
"Apa maksud anda nyonya?" tanya Xavier. Harapan nya jauh dari ekspektasi. Apa ada yang salah dari perkataan nya sehingga Safira mengambil keputusan itu? Bukan kah dia memberi masukan sebelum nya?
"Aku yakin kau tidak tuli Xavier
Urus surat perceraian itu," ulangi Safira lagi dengan dingin nya.
"Saya tidak berani Nyonya. Silah kan anda bicara kan dengan baik-baik ke pada Tuan Shine," ucap Xavier menunduk dan keluar dari ruangan putih khas Obat itu.
"Dasar tidak bisa di andal kan!" ucap Safira dengan kesal. Hal itu masih bisa di dengar oleh Xavier di luaran sana.
Safira memilih kembali berbaring di ranjang. Dia menatap nanar ke arah depan ruangan pintu itu.
"Aku bisa, kau pasti bisa Safira!" batin wanita ucap wanita itu pada diri nya sendiri.
Berbeda dengan Shine dia sedang mencari alasan di balik penculi kan sang istri. Lagi-lagi dengan kelompok yang sama yang mengejar Safira.
Shine belum menemu kan siapa sebenar nya pemimpin di balik orang-orang yang belakangan ini menyerang Safira. Apakah itu musuh dari Dad nya atau diri nya.
Beberapa menit kemudian Xavier keluar dari ruangan Safira dan langsung menuju satu ruangan VVIP yang sudah di kosong kan oleh Shine sebagia tempat diri nya beristirahat menunggu sang istri.
Perhatian nya teralih ketika mendengar pintu di ketuk dari luar. Ternyata Xavier yang berada di balik pintu dan Shine mempersilah kan nya.
"Apa yang di bicara kan istri ku?" tanya Shine tanpa basa-basi.
Xavier terdiam sejenak. Dia antara yakin dan tidak yakin untuk mengata kan isi pembicaraan diri nya dengan Safira tadi.
Shine yakin info itu penting. Safira sangat jarang berbicara dengan Xavier dengan serius. Mereka memang sering berbicara, tapi Safira hanya selalu bercanda atau mengejek Shine saja.
"Apa kita sebaik nya membahas klan itu Tuan? Seperti nya Meraka sudah berada di luar batas," alih Xavier. Dia tidak tega melihat tuan nya akan semakin terpuruk nanti nya.
"Jangan alih kan pembicaraan Xavier," ucap Shine dengan rahang mengetat.
"Baik Tuan," pasrah Xavier pada akhir nya. Dia menghela napas berat.
"Nyonya meminta saya untuk menyiap kan surat cerai antara tuan dan Nyonya," jelas Xavier.
Xavier bisa melihat urat di leher tuan nya menegang pertanda tuan nya itu sedang menahan sesuatu.
"Tapi saya tentu saja menolak Tuan. Saya meminta Nyonya berbicara baik-baik dengan Tuan," ucap Xavier dengan nada rendah tidak ingin membangkit kan emosi tuan nya.
Bug
Shine dengan keras memukul meja di depan nya.
"Apa dia benar-benar ingin bersama Elvio baj"Ingan itu," tebak Shien dengan emosi yang membara.
**
Di sebuah mansion tepat nya di mansion Anggara, terlihat Elvio sedang menimang-nimang permintaan wanita di depan nya.
Satu-satu nya wanita tawanan nya yang berani izin keluar. Dia adalah wanita paling berani yang berada di mansion milik nya.
"Apa kau yakin meminta izin pada ku? Apa kau tidak sadar dengan posisi mu saat ini?" pria itu nampak menyesap wine milik nya yang berada di gelas kaca mahal milik nya.
Wanita itu spontan berlutut di tempat nya.
__ADS_1
"Saya mohon Tuan, saya tau saya lancang. Saya akan menerima hukuman apa pun itu, tapi tolong izin kan saya," jawab wanita itu dengan wajah menunduk.
