
Pagi hari yang cerah menyambut dia orang yang saling mencintai yang masih tidur dalam gelungan selimut. Ke dua tubuh iyt bersentuhan tanpa sehelai benang pun, tapi itu justru salah satu kesenangan bagi pria yang sedang menatap indah malaikat yang di kirim kan untuk nya.
Nghhhh
Wanita itu nampak melenguh ketika Shine menyesap bibir ranum yang masih tidur dalam keheningan.
cup
"Good morning Baby," ucap Shine di sertai senyum pria itu.
"Ishhh, mesum," kesal Safira memeluk erat punggung suami nya meski pun tidak sampai
"Kalau aku mesum boleh aku minta sekali lagi?" Shine mengerling kan mata nya dengan genit
"Is, dasar suami mesum," kesal Safira dan di tanggapi dengan kekehan oleh Shine.
"Apa aku cantik?" tiba-tiba suara Safira terbuka di ikuti dengan kenarsisan nya seperti biasa.
Shine gemas dengan pertanyaan sang istri. Dia mencubit hidung mancung nan mungil Safira.
"Tentu saja, kau wanita tercantik ke dua di dunia ini untuk ku," jawab Shine
"Ke dua? Kau membuat ku di posisi nomor dua? Jadi kah ada wanita lain?" Safira langsung memukul-mukul dada suami nya.
"Tentu saja Baby, Mommy adalah wanita nomor satu untuk ku," jelas Shine.
Safira menunduk malu karna wanita itu sudah berprasangka buruk tadi nya.
"MMM, kau ingat permintaan ku kemarin kan Sayang?" Safira mengalih kan topik pembicaraan untuk mengurangi rasa malu nya
"Permintaan? Yang mana? Apa itu tujuan mu menggoda ku Baby?" Shine menggoda Safira membuat wajah wanita itu memerah.
"Kata kan apa Baby, hmmm?" Shine mengelus puncak kepala istri nya.
"Aku ingin makan completo," ujar Safira dengan wajah berharap nya pada sang suami.
"Completo? Santiago?" Shine mengernyit kan kening nya.
"Iya benar, itu makanan favorit di di Santiago tapi tempat nya jauh dari kita," ucap Safira lesu.
"Aku tidak mungkin meninggal kan mu Baby," Shine bukan nya ingin menolak, tapi bagaimana dengan istri nya.
Ah, baru mendengar itu saja kepala Shine sudah pusing. Kenapa mengidam istri nya meminta makanan yang sangat jauh, dan bahkan makanan itu berada di sudut Amerika. Oh betapa menyebal kan nya.
"Jadi kau tidak mau?" Safira merajuk dan langsung membalik kan tubuh nya membelakangi Shine.
"Bukan nya aku tidak mau Baby, tapi itu terlalu jauh, membawa mu pun ke sana sangat tidak mungkin."
Shine juga bukan orang yang berpikiran sempit. Chili, Santiago bukan lah wilayah mereka, keadaan pun tidak di ketahui di sana, Shine San anggota lain nya pun tidak pernah berurusan dengan wilayah itu.
"Tapi aku mengingin kan nya!"
"Tidak bisa kah yang lain?" Shine berusaha untuk membujuk Shine
"Tidak," jawab Safira cepat dengan suara merajuk nya.
Shine frustasi, bagaimana ini, apa dia tidak bisa memberi kan apa yang di minta istri nya.
"Aku tidak meminta mu untuk pergi ke sana,' suara Safira memecah kan rasa frustasi Shine. Apakah ada solusi?
"Maksud mu Baby?"
"Suruh saja Mateo, tapi harus Mateo. Tidak boleh yang lain,' Safira akhir nya menemu kan kesempatan emas ini.
"Kenapa? Apa tidak bisa Xavier?"
__ADS_1
"Kau tidak ingin mewujud kan nya juga?" Safira berusaha menahan air mata buaya nya yang sudah hampir ke luar.
Lihat, wajah Shine terlihat gelagapan.
