
Di sebuah mansion yang mewah dan terkesan elegan seorang wanita sedang sibuk dengan berkas-berkas di depan nya. Tak lupa di layar depan nya ada seorang pria paruh baya dan wanita paruh baya ya yang sesekali berbincang dengan nya.
Pria paruh baya itu awal nya sangat berisik, tapi lama kelamaan wanita yang di samping nya lebih berisik dan seperti mulut ikan yang tidak Sudi berhenti.
"Aurora, mommy... mommy ini sudah tau. Tidak tau kapan Tuhan akan menjemput, mungkin sebentar lagi. Tapi mommy masih belum melihat mu princess menikah, bagaimana nanti aku mati. Aku tidak akan tenang," ucap wanita paruh baya itu
"Apa yang kau kata kan Baby, No. Kau tidak akan mati atau pergi ke mana pun. My princess, ini semua gara-gara kau. Jangan aku sampai memanggil Affinis menjemput mu," kesal Rhadika yang sedang menatap tajam putri nya karena putri nya itu wanita kecil nya yang sudah tua terlihat sedih.
Aurora mendengus kesal.
"Mommy, jangan kata kan seperti itu? Kau tau pria tua di sebelah mu akan membunuh ku jika membuat mu sedih. Lihat..." kesal Aurora.
"Tapi Aurora tidak memenuhi keinginan Mommy, Mommy hanya mau yang terbaik untuk putri satu-satu nya mommy," jelas Rosaline dengan nada sendu.
"Jika ingin yang terbaik, jangan di paksa kan Mommy," jawab Aurora berhasil mematah kan argumen mommy nya.
"Mommy dulu di paksa Daddy mu kok, tapi Mommy bisa bahagia dan mempunyai kalian," jawab Rosaline polos.
"Itu Karena mommy tidak memiliki pria yang di incar," jawab Aurora tak mau kalah
"Mommy punya kekasih waktu itu, tapi Daddy lebih baik dari nya," lawan Rosaline.
"Itu berbeda Mom, sabar lah. Dalam waktu satu tahun ini Aurora akan mengabari mommy dan Daddy," ucap Aurora akhir nya tanpa mau berdebat panjang.
"Benar kah?" wajah Rosaline berbinar.
"Yah, Dan Dad. Jangan mencoba mencampuri urusan Rora Dad, itu tidak menyenang kan sama sekali," ucap Rora menatap tajam Daddy nya namun ada kasih sayang yang sangat besar di mata itu, Rhadika bisa menilai nya
"Daddy mana yang tidak mengawasi putri nya hah?" kesal Rhadika dari sana. Tatapan nya juga tak kalah mengintimidasi Aurora.
"Itu berbeda Dad," jawab Aurora tak mau kalah.
"Bagaimana jika dia mafia, bagaimana jika dia berbahaya, bagaimana jika dia adalah musuh kita. Bagaiman Jiak dia muncul sebagia layar untuk membalas kan dendam pada keluarga kita . Bagaimana jika dia menyerang adik kh secara diam-diam. Apa kau pikir Daddy mu ini bisa diam saja melihat putri nya jika itu terjadi. Apa penyesalan tidak akan ada di wajah ke dua orang tua mu ini? Begitu maksud mu?"
Deg
Beberapa tebakan dad nya benar. Sila, feeling orang tua memang tidak pernah salah, apa lagi Pria cinta pertama nya ini. Rora memutar otak nya dengan cepat, jangan sampai dad nya menemu kan celah untuk mengintimidasi Rora.
Perkiraan Dad nya sebagian sangat jauh menurut nya. Musuh, bagi Aurora itu sangat jauh dan dia yakin kekasih nya saat ini sangat tidak mungkin bermusuhan dengan Alaska, karena Al adalah mafia do kota terpencil di ujung Amerika, jika sekedar kenal, Al pasti tau siapa Dad nya karena nama Rhadika Browns pasti sudah menggelegar di dunia.
"Kau tau sendiri kuat bukan Dad? Rora adalah seorang mafia juga, tak mungkin Rora bisa di main kan oleh pria lain," ucap Rora dengan serius dan penuh keyakinan
"Tapi Nak, bagaimana jika yang di kata kan Daddy mu benar. Apakah tidak sebaik nya, Rora mengenal kan pria itu terlebih dahulu pada kami?" ucap Rosaline menimpali.
"Mom, jangan membuat ku semakin tersudut di hadapan Daddy. Aku akan memberi kan kejutan, yakin lah!" pinta Aurora dengan memelas.
Rosaline serba salah di sini. Dia menatap suami nya yang berada di samping nya dan layar monitor yang ada di depan nya.
"Baiklah,.mom dan Dad akan menunggu putri kecil. Baik-baik di sana oke?" ini adalah keputusan Rosaline akhir nya, dia juga tidak ingin memojok kan sang putri dan tidak bermaksud sama sekali.
