
Shine tetap diam meski pun Safira sejak tadi terus emosi. Dia tidak menanggapi satu pun perkataan wanita nya.
"Apa kau mulai tuli hah?" ucap Safira tanpa perasaan namun tangan nya tetap mengompres dahi suami nya.
"Apa kau meminum obat yang ku pesan tadi?" tanya Safira lagi sambil melihat obat yang berada di laci nakas.
"Kenapa tidak semua jenis kau minum. Apa kau lupa pesan ku tadi?" tanya Safira beruntun.
"Kau mengata kan akan bertemu teman, jadi aku melarang Xavier mengabari mu," ucap Shin menjawab pertanyaan awal Safira.
Dalam hati dia tersenyum senang Safira peduli pada nya.
"Apa teman lebih penting dari nyawa mu hah, bodoh!" ucap Safira sarkas.
Shine tidak tersinggung sama sekali meski pun Safira mengatasi nya bodoh. Ini pertama kali ada orang yang mengata kan diri nya yang jenius adalah orang bodoh.
"Ku pikir itu hal yang penting," ucap Shine tenang tanpa emosi.
"Jadi itu lebih penting dari nyawa mu bodoh!" kesal Safira tapi tangan nya tidak berhenti Merapi kan selimut Shine.
Safira bergerak berdiri dan hendak ke luar kamar, tapi Shine menahan tangan Safira.
"Kemana? Jangan pergi" tanya Shine sambil memohon.
"Tunggu sebentar, jangan manja," kesal Safira. Entah mengapa kadang-kadang mood nya meledak ingin marah-marah, ingin menghabisi orang, kadang kesal entah karena apa.
Bangggg
Pintu di tutup sekeras mungkin hingga terdengar ke lantai bawah.
"Menyeram kan," ucap Nia sambil melihat ke atas.
"Pasti Nyonya, dia ingin memakan ku tadi," batin Xavier juga melihat ke arah atas.
Mateo, dia tidak suka ikut campur dan memilih fokus pada tugas Mereka.
Safira yang mulai turun dari tangga melihat tiga orang sedang fokus dengan lata canggih di depan masingmasing. Safira pergi ke arah mereka sebentar ingin melihat apa yang di kerja kan oleh manusia-manusia itu, sekaligus ada yang ingin di laku kan nya pada seseorang.
"Apa yang kalian kerja kan?" tanya Safira
Mateo, Nia dan Xavier yang menyadari kehadiran Safira langsung mengubah tampilan layar mereka masing-masing.
Xavier segera menjawab dengan tenang.
'Ini urusan di Black Sky Tuan," ucap Xavier dengan penuh ketenangan.
"Baik lah. Lanjut kan saja," ucap Safira sambil mengangguk kan kepala nya.
"Oh ya Xavier, apa aku boleh meminta tolong sebentar untuk memanggil kan dokter?"
__ADS_1
"Tentu Nyonya," jawab Xavier.
Beberapa saat kemudian Safira sudah muncul dengan nampan di tangan nya.
"Kenapa tidak pelayan saja Nyonya, biar saya saja," tawar Nia. Dia tidak enak melihat Nyonya sedang membawa nampan makanan seang kan dia duduk di sofa meski pun itu sedang bekerja.
"Tak apa, laku kan saja pekerjaan kalian dengan baik," ucap Safira dengan tenang lalu melanjut kan langkah nya.
"Aku berharap baik untuk hubungan Nyonya dan Tuan," batin Nia dengan tulus.
"Setelah makan harus minum obat," ucap Safira.
"Julie datang aras inisiatif Xavier sendiri, aku tidak memerintah kan nya. Aku terpaksa menerima perlakuan Julie karena tubuh ku sangat lemah," ucap Shine.
Lagi Safira mendengar pernyataan Shine ketika dia tidak beretanya pada pria itu.
Safira hanya mendengar kan saja dan mulai menyuapi Shine dengan telaten. Setelah menyelesai kan makanan itu dengan penuh keheningan, Safira buka suara.
"Tidak masalah jika kau membawa wanita mu ke mansion, tapi ingat, jangan pernah membawa mereka ke tempat ku," ucap Safira dengan tegas.
Shine menghela napas, dia tau Safira akan salah paham pada nya seperti ini. Tapi sekeras apa pun dia mengata kan itu, Safira tetap akan salah paham pada nya.