"Tentu saja aku akan mewujud kan nya Baby," Shine mengelus kepala Safira yang membelakangi nya.
"Benar kah?" Safira spontan membalik kan badan dan menatap harap wajah Shine
Shine mengangguk, Safira langsung memeluk lengan Shine.
"Thanks Sayang," ucap Safira sangat lembut.
"Yah, i got it," batin Safira riang.
Shine dan Safira akhir nya mandi bersama. Ke dua nya selalu di iringi dengan tawa yang di bumbui dengan kejahilan Shine yang selalu menggoda sang istri.
Hingga menjelang pagi, ke dua insan itu bangun dan Merapi kan tempat tidur bersama. Namun Shine selalu menjahili Safira dengan membuat apa yang di beres kan wanita itu bersera kan kembali tidak pada tempat nya.
"Shine, kenapa bandel banget sih, kembali kan bantal nya. Kau sudah dua kali melempar bantal yang sudah ku susun dengan bagus," kesal Safira menatap tajam sang suami.
"Aku tak peduli Nyonya Shine," Shine tergelak melihat istri nya yang marah-marah.
"Kau, jangan harap bisa lolos kali ini!" Safira berjalan cepat ke arah Shine dan langsung memukuli Shine dengan bantal sekuat tenaga.
"Baby, ouh ini sakit. Stop," Shine menutup wajah nya dengan tangan karena sasaran wanita itu adalah wajah tampan suami nya.
"Mampus, maka nya jangan mengganggu ku," ucap Safira sambil terkekeh melihat sang suami menerima pasrah pukulan nya.
Tap
Cup
Shine sudah jengah menerima pukulan bertubi-tubi istri nya dan mengecup singkat bibir sang istri lalu berlari ke kamar mandi.
Setelah acara kamar selesai, kini Shine dan Safira berada di meja makan. Seperti biasa pria itu akan pergi ke kantor dengan di hadiahi kecupan dari istri nya.
"Hati-hati Sayang, cari uang yang banyak!" Safira melambai kan tangan nya dengan riang dan shine membalas nya dengan senyum tulus nya.
"Seperti nya Nyonya sudah sangat mencintai anda Tuan," Xavier ikut bahagia dengan kebahagiaan sang suami.
"Tentu saja, siapa yang bisa menolak ketampanan ku," seperti nya kenarsisan Safira sudah menular ke Shine.
Xavier menatap malas sang Tuan
Hening beberapa saat, Shine kembali buka suara.
"Tidak ada yang kurang bagi ku saat ini Vier, kebahagiaan ku sudah ku dapat kan. Semoga aku selalu bisa membuat istri ku bahagia," ucap Shine mantap ke arah luar jendela mobil.
"Bisa Tuan, kita hanya harus mencari obat penawar anda dan membasmi hama yang selalu mengejar langkah anda," ucap Xavier menyakin kan Shine.
Shine tersenyum kecut, bah kan klan mafia pembuat racun sudah mereka hubungi, dan mereka sama sekali tidak mendapat kan jawaban. Meraka saja tidak mengetahui jenis racun apa itu, meski pun Darren tidak di ragu kan, tapi pria itu adalah dokter bedah bukan ahli racun.
**
"Bagiamana Mateo, apakah kamu sudah mengetahui tentang negara itu?" Safira kembali membahas tentang rencana mereka.
"Sedikit banyak nya saya sudah tau Nyonya, tapi akses ke sana sangat tidak mudah. Santiago adalah wilayah kecil dan sangat terpencil, jadi saya tidak mendapat kan banyak informasi" jelas Mateo
"Bawa lah pasukan untuk mu!" Safira memberi kan saran
"Kita sedang menyusup Nyonya bukan untuk menunjuk kan diri," kini suara tak sedap Nia terdengar.
"Cih, aku tidak membutuh kan pendapat mu," sinis Safira dan Nia, Wanita itu selalu acuh tak acuh.
