
Shine yang berada di perusahaan nya langsung bergerak ke rumah sakit yang di kirim pengawal nya.
"Bagaimana dengan supir nya?" tanya Shine pada Xavier.
"Belum di ketahui Tuan, tapi dari Cctv jalan terlihat bahwa supir itu memang sengaja dan dia melompat di waktu yang tepat dan tidak mengalami luka sedikit pun," jelas Xavier.
"Temukan!" ucap Shine dingin.
Kemudian mereka langsung bergegas masuk ke dalam mobil dan segera keluar dari lokasi perusahaan.
"Apa ini sudah saat nya aku menerima titah Dad?" batin Shine.
**
Di depan pintu rumah sakit, beberapa dokter beserta dengan anggota nya sudah berjejer di dengan siap siaga.
Mereka sudah mendengar ada kecelakaan beruntun yang terjadi di jalanan lampu merah.
Pasien pertama yang mereka tangani adalah seorang anak kecil yang mengalami patah kaki, langsung di tangani oleh dokter wanita begitu juga selanjut nya rumah sakit menangani dengan baik.
Pasien terakhir yang datang membuat semua orang terkejut, siapa yang tidak mengenal istri dari CEO terkenal di kota ini.
"Safira?" seorang pria mengata kan nama itu dengan panik.
Pria itu langsung bergegas ke arah wanita yang di kenal nya.
"Safira, apa kamu terluka?" tanya pria itu melihat Safira yang menangis di banjiri air mata.
"Aldo, aku mohon selamat kan dia hikss...aku mohon!" ucap Safira memohon ke pada Aldo.
Ternyata pria itu adalah Aldo teman nya saat masa sekolah dulu.
"Aldo, kumohon selamat kan dia, aku mohon hiks..hiks..," isakah itu terdengar semakin lama.
Safira ternyata kehabisan tenaga dan berkahir pingsan.
Aldo langsung memerintah kan orang lain untuk menolong pria yang di bawa oleh Safira .
Sejuta pertanyaan berada di dalam benak Aldo. Dia jelas tau siapa suami Safira dan jelas bukan pria yang di bawa oleh Safira tadi. Dan mengapa Safira bersama pria itu? Siapa dan apa hubungan Safira dengan pria itu.
Namun semua itu di singkir kan oleh Aldo dan malah membawa Safira ke dalam dekapan nya dan membawa masuk ke dalam rumah sakit tanpa meletak kan wanita itu di atas brankar.
Semua orang tetap merasa terkejut dengan dokter muda nan tampan di rumah sakit itu. Dengan Bernai nya dia membawa istri CEO kejam dan dingin ke dalam dekapan nya sedang kan brankar masih banyak yang kosong.
Sebagian menebak dalam hati bahwa ke dua nya sedang berselingkuh, tapi tidak mungkin dokter muda itu terlalu tampan untuk menjadi selingkuhan dan CEO kejam negeri ini terlalu amat Tampan untuk di selingkuhi.
__ADS_1
Semua orang ikut panik namun hati nya juga sedang meronta untuk menggosip terutama para suster yang menyukai dokter Aldo mereka merasa sangat iri terhadap Safira yang di kelilingi pria-pria tampan di new York ini.
"Apakah teman ku baik-baik saja?" tiba-tiba suara itu mengejut kan Aldo yang sedang fokus memeriksa Safira.
"Siapa kau?" tanya Aldo.
"Aku adalah Megan sahabat nya, aku bersama nya tadi datang ke sini," jawab Megan dengan cepat karena masih syok dengan kejadian tadi.
Aldo tidak memerhati kan sekitar tadi saat melihat Safira menangis. Rasa khwatir nya menghilang kan fokus nya untuk melihat lingkungan hingga dia tidak menyadari ada wanita lain di sisi Safira tadi.
"Dia baik-baik saja, hanya syok dan kelelahan," jawab Aldo dengan ramah. Megan hanya mengangguk-angguk sambil melihat ke arah Safira.
"Bagaimana dengan anda Nona? Apa anda baik-baik saja?" tanya Aldo.
Megan terkikuk melihat wajah tampan Aldo yang sangat menggemas kan dan meneduh kan.
"Saya baik-baik saja dokter," jawab Megan memberi kan senyuman termanis nya.
