Istri Kontrak, Jangan Lepas

Istri Kontrak, Jangan Lepas
Part 108


__ADS_3

"Ah, info nya sangat sedikit. Nama nya Xavier. Dia tinggal di Chile, punya wanita asia bernama AU....Aur apa coba. Aulia? Austina, Agustina? CK tak mungkin Aurora. Chile ke swiss tidak mungkin itu terlalu jauh," Safira mondar mandir sejak tadi di taman luar mansion.


"Nyonya angin ini sangat tidak cocok untuk kesehatan anda, lebih baik masuk ke dalam. Kita bisa bicara kan di dalam," Nia berusaha mengajak sang Nyonya agar tak berkeliaran di suasana hati dengan angin kencang.


"Apa sih Nia. Kalau kau ingin masuk ke dalam, just go. berisik tau," kesal Safira namun tak berhenti mondar di taman itu.


"Ayolah Nyonya, pikir kan soal kandungan anda. Jangan egois menyebab kan anak itu nanti masuk angin," kesal Nia. Saat ini dia berperan sebagai Kakak dari Safira.


Mendengar ucapan sarkas Nia, Safira berhenti dan menatap tajam Nia.


"Kau, aku..."


"Jangan bertingkah seperti anak kecil Safira," tanpa aba-aba Nia langsung menarik tangan Safira dengan lembut dan mereka akhir nya masuk dengan wajah cemberut nya.


Mateo menggeleng kan kepala melihat dia wanita berbeda status itu. Persis seperti tom and Jerry, kebanyakan tidak akur.


"CK, sekarang jadi kau yang mengatur aku?" Safira tak terima dengan perlakuan Safira.


"Drama," singkat Nia lalu menduduk kan Safira di sofa.


Safira terbengong tak terima mendengar ucapan Nia. "Berani-berani nya cecunguk seperti mu?" marah Safira.


"Ternyata aku lebih tua setahun dari mu Nyonya," Nia menekan kata setahun lebih tua.


"Jadi maksud mu?"


"Ayolah, tadi terus saja mondar mandir tentang si Xavier, Xavier itu. Bagaimana" Nia mengalih kan topik dengan malas. Dia yakin Safira akan berubah haluan, Nia yakin itu seratus persen.


"Ya, biar bagaimanapun pun Chile sangat jauh Nyonya. Kita tidak mungkin bergerak ke sana," Mateo juga menimpali.


"Ah aku juga bingung. Shine tidak akan membiar kan aku pergi ke manapun. Selang kah pun ke luar dari mansion tidak di perboleh kan," Safira memukul kesal bantal yang ada di pangkuan nya.


"Oleh karena itu lebih baik berdiskusi dengan Tuan Nyony," Mateo selalu berusaha membujuk Nyonya nya agar mengambil jalan terbaik dengan jujur pada Tuan mereka.


"Tidak, aku akan memikir kan cara untuk membujuk suami ku. Mateo bersiap-siap lah, aku pasti bisa membujuk Shine dan kau yang akan pergi," Senyum miring tercetak di bibir indah Safira.


"Licik," cibir Nia


"Tentu saja. Otak ku tidak berputar-putar hanya untuk melihat wajah tampan pria dan keperkasaan nya," sindir Safira.


Nia berdecak kesal.


"Kau saja yang tidak merasa kan nya" Nia tak mau kalah.

__ADS_1


"Stop Nia, jangan mengajar kan hal aneh pada Nyonya," Mateo menjeda pembicaraan vulgar yang di mulai oleh Nia.


"Nyonya, apa dalam waktu dekat ini bisa di -9?pasti kan saya akan pergi?" Mateo meminta penjelasan pada maji kan nya.


"Yah benar, paling lama tiga hari. Aku yakin, suami ku sangat mencintai ku, pastian akan menuruti mau ku," sombong Safira.


Nia berdecak kesal mendengar kesombongan Safira yang mulai menular dari tuan nya.


"Kenapa?" tanya Safira tiba-tiba.


"CK, tentu saja berpamitan dengan pria yang suka bermain pedang-pedangan."


"Benar kah?"


"Tentu saja!" Nia mengompori Safira


"Mateo,.kau di larang ke luar dari mansion jika tidak bersama ku. Mengerti!"