"Hukuman? Seperti nya terdengar menarik," ucap pria yang duduk di sofa. Pria itu tak lain adalah Elvio, pria pemelihara wanita dan pengoleksi setia wanita cantik dan bohay.
"Sayang, wanita ini sudah terlalu berani bukan? Apa karena dia kau manja kan dan bebas berkeliaran di mansion mu dia seperti nya semakin berani," ucap seorang wanita dengan pakaian yang hampir telanjang itu.
Dia saat ini sedang berada di pangkuan Elvio. Wanita itu sedang melaku kan tugas wajib nya sesuai jadwal untuk memuas kan Tuan nya.
Nama nya Angelin, nama yang indah namun sangat di sayang kan sikap nya berbanding terbalik dengan nama indah nya. wanita itu sedang menggoyang kan pinggul nya dengan menggoda di pangkuan Elvio.
"Nghhh, kau sangat ahli bit ch" ucap Elvio di tengah rasa panas yang mulai menjalari darah nya.
Wanita yang berlutut di bawah merasa diri nya sangat jijik dan mual melihat adegan panas di depan nya.
Dia memang salah mengganggu waktu kenikmatan milik sang tuan. Tapi diri nya sudah mengumpul kan keberanian yang begitu besar sebelum nya. Dia tidak bisa melaku kan apa lagi saat ini.
Dia adalah Megan, sejak kemarin dia sudah ingin meminta izin untuk keluar Mension. Bukan nya untuk bersenang-senang, tapi dia mendapat kan kabar bahwa sangat sahabat sedang berada di ruang sakit karena ulah klan mafia.
Karana dia waktu sempit dan tidak tepat ini keberanian nya terkumpul, dia bisa apa
Bahkan diri nya harus datang ke rumah bagian selatan tempat para wanita koleksi milik sang tuan.
Yah ada satu bangunan khusus yang berada di bagian selatan mansion sebagai tempat wanita pemuas milik Elvio.
Megan juga sering di jadi kan sebagai bahan olok-olokan penghuni mansion selatan, tapi itu semua di abai kan oleh Megan, karena apa? Karana tipe Megan bukan lah wanita-wanita pemuas yang kurang belaian itu.
"Megan, kau lihat? Ahhh...kau sedang mengganggu waktu pribadi ku," ucap Elvio sambil menggoyang kan pinggul nya ke dalam gua kehangatan milik Angelin.
Wanita itu mendesah tak karuan karena posisi nya yang menungging saat itu membuat Elvio Sangat dalam dan kasar menunggangi nya.
"Maaf Tuan..."
"Ah...ahh... sebentar lagi aku sampai bi"tch," ucap Elvio mempercepat gerakan pinggul nya dengan begitu kasar.
"Pergi!" ucap Elvio setelah mendapat pelepasan nya
Angelin yang belum bisa menyeimbang kan tubuh nya memaksa kan diri untuk berdiri dan meninggal kan ruangan itu. Megan bisa melihat kaki Angelin masih bergetar sambil memaksa kan diri untuk melangkah.
Elvio segera mengguna kan cela nya nya yang di turun kan tadi sebelum berc inta dengan *** *** nya tadi.
"Kata kan ke mana tujuan mu?" tanya Elvio. Pria itu sudah kembali ke mode serius saat ini.
Megan menelan napas nya kasar. Sebelum nya dia tidak ingin mengata kan kemana dia pergi karena Megan tau tuan nya suka dengan sahabat nya itu sedang kan Safira terlihat risih. Dia tidak ingin menambah beban untuk sang sahabat Yang saat ini tidak baik-baik saja. Tapi dia tidak ada pilihan lain saat ini.
"Saya ingin menjenguk sahabat saya ke rumah sakit Tuan," jawab Megan.
"Sahabat? Safira?" tanya Elvio. Terlihat raut wajah itu berubah.
"Benar Tuan, saya dengan Safira di culik dan akhir nya di bawa ke ruang sakit setelah keluar dari sana," jelas Megan.