"Benar kata Safira Nyonya, kita adalah klan paling di incar oleh para mafia, saya benar-benar harus bergerak sendiri agar lebih mudah melindungi diri," Mateo menjelas kan maksud Nia
__ADS_1
"Benar, dan satu lagi. Jangan lupa tanda klan kalian," Safira mengingat kan Mateo, pria itu mengangguk mengerti
Yah, awan hitam, lambang yang selalu ada di punggung dekat leher tiap Anggota Black Sky. Tidak mudah untuk mendapat kan tanda itu karena seleksi untuk menjadi anggota Black Sky tidak lah mudah.
Saat menerima tanda itu pun tidak lah langsung senang, lambang awan hita di guna kan dengan cetakan besi yang akan di panas kan dengan bara api.
"Saya akan menginstal pesan Nyonya," uajr Mateo.
Setelah membahas semua masalah itu, Safira pergi ke ruang keluarga dan menonton berita yang sudah di ikuti nya sejak lama.
"Nia, apa kau pernah mengikuti berita tentang pangeran dari Inggri yang hilang itu?" Safira membuka percakapan.
"Tidak Nyonya dan itu sama sekali tidak penting untuk saya."
"CK, ini adalah berita terhits, sesekali kau harus mengikuti gosip artis dan berita-berita yang menggempar kan dunia," Safira merasa sedikit hebat Karena mengetahui berita itu
"Saham dan aset saya lebih penting dari itu Nyonya," Nia kemudian melanjut kan memeriksa iPad nya.
"Bagaimana dengan mu Mateo? Apa kau mengikuti nya?"
"Saya mengikuti nya Nyonya, tapi tidak terlalu sering hanya sesekali," jawab Mateo datar.
"Jadi apa benar pangeran itu Kabur dari istana karena di jodoh kan?"
"Mungkin Nyonya, saya dengar pangeran itu sudah memiliki kekasih. Dia tidak suka di kekang," jawab Mateo.
Sebenar nya dia malas membahas ini, tapi sang Nyonya sedang bertanya dengan bersemangat sedang kan si Nia sialan sama sekali tidak menanggapi sang Nyonya. Mateo takut mood Nyonya hancur dan akan membuat kerugian bagi nya. Dia sudah mengetahui sedikit banyak nya tentang ibu hamil karena dia sedang menjaga ibu hamil
Nia menatap Mateo sejenak.
"Kau mengikuti berita seperti itu?"
"Apa salah nya?" Mateo bertanya balik
"Ini bukan bagian dari kebiasaan mu," Nia lagi-lagi tak percaya Mateo mengikuti nya.
Mateo acuh dengan uacapan Nia.
Tring Tring Tring
Ponsel Mateo tiba-tiba berdering menampil kan nama seorang wanita.
Safira yang kepo dengan orang yang menelepon Mateo langsung menatap pria itu. Dia tidak suka dengan berita yang di tonton nya karena breaking news tentang pangeran inggris yang melari kan diri dari kerajaan sudah selesai
"Privasi Nyonya," jawab Mateo tidak ingin memberitahu Safira.
Nia langsung berdecak kesal.
"Pasangan pedang-pedangan nya Nyonya, biasa salam perpisahan," ejek Nia.
Safira spontan berdiri sambil memegang perut nya membuat ke dau pengawla nya juga berdiri dengan was-was.
"Nyonya, apa ada Yang sakit?" Nia langsung membuang sembarangan iPad mahal nya dan untung saja tepat ke sofa di samping Mateo.
"Kita ke ruang sakit ya Nyonya," Mateo sudah siap untuk mengangkat Safira ke dekapan nya namun di henti kan Safira.
"Beri kan ponsel mu! Aku tidak akan membiar kan mu salah arah Mateo," Safira benar-benar serius dan merampas kasar ponsel Mateo.
Nia cengo, dia terduduk lemas dengan penuh kekesalan ke arah Safira.
Mateo dengan pasrah memberi kan ponsel nya, jika hanya karena itu dia tidak masalah,.asal kan bukan sang Nyonya yang sakit.
Jangan lupa like nya 😊👍👍👍👍👍
Agar author nya semangat up nya 🙂👍👍👍👍👍
__ADS_1