Istri Kontrak, Jangan Lepas

Istri Kontrak, Jangan Lepas
Part 115


__ADS_3

Shine kini juga tak bisa berbuat apa-apa. Dia semakin terpuruk ketika mendengar bahwa Safira masih dalam keadaan kritis, meski pun kemaren wanita itu sudah melewati masa kritis nya, namun keadaan itu kembali entah apa penyebab nya.


Shine merasa tersiksa setiap detik ketika melihat sang istri diam tak berkutik dan tidak bercoletah seperti biasa nya. Pandangan Shine turun ke arah perut istri nya yang masih rata. Sial apa yang harus di kata kan nya nanti jika istri sudah bangun? Bagaimana Jika Safira bertanya tentang kandungan nya, apa yang harus di kata kan nya.


Shine yang masih setia memegang tangan sang istri berharap membuka mata nya, namun perasaan Shine tidak baik-baik saja saat ini.


"Ahhh, sial. Kenapa racun sialan ini harus menunjuk kan taring nya saat ini," maki Shine pada penyakit nya. Dia menyentuh perut nya yang begitu kedakiran, seperti biasa ini adalah efek dari racun yang masih bersarang di dalam tubuh nya dan mungkin sudah menyerang lebih jauh organ-organ nya.


Shine meraih obat yang ada di saku nya dan segera meminum obat itu. Beberapa saat dia sudah kembali seperti semula. Tubuh nya tidak merasa sakit lagi, tapi efek dari racun itu masih terasa sedikit. Sial, ini tidak seperti biasa nya, jika Shine meminum obat seperti ini maka efek sakit itu akan segera hilang, namun kali ini berbeda, masih ada rasa sakit yang tersisa.


Dia tersenyum hambar. Mau cobaan sebesar apa lagi yang harus dia alami, tidak cukup lah dia kehilangan putri nya yang masih berusia tiga bulan, belum juga cukup istri nya yang sedang dalam masa ujian untuk bertahan hidup, tidak cukup lah racun yang ada di tubuh nya sudah semakin menyebar?


Apa kah dia tidak bisa merawat istri nya saat ini yang sedang sakit. Tidak bisa kah memberi kan nya waktu untuk merawat istri nya yang sedang sakit? Shine semakin merasa kan sakit kembali mendera tubuh nya,


"Sial kenapa sakit sekali?" Shine memekik dalam hati.


***


Darren saat ini sedang berada di ruang rawat Nia. Pria itu juga merawat Jia yang sudah menjadi partner ranjang nya, dia merasa sangat khawatir ketika mendengar Nia juga ikut dalam insiden besar ini.


Yah, setelah persoalan dan juga Safira kembali sudah melewati masa kritis, Darren beralih ke arah Nia. Kemaren, dia yang mengeluar kan peluru yang bersarang di tubuh Nia, jumlah nya sebanyak tiga untung saja tidak mengenai organ-organ penting tubuh Nia, hanya satu hampir mengenai ginjal Safira namun meleset, dan dia lagi bersarang di tangan nya.


Banyak luka Yanga ada di punggung dan kepala Safira. Mungkin karena melindungi Safira dari pecahan dan benturan-benturan yang terjadi dalam mobil. Namun ternyata semua itu sia-sia, orang yang di lindungi nya tetap di timpa kemalangan bah kan sampai kehilangan Janin yang sudah di tunggu-tunggu keluarga besar Tuan nya.


"CK, kata nya anggota mafia, empat peluru saja kau sudah pingsan dan hampir satu hari ini kau belum membuka mata. Dasar lemah," entah Darren memang mengejek Nia atau justru kesal wanita itu terluka dan tidak membuka mata nya, tidak ada yang tau isi hati pria itu.


Jika di tanya apa Darren kesal Karana Nia tidak bisa memiuas kan dahaga nya, tentu saja tidak bah kan Darren sama sekali tidak tergoda dengan beberapa perawat dan dokter muda yang ada di rumah sakit ini. Dia sama sekali tidak mengingin kan mereka, bah kan Joni nya masih tertidur pulas tak ingin berdiri.


Bah kan dokter muda yang seksi dan cantik kemaren telah menggoda nya untuk memuas kan diri nya dengan alibi agar pria itu fresh dari rasa lelah yang menghinggapi nya tapi entah kenapa Darren sangat tidak bernafsu dan m milih bergantian masuk ke kamar Nia dan Safira.


Tak berbeda jauh dengan Darren yang sedang merawat wanita yang sering mengusik pikiran nya, tak berbeda jauh dengan Queenza yang telaten sedang mengobati bekas lobangan peluru yang ada di tubuh Xavier.


Dia dengan telaten mengobati semua tubuh Xavier yang bolong. Sama dengan Nia, tidak ada peluru yang menembus organ penting pria itu, untung saja dalam insiden ini tidak ada yang mati meski pun semua nya hampir menjemput pencipta.


Hanya saja si kecil yang sudah di tunggu kehadiran nya di dunia ini, tidak bisa di pertahan kan hingga dia sudah di makam kan dengan baik.


Tiba-tiba monitor yang ada di belakang Enza berbunyi dengan keras, garis-garis monitor yang awal nya berjalan dengan bentuk segitiga kini tiba-tiba sudut segitiga ke atas kini sudah turun ke bawah pertanda bahwa ke adaan Xavier saat ini sudah sangat menurun.