"Uhhhh, emmm Megan," ucap Safira yang sudah bangun dari tidur nya. Dia merasa kan aroma obat yang menyengat dan ruangan itu serba dengan putih.
Ingatan tiba-tiba berputar ke beberapa jam sebelum nya.
"Mateo, apa dia baik-baik saja? Aku ingin melihat nya," ucap Safira langsung bangkit dari ranjang tidur nya.
Pintu tiba-tiba terbuka dan menampak kan pria jangkung yang sangat di ingin kan oleh wanita-wanita di bumi ini.
Aldo dan Megan yang melihat siapa yang ada di pintu langsung memilih undur diri dan memberi kan ruang untuk suami istri itu.
"Apa kau tidak apa-apa?" suara yang pertama kali terdengar di antara dua manusia di sana.
"Ya," jawab Safira singkat
Shien menghela napas. Saat ini Safira terang-terangan sudah menunjuk kan jarak di antara mereka.
"Pesta nanti malam, kau tidak perlu ik.."
"Aku akan tetap ikut," potong Safira.
"Aku tau kau lelah, tidak perlu memaksa kan diri," ujar Shine peduli pada keadaan istri nya itu.
"Aku tidak apa-apa dan masih bisa berjalan dengan baik," jawab Safira dengan tegas
Shine hanya pasrah dan tidak mengeluar kan penolakan yang sebenar nya adalah saran itu.
"Apa kau tau siapa yang menabrak kami tadi? Aku yakin mereka adalah orang suruhan seseorang yang berniat mencelakai kami," ucap Safira. Dia tidak tahan lagi untuk tidak bertanya.
__ADS_1
"Belum, masih dalam penelusuran."
"Apa itu arti nya kau memiliki musuh. Aku yakin Mereka bukan musuh ku karena aku tidak mengenal orang di sini," ucap Safira.
Shine mendekat dan duduk di atas ranjang bersama dengan Safira.
"Kalau aku mengata kan bahwa musuh ku di luaran sana banyak, apa kau percaya?" tanya Shine.
"Tentu saja, kau begitu angkuh dan sombong, pasti banyak yang tidak menyukai mu," jawab Safira enteng.
Shine tersenyum hambar.
"Benar, sesuai dengan ucapan mu."
"Apa kau juga seperti mereka membunuh dengan Senjata api?" tanya Safira.
Shine tetap bersikap tenang. Cepat atau lambat atau mungkin sudah tau, Safira akan paham bagaimana diri nya yang sebenar nya.
"Kau mengenal siapa mertua mu bukan?"
Safira mengingat kenangan masa dulu nya saat berada di mansion Browns. Dengan jelas ibu mertua nya mengata kan bahwa ayah mertua nya adalah kelompok Mafia terkuat di belahan bumi.
"Mafia?" batin Safira
"Benar, seperti yang kau pikir kan, dan mungkin sebentar lagi klan Daddy akan turun pada ku," Shine
"Kau akan menjadi mesin pembunuh?" tanya Safira dengan polos tidak mengetahui sebenar nya apa itu arti mafia.
Dia tidak terlalu kaget lagi mendengar itu karena saat di mansion Browns, dia sudah pernah mendengar gelar itu dan bagaimana mertua nya menghukum orang-orang yang berkhianat pada nya.
Namun secara nyata cara kerja mafia sebenar nya tentu saja Safira belum pernah melihat nya, hanya di dunia fiksi saja dia pernah melihat nya. Dan dia yakin itu tidak akan terjadi di masa sekarang ini.
"Tidak seperti itu," jawab Shine mengelus kepala Safira dengan lembut. Wanita itu awal nya nyaman, namun bebrapa saat dia bangkit berdiri.
"Aku ingin melihat Mateo," ucap Safira..Shine mengerti itu sekaligua cara nya agar menghindar dari sentuhan Shine.
"Aku akan mengantar mu," ucap Shine memegang tangan Safira.
"I"m okay, aku bisa berjalan sendiri," jawab Safira melepas kan tangan shine yang menaut kan ke dua telapak tangan mereka.
"Baiklah, ayo," ucap Shine sambil menelan kepahitan yang ada di hati nya
Jangan lupa like nya
Agar author tambah semangat yah😊🙏🙏👍👍
__ADS_1