Istri Kontrak, Jangan Lepas

Istri Kontrak, Jangan Lepas
Part 72


__ADS_3

Darren saat ini sudah berada di ruang tamu. Para pelayan Sudah lagi tidak berkeliaran membuat Darren mendengus karena tidak mendapat kan minuman sama sekali.


"Vier, apa setelah mengguna kan jasa ku tidak ada bayaran?"


"Tuan mengirim mu bahkan lebih besar dari gaji mu lebih besar dari isi kepala mu," ucap Xavier.


"Breng sek, bukan itu maksud ku. Apa rumah sebesar ini tidak ada pelayan? Aku haus sialan setelah bekerja dengan kalian," ucap Darren kesal.


"Semua pelayan mungkin sudah tidur. Buat sendiri, tubuh mu masih utuh bukan?" ejek Vier.


"Sialan kau," ucap Darren.


Hening sejenak, tiba-tiba di ruangan hening itu mereka mendengar suara sepatu melewati mereka.


"Nia," panggil Xavier


"Tolong buat kan minuman untuk kami," pinta Xavier.


Avicennia mengangguk dan segera bergegas ke arah dapur.


Darren langsung menatap datar ke arah Avicennia yang seksi dan bohay.


"Who is she? Jangan bilang dia pacar mu? atau selingkuhan Shine?" tebak Darren


Plak


Xavier memukul kepala Darren yang pikiran nya tidak masuk akal.


"What the hell," umpat Darren sambil mengusap kepala nya dan menatap tajam ke arah Xavier. Yang di tatap tidak peduli sama sekali.


"Bodoh, dia adalah pelayan Nyonya, dia dari Black Sky," ucap Xavier jengah melihat tatapan lapar Darren tadi saat melihat Avicennia.


"Aku menginap malam ini!" putus pria itu tersenyum menyeringai.


"Terserah," ucap Xavier.


Dia juga harus menginap mengingat ada permasalahan besar di mansion ini. Apa lagi saat menerima perintah tuan nya tadi.


"Ini Tuan-tuan. Silah kan di nikmati," ucap Avicennia meletak kan botol wine di sana dan menuang kan nya.


"Bergabung lah," pinta Darren.


"Saya tidak di perboleh kan Tuan minum selama menjaga Nona Tuan," jawab Avicennia lalu bergegas dari sana.


Hari ini dia sudah lelah, tidak ada waktu untuk itu. Avicennia bisa melihat rasa ketertari kan Darren pada nya, lumayan bagi Nia tapi dia benar Lelah saat ini.


Dia langsung menuju kamar nya dan merebah kan diri. dia kemudian merebah kan diri karena dia harus bersiap untuk hari esok menyambut hukuman nya.


Darrne dan Xavier berbincang-bincang tentang pekerjaan dan hal lain nya, tidak terasa mereka sudah talking selama satu jam dan akhir nya memilih beristirahat.


"Kamar mu di sana. Aku akan Istirahat, besok hari melelah kan untuk ku," ucap Xavier sambil berjalan ke arah kamar nya. Namun tangan nya masih setia menunjuk ke arah kamar Darren.


Dia tidak mabuk sama sekali hanya lelah saja, Darren juga harus berjaga siapa tau ada kendala dengan Safira.


Setelah Melihat Xavier menghilang, Daren bangkit dari tidur nya dan menuju ke kamar berlawanan dengan kamar nya. Yah ke kamar siapa lagi jika bukan kamar yang sudah di perhati kan nya sejak tadi.


Darren memang sangat beruntung kamar itu tidak di kunci. Pemandangan yang di lihat nya saat membuka pintu adalah pemandangan yang indah yang langsung memancing hasrat nya


Darren tersenyum senang. Dia tau membeda kan wanita polos dan wanita lihai, terbukti dengan tebakan nya bahwa Nia bukan lah wanita polos.


Daren naik ke ata ranjang secara perlahan dan menaiki tubuh Safira yang berpakaian seksi dan rok mini yang telentang di ranjang seperti posisi sudah siap di lahap.


Darren langsung mencium bibir ranum milik Avicennia.

__ADS_1


Jangan di ragu kan ketangkasan wanita itu. Dia langsung bangun dan membentur kan kepala Darren dengan kepala nya.


"Baj ingan siapa kau?" tanya Nia dengan marah.


Darren tersenyum miring dan memijat kepala nya yang masih terasa sakit.


"Dokter keluarga Damian," jawab Darren yang tidak sesuai dengan harapan Nia


"Kenapa kau masuk ke kam...,"


Darren langsung menerjang bibir Avicennia.


Wanita itu awal nya ingin menolak, tapi hasrat nya juga sudah di pancing.


Dia dengan lihai mengimbangi Darren.


Setalah selesai dengan bibir Nia, ciuman Darren turun hingga ke leher wanita itu, dengan cepat tangan berotot nya merobek kain mini yang menempel pada tubuh Nia.


"Nghhh, lanjut kan Tuan..," erang Nia mulai menikmati permainan Darren.


Tangan pria itu langsung bermain di bukit kembar yang menandai sana.


"Uhhh," Nia langsung mengeluar kan suara nya ketika tangan Darren bermain dengan cepat di bawah sana.


"Kau sudah Basah Sayang," ucap Darren.


"Faster, dua ...," ucap Nia.


Darren menyetujui ucapan Nia dan memasuk kan dua jari nya dan bermain cepat.


