black Sky secara diam-diam untuk membantu kita mengetahui siapa manusia itu," jawab Safira.
"Apa itu tidak akan ketahuan?" tanya Nia
"Tidak Nyonya, aku akan berhati-hati," jawab Nia.
"Baik lah, ku perkira kan aku akan tinggal seminggu lagi di sini, karena tempat ini mulai tidak aman. Dalam seminggu kalian harus mengajari ku!" ucap Safira.
"Baik Nyonya," jawab Nia
"Ah, bagaimana dengan Bibi yang di bawa tadi, apa dia sudah kalian beri kan tempat untuk tidur?"
"Sudah Nyonya, tapi aku tidak menyukai nya," ucap Nia blak-blakan.
"Kenapa?" tanya Safira heran melihat Nia
"Aku merasa dia bukan orang baik. Dia akan berada di bawah pengawasan ku," ucap Nia.
Safira tidak lagi berkomentar, keras kepala Nia dan diri nya hampir imbang, jadi jika di paksa bau itu tidak akan satu pun yang akan mengalah.
"Terserah," ucap Safira pad akhir nya.
Ceklek
Pintu tiba-tiba terbuka menampak kan Shine berdiri di sana dengan keadaan berantakan. Safira berusaha tidak peduli dan memilih menyandar kan kepala nya ke belakang ranjang.
"Saya permisi Nyonya, Tuan," ucap Nia berlalu sambil mengusap dada ke bawah sampai perut dan melirik Safira sejenak.
Safira berdecak dalam hati melihat peringatan Nia.
Hening sampai bebrapa menit, akhir nya Shine buka suara.
"Xavier akan menyiap kan surat perceraian kita, tapi beri kan dia waktu," ucap Shine. Setelah itu dia berbaring di samping Safira dan memunggungi wanita itu.
DEG
Jantung Safira berdetak dengan cepat.
"Apa dia sungguh-sungguh? Aku bisa-bisa," batin Safira ikut tidur dan memunggungi Shine . Tanpa terasa air mata wanita itu mengalir deras.
__ADS_1
Jangan lupa like nya 😊👍👍👍
Agar author nya semangat up nya 🙂🙏👍👍👍