"Dad, tolong dengar permintaan Rora hemm...," ucap Rora dengan jurus andalan nya membuat Daddy nya meleleh.
Rora sangat berterimakasih pad aTuahn Karana mendapat kan orang tua angkat serasa orang tua kandung nya. Tidak pilih kasih terhadap anak-anak nya sama sekali. Malahan dia berpikir, seperti nya diri nya paling di sayangi oleh ke dua orang tua nya.
Rhadika dengan mencebik kesal memutar layar di depan nya agar tidak memperlihat kan wajah nya pada sang putri. Dia tidak ingin sang putri melihat wajah ny yang tak bisa berkat apa lagi
"Mom, boleh bantu Aurora mengarah kan layar ke Dad? Rora tidak akan sanggup melaku kan apa pun tanpa persetujuan Daddy. Rora sangat lemah, ohhh...bagaimana aku melaku kan aktivitas ku jika Daddy marah. Aku sangat sedih," ucap Aurora menyedih kan.
Suara itu, tidak oh tidak. Shine ingin menghantam layar di depan nya
__ADS_1
. Dia tidak suka mend ngar suara seperti itu dari putri nya. Dia suka jika dua wanita yang sangat di cintai nya sedih seperti ini. Bagaimana dia menolak hah, dia seakan mati seperti ini dan tidak berguna karena putri nya ITB seakan menumpah kan segala kesalahn itu pada diri nya.
Rosaline menuruti permintaan putri nya dan mengarah kan layar ke depan suami nya.
"Oh, bagaiman ini. Daddy tak ingin melihat wajah ku," ucap Rora dengan penuh drama.
Kadang Rosaline iri dengan kedekatan ayah anak ini, dia tidak pernah merasa kan kasih sayang seorang Daddy, dia sangat iri, apa lagi putri nya sangat pandai mengambil hati Daddy nya.
"Siapa hah? Siapa yang tidak mau melihat putri nya sendiri. Kau seakan membuat Daddy mu ini jahat pada putri nya sendiri. Bagaimana jika orang lain mendengar nya? Daddy seperti Daddy haram saja," ucap Rhadika kesal setengah mati menahan nya.
Keluarga Browns memang terkenal sangat luar bias di luar sana. Ketat bagi anak-anak mereka karena di tuntut untuk menjadi penerus keluarga Browns. Tapi lihat lah saat ini. Mafia girl itu dan manta mafia bos itu bisa menunjuk kan tingkah seperti anak kecil saja tapi penuh kasih sayang,
Harga diri mafia bos itu saja bisa di jatuh kan putri nya sejatuh-jatuh nya hingga ke dasar. Lihat lah bagaimana mafia girl itu mengecoh Daddy nya dengan akting luar biasa putri nya itu.
"So, apa kah Daddy tampan ku ini tidak akan mengirim pengawal bayangan dan akan menunggu kabar putri cantik nya?" tanya Rora dengan kerlingan mata nya menggoda sang Daddy.
"Cih, jauh kan wajah mu yang jelek itu. Jangan lakukan itu pada pria bersuami seperti ku. Istri ku jauh lebih cantik dari mu," ucap Rhadika Mel*umat sejenak bibir sang istri.
"Sayang sudah tua, ingat umur," ucap Rosaline dengan lembut.
"Tua heh, bah kan semalam saja kau menjerit kenikmatan di bawah ku Nyonya Browns," ujar Dika dengan terang-terangan.
"CK, Daddy terlalu posesif," ejek Aurora kesal karena ucapan frontal Dad nya.
...****************...
Aurora menc nik kesal sekaligus senang ketika menutup panggilan dari Daddy nya. Senang Karena dia sudah mengalah kan keras kepala Dad nya dan kesal karena Daddy nya selalu mengejek diri nya karena bermesraan dengan Mommy nya di depan nya.
Aurora kembali fokus dengan berkas-berkas di depan nya. Namun terhenti kembali karena ponsel nya berdering.
Kring... Kring...
"Aishhhh, sialan. Kapan aku bisa fokus dengan ini semua," kesal Rora dengan wajah yang sangat kesal.
"Apa..." cebik Rora dengan kesal.
"Sweetie, what happened. Seharus nya kau senang, kenapa kesal begini?" ucap Al dari seberang sana. Ternyata pria itu adalah Alas kan kekasih Aurora.
"Jangan panggil aku sweetie. Sangat tidak cocok dengan ku," jawab Safira dengan malas. Dia sama sekali tidak mengalih kan pandangan nya dari berkas yang ada di tangan nya.
"Ok Fine fine... Apa aku membuat kesalahan?" tanya Al mengalah, karena dia bisa menebak suasana hati sang kekasih sedang buruk.
