Istri Kontrak, Jangan Lepas

Istri Kontrak, Jangan Lepas
Part 35


__ADS_3

Shine sendiri kini sudah turun tangan. Dia tidak akan membuat kan istri nya berlama-lama di luar sana entah bersama siapa.


Sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel milik Shine.


"Maaf Kaka harus pergi, ada urusan yang harus ku selesai kan," isi pesan itu.


Di tengah suasana ini, Shine merasa tenang sedikit. Setidak nya beban berkurang.


Jika Kaka nya Aurora ada di sini, pasti diri nya sudah di salah kan di sini. Dan yang paling mengesal kan nanti nya ada, wanita yang sudah matang secara umur itu akan mengadu kan kehilangan Safira pada pria tua penguasa Mereka.


Tapi entah lah, Shine juga tidak bis menjamin kalau berita ini sudah atau belum sampai ke telinga kedua orang tua nya.


Dia dengan serius mulai memain kan jari lentik nya di atas keyboard yang canggih. Wajah itu nampak serius hingga menambah kan kesan ketampanan tiada dua milik nya.


**


"Selamat datang di tempat ku Sayang," ucap Elvio dengan penuh rasa bangga. Seakan dia mengata kan bahwa tempat besar ini adalah satu dari sekian aset ku.


Safira tersenyum tipis.


"CK, dasar gila," ucap Safira sambil melangkah lebih dekat ke arah Elvio.


"Lepas kan Megan atau...!" Safira mengangkat kalung itu ke atas bermaksud memecah kan nya.


Elvio tetap tenang, senyum manis tidak berhenti di sana saja.


"Dia tidak akan mau pulang Sayang," jawab Elvio.


"Iya jika kau mengancam nya," jawab Safira dengan sengit.


Kenapa tadi Safira tidak langsung memanggil Megan? Yah, karena dia takut sahabat nya itu tidak menerima nya karena telah hilang kabar selama beberapa waktu. Dia tidak sanggup menerima penolakan Megan.


Safira merasa heran sekaligus sedih, apa yang membuat Megan sahabat nya yang kaya dan bar-bar sampai di tempat ini.


Bukan bar-bar lagi, Megan saat ini lebih ke arah wanita pendiam dan penurut. Tidak ada sikap keras kepala dan melawan yang biasa wanita itu tunjuk kan.


"Hahahaha, kau tidak sepenuh nya salah Sayang," jawab Elvio terkekeh. Dia kemudian berdiri dan berjalan ke arah Safira mendekat hingga tidak ada jarak di antara ke dua nya.


Bahkan kedua nya bisa merasa kan nafas masing-masing.


"Sial, berdekatan saja dengan wanita ini membuat darah ku mendidih," batin Elvio.


Dia melihat tubuh seksi yang menantang itu, belum lagi mata sepekat langit malam yang segarang singa yang ingin memangsa diri nya hidup-hidup.

__ADS_1


"Panggil Megan ke sini!" perintah Elvio dengan suara yang berbeda. Datar dan dingin, berbeda dengan suara yang di keluar kan pria itu untuk Safira.


"Kau bebas mengajak Megan pergi, tapi jika tidak mau itu bukan salah ku. Sebalik nya berikan kalung ku Sayang, jangan bermain-main dengan milik lelehur ku," ucap Elvio.


Dia mengambil kalung itu dari tangan Safira dengan lembut dan tanpa perlawanan dari Safira.


"Kata kan apa mau mu dari Megan, aku akan berusaha untuk memberi kan nya pada mu," ucap Safira.


Dia tidak akan membiar kan Megan di sini. Tempat ini memang tempat ke sukaan Megan dulu, tapi sekarang wanita itu nampak sangat risih di sini tadi.


"Tidak ada, dia adalah pelayan ku. Hanya satu yang dapat mengganti kan posisi Megan," ucap Elvio mencoba menggantung ucapan nya.


"Jangan main-main, kata kan saja apa mau mu Tuan," ucap Safira l nih sopan.


"No Tuan, panggil aku Elvio," ucap Elvio sambil memajukan tubuh nya ke leher Safira dan mengendus tubuh wanita itu.


