Istri Kontrak, Jangan Lepas

Istri Kontrak, Jangan Lepas
Part 44


__ADS_3

Sesampai nya di mansion, Safira langsung masuk bersama dengan Megan dan mengabai kan keberadaan Shine. Pria itu hanya menghela napas dan ikut berjalan ke arah mansion.


Safira meminta ke pada pelayan agar menyiap kan kamar untuk sahabat nya.


"Wow, ini mansion Fira? So wonderful," ucap Megan terkagum-kagum. Meski pun diri nya, dulu nya adalah orang kaya dan memiliki mansion, tapi tidak lah seindah ini.


"Ya begitulah, mungkin " jawab Safira dengan nada rendah.


Megan tidak mendengar lagi jawaban sahabat nya dan lebih fokus pada ke indahan mansion itu.


Sedang kan Shine yang mendengar kan itu lagi-lagi hanya bisa menghela napas. Ternyata Safira masih ada keinginan ingin pergi dari diri nya.


Tapi dia tidak bisa memaksa kan kehendak nya yang akan membuat wanita itu akan lebih bertekad kuat menjauh dari nya.


"Setelah bersih-bersih kau bisa turun dan kita makan malam bersama," ucap Safira.


Pelayan yang ada di sana langsung mengerah kan Megan ke kamar nya yang berada di lantai bawah mansion, bukan berarti kamar pelayan, namun kamar itu di buat untuk tamu yang datang ke mansion.


Safira naik ke atas di temani oleh Shine.


Tidak ada suara di antara ke dua nya adalah keheningan.


Sesampai nya di kamar, Safira segera membuka heels yang di guna kan nya dan meletak kan tas nya untuk sementara di sofa kamar milik mereka. Tanpa menyapa Shine, dia langsung memasuki kamar mandi dan membersih kan badan.


Safira juga enggan menatap ke arah Shine, bukan nya hubungan mereka semakin menghangat setelah pulang dari sana, namun justru merenggang.


Sedang kan Shine sudah memperkira kan bahwa hubungan mereka akan baik, tapi ini lah hasil nya, hubungan mereka menjadi dingin.


Safira ke luar dari kamar mandi sudah berpakaian lengkap dan siap untuk turun ke bawah.


"Apa kau belum memaaf kan ku sama sekali? Apa tidak ada kata maaf untuk ku?" ucap Shine membuka suara terlebih dahulu.


Safira menghenti kan langkah nya. Dia berbalik dan menatap Shine sejenak.


"Aku sudah lapar, boleh kah saya makan terlebih dahulu?" ujar Safira formal.


Shine tidak menjawab dan balik melihat netra milik Safira.


Tring Tring...


Terdengar deringan ponsel dari tad yang berada di meja yang berada di kamar itu. Safira bergegas dan melihat nya sebentar.


Antara ingin menjawab dan tidak, Safira akhir nya menekan tombol hijau yang ada di ponsel nya.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Safira


"Elvio Anggara," ucap pria di seberang sana


Suara itu bisa di dengar oleh Shine. Hati pria itu memanas, dia memilih pergi dari sana dari pada mendengar percakapan yang akan membuat emosi nya meledak dan akan berimbas pada Safira.


Pak


Terdengar pintu yang di banting dengan keras . Safira mengernyit heran melihat sikap shine, dia tidak terlalu memeduli kan nya.


"Ada apa?" tanya Safira ketus. Dia masih sebel dengan ke lakukan Elvio yang memanfaat kan sahabat nya.


"Sayang, jangan terlalu terburu-buru. Aku rindu," ucap Elvio di seberang sana dengan suara di buat sendu.


"Berhenti lah bermain-main Elvio, aku sedang tidak dalam keadaan bercanda," ucap Safira dengan jengkel.


"No, aku tidak bermain-main honey, aku begitu rindu dengan mu," ucap Elvio.


"Baik, aku tutup!" ancam Safira.


"Wait, baiklah, baiklah. Aku hanya mengingat kan mu bahwa Megan harus kembali ke Club'ku besok pagi, dan ingat syarat nya Honey," ucap Elvio tersenyum di sana.


"Hanya itu?" tanya Safira lagi dengan tidak sabaran.


"Jangan lupa membawa bumbu cin..."


Safira jengah mendengar ucapan tak berkelas dari Elvio. Bagaimana bisa ada manusia tidak tau malu seperti Elvio di dunia ini. Bah kan di saat terang-terangan dia menunjuk kan sudah mempunyai suami, dengan berani nya pria itu tidak mendekati nya.