"Tapi Nyonya..."


"Tidak ada tapi-tapi an. Ini perintah!"


Safira berlalu meninggal kan Mateo tanpa embel-embel untuk di bujuk. Mateo menatap tajam Nia, kenapa wanita Ini selalu saja menyudut kan nya di depan sang Nyonya.


"Dasar wanita jadi-jadian,' ujar Mateo mengusap rambut nya kasar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Hai Sayang," suara manis Safira menyambut kedatangan sang suami yang ingin memasuki mansion.


Deg


Jantung Shine berdetak tak karuan kala Safira memanggil nya dengan kata sayang untuk pertama kali.


"Sayang , kau...Coba ulangi lagi. Sayang???


"Yah Sayang, apa kau lelah hari ini?" Safira mengecup singkat bibir sang suami dengan sensual.


Ah, Safira lagi-lagi jatuh dalam pesona sang suami. Dada kekar nya yang terekspos Karena dua kancing bagian atas nya di buka saat berjalan masuk ke mansion. Ke dua lengan kameja yang di lipat sebatas siku menbua pria itu semakin tampan dan mempesona.


Mateo dan Nia segera menyingkir dari sana sebelum melihat tingkah di luar batas sang Nyonya. Mereka mengerti mengapa kata Safira yang mengata kan bahwa suami nya sangat mencintai nya


Shine yang sudah menanti kan ini saat kepulangan nya menyambut baik sambutan sang istri.

__ADS_1


"Sayang, apa ini kode untuk ku?" Shine mengangkat Safira ala koala namun sedikit susah karena perut Safira yang sudah mulai membesar.


Safira langsung menciumi batang leher Shine yang terekspos Karena dua kancing Shine yang sudah terbuka dengan sempurna.


"Nghhh, Baby, aku akan membalas mu," ucap Shien tersen menyeringai. Shine membawa Safira dalam gendongan nya ke kamar utama.


Tatapan tajam Safira ke arah Mateo begitu menusuk. Untung saja Safira di gendong ala koala jadi dia bisa memperingati Mateo, tapi berbanding terbalik bagi Mateo yang merasa pias.


Tak membiar kan jeda shine langsung menghabisi Safira dengan beberapa temba kan di rahim wanita itu.


"Sayang...ah Shine...ah..."


"Ya Baby, apa yang ouhhh ini sangat nikmat ahhh akan kau kata kan?"


"Aku ada permintaan ahhh, aku ahhhh mengidam sesuatu ahhh,"


Tubuh Safira bergerak maju mundur ketika pinggul Shine bergerak maju mundur di bawah tubuh Safira dengan ritme yang begitu di sukai oleh Shine


"Apa pun itu Baby, akan ku wujud kan selagi aku bisa ahhh"


"Aku ingin ahhhh Shine aku ahhh Sayang," Safira hampir mencapai pelepasan nya.


"Bersama Baby," Shine melaju kan dengan cepat pinggang nya hingga dia manhan milik nya serapat mungkin dengan Safira agar milik nya tidak tumpah.


Tapi sayang nya, cairan Shine begitu banyak dan cairan itu berembes dari penyatuan mereka.


"Shine huh huh aku ingin huh"


Cup


"Tidur lah Baby, besok aku akan mendwngar kan mu,," Shine mengecup pelan kening Safira seraya berterimakasih.


Dalam sekejap tubuh buncit Safira sudah tak bergeming, nafas teratur sudah Shine dengar dari deru nafas Safira.


"Apa yang kau ingin kan princess Hem?" Safira mengusap pelan perut buncit Safira. Hanya saat tidur pria itu akan berani mengusap perut buncit itu.


"Daddy akan mewujud kan nya selagi Daddy bisa, maka terus lah meminta. Daddy it's okay kok," Shien tersenyum tipis ketika melihat Safira yang menggeliat tak nyaman karena usapan nya.


Shine menatap sejenak perut buncit Safira.


"Entah kenapa Daddy merasa sangat jauh dengan mu Princess," batin Shine.


Jangan lupa like nya 😊👍👍👍👍👍

__ADS_1


Agar author nya semangat up nya 🙂👍😊👍


__ADS_2