Elvio semakin mengeras di bawah sana. Aroma tubuh Safira yang khas yaitu aroma vanila ya g Sangat manis memanjakan hidung nya.


"Diri mu, aku menginginkan mu mengganti kan posisi Megan," ucap Elvio setelah dia selesai menikmati aroma Safira.


Dia bisa melihat be mata wanita itu yang terkejut dan membulat.


"Sangat cantik," gumam Elvio yang bisa di dengar oleh Safira.


"Ku pikir diri ku masih baik, meski pun diri mu tidak sempurna Megan yang masih per awan tapi aku masih menerima mu dengan lapang dada," ucap Elvio di buat seolah-olah dia sedih.


"Itu bukan urusan ku Sayang."


"Maaf Tuan, Nona Megan sebentar lagi akan sampai," ucap salah satu pelayan yang ada di sana. Terlihat Megan menuruni tangga dengan wajah menunduk.


Dia langsung menuju Elvio dan tidak mau menatap sekitar nya. Dia masih merasa malu saat ini.


"Megan,' panggil Safira.


Seketika tubuh Megan menegang suara yang menyapa nya. Apakah telinga nya tidak salah, atau dia mungkin berhalusinasi.


"Tidak...tidak mungkin ada Safira di sini," batin Megan masih menunduk kan kepala nya.


Sebuah kaki mulus nan cantik di balut dengan heells merah sedang berada di bawah pandangan Megan.


"Megan, apa kau mendengar ku?"


"Suara halus itu," ucap Megan langsung mendongak.

__ADS_1


Dan benar saja, di hadapan nya memang benar ada Safira saat ini.


Dia langsung berhambur ke pelukan Safira dan memeluk wanita itu dengan erat.


Safira membalas pelukan erat Megan tak kalah erat nya. Dia pikir Megan akan menolak nya.


Setelah acara melepas rindu selesai, Safira melepas kan pelukan nya.


"Ayo kita pergi dari sini, apa yang kau laku kan di sini. Ini bukan tempat mu," ucap Safira.


Megan menghela napas.


"Tidak bisa Fira, aku akan tetap di sini dan akan selalu di sini," ucap Megan.


"Tidak, tidak, kita harus pergi dari sini, ayo!" ucap Safira menarik tangan Megan


Safira merasa kan perlawanan, yah Megan tidak mau bergerak dari tempat nya dan malah diam di tempat.


"Kenapa Megan hah?" tanya Safira mulai tak sabar. Dia melepas kan tangan nya dari Megan.


Dia menatap Elvio dan beralih ke pria itu.


"Tolong bujuk dia untuk pulang Elvio, aku mohon," ucap Safira.


Elvio yang di panggil nama nya dengan lembut merasa hati nya berbunga-bunga.


Mengapa diri nya sangat mudah jatuh ke pada wanita yang sudah bersuami ini. Memang gelar nya saat ini adalah pebinor dan Elvio memang melakukan nya, menggoda istri orang lain.


Elvio tersenyum tipis. Melihat wajah memohon wanita itu, dia bergerak ke depan Safira mengikis jarak di antara mereka.


Menyingkir kan helaian rambut Safira yang ingin menutupi wajah cantik nya.


Safira tidak melawan atau menghindar, dia yakin perlawanan nya akan semakin sulit membawa Megan.


Elvio memajukan wajah nya tepat di telinga Safira.


"Berc intalah dengan ku sekali saja, maka aku akan melepas kan sahabat mu," bisik Elvio di telinga Safira dengan lembut.


Semua orang nampak ricuh mengira Elvio dan Safira sedang berciuman tepat di depan mereka, mereka ada yang bahagia karena sang bos bisa mengalah kan wanita dingin itu.


Tapi tidak dengan seorang pria yang baru saja masuk dari pintu, darah nya mendidih melihat adegan di depan sana.


"Elvio Anggara, sia lan kau," teriak pria itu menggelegar di ruangan itu.

__ADS_1


Jangan lupa like nya 😊👍👍


Horas ✋✋✋


__ADS_2