Safira turun terlebih dahulu ke meja makan dan meninggal kan Shine yang sudah berada di meja makan. Dia melihat Megan sudah ada di sana dan sedang memain kan ponsel nya..


"Cih, Elvio Anggara sialan. Megan sedang memegang ponsel nya dan bukan dia yang di hubungi. Dasar pengganggu," batin Safira. Dia melanjut kan langkah kaki nya menuju lantai bawah mansion.


Safira memperhati kan Megan yang seperti tak ada beban. Sedang kan diri nya masih terbayang-bayang dengan mayat dan suara peluru yang memekik di telinga tadi.


"Apa kau benar-benar tidak terpengaruh dengan kejadian tadi Megan?" tanya Safira duduk di hadapan wanita itu.


Megan yang mendengar suara Safira langsung meletak kan ponsel nya.


"Tidak apa-apa Safira. Aku sudah terbiasa, itu seperti bunga pekerjaan," jawab Megan enteng.


"What, biasa? Apa maksud mu sering terjadi penyerangan di sana?" tanya Safira dengan heran.


"Yah, dan saat Tuan Elvio membawa ku keluar dari club' untuk bekerja di luar membantu nya," jawab Megan dengan tenang.

__ADS_1


"Bahkan ada yang lebih mengerti kan dari itu Fira, tapi..tapi aku tidak sanggup mencerita kan nya karena luka lama itu bisa kembali," batin Megan.


"CK, kau hebat Megan. Memang sifat mu tidak berubah. Tetap pemberani," jawab Safira bangga karena memiliki Megan


"Pemberani? Bangga? Itu jauh dari sifat dan kemampuan ku Fira," batin Megan.


Namun berbeda dengan raut wajah Megan saat ini yang tidak menmapil kan air muka yang lain dan hanya tersenyum saja menanggapi ucapan Safira. Dia tidak ingin terlalu jauh membahas ini.


Shine juga terlihat sudah menuruni tangga. Dia melihat ke dua wanita yang ada di meja makan sedang menunggu nya.


Tidak ada suara yang terbuka di antara mereka. Megan pun segan buka suara karena melihat pemilik mansion ini juga seperti nya sedang perang dingin.


"Kenapa tidak makan duluan?" tanya Shin datar.


Dia tidak akan menunjuk kan kelemahan nya di hadapan orang lain.


"Kami menunggu yang punya," ucap Safira datar dan mulai menyiap kan makanan nya sendiri, di ikuti dengan Megan yang berada di samping nya.


Shine di layani oleh pelayan dan bukan istri nya yang tidak peduli dengan Shine saat ini. Pria itu tidak terlalu menunjuk kan ekspresi apa pun.


Setelah selesai makan, Safira dan Megan ngobrol sebentar dan akhir nya memutus kan naik ke kamar masing-masing.


Safira menghela napas, dia akan kembali ke tempat di mana pria yang ingin di hindari nya ada di sana. Saat masuk, dia mendapati Shine sedang fokus pada laptop nya sambil bersandar di tempat tidur.


Safira juga langsung ke tempat tidur. Hari ini rasa nya sangat lelah dengan kejadian yang menimpa nya bersama sahabat nya.


"Besok aku akan ke mansion Elvio," ucap Safira seakan meminta izin. Bukan maksud nya seperti istri biasa nya, suami harus mengetahui ke mana istri pergi, dia hanya tidak ingin shine menghukum pengawal karena diri nya yang tidak di temu kan di mansion.


Mendengar itu hati Shine memanas. Diam-diam dia mengepal kan tangan nya.


"Laku kan sesuka mu!" jawab Shine kembali fokus pada laptop nya, setelah beberapa menit keh nongan melanda mereka, Shine milih untuk menutup leptop dan beranjak dari sana.


Safira ingin bertanya, namu dia tidak boleh terlalu ikut campur dengan urusan orang lain bukan?


"Ada urusan di luar sebentar, aku pergi," ucap Shine tanpa menoleh ke belakang. Safira juga tidak menjawab, dia juga tidak bertanya bukan meski pun dia pengen tau.


Sambil berjalan, Shine mengambil ponsel nya dan menghubungi Xavier.


Sambungan pertama telepon nya langsung di angkat.


"Bawa Julie ke apartemen!" perintah Shine dengan datar dan dingin


Dia butuh pelampiasan saat ini.

__ADS_1


Jangan lupa like nya


Agar author nya semangat dan tau kalau kalian menyukai nya


__ADS_2