Safira yang sudah selesai dengan makan Shine, dia memberi kan minuman dan butiran obat pada Shine untuk di minum pria itu. Semua nya selesai, tinggal menunggu dokter untuk memeriksa tubuh Shine.
"Safira..."
Tok Tok Tok
Suara pintu yang di ketuk dari luar membuat topik Safira dan Shine ahrus berhenti. Safira bergegas untuk membuka pintu.
"Hai Kakak ipar, sudah lama tak bertemu," ucap pria berjas putih yang merupakan sahabat lama Shine.
"Silah kan masuk dan tolong periksa suami saya," ucap Safira dengan sopan meski pun mereka terlihat seumuran.
"CK, kenapa dia sakit? Apa dia sudah tua?" tawa Darren.
"Berhentilah mengejek nya Darren atau mungkin kau ingin di kirim ke sudut pelosok dunia ini?" bisik Safira.
Wajah Darren langsung muram.
"Jangan Kakak ipar, masih banyak wanita yang harus mengerang di bawah ku," ucap Darren tanpa filter
"Cih, penjahat kelamin sialan," umpat Safira.
"Halo Sobat, why? Kenapa bisa sakit?" tanya Darren basa-basi
"Cepat lah pergi jika ingin mati saat ini juga," itulah arti tatapan Shine saat ini.
Meski pun pria tampan itu tidak membuka mulut nya, tapi Darren si jas putih sudah bisa mengarti kan maksud tatapan memati kan Shine.
__ADS_1
"Ho oh, sabar-sabar Tuan Damian," ucap Darren langsung bergegas memeriksa tubuh Shine.
Darren memeriksa sejenak. Dia mengernyit kan dahi nya. Untuk memasti kan dugaan Darren dia memeriksa kembali tubuh Shine.
"Ini adalah penyakit yang sulit di kata kan. Aku tidak bisa mengambil kesimpulan. Kita harus memeriksa ke dokter," ucap Darren dengan ragu-ragu.
"Apa aku akan mati?" tanya Shine singkat dengan nada datar tak terlihat raut ketakutan di sana.
Safira mengernyit kan kening nya, meski pun Darren adalah salah satu dokter penggila bawah pusar, bahkan menikmati tubuh dokter muda yang sedang melakasana kan coas di rumah sakit nya, dia adalah salah satu dokter terbaik di rumah sakit Shine.
Safira menatap tajam ke arah Shine.
"Apa kau tak sabar segera bertemu pencipta?" tanya Safira.
Darren yang biasa nya receh tak tertawa sedikit pun menggoda Shine.
"Jelas kan dengan jelas Darren, jangan membuat kode seperti ini," ucap Safira dengan serius.
"Maaf Kakak ipar, memang ini di luar kendali ku. Aku tidak bisa mendiagnosa penyakit ini karena ini tidak bisa tanpa cek darah," jelas Darren.
"Berhenti lah menjadi dokter jika kau masih ragu-ragu sialan," umpat Shine dengan tatapan tajam nya.
"Seorang dokter tentu saja bisa mendiagnosa Tuan Shine, tapi saya tidak Bernai mengata kan nya saat ini," balas Darrwn seirius.
Jika dia mengata kan diagnosa nya salah, hidup nya akan di ambang kematian, tentu saja di tangan Shine. Jadi lebih baik menyimpan nya untuk diri sendiri.
Safira menyimak situasi yang terjadi. Shine selalu mendominasi membuat Darrwn takut dengan diagnosa nya. Dia harus mengambil jalan tengah.
"Baik Darren, terimakasih atas bantuan nya," ucap Safira pad akhir nya.
"Aku akan mengantar Dokter Darren, tunggu lah sebentar di sini," ucap Safira.
"Aku ikut!" ucap Shine tegas.
"Bukan kah kamu sakit?" suara Safira begitu rendah an sangat dingin.
Shine memilih merebah kan diri kembali di ranjang dan membiar kan Safira pergi bersama Darren.
"Kau pikir akan lolos begitu saja Darren?" ucap Safira membuat Darren tertekan.
Daren menghela napas.
"Diagnosa ku, Tuan terkena racun sianida Kakak ipar. Itu sangat memati kan bagi manusia, terlebih jika mengkonsumsi nya. Prediksi Ku, makanan tuan terkena serpihan halus racun itu sehingga tidak fatal pada Tuan," jelas Darren.
"Racun? Apa kau tidak salah?"
Jangan lupa like nya 😊🙏👍👍👍
Agar author nya semakin semangat up nya 🙂🙏👍👍👍👍
__ADS_1