Setelah mening-nimang bebrapa menit akhir nya Elvio setuju.
"Ingat apa yang aku ucap kan sebelum nya, kau akan menerima hukuman dari ku apa pun itu bukan?" tanya Elvio
Megan tidak peduli saat ini hukuman apa pun itu. "Baik Tuan. Apa saya boleh pergi saat ini?" tanya Megan antusias.
__ADS_1
"Kita berangkat bersama!" ucap Elvio keluar dari ruangan itu untuk bersiap ikut ke rumah sakit.
"Aish, jika dia ingin ikut dia bisa menyusul bukan? Malas duduk bersama pria mesum dan penggila bawah pusar. Jika saja tidak tampan, Cih. Tapi tetap saja aku akan berada di abwah kendali nya, menyebal kan," batin Megan
Berbeda dengan suasana di suatu ruangan rumah sakit yang khas warna putih dengan baik pekat akan obat-obatan.
Pintu di buka dengan begitu kasar membuat wanita yang sedang tidur langsung terbangun heran dengan pria yang masuk ke dalam ruangan nya.
Ingin Safira bertanya namun melihat mata tajam shine dia memilih untuk menutup mulut nya
Sial, Shine merutuki diri nya yang tidak bisa mengendali kan diri nya di depan sang istri.
Tapi sudah telanjur dan memang ini lah Shine sifat nya di depan sang istri.
"Apa maksud mu dengan cerai?" tanya Shine berusaha menahan emosi nya.
"Jangan egois Shine," ucap Safira.
"Egois? Siapa yang egois Safira, bahkan ketika kamu melaku kan nya dengan Elvio baj Ingan itu? Kau mengata kan ku egois karena mempertahan mu di sisi ku?"
Safira tersenyum sinis.
"Hanya karna aku bermain dengan satu orang pria saja kau sudah mengata akan aku egois? Bagaimana dengan mu tuan Shine? Kau membawa wanita ke mansion, menghabis kan waktu bersama wanita lain di atas ranjang, dan itu berlangsung selama tiga tahun. Apa nama nya itu, suami idaman? Suami baik? Suami bertanggung jawab? Bisa kau jelas kan pada ku," ucap Safira dengan nafas memburu.
Shine terdiam, dia tidak bisa mengata kan apa pun lagi.
"Berpikir lah sebelum mengata kan kesalahan orang," ucap Safira.
"Maaf," ucap Shine pada akhir nya.
"Jangan egois. Lepas kan aku," ucap Safira setelah dia berhasil mengatur napas nya
Shine menatap tajam Safira.
"Dalam mimpi mu. Kau akan tetap bersama ku meski pun aku harus merawat anak orang lain," ucap Shine. Di akhir kata nya dia benar-benar menguat kan hari nya untuk mengata kan itu.
Safira menatap tajam Shine. Apa shine benar-benar mengira bahwa ini adalah anak orang lain. Apakah pria itu tidak mengingat bahwa mereka juga pernah menghabis kan waktu bersama?
"Iya atau tidak, keputusan ku sudah bulat Shine. Tidak ada yang bisa mengganggu keputusan ku," ucap Safira dengan tegas.
"Apa kau ingin bersama Elvio?" tanya Shine menahan emosi nya
"Bukan urusan mu," ucap Safira abai.
"Tentu saja urusan ku, siapa pun yang merebut mu dari ku, aku akan menghabisi nya dengan tangan ku sendiri," ucap Shine pergi dari sana.
Dia tidak bisa lagi menahan emosi nya. Dia memilih pergi dari sana dari pada dia terus membuat sang istri marah dan berakibat pada kandungan dan kesehatan istri nya. Dia tidak ingin sang istri terluka karena kebodohan nya.
"Shine, kau jangan gila," teriak Safira.
Apa akan ada lagi korban Karana diri nya?
Jangan lupa like nya yah gays
Agar author nya semakin semangat up nya 🙂🙏👍👍👍
__ADS_1