__ADS_1


Enza langsung panik, dia memeriksa keadaan Xavier dengan teliti serta memnaggil dokter dan perawat lain nya.


"Apa aku melewat kan sesuatu?" batin Enza berusaha mencari di mana kesalahan nya dengan merasa raba tubuh Xavier.


"Ada apa Dokter?"


"Ini aneh, keadaan nya tiba-tiba menurun drastis pada hal aku tidak melaku kan apa-apa pada nya. Bah kan aku sama sekali tidak menyentuh alat-alat yang menempel pada tubuh nya," jelas Enza


"Apa kita tidak bersih mengambil peluru nya Dokter?"


Enza mengangguk menyetujui suara salah satu dokter yang ada di samping nya.


"Dapat. Ada satu peluru lagi. Siap kan alat-alat. Cepat!" nada Suara Enza benar-benar tegas.


Ternyata masih ada satu peluru yang bersarang di dada pria itu yang masuk melalui bawah ketiak Xavier hingga lurus ke depan


"Peluru nya sangat dekat dengan jantung. Laku kan dengan hati-hati!" kini Enza dan tim nya melaku kan operasi kecil untuk mengambil peluru yang ada di tubuh Xavier.


Sedikit susah, namun Enza yang merupa kan dokter profesional dan bertanggung jawab berusaha melaku kan tugas nya dengan baik dan benar tentu nya harus berujung dengan kata berhasil.


*****


Jangan memancing beruang yang sudah hibernasi dengan nyaman. Itu sama saja ingin menawar kan diri nya untuk di cabik-cabik habis. Siapa pun itu akan di habisi oleh Safira.


Berani nya orang itu mengincar adik ipar nya yang sedang hamil, bah kan merenggut nyawa kepona kan nya dan satu lagi yang dia benci karena kelakuan musuh adik nya itu yaitu mommy nya yaitu Rosaline


Yah dia adalah Aurora. Queen mafia dari keluarga Browns yang sudah sejak lama memisah kan diri dari keluarga nya.


semalam sebelum menaiki jet pribadi, dia mendapat panggilan Vidio dari Daddy nya. Dan apa yang dia dengar waktu itu, mommy nya menangis tersedu-sedu sambil memberontak dari pelu kan Daddy nya meminta agar diri nya bisa menyusul Shien ke New York namun Titian dari Sang adik memang tidak bisa di langgar jika masih ingin bertemu dengan adik nya yang keras kepala itu.


Anak mana yang tidak sakit hati mendengar mommy nya menangis, bah kan Aurora baru melihat air mata mommy nya hingga seperti itu.


Tangan Aurora semakin mengepal kuat mengingat semua itu. Belum lagi dia yang baru-baru ini menanya kan Safira tentang ponakan nya dan yang dia dengar janin itu baik-baik saja.


Dan apa yang dia dengar beberapa saat lalu menambah amarah nya. Dia harus ke New York untuk menjaga adik ipar nya, dia sedikit banyak nya tau bagaimana keadaan Safira saat ini.


Satu orang lagi yang di terima Aurora. Dia harus menghubungi mommy nya setiap hari tentang keadaan adik ipar nya.

__ADS_1


"Aku berjanji mom, adik ipar. Aku akan membunuh orang itu, aku bersumpah. aku atau Dia yang mati," sumpah Safira dengan sungguh-sungguh.


Ponsel Rora tiba-tiba berdering mengalih kan perhatian wanita itu.


"Halo Kak?"


"Di mana?"


"Hampir sampai."


"Hati-hati kak, banyak yang mengincar keluarga kalian," ucap pria yang ternyata adalah Darius


"Bocah, urus saja sahabat mu itu. Dasar bocah ingusan," kesal Aurora.


Apa-apaan dia sok-sok di lindungi bocah ingusan itu. Citra nya hampir luntur karena ucapan Darius yang seakan melindungi nya. Yah Darius belum tau siapa diri nya. Aurora nampak berdecak kesal.


Sesampai nya di bandar, Aurora langsung bergegas dengan tangan kosong dan meninggal kan semua barang nya di dalam pesawat, anak buah nya tentu saja akan mengurus nya.


"CK, apa-apaan tadi. Anak kecil itu, aku akan memperingati nya," kesal Rora. Baru kali ini dia di anggap remeh oleh seorang pria.


Aurora kini fokus ke ponsel nya dan melihat alamat di mana Safira di rawat.


Hap


Seorang pria tiba-tiba saja memegang lengan Rora.


"Kita bertemu lagi cantik," suara seorang pria membuat Rora mengernyit kan dahi nya.


"Kau..."


"Benar, kita pernah bertemu sebelum nya, seperti nya kita berjodoh," ucap pria itu mengerling kan mata nya.


"Dasar sinting!" ucap Aurora menatap jijik pada prai itu. Dia tidak ada waktu melayani ocehan tak berfaedah pria sinting yang sudah dua kali di temui nya, ralat tidak sengaja bertemu sebanyak dua kali.


Di seberang, seorang pria memperhati kan punggung seorang wanita yang sangat di kenal nya, tapi dia memutar-mutar kepala nya.


"Tidak mungkin Aurora berada di sini," batin pria itu lalu pergi dan meninggal kan bandara.

__ADS_1


Jangan lupa like nya 😊👍👍👍👍👍


Agar author nya semangat up nya 🙂👍👍👍👍👍👍


__ADS_2