Rora menatap layar dengan kesal. Walaupun wajah itu masih kesal, Al tersenyum di sana, setidak nya wanita itu sudah mau melihat ke arah nya.
"Kau tau, Daddy akan menjodoh kan aku dengan pria lain jika dalam waktu setahun ini kau tidak melamar ku dan menghadapi Daddy," ucap Aurora dengan kesal.
Alaska menghela napas dengan dalam.
"Oke Sayang, aku akan menyelesai kan nya secepat nya oke! Sabar ya sayang," ucap Alaska dengan lembut. Jauh berbeda dengan tabiat mafia nya.
"Hmsss," Jawab Rora singkat masih juga dengan kesal nya.
"Kenapa lagi Sayang hmmm, ada masalah lain?" tanya Al dengan penuh kesabaran. yah semua orang memang bisa berubah sifat nya seratus delapan puluh derajat jika bersama dengan orang yang di sayangi nya.
"Kau tau Daddy mencium mommy di depan ku. Meraka memerkan kemesraan Meraka meski pun sudah tua," ucap Rora dengan wajah masam.
Alaska mengernyit kan dahi nya. Bukan kah itu hal baik? Apa yang salah?
"Bagus lah sayang, tapi kena...?
__ADS_1
Wajah Rora semakin masam.
"Kenapa kau bilang, Cih dasar tidak peka. Kapan aku bisa seperti itu dengan mu, is mengesal kan," ucap Rora dengan kesal.
Alaska menepuk dahi nya Pelan.
"Oh sial, kenapa aku sangat sulit membaca situasi," batin pria itu. Dia memutar otak nya sejenak.
"Ah Sayag. Lebih dari itu. Apa itu kode aku harus datang ke sana dan menghabisi boss of mafia girl di atas ranjang?" goda Alaska sangat dalam.
Wajah Rora langsung memerah.
"Ingat tuan Alaska . No se x before merried," kesal wanita itu menatap tajam kekasih nya.
Hahahaha
Alaska tersenyum jahil ke wanita itu hingga kamera laptop nya bergerak-gerak Karan laptop itu berada di pangkuan Alaska.
"Wait, putar kamera mu ke arah kanan!" perintah Rora manajam kan mata nya.
"Why?" tanya Al hati-hati.
"Putar saja!" ucap Rora dengan tegas.
Dengan patuh Al memutar kamera nya sesuai permintaan Rora. Kamera itu berkeliling di sekitar kamar Al.
"Why?" tanya Al sekali lagi.
"Nothing, aku hanya seperti melihat bayangan orang tadi. Tapi ternyata hanya ilusi saja," ucap Rora
Keheningan melanda dia ketua mafia itu sejenak.
"So, ada apa menghubungi ku?" tanya Rora akhir nya.
"Sayang, i really Miss you," ucap Al dengan manja khas nya.
"Ahhh, begitu? Kurasa tidak," jawab Aurora menatap miring Al.
"Apa kau tidak melihat wajah ku sangat menanti mU?" tanya Al lagi.
"CK, bullshit. Bukti nya kau tidak datang Alaska," ucap Rora.
"Benar kah kau mengizin ka aku datang ke mansion mu?" tanya Al dengan semangat.
"Hmss, ku tunggu! Dan satu lagi jangan. Coba-coba mencari identitas ku. Mengerti?!!!" ucap Rora.
"Siap Sayang, sambutan nya harus bagus yahhh," goda Al
Aurora dengan kesal langsung menutup ponsel nya.
"Cih pria genit, biasa nya wanita lah yang harus genit, CK," kesal Rora.
Setalah panggilan Vidio call itu tertutup, Al langsung memutar kan kepala nya dan menatap tajam wanita yang baru saja ke luar dari kolong ranjang.
"Sialan, kau ingin mati hah? Sudah ku kata kan jaga sikap mu sialan. Awas saja jika kekasih ku curiga sedikit saja, habis kau!" ucap Al dengan tajam membuat nyali wanita itu menciut.
Al mengguna kan kameja nya dengan asal. Baru saja dia bermain bersama putri dari pendukung nya atau partner nya. Mereka baru saja menghabis kan waktu panas yang sangat menyenang kan bagi wanita itu tapi tidak dengan Al. Dia hanya menikmati nya sebatas memuas kan dahaga nya sebagai orang dewasa.
Dia adalah Clarias. Dia hanya bisa berkuasa untuk Al hanya sebatas urusan ranjang tidak yang lain. Jika wanita itu melanggar kesepakatan yang di buat, maka perusahaan Dad nya akan di ledak kan seperti abu.
__ADS_1
Jangan lupa like nya 😊 👍👍👍👍👍
Agar author nya semakin semangat up nya 🙂🙏👍👍👍👍👍