"Ah.ah...ah, aku sampai," ucap Nia dengan mend esah hebat.


"Aku akan masuk," ucap Darren yang sudah tidak tahan dan langsung melepas kan seluruh pakaian nya.


Nia dan Darren akhir nya menghabis kan malam dengan penuh gairah dan kenikmatan


Maniak penikmat bawah pusar bertemu satu sama lain mengalah kan kenikmatan siapa pun itu.


**


Pagi hari nya, Catakan hitam di mata Shine tercetak jelas. Pikiran nya tidak bisa tenang memikir kan perpisahan nya dengan Safira.


Di seluruh hati dan pikiran nya, menolak untuk mengatakan kata pisah dari mulut nya untuk Safira, tapi jika Shine mempertahan kan Safira di sisi nya, itu arti nya secara perlahan Shine menyakiti Safira secara langsung mau pun tidak.


Bukti nya selama dia bersama Safira, dia terus membuat wanita itu sedih, apa yang harus di laku kan nya. Dia lebih baik merela kan orang yang dia cintai bahagia bersama dengan pria lain dari pada menyakiti nya.


Safira juga ikut terbangun karena merasa sinar terang menimpa mata nya.


"Kau sudah bangun?" tanya Shine melihat lekat ke arah Safira.


"Sudah," jawab Safira singkat.juga menatap ke arah Shine.


Shine melihat mata panda milik Safira.


"Apa tidak tidur semalam?" tanya Shine. Safira merasa kan ada jarak di nada suara itu.


"Tidak," Jawab Safira.


"Kenapa? Apa perut mu sakit?" tanya Shine khwatir.


"Tidak, jawab Safira.


Wanita itu tiba-tiba berlari ke arah kamar mandi karena mengalami gejolak di perut nya.

__ADS_1


Shine mengikuti langkah Safira, ternyata wanita itu muntah mengeluar kan isi perut nya yang masih kosong.


"Apa perlu ku panggil Darren?" tanya Shine. Wanita itu menggeleng dengan lemah setelah memuntah kan isi perut nya.


"Ini hanya gejala umum pada ini hamil," ucap Safira.


Shine juga sudah belajar hal ini, namun melihat istri nya yang di mengalami itu, dia merasa ngeri.


Tangan Shine masih setia mengurut leher Safira. Posisi Shine juga Sangat dekat membuat wanita dapat menghirup aroma tubuh Shine. Sungguh menenang kan namun Safira enggan untuk meminta Shine mendekat.


Tiba-tiba tubuh Safira melayang di udara.


"Apa yang kau laku kan?" tanya Safira.


"Jangan membantah, aku tau kau masih lemah," ucap Shine.


Safira yang semakin merasa kan aroma Shine dengan rakus menghirup aroma pria itu dengan rakus hingga rasa mual nya semakin lama semakin menghilang.


"Tunggu di sini!" ucap Shine membaring kan Safira dan menyelimuti wanita itu dengan penuh perhatian.


Safira mengernyit kan kening nya.


"Mau ke mana?'


"Mengambil makanan."


"Tidak perlu, aku ikut turun ke bawah ," ucap Safira melewati Shine.


Shine menghela napas saja dan mengikuti langkah Safira.


Makanan sudah tersaji di meja dengan rapi di meja, berbagai makanan sehat ala ibu hamil sudah tersaji di sana, tidak hanya itu makanan steak dan makanan lain nya juga banyak.


"Sedih kan susu Ini saat kami sudah selesai makan," ucap Shine memberi kan gelas yang sudah berisi susu bubuk di dalam nya.


"Baik Tuan," jawab Avicennia yang bertugas untuk itu.


"Apa yang kau laku kan di mansion ku?" tanya Shine tak suka Melihat Darren berada di sana dan dengan tak tau diri nya sudah ikut bergabung di meja makan.


"Aku berjaga malam siapa tau ada kendala dengan kakak ipar," jawab Darren singkat.


Shine hanya menatap data Darren dan tidak menanggapi ucapan pria itu.


Shine berdiri dan menyedia kan makanan untuk Safira.


"Jika tidak suka, aku akan mengganti nya. Apa butuh sayuran? Atau buah sebagai tambahan nya?" tanya Shine beruntun.


Tang


Darren meletak kan alat makan nya dan berdiri meninggal kan meja makan.


"Aku tidak berselera makan di tempat membosan kan ini," ujar Darren pergi dari sana dan menuju dapur. Lebih baik dia minum sesuatu yang segar saja, dari pada ikut makan bersama dengan saudara tak se status nya itu.


"Sudah cukup," ucap Safira mulai memakan makanan nya. Dia tidak menolak makanan yang di beri kan Shine.


Namun tiba-tiba Safira merasa kan mual menyesak.


Dia langsung berlari ke arah dapur dan menunju wastafel dan langsung di susul oleh Shine.


Hampir sampai di wastafel Safira membelalak kan mata nya. Namun kemudian memuntah kan isi perut nya. Tapi tidak semendesak tadi. Masih merasa belum baikan, namun Safira langsung membalik kan badan nya dan menatap tak percaya pada dua sejoli di depan nya.


Jangan tanya kan tatapan tajam menghunus dan memati kan Shine membuat dua orang di sana ingin mati saja.


Jangan lupa like nya 😊👍👍👍

__ADS_1


Agar author nya semangat up nya 🙏👍👍


__ADS_2